
“Emir, bolehkah aku berbicara? Kurasa Arimbi sungguh sudah melewati batas kali ini. Dia telah menikahimu tapi masih berani memikirkan si sampah Reza itu! Bagaimana bisa orang seperti itu bisa dibandingkan denganmu? Arimbi itu sungguh wanita yang punya selera buruk, dia tidak tahu apa-apa’” ujar Agha menatap pria didepannya.
“Emir bagaimana kalau aku menelepon anak buahku supaya bisa menyeretnya pulang dan mengurungnya? Buat dia kelaparan selama seminggu atau bagaimana kalau kamu patahkan kedua kakinya? Kita lihat bagaimana dia akan menemui si Reza bangsat itu! Kita juga bisa meracuninya sampai dia tidak bisa mengenali ibunya sendiri! Dengan begitu, dia akan berhenti memikirkan Reza!”
Emir menatap adiknya dengan tajam dan menjawab dengan suara dingin, “Kalau kamu berani menyentuhnya, aku akan memutuskan hubungan keluarga diantara kita!”
Mendengar itu Agha tak kehabisan akal untuk memprovokasi saudaranya, ini sungguh menyenangkan baginya karena untuk pertama kalinya dia melihat Emir sangat peduli pada seorang wanita.
“Tapi Emir, kenapa kamu masih membelanya sampai sekarang? Seorang wanita serendah sesombong dan secuek Arimbi harus diberi pelajaran yang tidak bisa dia lupakan. Kamu harus membuatnya tahu kalau wanita yang menikahi keluarga Serkan harus menuruti peraturan yang ada dikeluarga kita.”
“Apa kamu bisa berhenti membuatku marah sekarang?” ujar Emir semakin marah karena terprovokasi ucapan adiknya. “Jangan pernah berani ikut campur dalam urusan rumah tangga kami. Kamu tidak tahu apa-apa tentang hubungan suami istri! Menikahlah maka kamu akan paham!”
“Tapi kakak ipar sudah membuatmu sangat marah hingga kamu rela kelaparan begini. Aku mengerti perasaanmu Emir. Jadi mana bisa aku tak meluapkan amarahku padanya? Biar aku pergi menyuruh anak buahku menyeretnya pulang sekarang dan minta maaf padamu. Apa kamu akan diam saja disini kelaparan sementara dia entah dimana sekarang.”
“Sudah kubilang jangan ikut campur!” teriak Emir semakin marah.
Agha hanya menjawab, “Oke, oke, aku akan berhenti ikut campur. Emir bagaimana kalau aku menelepon beberapa orang untuk memperingatkan Reza?”
“Tak perlu!”
Dengan wajah sangat kesal Emir mengatakan, “Aku, Emir Rayyanka Serkan tak perlu memperingatkan siapapun soal hal ini. Kalau dia wanitaku maka dia akan selalu menjadi wanitaku! Hingga saat aku melepasnya pergi, dia akan selalu menjadi milikku!” Emir yakin kalau suatu hari dia akan bisa menguasai hati wanita itu dan membuat Arimbi hanya fokus memikirkannya saja.
Jadi bukan hal yang tepat untuk memperingatkan saingannya. Hanya dengan menguasai hati Arimbi saja akan menjadi hal yang terbaik untuk mengalahkan musuhnya.
“Emir, perlukah aku menelepon staff untuk membersihkan meja ini dan membawakan makanan yang biasa kamu makan? Kamu belum makan apa-apa siang ini.”
Agha berdiri tetapi Emir langsung menolak bantuan Agha. Menggunakan kekuatannya sendiri, Emir berusaha berjalan sendiri ke kursi rodnya sebelum keluar dan berkata, “Aku tidak lapar. Aku tidak akan makan.”
__ADS_1
“Emir!” Agha memanggilnya. Dia merasa khawatir melihat kakaknya yang menolak makan.
“Jangan kamu membuat masalah dengan Arimbi dan jangan pernah hubungi dia.” perintah Emir.
Agha tercengang dengan perintah pria itu. Dia sudah sekesal itu tapi masih tak ingin ada seorangpun menghubungi Arimbi. Arimbi juga salah, kenapa dia tak menelepon kakakku? Pikir Agha. Agha hanya bisa menatap dengan putus asa pada Emir yang perlahan keluar dari kamar presidential suite itu.
Walaupun Agha mahir dalam mengelola hotel, tapi dia sama sekali tidak pandai menghibur kakaknya. Sejak kecil Emir selalu diperlakukan supaya bisa menjadi ahli waris di masa mendatang.
