GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 139. TAK BERTANGGUNG JAWAB


__ADS_3

“Kulitmu halus sekali, sayang. Orang bilang seorang pria yang punya kulit halus temperamennya juga halus dan lembut tapi kenapa kamu kebalikannya? Tapi tidak apa-apa sih, yang penting kamu tampan sekali dan aku mencintaimu, sayang. CUP!”


Arimbi mencium bibir suaminya dengan cepat. Lalu Emir menutup mulutnya dengan satu tangan seolah napas Arimbi bau membuat wajah wanita itu cemberut.


“Jadi, kamu tahu temperamenku kasar tapi kamu tetap ngotot mau menikah denganku? Dan kenapa kamu berbaring diatas tubuhku sekarang? Apa kamu mau memakanku pagi-pagi begini? Nafsumu terlalu besar untuk wanita semungil kamu.”


Arimbi terdiam sejenak, “Sepertinya kamu berpikir terlalu jauh. Meskipun aku akan memakanmu. Kamu…..bisa tahan berapa lama, sayang?”


Wajah Emir langsung meremang mendengar hal itu. “Jangan menantangku Arimbi!”


“Apa diluar sudah terang? Apa kamu yang mengangkatku ke kamar? Kenapa tidak sekalian membantuku mandi dan berganti pakaian? Kamu hanya melepaskan gaunku dan meninggalkan pakaian dalam ku saja. Sekarang aku tahu kenapa aku mimpi buruk semalam.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan! Bagaimana bisa aku memandikanmu kalau kamu saja tidur macam kerbau? Kamu bisa tenggelam didalam bak mandi.”


“Itu tidak akan terjadi, sayang. Kan ada kamu disana yang memandikanku. Selain itu aku juga bisa berenang. Aku hebat loh.”


Seketika bibir Emir berdecak mendengar komentarnya yang membanggakan dirinya. “Wah, kamu ternyata berbakat sekali ya? Ku pikir bakatmu hanya menggodaku saja?”


“Tentu saja! Bakat menggodaku itu makin hebat karena setiap hari aku semakin jatuh cinta padamu sayang! Siapa suruh tubuhmu itu sangat menggoda. Oh iya….aku kan hebat! Kalau tidak mana bisa aku membangun pusat latihan sebesar itu? Hmm….aku merindukannya. Impianku adalah mengembangkan bisnis itu dengan cabang diseluruh penjuru negeri ini.”


Emir menjawab dengan datar, “Kalau kamu masih punya waktu setelah mengambil alih Rafaldi Group, kamu bisa melanjutkan bisnismu. Kelas keterampilan seni punya peluang besar tahun ini. Aku yakin kamu akan baik-baik saja. Lagipula bisnis keterampilan seni itu bagus dan punya cukup peluang untuk dimasa depan apalagi sekarang banyak orang menggemari barang-barang seni.”


 Arimbi mengangguk setuju karena dia sadar bahwa dia harus melakukan semuany pelan-pelan sekarang. Terburu-buru tidak akan mebawa kebaikan sama sekali.

__ADS_1


Karena dia tidak berpengalaman dalam bisnis manajemen di kehidupan sebelumnya. Setelah lahir kembali, dia harus mandiri agar bisa mempertahankan bisnis keluarga.


Meskipun disisinya ada suami yang bisa dia andalkan tetapi akan lebih baik jika dia bisa belajar banyak dari suaminya dan mandiri. Terlebih lagi, balas dendam terbaik adalah menjadi karma untuk musuhmu sendiri. Arimbi ingin merancang daftar balas dendamnya dengan baik dan teliti. Lalu dia menatap suaminya yang juag sedang menatapnya. “Sayang, apa kamu lelah?”


Emir menatap wanita itu dengan begitu tajam, membuat Arimbi merasa malu. Lalu Arimbi tersenyum dan berkata, “Kamu pasti lelah ya menahan tubuhku. Aku cukup berat.”


“Kamu memang berat. Kerjamu selalu makan tidak kenal tempat!” ujar Emir menatap bibir merah muda istrinya yang menggoda. Dia menantikan ciuman istrinya yang biasa dia dapatkan tanpa minta.


