
Zivanna membelai wajah pria itu sambil tersenyum, dia menundukkan kepalanya lalu berkata lagi, “Aku akan selalu mencintaimu, Emir! Malam ini kubuktikan padamu semuanya! Kamu adalah milikku dan hanya akan menjadi milikku! Dengan mendapatkanmu maka kekuatan keluarga Lavani akan semakin kuat dan disegani!”
“Dan aku akan menjadi wanita paling dihormati dan berkuasa! Arimbi tidak pantas untukmu Emir! Tapi kamu jangan mengkhawatirkannya, karena seseorang akan membawanya ketempat yang sangat jauh! Tidak akan ada orang yang mengingat keberadaannya! Tidak juga denganmu! Aku akan membuatmu membencinya dan membuangnya!”
Flashback on
(Beberapa menit sebelumnya)
“Terima kasih Tuan Emir! Aku harap kedepannya kerjasama kita akan semakin berkembang di bidang lainnya.” ujar Ernest yang merupakan rekan bisnis sekaligus teman kuliah Emir semasa di luar negeri. Kedua perusahaan mereka sudah bekerjasama sejak lama.
“Ehm…...aku senang dengan kerjasama kita selama ini. Oh iya, bagaimana tentang hal yang ingin kamu bicarakan? Apa sudah ada perkembangan terbaru?” tanya Emir.
“Sudah! Ini semua informasi yang berhasil didapatkan anak buahku! Untuk jaga-jaga aku juga sudah mengirimkan ke email pribadimu.” ujar Ernest menyerahkan sebuah flashdisk kepada Emir.
“Lalu? Menurutmu apa dengan semua data ini kita bisa menghancurkan mereka?”
“Aku masih punya satu data penting lagi. Akan segera ku kirimkan begitu anak buahku sudah mendapatkan semuanya. Aku sudah melihat datanya, Emir…...sebaiknya kamu menjaga istrimu baik-baik! Jangan sampai apa yang menimpaku terjadi padamu.” ujar Ernes mengingatkan.
“Apakah orang yang sama yang mencelakai keluargamu waktu itu?”
“Mungkin! Tapi semuanya akan semakin jelas setelah aku mendapatkan informasi lengkapnya. Aku sudah mencoba meretas untuk mencari data orang itu, tapi sepertinya ada yang sengaja menghapusnya. Kamu ingat waktu itu kita punya proyek yang sangat besar? Siapa saingan terberat saat itu? Dan aku memenangkan tender itu bertepatan di waktu yang sama mereka membunuh istriku!”
“Ehm…..aku tahu! Jangan khawatir, aku akan melakukan bagianku. Terima kasih untuk data ini!” Emir menggoyangkan benda kecil ditangannya.
__ADS_1
“Emir! Aku terkejut sekaligus senang melihatmu bisa berjalan lagi, selamat untuk kehamilan istrimu!” Ernest menepuk tangan Emir sambil tersenyum, “Kita pernah lengah, tapi itu tidak akan terulang kembali! Sudah saatnya orang-orang itu membayar perbuatan mereka. Cek lah data itu sesampaimu dirumah. Selanjutnya aku serahkan padamu, ini bukan kotaku jadi aku tidak bisa berbuat banyak disini.”
“Ernest! Tiga tahun sudah orang-orang itu hidup tenang dan bersenang-senang! Aku janji sebagai temanmu, aku akan membalaskan kematian istrimu! Percaya padaku, aku tidak akan memberi ampun pada mereka.”
“Terima kasih Emir! Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum ada yang curiga.” ujar Ernest bergegas melangkah menuju pintu sebelum dia membuka pintu dia menoleh pada Emir, “Jaga istrimu baik-baik! Kamu beruntung Emir!” dia membuka pintu lalu menutupnya kembali.
Emir memasukkan flashdisk itu kedalam kantong rahasia di jas-nya. Lalu dia menghubungi Rino untuk menemuinya di pintu masuk.
“Tuan! Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Rino saat dia bertemu Emir di pintu masuk resort.
“Ambil ini! Buat copian dan simpan baik-baik. Aku harus kembali kedalam.” ujar Emir menyerahkan flashdisk itu kepada Rino. “Cek isinya. Laporkan padaku nanti.”