Jadi dia memiliki kedudukan spesial di keluarga mereka. Hal ini membuatnya sangat mendominasi hingga dia terbiasa mengontrol segala sesuatu dan ingin semua orang mematuhinya.
Bahkan jika itu adalah masalah antar pasangan. Emir masih berharap Arimbi menyerah terlebih dulu. Agha mulai merasa kasihan pada orang-orang yang bekerja di Serkan Global Group apalagi orang dengan jabatan yang tinggi. Agha hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka, dia diam-diam berdoa untuk para petinggi di perusahaan Emir.
...******...
Saat bersamaan Keluarga Kanchana tampak baru saja keluar dari kediaman Keluarga Zimena, senyum diwajah mereka seketika menghilang. “Sayang, lihatlah cara mereka memperlakukan kita. Kita bahkan berkata kalau Reza akan bertanggung jawab, tapi mereka masih saja bersikap jual mahal.”
Angan-angannya untuk mempunyai menantu kaya dan cantik buyar sudah. Hal ini akan membuatnya tak bisa lagi menyombongkan diri didepan teman-temannya.
“Diamlah!” Harry kanchana memarahi istrinya dengan nada rendah berkata lagi, “Kita akan membicarakan soal ini saat sudah pulang nanti. Ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya.”
Yessi langsung mengatupkan bibirnya, tak berani membuat suara apapun lagi. Mereka duduk didalam mobil yang sama, Reza yangmenyetir. Setelah mobil itu meninggalkan kediaman Zimena, Harry berkata pada putranya, “Reza, alasan mereka belum setuju dengan cara kita meminta maaf adalah karena kita belum menunjukkan ketulusan dari pihak kita. Mulai sekarang, kamu harus sering berkunjung ke kediaman mereka. Lakukanlah dengan tulus supaya mereka luluh.”
Dimata Harry Kanchana, walaupun anaknya yang salah, dia yakin kalau semua ini terjadi karena dia mabuk, karena keinginan Reza sendiri. Dia pikir putranya itu tampan dan mampu untuk melakukan apapun.
Disisi lain, Ruby Zimena memiliki penampilan biasa saja dan sama sekali tidak cocok dengan semua kualitas yang dimiliki Reza.
Sungguh mereka tak menyangka lamaran mereka akan ditolakoleh keluarga Zimena. Nyatanya, walaupun keluarga Zimena tak terang-terangan setuju untuk membiarkan anak mereka menikah sebagai cara Reza bisa bertanggung jawab, Keluarga Zimena masih memperlakukan mereka baik. Dari cara Ruby memperhatikan Reza, Harry tahu kalau wanita itu menyukainya.
__ADS_1
Tapi karena Ruby adalah seorang gadis, mau tak mau mereka harus memikirkan tentang ini. Reza pun mengangguk, “Aku mengerti ayah.”
Demi masa depan karir dan keluarganya, dia akan memaksa Ruby untuk memaafkannya dan menikahinya. Reza merasa dia lumayan jago dalam merayu wanita.
Buktinya, kakak adik keluarga Rafaldi sangat mencintainya. Amanda yang merupakan kandidat istimewa bagi Gionino Lavani saja lebih memilih untuk mencintainya, itu adalah bukti terbaik.
Setelah sepuluh menit, keluarga Kanchana akhirnya tiba di kediaman mereka dan saat itu mereka melihat sebuah mobil terparkir didepan pintu masuk.
Dengan melihat sepintas saja, Reza mengenali kalau itu adalah mobil Joana Ganesha. Tahu kalau Joana tak akan datang mencarinya, Reza tahu kalau arimbi juga pasti ada disana. ‘Apakah dia tahu kalau aku akan menikahi Ruby dan menjadi panik?’ pikirnya yang membuat Reza merasa angkuh dan sok cakep.
“Tuan, Nyonya….Nona Arimbi dan Nona Joana ada disini.” pelayan yang datang membuka pintu depan memberitahu mereka. Arimbi sudah datang! Saat itu Reza menjadi bersemangat.
Sejak Arimbi pergi kesisi Emir, wanita itu selalu menampakkan sikap tidak suka dan tak peduli seberapa kerasnya Reza mencoba untuk meluluhkan hatinya.
Author spill nih visualnya Reza Kanchana, Amanda dan Ruby ya 😁😁 pembaca bisa bandingin deh dua wanita ular
Visual REZA KANCHANA
Visual AMANDA RAFALDI
Visual RUBY ZIMENA
__ADS_1