
Setelah Jordan memberi tahu mereka alamat Hotel Majesty, Sandar dengan cepat tiba ditempat tujuan dengan bantuan GPS. Karena Jordan adalah penanggung jawab PT. Libra Elektroindo yang berada dibawah Serkan Global Group sama seperti Hotel majesty, dia biasanya datang kesini untuk pembicaraan bisnis apapun yang dia miliki.
Dia sering menjadi tamu dan juga tamu terhormat. Begitu mereka turun dari mobil, manajer umum hotel bersama manajer hotel lainnya datang untuk menyambut kedatangan mereka.
Melihat ini, Jordan tersenyum dan berkata, “Tuan Ahmad, kamu tidak perlu melakukan ini. Bagaimana aku bisa mengganggumu untuk keluar dan menyambutku secara pribadi?”
Sambil mengatakan itu Jordan berjalan mendekat dengan cepat tetapi sang manajer umu hotel yang bernama Ahmad Darsono segera memimpin sekelompok orang lainnya dan langsung melewati Jordan dan berjalan menjauh darinya.
Jordan tersentak, dia merasa menjadi malu. Ketika dia menoleh untuk melihat, dia bahkan lebih terkejut lagi. Namun dengan cepat dia kembali ke akal sehatnya dan berkata kepada Amanda dan yang lainnya, “Wakil Direktur Rafaldi, silahkan pergi dulu dan tunggu aku didalam. Aku akan segera menyusul setelah aku selesai disini.”
Kemudian Jordan segera menyusul dibelakang Ahmad Darsono. Arimbi yang merasa penasaran pun ingin tahu orang besar mana yang lebih dulu tiba yang bisa membuat Jordan meninggalkan mereka dan mengikuti Ahmad untuk menyapa orang besar itu.
Tetapi saat Arimbi berbalik untuk melihat dan dia melihat arak-arakan mobil mewah yang dikenalnya, dia langsung mengerti. Ternyata Emir yang datang ke hotel itu. Mereka sedang berada di pinggiran kota dan jaraknya setengah jam berkendara dari pusat kota.
Makan siang Emir selalu disajikan di The Palm Bliss Hotel setiap harinya. Jadi bagaimana bisa dia datang kesini untuk makan siang hari ini? Arimbi tidak bisa menganggap bahwa itu suatu kebetulan bukan? Ternyata Emir benar-benar melakukan ini untuknya.
Emir mengetahui bahwa istrinya pergi dengan Amanda ke PT. Libra Elektroindo untuk negosiasi dengan Jordan hari ini, dia tampak lega didepan Aslan dan ingin agar Arimbi mendapatkan pengalaman di dunia bisnis. Tetapi dia tetap tidak bisa untuk tidak datang. Dia takut Jordan yang berwatak mesum itu akan mengincar istrinya yang berani itu.
Amanda juga mengenali bahwa itu adalah arak-arakan Emir dan dia melirik Arimbi sebelum berkata kepada Sandra, “Itu arak-arakan Tuan Emir. Apa yang dia lakukan disini?”
__ADS_1
Meskipun merasa penasaran, karena memiliki kenangan buruk dengan Emir sehingga Amanda tidak berani mendekatinya.
Di satu sisi Amanda merasakan sedikit kejanggalan dengan kehaduran Emir di hotel itu. Mengingat tadi malam pun Emir makan malam dirumah keluarga Rafaldi membuat Amanda menerka-nerka.
Sebaliknya dia hanya ingin bersembunyi disuatu tempat ketika dia melihatnya, dia takut akan menatap mata pria itu yang suram, dingin dan tajam seperti yang terjadi tadi malam. Emir menatap Amanda saat wanita itu melirik kearah Arimbi diam-diam sehingga membuat Amanda ketakutan.
Satu tatapan mata saja dari Emir adalah sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdenyut. Bahkan interaksinya dengan Emir terbatas pada saat makan malam semalam.
Namun dia tidak tahu mengapa, tetapi setiap dia melihat pria itu dia akan merasa ketakutan. Mungkin Emir adalah musuhnya di kehidupan sebelumnya.
