GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 150. KAU HARUS MERAWATKU


__ADS_3

“Direktur Harimurti! Tolong beritahu aku apa niatmu yang sebenarnya.” ucap Arimbi lembut saat mereka sudah sampai dibawah sebuah pohon besar.


Sedangkan didalam hatinya Arimbu sudah sangat muak pada pria itu. Menurutnya, Dion Harimurti ini bukan pria baik seperti Emir suaminya.


Meskipun Emir dikenal seorang yang kejam tapi dia tidak akan melakukan trik murahan seperti yang Dion Harimurti lakukan.


Pria itu mendongakkan kepalanya dan menatap Arimbi sambil memamerkan wajah tampannya. Akan tetapi arimbi sama sekali tidak terpesona oleh ketampanannya karena dia sudah terbiasa melihat wajah tampan rupawan Emir suaminya.


Tetapi, tetap saja saat dia menatap Dion dan keduanya saling bertatapan, mata coklat Dion keemasan membuat Arimbi mengutuknya lagi didalam hati, ‘Bagaimana bisa wanita hidup tenang kalau ada pria setampan ini dimuka bumi? Pantas saja banyak wanita yang mengejarnya selama ini. Dan rumor yang beredar mengatakan dia memiliki kehidupan rumit meskipun masih berstatus lajang sampai sekarang.


Apalagi Arimbi banyak membaca beberapa berita tentang artis-artis yang berusaha meminta tanggung jawab pada Dion semuanya berakhir dengan kehancuran karir dan lenyap dari dunia hiburan.


“Kamulah yang menginjak kakiku Nona Arimbi! Jadi sudah seharusnya kamu yang bertanggung jawab. Sepertinya kamu tak ingin berurusan denganku, kalau dilihat dari caramu bertanya.” ujar Dion dengan datar.


Arimbi segera kehilangan kata-katanya sejenak hingga dia menjawab, “Aku bisa meminta tolong pada orang lain merawatmu. Aku punya pekerjaan dan tanggung jawab lainnya, waktuku sudah habis sehari-hari.”


“Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat sendiri. Kamulah yang membuatku terluka, jadi kamu yang harus merawatku, aku tidak menerima yang lain untuk merawatku.” ucap Dion yang tetap tak mau mengalah sedikitpun.


Dia memang tipe pria yang sangat keras kepala dan egois jika dia menginginkan sesuatu maka dia harus mendapatkannya. Dan saat ini dia menginginkan Arimbi.


“Direktur Harimurti! Kamu sudah pernah berjanji bahwa kita tidak akan pernah berurusan lagi!” ujar Arimbi mengingatkannya. “Apakah kamu orang yang suka melanggar janji?”


“Aku tidak pernah mendekatimu dengan sengaja Nona Arimbi!” balas Dion yang membuat Arimbi melongo. Hatinya semakin geram dan jika dia bisa ingin rasanya dia mencekik pria itu sampai mati.


Setelah diam beberapa saat akhirnya Arimbi bertekad untuk mendesaknya, “Aku benar-benar tidak bisa merawatmu. Tolong biarkan aku membayar ganti rugi dengan cara yang lain.”

__ADS_1


Setelah itu Dion menyeringai, “Nona Arimbi, sepertinya kemampuan untuk memahami situasi sangat kurang. Aku jadi merasa agak khawatir.”


Arimbi sudah mulai emosi dan hampir gila menghadapi pria licik itu. Dion bahkan lebih sulit untuk diatasi dibandingkan Emir. Pria ini sungguh rubah licik yang akan terus mendesak sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya.


“Apakah kamu takut dengan Emir?” tanya Dion akhirnya menebak.


“Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Jangan bawa-bawa namanya kedalam permasalahan ini.” elaknya dengan datar, karena Arimbi tahu mereka berdua adalah musuh bebuyutan.


Dia semakin yakin kalau niat Dion ini mengejarnya memang sengaja.


“Sepertinya kamu benar-benar protektif  pada Emir. Nona Arimbi, apa aku ketinggalan berita?”


Arimbi berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang agar Dion tak dapat membaca apa yang ada didalam pikirannya. Dia tiak akan terjebak tipu muslihatnya lagi, “Kamu berpikir terlalu jauh Tuan Harimurti! Aku disini hanya untuk menebus kesalahanku jadi kenapa Emir harus ikut campur disini?”


