
“Sudah lama sekali sejak aku bertarung dengan seseorang! Keterampilan menendangku sudah berkurang, dulu setiap kali aku menendang seseorang maka orang itu akan terlempar jauh dan terluka sangat parah!” kata Arimbi bicara pada dirinya sendiri tanpa mempedulikan Amanda.
Amanda melotot dengan mata penuh amarah. ‘Aku benci sekali wanita desa yang bodoh ini. Dia menendang perutku, sakit sekali!’ gerutunya dalam hati.
Arimbi menurunkan kakinya lalu menatap Amanda dengan ekspresi geli diwajahnya, “Kamu harus tahu kalau dulu aku ikut pelatihan ekstrakurikuler. Ketika para guru sibuk, aku harus turun tangan mengajari teman sekelasku. Jadi aku mempelajari semuanya, seni bela diri, bertarung, catur, piano dan banyak lagi deh pokoknya! Aku sangat terampil dalam hal apapun! Sebaiknya kamu menjaga sikapmu padaku mulai sekarang!” ujar Arimbi menyombongkan dirinya sambil balik mencemooh Amanda.
Amanda yang kesakitan tak mampu berkata-kata.
“Hei Amanda! Meskipun ayah dan ibu ingin agar aku melihatmu sebagai kakak perempuanku, tapi aku yakin kalau kau sadar kalau aku tidak melihatmu seperti itu! Jadi,berhentilah mengaturku seolah kamu saudara kandungku!” Arimbi membungkuk dan menekan dagu Amanda sambil mengamati musuhnya dari kehidupan masa lalunya itu.
Dia tidak menyangkal kalau Amanda adalah wanita cantik, itulah alasan kenapa Reza mencintainya. Amanda berusaha bangkit dari lantai dan mengangkat tangannya untuk memukul tangan Arimbi, "Kamu mengulangi kesalahan yang sama Arimbi! Aku akan memberitahu ayah apa yang telah terjadi saat dia pulang nanti. Kamu mungkin berpikir kalau aku tidak punya hak untuk memberimu pelajaran, tapi aku yakin ayah berhak melakukannya, kan?”
Ayah mereka sangat menghargai kinerja Rafaldi Group daripada Arimbi. Dia tidak akan membiarkannya dengan mudah jika dia tahu bahwa Arimbi telah menyinggung Emir. Arimbi mengerutkan dahinya sebelum menjawab dengan nada mengejek.
“Sudah kuduga! Kamu suka mengadu domba! Apa kamu pikir aku tidak tahu apa yang akan kamu katakan pada ayah? Kamu sengaja menyuruhnya untuk membiarkanku memilih ketika keluarga Serkan datang untuk melakukan perjodohan, kan?” ujar Arimbi.
“Jika aku tidak memberitahu ayah tentang itu, dia pasti akan menyetujui permintaan Keluarga Serkan untuk melakukan perjodohan. Dan jika itu terjadi maka kamu akan menghabiskan sisa hidupmu seperti janda meskipun punya suami! Aku melakukan itu demi kebaikanmu! Tapi kamu tidak mengerti dan tidak menghargai usahaku! Tapi aku tak percaya kamu melakukannya kali ini. Sejak kapan kamu berubah menjadi wanita yang tidak tahu terima kasih Arimbi?” Amanda kembali mencemoohnya.
Sebelum Arimbi menjawab, terdengar suara langkah kaki dari luar rumah. Tak lama kemudian Yadid memasuki rumah dan berjalan menuju kedua anaknya itu.
__ADS_1
“Ada apa Amanda?” dia baru menyadari jika Amanda telah meninggalkan kantor dan bergegas pulang kerumah. Yadid pun segera menyusul karena dia pikir mungkin sesuatu telah terjadi.
“Kenapa wajahmu Amanda? Siapa yang memukulmu?” tanya Yadid saat melihat wajah Amanda merah dan bengkak. “Katakan siapa yang mengertakmu Amanda? Aku akan menghukumnya. Berani-beraninya memukul putriku!” ujar Yadid marah.
“Tidak apa-apa ayah. Aku tadi tak snegaja menabrak sesuatu.” jawab Amanda cepat.
“Kamu pikir ayah ini buta? Sidik jarinya sangat jelas. Seseorang pasti memukulmu!” Yadid menggosokkan jarinya ke pipi Amanda dengan ekspresi sedih. “Pelacur itu benar-benar tidak menahan diri dengan tamparannya.”