“Arimbi….ayo masuk dan menunggu Tuan Jordan didalam.” ujar Amanda membuyarkan lamunan Arimbi dan mengajak Arimbi segera mengikutinya masuk kedalam hotel.
Arimbi bergumam setuju. Terlepas dari mengapa Emir datang kesini, dia tidak akan mengambil inisiatif untuk mengungkapkan pernikahannya dengan suaminya itu didepan orang luar. Bahkan tadi malam pun tak ada satu orang pun yang mengungkapkan hubungannya dengan Emir kepada Amanda.
Lalu membantunya membukakan pintu mobil sebelum dengan serius membantunya keluar dari mobil.
“Direktur Serkan!” Ahmad Darsono menyapa dia berusaha membantu Rino untuk memapah Emir. Emir langsung melambaikan tangannya dan Ahmad segera berhenti, dia tidak berani untuk bergerak atas kemauannya sendiri.
Setelah Emir duduk dikursi roda, dia melihat sekelompok orang didepannya dan berkata dengan suara yang dalam. “Kebetulan aku melewati tempat ini dalam perjalanan pulang. Jadi aku datang untuk melihatnya. Anda tidak perlu repot ataupun gugup. Aku disini bukan untuk pemeriksaan.”
__ADS_1
Dia dengan sengaja berkata kepada Ahmad Darsono, “Hotel Majesty performanya sangat bagus dan pekerjaanmu juga bagus setiap waktu. Pertahankan Ahmad.”
Mendengar pujian Emir meskipun hanya beberapa kata, Ahmad sama bersemangatnya seperti orang yang baru saja memenangkan lotere dan dengan tulus menyatakan kesetiaannya kepada Emir.
Jika dia bisa mendapatkan pengakuan Emir, maka dia mungkin akan mendapatkan promosi dan dipindahkan ke hotel yang lebih mewah setelah bekerja di Majesty setelah bekerja selama dua tahun. Meskipun begitu, Ahmad Darsono belum berani berpikir untuk menjadi manajer The Palm Bliss Hotel.
Bagaimanapun itu adalah posisi Agha, jadi bagaimana dia bisa berani mengambilnya darinya? Sebaliknya tujuannya adalah Hotel Accure yang berlokasi di kota lain. Itu juga merupakan hotel milik Serkan Global Group, diberi peringkat bintang lima juga. Sedangkan Hotel Majesty hanya mendapat bintang empat.
Tak lama setelah itu, Emir melihat Jordan. “Kau juga disini Jordan?”
Emir bertanya dengan suara yang berat, Jordan melangkah maju dan berkata sambil tersenyum, “Direktur Serkan, saya kebetulan datang kesini untuk menjamu beberapa tamu tetapi saya tidak menyangka akan bertemu anda disini.”
Ini benar-benar suatu kehormatan. Setelah mengambil alih PT. Libra Elektroindo selama bertahun-tahun, dia telah bekerja keras untuk mencapai kesuksesannya dan meningkatkan jumlah staff dari seribu atau lebih menjadi lebih dari lima ribu orang.
Jordan menunjukkan kemampuannya. Namun ketika dia pergi ke kantor pusat, staf dengan peringkat tertinggi yang bisa dia temui adalah Aslan. Dan sulit jika ingin melihat Emir. Bukannya dia belum pernah melihat Emir sebelumnya. Lagipula Emir selalu menghadiri pesta penghargaan tahunan perusahan dan dia bisa mengaguminya dari kejauhan.
Dia selalu menganggap Emir sebagai idolanya dan hampir memujanya seperti dewa.
“Oh tamu siapa?” tanya Emir berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Rafaldi Group ingin bekerja sama dengan PT. Libra Elektroindi jadi wakil direktur Rafaldi datang sendiri untuk melakukan negosiasi.”
Emir hanya menanggapi dengan gumaman. “Kalau begitu mari kita makan siang bersama tetapi kau tidak perlu menghiraukan. Aku akan menyerahkan seluruh urusan PT. Libra Elektroindo kepadamu. Dan kau yang memutuskan untuk membuat keputusan akhir tentang siapa kau ingin bekerjasama.”