“Baik Tuan. Waktunya sudah hampir tiba, Tuan.” Rino mengingatkan lalu berbalik bersamaan dengan Emir yang kembali masuk ke resort untuk menemui Arimbi.
Saat Emir membuka pintu kamar itu dan masuk, dia mencium aroma yang tak biasa. Namun dia mengacuhkan dan melepaskan jasnya lalu meletakkan di atas sofa. Emir mengedarkan pandangan ke seluruh kamar namun tak menemui ada keanehan, dia meraih gelas diatas meja dan mengisi dengan air minum dan meneguknya.
Lima menit kemudian, suara pintu terbuka diiringi langkah kaki dan dentaman pintu kamar yang ditutup. Sosok wanita bergaun mewah melangkah dengan percaya diri dan tersenyum menyeringai. Saat dia memasuki kamar dan melihat sosok pria tampan yang terbaring pulas diatas tempat tidur.
Flashback off
Diatas panggung, seorang penyanyi wanita sedang menyanyikan lagu romantis. Tampak beberapa orang berdansa bersama pasangannya. Tiba-tiba, suara sang penyanyi hilang dan layar lebar dibelakangnya memperlihatkan gambar seseorang.
__ADS_1
“Ah! Apa itu? Kenapa ada yang seperti itu diacara bisnis seperti ini?” tanya seorang tamu.
“Ya ampun! bu----bukankah itu? Sepertinya wajahnya tidak asing.”
Semua mata terpaku dan orang-orang yang berdansa berdiri tak bergeming menatap ke layar lebar.
“Oh Tuhan! Bukankah itu Nona Zivanna? Putri keluarga Lavani?” teriak seseorang.
Di layar terlihat seorang wanita yang melepaskan pakaiannya dan melangkah keatas ranjang sambil berkata, “Emir! Aku mencintaimu sejak dulu! Tapi aku seorang wanita yang berlogika tak mungkin berada disisimu yang lumpuh. Tapi dihatiku hanya mencintaimu seorang. Tidak ada seorang wanita pun boleh memilikimu Emir! Malam ini kamu akan menjadi milikku selamanya! Aku terpaksa melakukan ini untuk mendapatkanmu!”
“Ah, sungguh memalukan!” teriak seorang wanita menutup mata suaminya. “Jangan lihat-jangan dilihat! Menjijikkan sekali!”
Tapi tamu lainnya tetap memperhatikan apa yang ada dilayar itu, seolah menunggu kelanjutan bahkan tak ada seorang pun yang memprotes dan menyuruh untuk dimatikan. Sedangkan Dion dan Amanda yang sedang berada di lantai empat tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tampilan di layar berganti ke adegan selanjutnya, “Aku tidak ingin kejam Emir! Tapi cinta membuatku buta! Dulu aku selalu mengejarmu tapi kamu selalu menolakku, hingga kakak laki-lakiku terpaksa bertindak nekat! Dia mencelakaimu! Dia membuatmu kecelakaan untuk memberimu pelajaran! Itu bukan mauku! Aku tidak mau kamu terluka!”
“Ah!” para tamu terkejut. Mereka tidak menyangka jika kecelakaan yang menimpa Emir adalah ulah salah satu anak dari keluarga Lavani. Bahkan para tamu terlihat semakin bersemangat ingin melihat lebih lanjut drama yang sedang berlangsung di kamar 408.
“Sungguh keterlaluan! Kenapa kalian semua pada diam dan menonton saja? Cepat cari dimana wanita itu berada? Sepertinya Tuan Emir dalam keadaan tidak sadarkan diri!” teriak seseorang lagi.
Tiba-tiba tampilan dilayar berubah, kini menunjukkan sebuah ruangan yang terlihat seperti sebuah ruang VIP sebuah restoran. Didalam ruangan itu ada Gio, Zivanna dan Amanda yang sedang duduk berhadap-hadapan. Tampak Amanda menyodorkan map berisi berkas kepada Gio.
__ADS_1
“Apakah ini semua data klien dari Rafaldi Group? Aku akan menghancurkan perusahaan itu dan merebutnya! Perusahaan kami akan mengambil alih Rafaldi Group setelah perusahaan itu dinyatakan bangkrut. Dan kamu akan menduduki posisi direktur, Amanda! Semua sesuai rencana kita! Saat keluarga Rafaldi sudah berada ditangan kami maka kekuatan keluarga Lavani akan semakin besar.”