GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 202. ARIMBI MEMBANTAH


__ADS_3

Setelah menelan serpihan kertas itu besrta kue pancake, Emir melepaskan tangan Arimbi dan menatap Nenek Serkan lalu menjawabnya dengan serius, “Aku mengatakan bahwa satu-satunya aturan yang harus diikuti Arimbi di keluarga Serkan adalah mencintai dan menghormatiku. Jika nenek menyuruhnya menyalin aturan keluarga Serkan sebanyak seratus kali maka aku akan memakan banyak salinan yang dibuatnya.”


“Emir, setiap wanita yang menikah dengan keluarga kita harus mengikuti aturan keluarga dan Arimbi tidak terkecuali! Tidak apa-apa jika dia tidak menyalin sebanyak seratus kali, tetapi dia harus mempelajari aturan keluarga Serkan dengan baik.” kata Layla dengan tenang. Dia tidak ingin menunjukkan kemarahannya didepan cucu kesayangannya itu.


“Aturan dibuat untuk dipatuhi. Aturan keluarga Serkan telah ada selama beberapa dekade dan merupakan aturan keluarga turun temurun! Kita tidak bisa membatalkannya karena Arimbi.” lanjutnya.


Setelah dia menarik napas sejenak lalu dia melanjutkan, “Arimbi! Mulai hari ini dan seterusnya jangan pergi bekerja lagi! Para wanita di keluarga kami tidak harus pergi bekerja. Tugasmu adalah melahirkan….”


Tiba-tiba Layla berhenti, dia mengingat bahwa cucu kesayangannya tidak bisa lagi membuat Arimbi hamil karena dia impoten. Wanita tua itu merasa lebih frustasi lagi. Saat ini, Arimbi mengambil piring Emir dan mengambil sobekan kertas yang belum dia makan.


Lalu dia menegur suaminya, “Emir, bahkan jika seseorang harus memakan kertas itu, seharusnya aku yang memakannya dan memakan aturan Keluarga Serkan! Mengapa merebut kertas itu dariku ketika kamu sudah hafal aturannya?”


Melihat hal itu, Layla merasa semakin frustasi. Dia mungkin tidak mengingat kata-kataku pikirnya.


Saat itu Arimbi pun berkata pada Layla Serkan, “Nenek, apa yang baru saja nenek katakan? Tidak bisakah para wanita di Keluarga Serkan pergi bekerja? Nenek, apa yang salah jika aku pergi bekerja? Aku tidak keluar rumah untuk membuat kejahatan dan mempermalukan keluarga ini. Aku memiliki pekerjaan yang layak dan mendapatkan gaji. Selain itu aku ingin mandiri dan memiliki uang sendiri dengan usahaku sendiri tanpa mengandalkan Emir.”


“Nenek seharusnya bangga mempunyai cucu menantu sepertiku yang disiplin dan memiliki harga diri dan mandiri sepertiku. Aku ingin bekerja agar aku bisa membantu Emir kelak saat dia membutuhkan bantuanku dalam berbisnis. Sebagai wanita aku tidak akan pernah menggantungkan hidupku sepenuhnya pada suamiku.”

__ADS_1


Layla dibuat terdiam lagi oleh kata-kata Arimbi. Sungguh tak tahu malu! Makinya didalam hati.


Kemudian Arimbi menambahkan lagi, “Bagaimanapun aku harus pergi bekerja. Aku tidak bisa kehilangan diriku setelah menikah dengan Emir, iyakan? Aku menikahinya tetapi aku tidak menjual diriku kepadanya. Aku memiliki kebebasanku sendiri.”


Menurut Arimbi, semua perempuan harus bekerja sebelum dan sesudah menikah. Hanya dengan memiliki kebebasan dalam hal keuangan, seorang wanita dapat memiliki rasa percaya diri untuk membela dirinya sendiri.


Wanita tidak boleh hanya bergantung pada suami mereka setelah menikah, karena akan ada masanya dimana peran serta istri dalam membantu keuangan keluarga akan diperlukan. 


