
“Kamu juga harus sopan pada para karyawan, mereka sudah bekerja lama disini, mereka juga mempunyai tanggung jawab yang berbeda. Setiap karyawan dari semua departemen sudah mengetahui setiap proses pembuatan produk. Berkenalanlah dengan mereka dan minta saran mereka, lalu lihat contoh rancangan produk.Supaya kamu lebih mudah terbiasa dengan pekerjaanmu nanti.”
Yadid mengajari putriya agar tidak menganggap dirinya sempurna karena statusnya sebagai pemilik perusahaan kelak sehingga meremehkan karyawan perusahaan. Karena perusahaan besar bisa sukses berkat petinggi dan puluhan karyawan biasa.
“Aku mengerti ayah. Jangan khawatir, aku pasti bisa melakukannya. Emir juga bilang kalau dia akan mengajariku bisnis dan aku bisa bertanya padanya.”
“Oh benarkah? Bagus sekali kalau begitu. Tuan Emir adalah orang paling handal dalam bisnis.”
Arimbi dibesarkan dikeluarga sederhana, dia bukanlah orang yang sombong yang akan mudah meremehkan orang lain.
“Amanda memulai bekerja sebagai karyawan biasa. Dia bisa berbaur dengan karyawan lain dan meniti jenjang karir sedikit demi sedikit dengan kemampuannya. Dia memang berpotensi untuk menjadi wakil direktur Rafaldi Group pada waktu itu.”
Ekspresi Arimbi langsung membeku saat itu juga. Dia tahu maksud ayahnya, dia harus jauh lebih baik daripada Amanda jika dia ingin mengalahkannya dan menjadi penerus perusahaan.
Arimbi harus berbuat semua orang diperusahaan ini mengakuinya dengan cara menunjukkan hasil kerja terbaik. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menunjukkan pada semua orang kalau dia jauh lebih hebat dan lebih layak daripada Amanda.
Meskipun Rafaldi Group adalah perusahaan milik keluarganya tetapi ada banyak karyawan senior yang mengabdi pada perusahaan itu. Dia memang putri kandung Yadid tetapi para senior perusahaan tidak akan ragu untuk menjatuhkan Arimbi jika dia tidak dapat membuktikan bahwa dia mampu menjadi pimpinan. Didalam benaknya saat ini Arimbi sedang memikirkan rencana yang akan dia lakukan saat mulai bekerja nanti.
“Aku akan berusaha sebaik mungkin ayah.” katanya menyakinkan. ‘Saat pulang nanti aku akan bicara dengan Emir tentang ini. Dia pasti mau membimbing dan mengajariku tentang bisnis yang tidak aku ketahui. Bagaimanapun aku adalah istrinya, tidak mungkin dia akan membiarkan aku jatuh dan mempermalukan diriku sendiri. Aku harus semangat.’ ucapnya didalam hati.
__ADS_1
“Aku percaya padamu, nak! Pergilah ke departemen SDM dan temui manajer Satya. Dia yang akan mengurus perihal penerimaan karyawan dan memberikan seragam karyawan padamu. Kamu harus memakainya saat masuk kerja hari senin depan dan seterusnya. Posisimu sekarang adalah sekretarisku jadi kamu tidak akan memiliki kantor sendiri. Nona Sartika akan menyiapkan meja untukmu dan kamu akan satu ruangan dengannya. Dia adalah karyawan senior disini jadi kamu bisa belajar banyak darinya.” ujar Yadid menjelaskan.
Setelah dia melihat bahwa putrinya mendengarkan semua penjelasannya dengan serius, dia pun menyuruh Arimbi pergi untuk menyelesaikan urusan administrasinya. “Baiklah. Pergilah untuk mengurus semua proses penerimaanmu.”
“Baik, ayah.” jawab Arimbi lalu meninggalkan kantor direktur.
Setelah Sandra keluar dari lift dan dia tidak melihat Arimbi di sekeliling, dia segera menelepon Amanda yang sedang berada dirumah sakit umum Metro. Akhirnya Amanda pun mengetahui kalau Arimbi sudah bergabung di perusahaan. Meskipun dia sudah berusaha keras mencegah Arimbi masuk ke perusahaan tapi semua itu terjadi karena perbuatan ibunya.
Dengan sikap Mosha yang semakin melindungi Arimbi, maka Amanda merasa bahwa ibu angkatnya itu sengaja memintanya untuk cuti beberapa hari demi merawat ibu kandungnya supaya Arimbi bisa masuk bekerja di perusahaan.
