GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 355. MENYINDIR MICHELE


__ADS_3

“Sudahlah! Sebaiknya kita pergi! Emir mungkin sudah didepan menunggu!”


“Aku penasaran pada Amanda! Bagaimana dia bisa mendapatkan Gio?” tanya Joana.


“Ayolah Joana! Dia bukan urusan kita sekarang! Ingat, hari pembalasan kita akan tiba secepatnya. Jangan lupa mempersiapkan semuanya!”


 


“Baiklah. Aku ikut apa katamu saja!” Joana mengikuti Arimbi menuju ke luar mall. Sementara Amanda tanpa sengaja melihat keduanya meninggalkan mall.


“Bukankah itu Arimbi?” tanya Gio menunjuk dengan dagunya kearah pintu mall.


“Ya benar itu dia bersama Nona Joana!”


 


“Huuuh! Sudah menjadi wanita terkaya masih saja ya kampungan! Berteman dengan wanita seperti itu! Apa dia tidak malu? Seharusnya dia berteman dengan para sosialita kelas atas!”


“He he…..ya seharusnya begitu! Dia tidak cocok jadi wanita kaya! Lihatlah, bagaimana orang-orang itu menjilat dengan menghormatinya hanya karena dia pemilik mall ini! Beruntung sekali hidupnya!” ujar Amanda yang dipenuhi kecemburuan dan dengki didalam hatinya.


 


Gio menggandeng tangan Amanda meninggalkan mall itu. Saat keduanya sudah berada di depan lobi mall, mereka melihat Emir keluar dari mobil mewahnya dengan mengenakan setelan jas mahalnya. Emir menarik pinggang Arimbi lalu menuntunnya masuk kedalam mobil. Melihat pemandangan itu memabuat Amanda kembali terbakar api kebencian.


 


“Lihatlah Tuan Emir! Dia memperlakukan perempuan udik itu dengan baik!” ucap Gio. Dia melirik Amanda yang menatap lurus kedepan pada pasangan itu dengan tatapan tajam penuh kebencian. Gio tersenyum lalu dia menggandeng Amanda meninggalkan tempat itu.


“Kita akan membalas mereka, Amanda! Kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu” bisik Gio ditelinga Amanda.


 


“Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba!” ucap Amanda. ‘Aku pastikan Arimbi akan lenyap selamanya! Untuk mendapatkan Rafaldi Group sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menyingkirkan ayah dan ibu! Ah, seharusnya aku kembali ke rumah itu untuk mengambil barang-barang dan perhiasanku.’ bisik hatinya.


Arimbi bersandar dalam pelukan Emir, tangannya mengelus-elus dada suaminya.


“Emir sayang…...kamu masih marah ya?”


“Hm…..” hanya itu yang terucap dari bibirnya.


“Kenapa marah? Kalau masih marah mending kita pulang saja? Memangnya kita mau kemana?”

__ADS_1


Emir tak menjawab, dia sibuk dengan ponselnya dan membiarkan Arimbi memeluknya.


 


“Emir…...” Arimbi mencoba mengintip apa yang dilakukan suaminya sejak tadi sibuk dengan ponsel. Namun Emir melirik lalu menjauhkan ponselnya dari Arimbi dengan memasukkan kedalam saku jasnya.


“Fuuuhhhh! Anakku sayang…...kamu jangan seperti papa mu ya? Dingin! Semoga saja anakku perempuan! Aku jadi punya teman!” ucap Arimbi mengeluh.


 


Sebenarnya Emir sudah tidak tahan menahan tawanya, dia tersenyum tipis mendengarkan Arimbi yang bicara sendiri sambil mengelus-elus perutnya. “Dia tidak mendengarmu! Buat apa kamu mengajaknya bicara! Kupingnya saja belum terbentuk!”


 


“Heh! Darimana kamu tahu?”


“Arimbi! Kamu tidak pernah membaca informasi ibu hamil di internet? Seharusnya kamu sudah mulai mempersiapkan diri untuk jadi ibu! Berhentilah bersikap kekanakan!” ujar Emir.


“Itu salahmu! Kamu plin plan…..dulu kamu selalu bilang akan selalu memanjakanku. Kamu terlalu memanjakanku makanya aku jadi kekanakan! Kenapa sekarang kamu yang protes?”


 


“Emir! Kalau kamu tidak menghamiliku, aku tidak akan cerewet seperti sekarang! Lain kali ada baiknya kamu berpikir sebelum menghamiliku kalau kamu tidak mau aku cerewet! Itu salahmu! Tanggung sendiri!” omel Arimbi.


 


“Pffffhhhh!” kedua pria yang duduk di kursi depan sontak menutup mulut tertawa.


“Apa yang lucu?” tanya Emir dingin.