Wajah Nenek Serkan menjadi gelap sejenak. Kemudian dia berkata pada Arimbi, “Apakah Keluarga Serkan tidak memberimu makanan atau pakaian? Atau apakah Emir tidak memberimu uang saku? Mengapa kamu harus bekerja saat semua wanita dikeluarga kami menerima uang saku yang sangat besar tanpa harus bekerja. Apakah ada wanita yang sudah menikah menunjukkan dirinya didepan umum sepertimu?”


Baik Layla Serkan maupun Emir dibuat terdiam dengan kata-kata yang diucapkan Arimbi. Merasa belum puas meluapkan semua isi hatinya Arimbi kembali melanjutkan, “Berbicara tentang menunjukkan diri didepan umum, aku hanya mengikuti jejak nenek sebagai contoh. Meskipun aku masih muda tapi aku sudah mendengar banyak hal tentang betapa kuatnya nenek dalam lingkaran bisnis ketika masih muda.”


“Nenek, aku mengagumimu karena bisa tampil didepan umum dan sukses dalam bisnis. Kamu tidak kalah dengan pria manapun. Serius nenek adalah idolaku.” saat mengatakan itu Arimbi mengacungkan jempolnya pada Nenek Serkan.


Wajah wanita tua itu langsung memerah marah tapi dia idak tahu bagaimana membantah perkataan Arimbi.


“Aku juga pernah mendengar dari Emir sebelumnya bahwa pekerjaan utama para wanita yang menikah dengan Keluarga Serkan adalah melahirkan keturunan keluarga. Dia bahkan mengatakan bahwa dikeluarga ini para istri bisa mendapatkan hadia ratusan juta karena melahirkan anak laki-laki atau puluhan milyar jika melahirkan anak perempuan. Hehehe….” Arimbi tertawa.

__ADS_1


“Aku ingin tahu apakah aku harus mengatakan bahwa aturan ini memberi wanita yang menikah dengan keluarga Serkan kesempatan untuk mendapatkan uang atau bahkan Keluarga Serkan memperlakukan wanita sebagai babi, bukan manusia? Nenek…..jangan lupa bahwa nenek juga salah satu dari wanita yang menikah dengan keluarga Serkan.”


Arimbi mengambil kue pancake dengan penjepit dan meletakkan dipiring Layla Serkan. Tanpa melepaskan senyum diwajahnya, perkataannya selanjutnya bahkan membuat Nenek Serkan semakin frustasi.


“Nenek, kita berdua adalah wanita. Mengapa mempersulit wanita sepertiku juga? Kita adalah wanita yang menikah dengan Keluarga Serkan, bukankah sudah seharusnya kita saling mendukung untuk kemajuan keluarga ini?”


“Nenek, tidak ada yang bisa menjamin masa depan. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok. Coba nenek bayangkan apa yang terjadi jika para pria di Keluarga Serkan mendapat masalah dan tidak mampu lagi memberikan uang saku pada para istrinya? Bukankah sudah menjadi tugas istri untuk membantu suami mereka untuk bangkit kembali? Jika para wanita tidak bekerja dan menghasilkan uang sendiri, bagaimana kelak mereka bisa membantu keluarganya? Langit tak selamanya cerah.”


Layla Serkan menarik napas dam-dalam beberapa kali sebelum berkata dengan dingin, “Desi! Ayo kita pergi.” lalu dia berdiri dan melangkah perlahan setelah Desi melangkah maju dan membantunya keluar dari paviliun.


Kemudian mereka menuju kerumah utama tanpa menoleh lagi ke belakang. Layla Serkan terkena mental oleh Arimbi.


Arimbi berdiri menatap kepergian mereka yang sudah sampai dipintu paviliun, kemudian dia mengangkat wajahnya dan berkata dengan sopan, “Sampai jumpa lagi nenek. Sehat selalu ya.” senyum diwajahnya mengiringi kepergian Nenek Serkan.


Layla menggertakkan giginya begitu keras hingga gigi emasnya hampir putus. ‘Sungguh wanita yang berani dan tak tahu malu! Dia menjatuhkanku dengan kata-katanya sekali lagi! Tidak ada seorangpun di keluarga Serkan yang pernah membuatku kehilangan jawaban seperti ini sebelumnya.


Jika bukan karena kehadiran cucu kesayanganku, sudah aku tutup mulut wanita itu dengan selotip dan menendangnya dari Villa Serkan! Tajam sekali lidah wanita itu!’ gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2