
Dia pasti sudah berada dirumah sekarang! Arimbi mengemasi barang bawaannya dan mengambil tasnya lalu berjalan cepat keluar dari kantornya. Saat Arimbi keluar dari gedung, ia menyadari beberapa mobil mewah berhenti diluar pintu masuk perusahaan. Meskipun semua kendaraan itu menarik perhatian, salah satu anggota manajemen teratas langsung mengenali mobil Emir diantara iring-iringan dari pelat nomor unik yang dikenal luas diseluruh kota.
Semakin Arimbi mendekat semakin jelas kalau semua itu mobil iring-iringan suaminya. Dia tercengang sesaat lalu mempercepat langkahnya dan keluar dari gedung itu secepatnya. Disaat bersamaan semua karyawan hanya bisa menatapnya tercengang tapi sebelum menyadarinya Arimbi sudah jauh dari mereka. Melihat tindakan Arimbi mereka pun mulai mengkritiknya karena merusak reputasinya sendiri sebagai putri keluarga Rafaldi.
Kemudian para karyawan itu mulai membandingkan Arimbi dengan Amanda yang mereka anggap lebih tenang dan dewasa. Mereka pikir Arimbi akan berjalan perlahan menuju mobil Emir layaknya berjalan dirumah Arimbi. Didalam lubuk hati mereka merendahkan Arimbi karena asal usulnya dari desa terpencil dan dianggap tidak sebanding dengan Amanda.
Banyak orang di perusahaan bahkan suka membanding-bandingkan si kakak-adik. Dimata mereka, Amanda adalah wanita muda cantik cakap yang disegani banyak pria di perusahaan.
Meskipun beberapa pengagum Amanda mengerahkan segala keberanian untuk menyatakan perasaan mereka padanya tapi Amanda selalu menolak mereka karena prinsip ketatnya bahwa tidak ada hubungan di tempat kerja.
Sebaliknya Arimbi setia pada suaminya tanpa mempedulikan reputasinya.Toh dia tidak peduli tentang pendapat orang lain dan tidak ada yang bisa dia lakukan tenatng penilaian orang padanya.
“Emir sayang.” Arimbi berdiri didepan mobil dan mengetuk jendelanya.
Emir membuka pintu mobil dan Arimbi langsung bertanya setelah masuk kedalam mobil. “Emir sayang, kenapa kamu disini? Apa kamu datang untuk menungguku?” Kemudian Arimbi menutup pintu dan memeluk suaminya sebelum memberikan kecupan di pipi suaminya.
Emir ingin merespon sikap istrinya yang menggairahkan, Emir pun bergerak mengikuti permainan istrinya hingga dia ingat kalau ada supir dan pengawalnya. Dia pun langsung mendorong Arimbi menjauh dan mengatupkan bibirnya, dia hampir kehilangan kendali jika tidak ingat ada orang lain didalam mobil. “Apa kamu tidak tahu malu? Kamu harus bersikap layaknya wanita baik didepan orang lain.” Emir menceramahi istrinya.
“Emir sayangku, bicara tentang wanita baik, aku yakin kamu sudah bertemu dengan mereka tapi kenapa kamu tidak jatuh cinta pada salah satu dari mereka? Satu-satunya jawabannya adalah karena kamu tidak tertarik pada mereka. Kamu lebih tertarik pada seorang gadis nakal yang tidak tahu malu yang selalu menciummu duluan.”
Rino dan supir saling bertukar pandang dengan senyum diwajah mereka, ingin tertawa tapi takut akhirnya mereka hanya bisa menertawakan Arimbi didalam hati masing-masing. Setiap kali Arimbi menggoda Tuan Emir, tetap saja Emir selalu jatuh ke dalam perangkapnya.
“Dasar wanita tidak tahu malu.” ujar Emir mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Sayang, terimakasih ya atas pujiannya. Eh, tapi kenapa kamu datang menjemputku? Apa kamu tidak sanggup menahan kerinduanmu padaku, sayang?”
“Jadi kamu tidak suka aku menjemputmu ke sini?”
“Bukan begitu. Tentu saja aku senang kalau suamiku yang tampan ini menjemputku. Saat aku melihat mobilmu diluar gedung aku berlari kencang seperti atlit olahraga. Kamu pasti tahu betapa terkejutnya aku, aku bahagia sekali kamu datang, sayang.” Arimbi menaruh tasnya dan mengalihkan pandangan ke buket bunga disamping Emir.