Bahkan jika dia tidak cuti, Arimbi juga akan masuk bekerja di perusahaan itu jika dia mau. Namun Amanda masih tetap bisa merencanakan sesuatu yang akhirnya akan membuat Arimbi secara sukarela keluar dari perusahaan.
Pratiwi sedang berbaring di ranjang rumah sakit ketika dia melihat Amanda memasuki ruangan sambil menggenggam ponselnya. Dia langsung merasa bersalah dan meminta maad, “Amanda, aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku tahu sibuk, kamu tidak perlu menemaniku disini. Ada kakak laki-lakimu yang bisa menjagaku. Pulanglah, kamu bisa kembali bekerja.”
Amanda tumbuh dilingkungan yang baik dan mendapat pendidikan terbaik dan menguasai banyak hal. Dia pun kini menjabat sebagai wakil direktur di Rafaldi Group di usianya yang masih muda. Pratiwi yakin kalau Amanda bisa menjadi pimpinan perusahaan itu jika saja Mosha tidak tahu kalau Amanda dan Arimbi telah tertukar saat masih bayi.
Pratiwi sangat senang karena putrinya adalah orang yang sangat hebat. Namun dia juga menyalahkan dirinya karena tidak mampu membesarkan Arimbi sebaik itu. Dia merasa bersalah pada Arimbi dan keluarga besar Rafaldi.
“Aku sudah mengambil cuti selama beberapa hari. Aku akan kembali bekerja setelah masa cutiku selesai.” jawab Amanda tanpa memandang ibunya.
__ADS_1
Sebenarnya Amanda merasa kesulitan untuk dekat dengan ibu kandungnya. Dia bahkan selalu berbicara dengan nada dingin pada Pratiwi. Namun wanita paruh baya itu tidak peduli, dia senang karena putri kandungnya datang menjenguknya.
“Mau minum? Aku akan mengambilkan air untukmu.” ucap Amanda menawarkan.
“Aku tidak haus. Duduklah Amanda, aku ingin memandangmu.”
“Mau lihat apa? Seperti belum pernah melihatku saja? Tidur saja kalau tidak haus. Aku akan mengawasi infus ibu. Jangan terlalu banyak permintaan.” Amanda mengabaikan ibunya lalu menarik kursi untuk duduk dan mulai membaca berita di ponselnya. Adrian sedang pergi keluar untuk membeli keperluannya. Jika dia melihat perlakuan Amanda pada ibunya, dia pasti akan marah. Adrian membenci perlakuan Amanda pada ibunya.
Dia tidak ingin Amanda datang kalau memang tak ikhlas untuk datang. Setiap kali datang ekspresinya selalu cemberut seolah-olah mengatakan kalau dia terpaksa berada disana. Kunjungan Amanda selalu membuat Pratiwi sedih. Adrian tahu jika ibunya akan selalu menangis karena sering kali dia melihat bantalnya basah.
Pratiwi saat ini hanya diam setelah mendengar perkataan Amanda. Dia hanya berbaring sambil menatap Amanda.
“Apa ibu tidur? Aku akan pergi jalan-jalan kalau ibu tidur. Butuh beberapa waktu untuk menghabiskan infusnya.” Amanda berdiri dengan cepat dan pergi membawa ponselnya karena dia tidak suka ditatap oleh ibu kandungnya. Dia masih tidak bisa menerima keluarga kandungnya yang bukan orang kaya.
Setelah berada diluar ruangan, dia langsung menghubungi Reza. “Apa perusahaanmu sudah berhasil keluar dari krisis? Apakah Tuan Emir bertemu denganmu kemarin Reza?” rentetan pertanyaan langsung dilemparkan Amanda setelah telepon tersambung.
“Tidak Amanda! Aku benar-benar merasa kesal. Aku juga sedang sibuk sekali jadi aku tidak bisa bicara denganmu sekarang. Sudah dulu ya.”
Mendengar itu Amanda memberi nasihat padanya, “Kamu harus istirahat Reza, kamu bisa memohon bantuan Arimbi jika kamu tidak bisa lagi menanganinya. Tidak peduli bagaimana cara Tuan Emir memperlakukannya, dia punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu langsung dengan Emir daripada kita, iyakan? Jangan lupa kalau dia tinggal di kediaman Keluarga Serkan sekarang. Aku sangat yakin dia akan membantumu untuk meminta kelonggaran pada Tuan Emir. Mungkin dia bisa mengatakan beberapa hal baik tentangmu dan perusahaanmu. Mana tahu cara itu bisa berhasil?”
__ADS_1