Saat Dion mendengar jawabannya, dia tertawa dna mengalihkan pandangannya, “Pohon ini tumbuh luar biasa dengan dedaunan yang rimbun.” ujarnya sambil mendongak.


“Aku masih tetap melakukan pemeriksaan dan konsultasi bersama para dokter ahli dan mereka semua tetap mengatakan hal yang sama. Tidak ada gejala amnesia namun aku terus memimpikan sesuatu yang menghantuiku tanpa henti. Mimpi dimana kamu dan aku ada didalamnya dan aku menyentuh perutmu….Itu tidak normal.”


“Karena kamu sudah diperiksa dan konsultasi juga, aku mempercayai apa yang diucapkan para ahli medis. Kamu tidak akan menderita amnesia, Direktur harimurti. Dan itu semua pasti hanya mimpibiasa. Semuanya akan kembali sama saat kamu terbangun, tidak ada yang berubah.”


“Tapi itu sama sekali tidak wajar. Aku hanya penasaran apakah hanya mimpi ataukah sebuah kenyatan. Kalau ini mimpi, kenapa aku memimpikan mimpi yang sama berulang-ulang? Apa maksudnya?” gumam Dion dengan ekspresi wajah serius.


Arimbi kembali diam tak mengatakan sepatah katapun. Sesungguhnya dia bahkan tidak memberitahu Emir, apalagi menceritakan kelahirannya kembali pada Dion.


Arimbi sungguh-sungguh takingin berurusan dengannya. Namun takdir selalu saja mempertemukan mereka berdua seolah-olah dia sedang mempermainkan Arimbi.

__ADS_1


“Nona Arimbi, tolong antarkan aku kembali kedalam.” Dion menyembunyikan kebingungannya dibalik ekspresi acuh-tak acuhnya. Arimbi pun membawanya kembali kedalam rumah sepserti yang diinginkannya.


Semua orang sudah menantikan kedatangan mereka kembali saat Yadid dan Mosha melihat mereka masuk, keduanya bertanya-tanya apakah putrinya itu menyetujui permintaan Dion.


Dion mengangguk, “Harimurti Group bekerjasama dengan Rafaldi group. Bagaimana pendapatmu Direktur Rafaldi?” tanya Dion pada Yadid ayahnya Arimbi.


Dia melirik arimbi saat menanyakan itu pada Yadid. Saat Yadid menyadari tatapan Dion pada putrinya, dia langsung memahami apa yang harus dia katakan.


“Ini adalah sebuah kehormatan bisa bekerjasama dengan Harimurti Group. Saat aku kembali ke kantor besok, aku akan datang secara pribadi dan mendiskusikan kerjasama kita, Direktur Harimurti.”


“Ayo pergi!” ucap Dion pada para pengawalnya setelah mengangguk. Pengawalnya dengan cekatan menghampirinya dan mendorong kursi rodanya. Ketika Dion sudah berjalan beberapa meter didepan, dia menoleh menatap Arimbi.


“Nona Arimbi, aku masih punya hak untuk membuatmu bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku.” setelah mengatakan itu, dia membiarkan pengawalnya mendorong kursi rodanya menjauh tanpa menoleh sedikitpun.


Keluarga Rafaldi mengantar kepergiannya dan saat mobil Dion sudah menghilang dijalan raya, Yadid akhirnya bisa menghela napas lega.


Yadid memiringkan kepalanya dan bertanya kepada putrinya, “Apa yang kamu katakan padanya tadi diluar? Dia tidak memintamu lagi untuk merawatnya kan?”


“Dia tidak memaksa.” Arimbi sendiri tidak tahu apa yang membuat pria itu berubah pikiran.


“Baguslah kalau begitu. Dion dan Emir adalah musuh bebuyutan. Kalau kamu merawat Dion, itu sama saja kamu mempermalukan Emir. Akan sulit untuk menjelaskan padanya. Kalau Dion sampai tahu mengenai hubunganmu dengan Emir, dia pasti akan menggunakannya untuk menyerang Emir.”


Yadid memijit pelipisnya sambil menghela napas sejenak lalu melanjutkan, “Arimbi, kamu harus jauh-jauh dari Dion mulai hari ini. Pria ini bukanlah seseorang yang bisa kamu pancing. Dia sangat picik dan mulai hari ini jika kamu melihatnya dimana saja, segeralah pergi menjauh. Kamu paham?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2