
Keesokan paginya Emir membangunkan Arimbi pukul delapan pagi untuk sarapan meskipun seharusnya ini cukup telat baginya untuk sarapan. Tapi melihat istrinya yang tidur lelap sehingga Emir pun tak beranjak dari ranjang dan hanya menyibukkan dirinya dengan ponsel memeriksa email dan membalas email. Dengan sabar dia menunggu sampai Arimbi bangun.
Tadi malam Emir melakukannya hingga berkali-kali sehingga membuat tubuh Arimbi tak berdaya. Bahkan saat yang terakhir Emir bahkan melakukannya saat Arimbi sudah tertidur karena kelelahan. Setelah membersihkan tubuh Arimbi sehabis malam panjang, mereka pun tertidur. Lalu tadi pukul enam saat Emir terbangun dia langsung menghubungi dapur untuk menyiapkan sarapan.
“Sayang, ayo bangun. Kamu harus makan! Ini sudah jam delapan!” Emir menggoyangkan lengan Arimbi untuk membangunkannya tetapi wanita hamil itu tidak berniat membuka matanya. Tubuhnya kelelahan.
“Ayo bangun Arimbi. Kamu bisa lanjut lagi tidurnya setelah sarapan.” Emir mengelus lembut rambut istrinya. Hingga akhirnya Arimbi yang terusik pun terbangun sambil mengerucutkan bibirnya.
“Jangan lagi seperti tadi malam. Aku benar-benar tidak sanggup melakukannya! Apa kamu tidak kasihan padaku? Perutku besar seperti ini! Kenapa tenagamu kuat sekali?” protesnya yang salah paham mengira Emir memintanya lagi. Ini membuat Emir tertawa.
“Tidak lagi. Aku membangunkanmu untuk sarapan. Kamu dan anak kita butuh asupan gizi.”
“Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku. Pinggangku pegal! Aku sudah minta berehnti tapi kamu tidak mendengarkanku. Kamu malah meneruskannya! Apa kamu melakukannya lagi saat aku tidur? Aku merasakannya.” Arimbi kembali mengeluh. Mereka melakukannya hingga pukul empat pagi. Bayangkan seperti apa kondisi Arimbi sekarang yang kelelahan dan tidak cukup istirahat.
“Maaf Arimbi. Lain kali aku akan mendengarkanmu.” Emir tidak akan membuang kebiasaannya membuat istrinya terjaga dimalam hari. Hanya saja dia akan menggunakan banyak trik setelah ini.
“Aku tidak percaya padamu! Kamu selalu menjebakku!”
“Baiklah, aku akan menguranginya oke? Apa kamu senang sekarang?”
“Menyebalkan!” Arimbi memukul lengan Emir namun karena tenaganya tidak adanya pukulan itu tidak terasa sama sekali. Emir merasa gemas dengan perilaku istrinya selama masa kehamilannya.
Kadang Arimbi yang merengek-rengek minta diteruskan tapi kadang dia marah-marah dan menolak Emir. Setelah Emir tidur, Arimbi kembali merajuk karena tidak disentuh oleh Emir.
Tanpa menunggu lama Emir menggendong Arimbi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai berpakaian keduanya turun ke lantai bawah untuk sarapan. Emir membantu Arimbi makan, dan selama Arimbi hamil mereka tidak makan di paviliun seperti biasanya. Karena Emir khawatir Arimbi akan lelah berjalan ke paviliun sehingga mereka pun makan diruang makan.
“Emir sayang, suamiku paling tampan dan paling kaya! Ah…..aku beruntung sekali mendapat suami kaya! Aku bisa menghabiskan uang suamiku.”
__ADS_1
“Hahaha……sepertinya kamu belum shopping bulan ini. Uangku masih utuh.” ucap Emir.
“Oh, terima kasih suamiku. Kamu sudah mengingatkanku! Bolehkah aku mengajak Joana dan Grace pergi shopping hari ini?”
Emir tertawa mendengarnya, Arimbi benar-benar berubah menjadi semakin berani dan ketus disaat bersamaan selama masa kehamilannya. Tapi itu justru terlihat lucu dimata Emir.
“Apa kamu masih sanggup berjalan, hem? Aku bahkan menggendongmu ke kamar mandi dan juga sampai kesini.” Emir tersenyum mengedipkan matanya menggoda Arimbi.
“Tidak bisa! Mungkin sampai besok aku tidak bisa berjalan! Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Aku mau shopping tapi aku tidak bisa jalan?”