“Tidak apa-apa Tuan.” jawab Rino dan supir serempak. Mereka hanya bisa tertawa didalam hati saja.


Akhirnya mereka tiba didepan M&J Butik. Tampak staff butik dan Michele menunggu didepan butik untuk menyambut kedatangan Emir. Sebelumnya Emir sudah memberitahu Michele kalau dia akan datang kesana. Emir keluar dari mobilnya yang langsung membuat Michele terpana.


 


Matanya membulat melihat Emir yang tampak gagah dengan setelan jas berdiri tegak. Michele bergegas menghampiri namun langkahnya terhenti saat dia melihat Arimbi turun dari mobil dengan tangannya berada di genggaman Emir. Michele menatap pasangan itu dengan nanar, setelah tiga tahun lumpuh kini dia melihat Emir berdiri seperti dulu lagi.


 


Ada rasa penyesalan didalam hatinya, dia tidak berusaha kuat untuk menyatakan perasaannya dan mengejar Emir. Andai dia menemani Emir melewati masa-masa sulitnya mungkin dia yang kini berjalan bersama pria itu. Hatinya terasa teriris dan dadanya terasa sakit bak ditusuk pedang.

__ADS_1


“Selamat datang Tuan, Nyonya.” sapa para staff butik.


 


“Hai Tuan Emir, senang melihatmu berdiri lagi.” ucap Michele memberikan senyum termanisnya. Tatapannya yang lurus pada Emir, dia benar-benar terpesona pada aura pria itu apalagi ketampanannya yang tak diragukan lagi. Michele bahkan lupa menyapa Arimbi membuat wanita itu mengeryit heran. Dia memperhatikan kalau Michele menatap Emir dengan terpesona.


 


“Ehem…..sayang! Kenapa kamu membawaku kesini? Apakah aku akan memesan baju baru lagi?” tanya Arimbi sambil mengelus dada Emir dengan sengaja menunjukkan pada Michele bahwa Emir adalah miliknya. Dan benar saja, Michele merasa gerah saat melihat tangan Arimbi yang bergerilya di dada suaminya.


 


“Ayo masuk.” ucapnya membawa Arimbi masuk kedalam butik dengan tangannya memeluk pinggang istrinya. Seolah paham apa yang terjadi, Emir mengikuti permainan Arimbi.


Dia mengecup puncak kepala Arimbi dengan mesra membuat Michele membulatkan matanya. Dia mengenal Emir cukup lama tapi tidak pernah melihat pria itu memperlakukan wanita semesra itu.


 


“Tuan Emir! Aku sudah memilihkan beberapa gaun untuk Nona Arimbi!” ucap Michele berusaha bersikap tenang. Mereka masuk kedalam lift menuju kelantai dua, Arimbi dan Emir saling berpelukan seolah tak ingin berpisah.


“Nyonya Serkan! Panggil dia Nyonya Serkan! Karena dia adalah istriku dan menantu tertua di keluargaku!” ucap Emir penuh penekanan. Menunjukkan pada Michele status Arimbi yang sebenarnya.


 


Sebutan Nyonya Serkan adalah sesuatu yang penting. Itu berarti status wanita itu sebagai wanita terkaya dan terhormat di seluruh kota! Sebagai Nyonya Serkan berarti Arimbi memiliki kekuasaan yang sama seperti Emir! Dan semua orang harus menghormatinya. Michele paham betul tentang itu namun membuatnya tidak senang karena Arimbi kini menyandang gelar itu.


“Maafkan aku. Aku sudah biasa memanggilnya Nona Arimbi.”


 


“Kebiasaan buruk sebaiknya dibuang!” ucap Emir dengan datar dan dingin. “Hormati istriku seperti kamu menghormati aku! Dia memiliki kekuasaan yang sama sepertiku! Apapun yang dia inginkan harus kamu turuti! Pilihkan gaun terbaikmu untuk istriku!”


 


“Sayang! Jangan bicara begitu pada Michele! Kamu akan membuatnya takut, kalian sudah berteman lama bukan? Tidak masalah kalau dia memanggilku seperti itu, mungkin dia belum terbiasa dengan statusku.” ucap Arimbi tersenyum manis pada Emir yang menatapnya dengan lembut.


“Semua orang harus membiasakan diri memanggilmu Nyonya Serkan! Kalau mereka tidak bisa menghormatimu sebagai istriku maka tidak perlu berteman dengan orang!” ucap Emir dengan tegas dan penuh penekanan.


Emir sengaja melakukan itu untuk membuat Michele paham betapa penting dan berharganya Arimbi baginya. Semua orang harus tahu kedudukan mereka dan menghormati istrinya seperti mereka menghormati Emir.


 

__ADS_1


__ADS_2