GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 75. DICIUM ISTRI LAGI


__ADS_3

Betapa peliknya situasi saat ini. Mereka pun tidak bertanya pada Arimbi mengapa dia diam saja sejak tadi. Arimbi lahir dari keluarga Rafaldi yang kaya raya. Yang berarti dia tergolong dari keluarga kelas atas dna sudah pasti berurusan dengan petinggi dan pebisnis kaya. Dunia Arimbi da dunia mereka jelas berbeda.


Bahkan jika mereka memiliki jawabannya, mereka tidak dapat memahaminya apalagi membantu Arimbi. Sepanjang hari Arimbi merawat ibu angkatnya dirumah sakit. Dia enggan pergi di malam hari ketika ibu angkatnya mulai menjauhinya. Adrian mengantar Arimbi menuruni tangga, “Arimbi, jangan marah pada ibu karena dia menjauhimu. Ini demi kebaikanmu juga, kamu sudah kembali dengan keluarga kandungmu jadi tidak pantas untukmu datang kesini. Orangtuami akan cemburu dan mengira kamu tidak menyukai mereka.”


Adrian khawatir kalau nanti keluarga kandung Arimbi akan menyalahkan mereka karena membiarkan Arimbi disana sampai malam. Adrian masih ingat saat Arimbi sudah kembali ke keluarga Rafaldi, Nyonya Mosha mendatangi keluarga Darmawan dan menyuruh mereka untuk mengurangi interaksi dengan Arimbi jadi dia dapat menghabiskan waktu dengan anak kandungnya.


Itulah mengapa mereka tidak menghubungi Arimbi kecuali saat dia mengunjungi mereka tahun lalu.


“Adrian, jangan khawatir dengan ibu kandungku. Dia wanita yang pengertian dan tolong katakan pada ibu bahwa dia dan ibu kandungku adalah ibuku. Aku manusia beruntung didunia ini karena aku memiliki dua ibu dan dua ayah. Mereka semua mencintaiku.”


Dikehidupan sebelumnya Arimbi lebih menyukai ornag tua angkatnya. Bagaimanapun keluarga darmawan yang membesarkannya sampai dia berusia dua puluh tiga tahun dan hubungan mereka sangat dekat. Dia tidak memilih yang mana diantara mereka yang paling dia sukai. Dia mencintai ibu kandung dan ibu angkatnya secara setara. Mereka berdua adalah ibunya dan dia akan membalas budi mereka.


“Baiklah aku akan memberitahu ibu….” ucap Adrian.


Setelah membawa Arimbi keluar dari ruang rawat inap, Adrian bertanya, “Apakah kamu naik taksi kesini atau menyetir sendiri?”


“Supirku yang mengantarku kesini tadi.” jawab Arimbi.


Emir tidak suka bagaimana Arimbi menyetir jadi dia melepaskan semua ban BMW-nya dan melarangnya mengemudi lagi. Sekarang dia harus mengandalkan supir untuk mengantarnya.


Sebenarnya Arimbi tidak terlalu suka diperlakukan mewah seperti itu, diantar supir kemana-mana dan ada pengawa yang diminta Emir untuk mengawasinya. Arimbi lebih suka menyetir sendiri dan menjalani kehidupan sederhana tanpa diikuti pengawal kemana-mana.


“Arimbi!” Adrian memanggilnya dan Arimbi tersadar kembali dari lamunannya.


“Jika kamu punya masalah, kamu bisa memberitahuku, meskipun aku tidak memiliki kekuatan tapi aku akan membantumu membalaskan dendammu jika seseorang menggertakmu.”

__ADS_1


‘Aku bahkan bisa menjatuhkan pengawal Dion? Bagaimana mungkin aku butuh bantuan orang lain?’ bisik hatinya. ‘Dulu aku selalu diintimidasi oleh Reza karena aku mencintainya.’


“Adrian! Kamu harus kembali ke ibu sekarang. Aku akan datang lagi besok untuk menjaga ibu.”


Adrian pun membalikkan badan dan pergi meninggalkan Arimbi untuk kembali ke bangsal ibunya. Saat Arimbi berbalik setelah kakaknya tak nampak lagi, di saat itu dia melihat Rino sedang mendorong Emir kearahnya. Arimbi terdiam ditempat dan kemudian melangkah cepat menemui Emir.


“Emir, kenapa kamu ada disini?”


Emir tidak menjawab, dia menatap Arimbi dengan dingin sambil mengerucutkan bibirnya.


“Emir, biarkan aku mendorongmu.” Arimbi yang sudah terbiasa dengan ketidakpedulian pria itu dengan tenang berjalan ke belakang Emir dan Rino pun mundur untuknya. Lalu Arimbi mendorong kursi roda Emir.


