
Diluar gedung rumah sakit ada moil Maybach hitam mengkilap yang terparkir dengan jendela terbuka sebagian. Wajah tampan dan dingin dari pria yang duduk dikursi jok belakang terlihat semua orang. Seperti biasa, pria itu menarik perhatian karena daya tariknya. Beberapa wanita muda dan tua bahkan terpana ketika mereka sedang lewat dan melihatnya.
Pria itu tidak lain adalah Dion Harimurti, pria kaya dan tampan yang menjadi saingan dan musuh bebuyutan Emir sejak lama. Dia sudah berada disana selama satu jam, namun sepertinya pria itu masih enggan untuk pergi dari sana. Sementara supir dan pengawalnya hanya saling melemparkan pandangan dan diam melihat tingkah majikan mereka yang membingungkan.
Tadi Dion Harimurti yang meminta diantarkan kerumah sakit untuk menjenguk ayah Joana. Namun sesampainya disana dia hanya duduk diam saja didalam mobil. Entah apa yang ada didalam pikiran pria itu, tak ada seorang pun yang berani buka suara. Mereka hanya diam dan menunggu perintah dari Dion. Sedangkan pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Dion tiba-tiba membuat kedua orang yang duduk di bangku depan terkejut dan tersadar dari lamunan mereka.
“Tuan Ganesha sudah sadar dari koma, Tuan! Semua yang Tuan perintahkan sudah saya jalankan. Tuan Ganesha sudah dipindahkan keruang perawatan VVIP dan semua tagihan rumah sakitnya sudah saya bayarkan sesuai permintaan Tuan.”
“Ehm…..” Dion kembali diam dan melemparkan pandangan keluar jendela mobil. Entah berapa lama dia menatap kearah rumah sakit itu sampai sekelebat bayangan terlihat memasuki rumah sakit. Dion mengerjapkan matanya. Dan tanpa menunggu lama dia membuka pintu mobil dan langsung melesat memasuki rumah sakit. Membuat supir dan para pengawalnya tak sempt bereaksi.
Mereka pun bergegas keluar dari mobil dan menyusul Dion kedalam rumah sakit. Para pengawal itu langung menuju keruang perawatan ayah Joana. Sementara Dion yang mengejar sosok yang trlihat familiar baginya itu sampai diujung lorong dilantai tiga rumah sakit. Sedangkan ayah Joana dirawat dilantai enam. Dion mengeryitkan dahinya mengedarkan pandanganya ke sekeliling.
Koridor ini sangat sepi, kemana perginya orang itu? Aku sangat yakin kalau orang itu adalah Joana. Ya itu pasti Joana! Meskipun dia memakai hoodie untuk menutupi wajahnya, namun aku sangat mengenal Joana, tidak mungkin aku salah orang, pikirnya. Dion kembali menyusuri lorong itu sembari memeriksa satu persatu ruangan disana.
Beberapa ruangan adalah ruang perawatan, dan selebihnya adalah ruang penyimpanan dan juga ruang khusus perawat. ‘Kemana perginya orang itu?’ Dion sudah memeriksa semua ruangan disana bersama pengawalnya yang datang menyusulnya namun mereka tidak menemukan orang yang dicarinya. Dion tampak menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju ke lift.
__ADS_1
Dion dan para pengawalnya meninggalkan tempat itu. Tak berapa lama setelah Dion dan pengawalnya pergi, sesosok tubuh yang terbaring disalah satu tempat tidur dalam ruang rawat perlahan menyingkapkan selimut yang menutupinya. Dia terlihat menghela napas lega, dia membalikkan tubuhnya menatap kearah pintu yang tertutup rapat.
“Fuuuhhh! Hampir saja! Kenapa dia bisa mengenaliku ya? Tajam juga insting orang itu.” ucap Joana yang kini sudah duduk di atas ranjang sambil menghela napas panjang. Tangannya mengelus perutnya yang masih datar.
“Semoga saja tidak apa-apa janinnya. Aku tidak merasa sakit sedikitpun. Sialan! Gara-gara Dion muncul aku terpaksa naik tangga.”