Sandra ingin mengatakan sesuatu tapi Amanda langsung memelototinya agar dia menutup mulutnya. Arimbi sangat membenci sikap Amanda yang selalu bertingkah seolah saudara kandung yang baik didepan ayahnya, jadi dia memutuskan untuk mengakui perbuatannya.
“Aku pelacur yang ayah bicarakan!”
“Aku memukulnya.” jawab Arimbi jujur.
“Arimbi dan aku bertengkar tentang hal kecil, ayah. Dia hanya menamparku dan menendangku karena dia dibutakan oleh kemarahan.” kata Amanda, mengadukan Arimbi dengan penekanan di kalimat memukul dan menendang.
Mendengar kata-kata Amanda, ekspresi diwajah Yadid pun berubah menjadi muram. “Apapun alasannya kamu salah Arimbi! Kenapa kamu memukul kakakmu? Ayah mau kamu minta maaf pada kakakmu sekarang! Kamu sudah membuatku kecewa!” ujar Yadid Rafaldi dengan nada marah.
“Ayah, aku bisa meminta maaf padanya jika dia meminta maaf padaku. Jika dia tidak bersikap berlebihan dan tidak menceramahiku, aku tidak akan memukulnya,” ujar Arimbi menolak untuk minta maaf. Sudah sejak lama dia ingin menampar Amanda tapi kali ini dia melakukannya disaat yang tepat.
__ADS_1
“Amanda itu saudarimu, kamu tidak akan mati karena kritikannya. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau menerima nasehatnya tapi bagaimana bisa kamu memukulnya? Bagaimana pria dan wanita itu dulu mendidikmu, ha? Bagaimana bisa kamu berubah menjadi orang seperti ini?” Yadid secara naluriah bias terhadap Amanda karena dia adalah pewaris yang telah dia asuh selama ini.
Dia mempercayai dan menghargai Amanda meskipun Arimbi adalah putri kandungnya, dia tetaplah seseorang yang masuk ke keluarga ini, Yadid tidak bisa bersikap adil pada kedua gadis itu.
Arimbi menatap ayahnya dengan ekspresi bersalah. Meskipun dia tidak dekat dengan ayahnya dikehidupan sebelumnya, dia tidak bias terhadap Amanda saat itu. Namun sekarang dia telah memutuskan untuk merawat keluarganya di kehidupan ini, dia merasa sedih mengetahui jika ayahnya adalah pria yang bias. Mungkinkah beberapa orang dan hal-hal tertentu telah berubah karena reinkarnasiku? Pikirnya.
“Aku hanya memarahi Arimbi demi kebaikannya sendiri, ayah, Dia terus menerus menyinggung Taun Emir jadi aku takut Tuan Emir akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Itulah sebabnya aku merasa perlu untuk menceramahinya,”Amanda menjelaskan alasannya mengomeli Arimbi.
Setelah mendengar kata-kata Amanda, ayahnya pun semakin marah lalu menampar Arimbi dengan keras tanpa ragu-ragu.
PLAAKKK!
Arimbi bisa merasakan telapak tangan ayahnya menyentuh wajahnya. Pipinya langsung merah dan bengkak seketika. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan keras Yadid.
“Amanda telah menemanimu ke Keluarga Serkan untuk meminta maaf setelah kmau menolak pernikahan tanpa perasaan! Itulah kenapa mereka tidak mempermasalahkan lagi. Tapi, kamu menyinggung Tuan Emir lagi? Kamu pikir dia itu orang suci, ha? Menurutmu berapa kali dia bisa memaafkanmu? Amanda melakukan semua ini untuk kebaikanmu sendiri. Beraninya kamu memukulnya saat dia mencoba mendidikmu?” Yadid panik saat membayangkan wajah sedingin es Emir. Dia sangat takut pada Emir dan tidak ingin keluarganya mendapat masalah.
Memang masuk akal bagi Arimbi jika menolak pernikahan itu karena Keluarga Serkan tahu bahwa Emir tidak subur. Tapi sekarang masalah pernikahan telah selesai, Arimbi sedang menggali kuburannya sendiri jika dia menyinggung Emir dan itu akan menciptakan masalah bagi Rafaldi Group! Itulah yang dipikirkan oleh Yadid saat ini.
“Aku tidak menyinggung Tuan Emir, ayah!” Arimbi menyeka darah disudut bibirnya dan membela diri. “Aku tidak peduli kalau kalian tidak mempercayaiku tapi kenyataannya adalah aku sama sekali tidak menyinggung Tuan Emir hari ini.”
__ADS_1
“Masih berani kamu mengatakan itu? Mengapa kamu tidak menjauh darinya saat dia muncul?” Amanda kembali memarahinya dan menatapnya sinis.