GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 254. HANYA SEORANG PEGAWAI


__ADS_3

“Hmmm…..perempuan itu kemanapun akan selalu menggoda laki-laki.” geram Zivanna. “Apa kamu tahu siapa laki-laki itu?”


“Namanya Tuan Jordan. Katanya rekan kerja, apa kamu percaya? Mana ada rekan kerja pergi bersama keluar bersenang-senang. Zivanna…..aku sangat ingin membalas perempuan itu!”


 "Zivanna kalau tidak salah pria itu adalah manajer dari PT. LIBRA ELEKTROINDO." ucap Ruby lagi.


“Hem….selesaikan dulu urusanmu secepatnya dengan Reza. Paksa dia untuk segera melaksanakan pernikahan kalau dia ingin aku memaafkannya!” Zivanan tersenyum sinis. ‘Aku bisa gunakan Reza untuk membalas Arimbi kalau dia sudah menikahi Ruby! Dia harus bisa dikendalikan.’ bisik hatinya.


“Apa kamu paham?”


"Apa yang ingin kamu lakukan setelah menikah nanti? Ruby, keluarga Kanchana itu bukan keluarga yang mudah. Mereka mau bertanggung jawab karena kamu adalah sepupuku.:


"Tapi aku melihat sikap Reza padaku, dia sangat baik. Zivanna....hanya ini kesempatanku menikah dengan pria yang kelasnya berada diatas keluargaku. Lagipula, Reza tampan." ucapnys tersenyum malu-malu.


******


Di rumah sakit umum Metro. Saat Pratiwi dan putranya Adiran sedang makan terdengar suara ketukan di pintu kamar. Pratiwi ingin membukanya tapi Adrian dengan sigap berkata, “Duduk saja, BU. Aku yang akan membuka pintunya.”


Adrian meletakkan mangkuknya dan berdiri dengan cepat. Saat dia sudah membuka pintu, suara lembut memanggilnya, “Adrian!”


Adrian tersenyum lebar saat dia menatap Arimbi dengan lembut. Namun senyum itu sedikit memudar saat dia melihat Emir disampingnya.


Adrian akan bertanya kepada Arimbi saat dia mendorong kursi roda Emir masuk kedalam ruangan. Begitu juga dengan Rino yang berjalan mengikuti dibelakangnya. Dia membawakan suplemen yang telah dipersiapkan tadi.

__ADS_1


“Bu,” ucap Arimbi memanggil Pratiwi dengan lembut.


Pratiwi meletakkan mangkuknya dan menayap Arimbi dengan senyun seraya berkata, “Kamu sudah makan Arimbi? Kalau belum, mintalah pada kakakmu untuk pergi membelikan makanan.”


“Tidak perlu Bu. Kami akan makan setelah sampai dirumah.”


Jika dia datang sendiri, dia sudah pasti akan menemani ibu angkatnya untuk makan tapi karena Emir juga hadir disana, dia tidak berani memintanya untuk makan bersama keluarga angkatnya itu.


Pratiwi melihat Emir, pria ini memang sangat tampan dan Arimbi terlihat serasi berdiri disampingnya. Akan tetapi, dia terbelenggu di kursi roda.


“Hai, Bu!” sapa Emir. Dia tidak bicara sepatah katapun menunggu sampai ibu dan anak itu selesai bicara. Suaranya sangat lirih, tapi terdengar membahagiakan.


Pratiwi merasa canggung saat Emir memanggilnya dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk meresponnya. Dia pun melihat kearah Arimbi dengan cepat. Adrian juga terkejut, ekspresi wajahnya berubah dengan cepat saat dia kembali ke sisi ibunya.


“Kamu…..” Pratiwi tidak tahu harus berkata apa. Sebelumnya, Arimbi sudah menjanjikan Emir kalau dia akan membiarkannya menjelaskan identitasnya oleh dia sendiri. Jadi Arimbi lebih memilih diam dan menatap Emir.


“Ibu, aku adalah suami Arimbi. Nama keluargaku adalah Serkan dan namaku adalah Emir. Aku berumur tiga puluh tahun pada tahun ini. Aku adalah anak tertua di keluarga Serkan dan sekarang bekerja di Serkan Global Group.”


Mendengar bagaimana suaminya itu memperkenalkan dirinya, Arimbi hanya bisa mendengus didalam hatinya. Dia seorang pegawai? Apakah ada orang lain yang jabatannya setingkat dengan dia? Setelah memikirkannya beberapa saar, akhirnya Arimbi pun mengerti.