Tadi sewaktu Joan memasuki rumah sakit, dia sudah berdiri didepan lift menunggu. Namun tak sengaja dia menoleh dan dari kejauhan dia sudah melihat Dion yang berlari memasuki rumah sakit, karena panik Joana pun membalikkan tubuhnya dengan cepat agar tidak dikenali. Untungnya saat dia berjalan cepat mengambil arah memutar, seorang perawat keluar dari sebuah ruangan.
Tanpa pikir panjang Joana masuk keruangan itu yang ternyata adalah loker perawat. Dia melihat perawat yang tadi keluar meninggalkan satu setel pakaian pasien disana. Dengan cepat Joana langsung menukar pakaiannya. Dengan santai dia berjalan keluar ruangan itu dengan menggunakan masker dan memberikan pakaian yang dipakainya tadi kepada salah satu cleaning service yang ditemuinya.
Bertepatan seorang perawat kebetulan lewat dan Joana meminta bantuannya untuk membawanya ke ruangan. Dia secara asal menyebutkan ruangan, dan ternyata cleaning service yang diberi pakaian oleh Joana pun ada di sana. Entah mengapa Joana tiba-tiba punya ide dan meminta cleaning service itu untuk memakai pakaian yang tadi diberikan padanya.
Saat itu dia sengaja berbaring membelakangi pintu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Hanya menyisakan bagian belakang kepala saja yang terlihat. Dan kebetulan juga ada infus disana, Joana memasang sendiri infusnya untuk menyempurnakan persembunyiannya. Dan benar saja dugaannya, Dion dan para pengawalnya masuk dan memeriksa kamar itu.
Joana yang saat itu berpura-pura tidur, sebenarnya sudah berkeringat dingin dan ketakutan sekali. Jika Dion sampai menemukanya entah apa yang akan dilakukan pria itu padanya. Untungnya, Dion tidak berhasil menemukannya. Joana menghela napas lega karena Dion tidak memeriksa wajahnya.
“Aku tidak bisa berlama-lama disini! Dia pasti kembali lagi nanti, bisa saja dia tidak puas hati dan datang lagi untuk memeriksa.”
__ADS_1
Joana perlahan turun dari ranjang lalu mencabut infusnya. Dia tidak menancapkan jarum infusnya, hanya ditutupi plester saja. “Aduh, bagaimana aku bisa keluar dari sini tanpa sepengetahuan Dion dan anak buahnya ya? Ini benar-benar sial! Pantas saja tadi Arimbi bersikeras tidak mengijinku pergi.”
Joana mengunci pintu ruangan itu demi keamanannya.
Dia berjalan mondar mandir di ruangan itu sambil memikirkan solusinya. “Fuuuhhh! Semakin lama aku berada disini, semakin berbahaya.” gumamnya lirih. Akhirnya Joana memutuskan untuk meninggalkan ruang perawatan itu.
“Apa aku pergi mengunjungi ayah saja ya?”
Ku rasa itu pilihan tepat! Tapi-----bisa saja Dion sudah mengepung tempat ini. Mungkin dia sudah menungguku diluar sana.”
Pikiran Joana kembali kalut dan saat bersamaan teleponnya berbunyi. Joana merasa lega setelah melihat siapa yang meneleponnya. Dia melihat nama Arimbi, wajahnya pun langsung berubah ceria. Tanpa pikir panjang lagi Joana menjawab panggilan teleponnya.
“Halo Joana? Kamu lagi ada dimana?” Arimbi terdengar cemas.
“Aku masih dirumah sakit! Aku tidak tahu bagaiman caranya keluar dari sini.”
Mendengar perkataan sahabatnya itu, Arimbi menahan dirinya agar tidak tertawa. Sejak awal saat Joana mengatakan keinginannya pergi ke rumah sakit, Arimbi sudah melarangnya.
__ADS_1
Tapi Joana tetap bersikeras pergi kesana sehingga akhirnya dia hampir saja ditangkap oleh Dion.
“Oh, kasihan Joana! Dia sendirian disana? Bagaimana kalau sampai Dion menemukannya atau mungkin para pengawalnya yang menemukan dia disana.” memikirkan hal itu saja sudah membuat Arimbi bergidik ngeri.