GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 121. BIBIR BENGKAK


__ADS_3

“Ayolah sayang. Kamu benar-benar menyebutnya pencabulan? Kita ini suami istri, wajar kalau aku menciummu. Itu hal yang dilakukan suami istri, paham kan? Kayak kita tidak pernah melakukan lebih dari ciuman saja? Baiklah…..kamu tidak mengerti itu karena kamu makhluk berdarah dingin yang tidak tahu caranya memanaskan dan menghangatkan sesuatu! Daripada berdebat denganmu lebih baik aku menghemat tenagaku untuk bercinta denganmu nanti, itupun kalau kamu mau sayang.” Arimbi menjulurkan lidahnya lalu tersenyum.


Meskipun bagi Arimbi kalau Emir itu sempurna dalam segala hal tapi satu hal tidak disukainya adalah sikapnya membosankan dan tidak romantis sama sekali. Emir bersikap seolah sudahmuak dengan ceramah istrinya, lalu dia berkata, “Terus saja mengomel. Hanya itu satu-satunya caraku untuk belajar bagaimana caranya supaya aku bisa menghadapi rayuanmu berikutnya.”


“Tidak apa-apa. Aku rasa lebih baik aku menyiapkan sarapan kita. Kamu mau makan apa? Aku juga mau menyiapkan untukmu kalau kamu mau tapi kalau kamu tidak mau maka aku akan memasak untuk diriku saja.” kata Arimbi tersenyum.


Dengan begitu banyaknya pelayan, Emir tak perlu kahwatir apakah Arimbi akan menyiapkan sarapan ataupun tidak. Jadi dia pun menjawab singkat, “Terserah padamu saja.”


“Baiklah kalau begitu. Kamu jangan mengeluh nanti ya.”


Dengan cepat Arimbi mengambil sepasang baju dari lemari dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Pada saat dia muncul kembali, dia terlihat memakai gaun warna polos, tak berselang lama Emir duduk di kursi rodanya dan mendangi istrinya sambil memasang wajah cemberut.


“Kamu yakin bisa nyaman memakai baju seperti itu? Sebaiknya kamu memakai baju yang menutupi bahumu….”


“Emir, istrimu ini wanita yang lembut dan penuh cinta! Berhentilah berpikir kalau aku wanita yang aktif menebar pesona kesana kemari.” protesnya tapi dia tetap mengganti pakaiannya. Kini dia mengenakan baju kaos berlengan pendek dan celana panjang. “Kamu benar juga. Aku rasa aku lebih merasa nyaman dengan pakaian ini karena aku bisa berlari cepat setelah nanti menggodamu.”


“Seharusnya kamu itu jadi polisi saja. Larimu kencang bisa mengejar pencuri dan perampok! Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya dengan baik dan menjadi polisi hebat!” ejek Emir.


“Suamiku sayang, apakah itu pujian? Atau kamu ingin membuatku nampak buruk karena aku berlari terlalu cepat?” tanya Arimbi sambil tersenyum manis. Emir tersenyum menatap istri cantiknya itu setelah Arimbi berhenti tersenyum dan napasnya seolah telah direnggut oleh senyum diwajah suaminya yang tampan.

__ADS_1


Meihat penampilan istrinya yang menarik, pria itu berdeham dan berkata, “Baiklah. Sudah saatnya untuk makan. Kamu pasti sudah kelaparan.”


Arimbi berjalan mendekati Emir dan menatap wajahnya lalu mengangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya sebelum dia mendaratkan ciuman dan menggigit bibir suaminya. Emir yang merasa kesakitan langsung menggelengkan kepalanya walaupun dia masih ingin melanjutkan sesi ciumannya.


“Apa yang terjadi dengan senyum memikatmu tadi? Kamu membuatku hampir terkena serangan jantung? Apalagi bibirmu seksi sekali sayang, seolah memanggilku jadi aku tidak bisa menolaknya.” ujar Arimbi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Emir.


Dia merasa puas sudah menggigit bibir suaminya lalu Arimbi menepu-nepuk lembut wajah suaminya dan berkata, “Kamu terlalu tampan apalagi kalau senyum. Bisa membuat orang-orang pingsan, aku saja sampai meleleh seperti lilin. Emir sayang, jangan memasang wajah datar ya membuatmu nampak mengintimidasi.”