“Apa kamu membawa bunga yang kuberikan kemanapun kamu pergi?”
Emir tak menjawab pertanyaannya tapi dia malah memberikan buket bunga itu pada Arimbi lalu berkata, “Buket bunga ini menarik perhatianku saat melewati toko bunga tadi. Jadi aku menyuruh Rino untuk membelinya untuk membalas jasamu.”
Tangannya menggenggam erat buket bunga itu, Arimbi tersenyum bahagia dan dia menatap Emir penuh emosional. Pada saat bersamaan Emir tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan mata istri imutnya itu.
“Terimakasih, sayang. Kamu suami tampan yang terbaik.”
Saat mereka tiba dirumah nanti, Arimbi pasti mengagumi taman bunga yang indah itu dan dia akan merasa suasana rumah benar-benar berbeda dengan rumah yang penuh dengan bunga.
Karena penataannya yang bagus sudah pasti akan membuat Arimbi sangat senang. Sedangkan Emir membayangkan dia akan menemukan kedamaian saat nanti dia menemani istrinya menyiram bunga-bunga diluar rumahnya walaupun sebenarnya dia tidak suka dengan tanaman itu.
“Aku sangat menyukainya. Bunga ini membuatku bahagia. Omong-omong, apa kamu lapar?” tanya Arimbi sambil menaruh bunga itu dan meraih tasnya lalu mengambil kotak kue berisi muffin yang seharusnya dia makan tadi. Dia membuka kotak dan menaruhnya dihadapan Emir. “Kenapa kamu tidak makan ini dulu? Aku akan memasak sesuatu yang enak untukmu nanti.”
“Aku tidak suka kue.” Emir menatap muffin itu dengan rasa jijik.
“Tapi rasanya sangat enak. Ayo cobalah.” Arimbi mengambil satu muffin dan menyodorkan kemulut suaminya. Emir pun membuka mulutnya dan menggigit sedikit kue itu tanpa ekspresi diwajahnya.
__ADS_1
“Kamu membuatku berada diposisi sulit. Kamu sadar itu kan?”
Arimbi menganggap Emir hanya pura-pura tidak suka kue padahal sebenarnya dia suka tapi menyembunyikan sikapnya sama seperti ibunya sendiri.
Arimbi menyuapinya lagi dengan muffin sementara suaminya melihat kue itu dengan tatapan jijik. Tapi dia memperhatikan ekspresi suaminya saat mengunyah kue itu, dan dia melihat Emir melirik ke kotak kue seperti sedang menghitung ada berapa sisa kue didalam kotak.
‘Huh! Kamu tidak mau berhenti akting kan anak nakal? Untung kamu itu tampan.’ gumam hati Arimbi.
Arimbi menyuapi Emir dengan tiga muffin lalu menyimpan sisa kuenya untuk dirinya dan menjauh dari suaminya yang memandangnya dengan iri.
Sayangnya, hasrat Emir yang kuat membuatnya menunjukkan ‘wajah aslinya’ dihadapan Arimbi.
“Kue ini enak sekali ya. Sayangnya hanya ada sedikit, sejujurnya sayang sekali kalau aku tidak bisa makan semua kue-kue itu.” ujar Arimbi mengejek suaminya.
Emir langsung mengatupkan mulutnya tanpa mengatakan apapun lagi, sepertinya istrinya sudah mencurigainya yang sedari tadi melirik kotak kue, mungkin istrinya melihatnya.
“Kenapa kamu lama sekali?” tanya Emir mengalihkan pembicaraan.
“Aku lupa waktu. Rencananya aku mau pulang jam delapan malam tapi saat aku sadar aku sudah kelamaan didalam kantor. Aku langsung pergi dan saat keluar aku melihat mobilmu sudah sampai.”
“Bagaimana perasaanmu?”
“Jauh lebih baik daripada tadi pagi. Ya setidaknya aku mulai tertarik pada hal-hal lain.”
__ADS_1
“Arimbi! Aku tidak masalah kalau kamu bekerja tapi aku tidak suka melihatmu kerja lembur sampai tengah malam setiap hari. Kalau kamu lelah ambillah cuti dan istirahat saja dirumah.” ujar Emir dengan suara yang dalam. Bagaimanapun dia membutuhkan istrinya disisinya setiap waktu, Arimbi masih punya tanggung jawab pada suaminya.