“Bagaimana kalau aku meminta butik mengirimkan barang-barang yang mau kamu beli?”
“No! Itu tidak asyik! Aku mau memilih sendiri barang-barangnya.”
“Lalu apa bedanya dengan menyuruh mereka mengantarkan kesini lalu kamu memilih yang kamu suka? Aku benar-benar tidak mengerti wanita! Kenapa harus merepotkan pergi ke mall?”
“Bagaimana kalau kamu duduk di kursi roda diantar pengawal pergi shopping. Joana dan Grace bisa menemanimu. Kamu tidak akan lelah jalan kaki. Bagaimana menurutmu?”
“Nah itu baru benar! Dimana kursi rodanya? Apa kata orang-orang nanti kalau melihat istri dari Emir Serkan duduk di kursi roda?”
...******...
“Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan yang kuminta?”
Saat ini Amanda sedang berada di sebuah restoran di pinggiran kota dan bertemu dengan seseorang. Dia memilih tempat itu sebagai tempat pertemuan karena berada di pinggiran kota dan orang-orang dari kalangan atas tidak akan datang kesana. Tempat itu hanya restoran lokal biasa yang biasanya jadi tempat nongkrong kalangan biasa.
Pria itu menyerahkan amplop berwarna coklat pada Amanda yang berisi informasi yang diinginkannya. Amanda membukanya dan membaca isinya. Sudut bibirnya terangkat,
__ADS_1
‘Sepertinya tidak akan sulit untuk menyingkirkan wanita ini! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang Reza! Aku akan membuatmu merasakan sakit kehilangan orang-orang terdekatmu.’
“Bagaimana Nona? Aku yakin anda pasti puas dengan hasil kerjaku.”
“Ya cukup bagus! Apa kamu bisa melakukan pekerjaan lain?”
“Apapun bisa aku lakukan! Tergantung bayarannya. Katakan saja apa yang nona mau aku kerjakan! Melenyapkan orang? Atau bagaimana?” pria itu menyeringai. Dia akan melakukan apa saja demi uang.
Lagipula dia tahu kalau Amanda pasti membayarnya dengan mahal. Dia sudah pernah bekerja pada Amanda sebelumnya sehingga dia tahu apa yang diinginkan wanita itu.
“Sepertinya kamu bisa menebak dengan benar apa yang ku inginkan.” ucap Amanda.
“Apa nona mau melenyapkan wanita itu?” tanya pria itu lagi.
“Ya, tepat sekali tebakanmu! Apa kamu bisa melakukannya?”
“Baiklah. Bayarannya sama seperti sebelumnya. Bayar setengah didepan dan sisanya setelah pekerjaan selesai. Bagaimana? Apa cukup melenyapkannya saja? Tidak ada yang lain?” tanya pria itu lagi.
“Hal pertama yang harus kalian lakukan adalah, menaku- nakutinya dan menerornya dulu. Setelah itu barulah kalian melenyapkannya.” ucap Amanda dengan serius.
“Kenapa harus bertele-tele nona? Langsung saja lenyapkan!” pria itu mengerutkan dahinya.
“Siapa yang jadi bos disini? Aku atau kamu? Kamu hanya perlu menjalankan perintahku! Ikuti aturan mainku. Aku mau memberi peringatan dulu pada mereka dan mendapatkan sedikit uang dari suaminya. Setelah itu barulah langkah selanjutnya melenyapkannya. Apa gunanya melenyapkan wanita itu kalau tidak mendapatkan uangnya?” Amanda sudah memikirkan hal ini.
Dia tidak rela jika Reza memberikan uangnya pada Ruby, sedangkan Amanda pun mengandung anak Reza! Bukankah lebih baik kalau dia bisa mendapatkan uang dari Reza? Setelah itu baru orang suruhannya melenyapkan Ruby? Pria itu bukan saja kehilangan uang tapi juga kehilangan istri dan calon anaknya? Sempurna! Ini adalah pembalasan yang sempurna!
“Baiklah nona. Aku akan lakukan seperti kemauan anda! Kapan kami bisa memulainya?”
__ADS_1
“Secepatnya! Lakukan dengan bersih, jangan ada satu bukti pun yang nantinya akan memberatkanku. Kamu paham itu kan?” Amanda menegaskan pada pria itu. Dia tahu pria ini sudah terbiasa melakukan pekerjaan kotor seperti itu. Jadi tidak akan ada masalah melenyapkan Ruby.