“Kerumah!” ucap Emir dingin.


Arimbi pun mendorongnya menuju ketempat parkir.


“Arimbi!”


Mata gelap Emir terkunci diwajah cantik Arimbi yang tersenyum manis pada Emir. Emir tahu bahwa Arimbi adalah berlian yang belum dipoles, suatu hari nanti dia akan bercahaya dan bersinar terang. Emir bisa merasakan kesempatan itu dan dia bertekad tidak akan membiarkan pria lain melihat kecantikan istrinya itu.


“Emir, apa yang mau kamu katakan padaku? Aku akan mendengarkanmu.” ucap Arimbi.


 Emir mencondongkan tubuhnya kedepan dan mendorong Arimbi di kursi roda dengan gesit. Arimbi merasa tubuhnya berat dan dia berusaha menjauh tapi Emir meraih lengannya dan menekannya kepelukannya. Meskipun Emir lumpuh tapi Arimbi bukan tandingannya dalam hal kekuatan.


“Emir.” dengan sengaja dia melembutkan suaranya untuk memanggil Emir. Suara lembut itu seperti batu besar ketika dilemparkan kedanau yang tenang akan  menyebabkan riak gelombang.

__ADS_1


Arimbi bisa mencium aroma tubuh Emir saat wajah tampannya mendekat. Dia berpikir bahwa aroma itu menyenangkan dan memberinya rasa yang familiar. Aromanya seperti sudah tidak asing lagi bagi Arimbi bahkan sebelum mereka bersama ditempat tidur. “Emir, apakah kamu mau menciumku?”


Emir tetap diam dan mengomel dalam hatinya, ‘Dasar istri tidak tahu malu!’


Arimbi tersenyum dan mengangkat dagunya sedikit, “Meskipun aku kehilangan akta nikahku tapi kita masih suami istri. Aku tidak apa-apa jika kamu ingin menciumku kapanpun dan dimanapun. Ngomong-ngomong Emir, kamu harus mengasah keterampilanmu, kamu tahu kan? Kamu agak buruk dalam hal berciuman. Berlatihlah denganku, gratis! Kamu tidak perlu membayar! Aku akan mengajarimu bagaimana cara berciuman yang benar sampai kamu benar-benar ahli.”


“Arimbi! Apa kamu tidak tahu malu? Apakah kamu sedang merayuku?”


“Emir! Kamu yang mendorongku jadi duduk dipangkuanmu. Wajahmu sangat dekat dan kamu menatapku dengan penuh kasih sayang dan menelan ludahmu saat menatapku. Dengan pose dan adegan ini, semua orang akan berpikir bahwa kamu yang merayuku.”


Emir tidak bisa menangani Arimbi jadi dia melepaskan Arimbi kali ini. Tidak ada yang lebih tak tahu malu daripada Arimbi.


Sebelum Emir bisa duduk dengan benar, Arimbi membalasnya dengan mendorongnya di kursi roda. Kemudian dengan kasar dia meraih wajah Emir dan menciumnya dengan ganas. ‘Tidak apa-apa kalau pria tampan ini tidak mau menciumku karena aku yang akan menciumnya.’ bisik hati Arimbi.


Emir mencoba mendorong Arimbi menjauh tapi dia tidak cukup kuat karena Arimbi tak mau melepaskan bibir Emir yang sudah jadi candunya.


Arimbi malah semakin memperdalam ciumannya. Mata gelap Emir sedikit menyipit dan dia menatap wajah cantik itu. Dia terus bergumam dalam pikirannya, dia tak melakukan apapun hanya diam dan membiarkan Arimbi melahap bibir seksi Emir.


Ciuman Arimbi semakin nakal, dia menelusuri seluruh bibir dan rongga mulut Emir dengan isengnya Arimbi memainkan lidahnya. Setelah puas mencium Emir, Arimbi menyentuh wajah suaminya sebelum duduk kembali dengan puas.


“Emir, ingatlah untuk berlatih denganku nanti. Aku suka latihan ciuman ini, jadi teleponlah aku kapan saja ya untuk latihannya!”


Emir mengeryitkan dahinya tak senang. ‘Ya Tuhan tolong ampuni wanita tak tahu malu ini. Kalau mau cium kenapa harus pake alasan berlatih ciuman? Dasar istri gila!’


“Emir,” ucap Arimbi sambil merebahkan kepalanya di bahu Emir, “Kapan kamu tiba dirumah sakit?”

__ADS_1


Emir tidak merespon dan membiarkan Arimbi bersandar dibahunya. “Aku sudah ada disana saat kamu mendorong pengawal Dion ke lantai.”


__ADS_2