Cup….dia mengecup cepat bibir Emir lagi. “Sejujurnya, saat pertama kali aku bertemu denganmu aku sangat takut dengan tatapanmu yang membuat kakiku gemetaran.”


Emir tidak percaya dengan semua perkataan Arimbi, kalau dia memang takut tidak mungkin dia memotong pergelangan tangannya untuk menolaknya. Setelah menolak lamarannya dia bahkan sangat berani muncul kembali dihadapannya untuk memaksa menikahinya. Emir mengakui kadang Arimbi memang pemalu tapi lebih sering tampil sebagai orang yang tak tahu malu.


Arimbi dibesarkan di pedesaan dan Emir memang tidak tahu banyak tentang masa lalunya, itulah sebabnya kenapa Arimbi sangat pemberani. Tapi, tanpa Arimbi sadari justru sifat pemberani, dan rendah hatinya yang membuat Emir ingin berada disisinya selamanya. Bagaimanapun dimata Emir, wanita itu terlihat jujur dan polos, Emir yakin kalau Arimbi akan selalu setia padanya dan tidak akan pernah mengkhianatinya.


Setelah kepergian istrinya, Emir memegang bibirnya yang digigit Arimbi. Karena gigitannya kuat dia merasa bibirnya mulai bengkak. Kondisi masih terlalu pagi dan seluruh komplek Villa Serkan masih sunyi senyap. Namun semua pelayan sudah bangun lebih pagi melakukan pekerjaan dengan hati-hati karena tidak mau membangunkan majikannya tanpa sengaja.


Saat Arimbi memasuki dapur dia sudah disambut dengan banyak sekali bahan makanan. Dia pun memeriksa semua bahan makanan dan dia sadar kalau dia bisa membuat satu meja penuh makanan dengan semua bahan makanan disana. Arimbi lebih suka makan sesuatu yang simpel untuk sarapannya jadi dia mau membuat bubur dan salad. Tapi tidak ada bahan salah diantara bahan makanan itu.


Dia pun terpaksa memilih dua bahan lainnya untuk dimakan bersama bubur. Saat dia sedang sibuk membuat sup ayam untuk ibu angkatnya terdengar langkah kaki dari luar.

__ADS_1


“Tuan Agha.”


Arimbi mendengar suara Beni yang menyapa seseorang, dia penasaran siapa yang datang kerumahnya sepagi itu yang disapa oleh kepala pelayan? Tuan Agha? Agha disini? Apa yang membawanya datang kesini? Tumben sekali ada keluarga Emir yang datang ke villa ini, sepagi ini pula.


Sejak Agha tahu kalau Arimbi adalah kakak iparnya, dia merasa penasaran untuk mengungkap kebenarannya, itulah alasan kedatangannya pagi ini. Dia yakin kalau benar pasangan suami istri pasti dia bisa lihat langsung di pagi ini kebenarannya. Agha pun bangun pagi-pagi sekali padahal ini akhir pekan dan itu bukan kebiasaannya di akhir pekan.


“Beni! Apa kakakku belum bangun? Ngomong-ngomong wangi sekali aromnya? Siapa yang sedang memasak didapur?” tanya Agha mengendus aroma wangi yang menguar dari arah dapur.


Beni tidak mengetahui kalau Agha sudah tahu identitas Arimbi dan dia pun menjawab, “Itu Nona Arimbi. Beliau sedang menyiapkan sarapan untuk Tuan Emir.


Mata Agha langsung berbinar sambil mendekati Beni. Kepala pelayan itu kaget dengan sikap Agha yang diluar dugaannya dia pun tak sadar mundur beberapa langkah dengan sopan bertanya, “Ada apa Tuan Agha?”


“Aku sudah tahu semuanya Beni!”


“Hah? Maksudnya? Apa yang anda ketahui Tuan Agha?”


“Arimbi adalah kakak iparku, iyakan?”


“Oh begitu ya.” ekspresi wajah Beni datar tanpa emosi.

__ADS_1


Saat mendengar ucapan Beni dan ekspresi wajahnya yang biasa saja, dia merasa tidak puas hati, “Beni! Kamu adalah kepala pelayan kakakkku, kamu pasti tahu banyak hal tentangnya. Sekarang katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka berdua. Aku pikir mereka tidak ingin menikah sebelumnya. Kenapa sekarang malah menikah diam-diam?”


 


__ADS_2