Walaupun Emir adalah kepala keluarga Serkan dan memegang posisi paling tinggi di perusahaan keluarganya, dia hanyalah orang yang bertanggung jawab atas bisnis keluarga. Itu bukanlah perusahaan miliknya. Karena itu, bisa dikatakan kalau dia hanyalah seorang pegawao yang bekerja untuk keluarga Serkan.


Bagaimanapun, dia tetap jauh lebih berkuasa dibandingkan pegawai lainnya. Emir berkata kalau dia hanyalah pegawai karena dia tidak ingin memberi terlalu banyak beban kepada Pratiwi. Wanita itu selalu khawatir dihadapannya dan tidak berani berlagak sombong.

__ADS_1


Wanita itu selalu khawatir dihadapannya dan tidak berani berlagak sombong layaknya ibu mertua yang lain. Karena Arimbi sangat peduli pada keluarga Darmawan, Emir berharap dia bisa menerima keluarganya dan hidup berdampingan dengan baik tanpa perbedaan kelas sosial diantara mereka.


“Emir Serkan? Tuan Emir?” Adrian sempat bergumam, tapi dia mengeraskan suaranya, dia terkejut. Lalu dia menatap Arimbi. Saat dia menyadari kalau wanita itu tidak punya niat untuk menjelaskan lebih lanjut, dia melangkah ke depan lalu menarik Arimbi dan berkata.


“Maaf, Tuan Emir. Saya harus berbicara empat mata dengan Arimbi.” tanpa menunggu jawaban Emir, dia menarik Arimbi ke luar. Sementara itu Pratiwi menyadari tatapan Emir yang dingin saat tangan anaknya yang memegang tangan putrinya. Dia merasa takut, karena dia tahu tentant pencapaian Emir yang menakjubkan bahkan di pedesaan.


Pria yang menjadi suami Arimbi itu layaknya seorang Dewa. Tatapannya sangat menakutkan! Setelah emngingat kalau Arimbi dan anaknya adalah saudara tanpa hubungan darah, Pratiwi menjadi panik. “Tu---Tuan Emur. Uh----anda mau minum apa?”


Pratiwi ingin meminta Emir untuk duduk, tapi Emir sudah berada di kursi roda jadi dia mengganti topiknya dan bertanya apakah dia ingin minum atau tidak.


“Aku tidak haus, terima kasih atas tawarannya, Bu.”


Emir menatap makan siang Pratiwi yang belum selesai dimakan. Dengan malu-malu wanita itu berkata, “Kami baru saja makan.”  dia tidak ingin mengundang Emir untuk makan bersamanya. ‘Dia adalah Tuan emir, bagaimana caraku untuk mengundangnya makan bersama dengan layak? Pikirnya.


‘Kenapa dan sejak kapan Arimbi menikahi Emir? Tidak ada satupun anggota keluarga Darmawan menerima kabar ini. Apakah karena Arimbi tidak menyukai kami dan dia tidak ingin kami datang ke pernikahan mereka?’ bisik hati Pratiwi yang terus sama memikirkannya.


“Bu, Arimbi dan aku belum mengadakan pesta pernikahan. Kami baru memberitahu keluarga dan orang-orang terdekat kami saja, kami belum mengumumkan ke publik.” ucap emir menjelaskan seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Pratiwi.


Emir bertingkah layaknya dia bisa membaca pikiran orang lain. Sementara pikiran Pratiwi berkecamuk, Emir sudah menjelaskan situasinya kepada Pratiwi. Sekarang wanita itupun paham, tapi dia merasa lebih tertekan.


“Kamu dan Arimbi menikah diam-diam? Kamu tidak tulus menikahi Arimbi? Emir, aku tahu kalau kamu ini orang kaya dan mempunyai kekuasaan yang hebat. Arimbi mungkin tidak cocok dari segala aspek di matamu, tapi bagi kami, dia adalah segalanya.”


“Kami tidak bisa membiarkannya menderita karena beban yang tidak terbayangkan kelak datang beruntun padanya. Jika kamu tidak ingin orang lain tahu kalau kamu sudah menikahi gadis desa, tolong jangan buat Arimbi menderita dan tinggalkan dia sesegera mungkin. Kamu harus pergi diam-diam sebelum orang-orang tahu tentang hal ini. Dengan cara ini, kalian berdua tidak akan terkena dampaknya.”

__ADS_1


__ADS_2