Arimbi pun memukulnya pelan dan tanpa aba-aba mengecup bibir suaminya. Arimbi tersenyum padanya dengan manis, “Ini ciuman selamat pagi untukmu, sayang.”


“Hanya segitu saja?” ujar Emir.


Setelah Arimbi melihat kilatan dimata Emir meredup barulah dia menyadari bahwa dia sedang bermain api dan dia tidak ingin terbakar di pagi ini. Karena dia tahu seberapa kekuatan suaminya itu, bisa-bisa dia tidak bisa berjalan dibuatnya.


Namun Emir malah menepis tangannya dengan wajah keras dan tatapan tajam, “Aku bisa bangun sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu! Sungguh tidak bertanggung jawab1” dengusnya kesal.


Siapa yang tidak kesal, setelah enak-enakan berbaring di atas tubuhnya sambil menggesek-gesek lalu dengan santainya istrinya yang tak tahu malu itu beranjak dari tempat tidur.


Jika saja Arimbi bisa melihat saat ini ada asap api keluar dari atas kepala Emir. Sungguh istri yang tak bertanggung jawab, sudah menggoda langsung ditinggal.


“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan membantumu.” ucap Arimbi mengawasinya bangkit dari tempat tidur lalu melangkah dengan hati-hati kearah kursi rodanya.


“Sayang, kurasa kakimu lebih kokoh hari ini dan kakimu juga berjalan satu langkah lebih jauh. Suamiku sayang, kamu benar-benar hebat!” serunya dengan wajah girang.

__ADS_1


“Kamu menghitung jumlah langkahku setiap hari?” tanya Emir.


Arimbi menyisir rambutnya didepan meja rias seraya menjawab, “Tentu saja sayang. Kamu biasanya paling banyak mengambil tiga langkah tapi wajahmu sudah sepucat kapas. Dan keringat dingin mengucur deras, aku tahu kamu pasti merasakan sakit di kakimu. Tapi barusan kamu berjalan empat langkah dan wajahmu tidak pucat seperti biasanya.”


Emir membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun kalimat itu tercekat di tenggorokannya. Namun dia tidak bisa menyangkal perasaan hangat dan senang didalam hatinya. Perhatian istrinya itu selalu mampu menghadirkan kehangat didalam hatinya.


Meskipun Arimbi selalu bertingkah konyol dan nakal sekali tapi Emir tidak terlalu peduli. Justru tingkah konyol Arimbi membuat suasana hatinya semakin berwarna setiap hari.


Setelah Arimbi mengikat rambutnya, dia berbalik dan melihat pria itu sedang menatapnya. Arimbi pun memasang senyum manisnya. “Emir sayang, bagaimana penampilanku? Apa kamu bangga pada istrimu yang baru saja berdandan seperti boneka barbie? Wajahku imut kan, sayang? Kalau kita punya anak kira-kira bagaimana ya wajahnya? Mirip aku atau kamu, sayang?” godanya sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.


Emir memutar kursi rodanya untuk mengambil beberapa pakaian untuk istrinya, sementara suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan, “Ya kamu memang cantik dan imut! Tapi kamu tidak melakukan apapun yang bisa ku banggakan! Wajah cantik saja untuk apa? Diluar sana juga banyak yang cantik juga.”


“Sayang, aku janji aku akan melakukannya suatu hari nanti! Dan kamu akan menjadi suami yang paling bangga pada istrimu ini. Karena tidak ada seorangpun yang akan punya istri secantik, seseksi dan sehebat istrimu! Orang-orang akan merasa iri padamu!”


“Well, kita lihat saja nanti! Jangan cuma banyak makan!” ujar Emir membalas sambil melemparkan baju kearah Arimbi. Namun wanita itu cukup sigap untuk menangkapnya. “Cepat bersihkan tubuhmu dan gosok gigi biar tidak bau busuk!” jari Emir menutup hidungnya mengejek istrinya.


“Sayang, kalau kamu mau jadi suami yang penuh perhatian, lakukanlah dengan baik. Kumohon!”


“Perhatian? Kamu bau alkohol! Rasanya menusuk hidungku. Kamu tidak seharusnya minum sebnayak itu. Kurangilah lain kali, lebih bagus lagi kalau kamu tidak minum alkohol! Lihatlah kamu berjalan kesana kemari hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sungguh tak bertanggung jawab!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2