
Arimbi melajukan mobilnya menuju PT. Libra Elektroindo. Saat dalam perjalanan, Arimbi menerima panggilan telepon dari Jayanti, “Arimbi, Joana sudah pulang dan dia bilang ponselnya kehabisan baterai dan tidak ada uang. Dia juga bilang kalau dia tersesat saat berjalan kembali dari kediaman Harimurti akhirnya dia baru sampai kerumah sekarang.”
Mendengar informasi bahwa temannya sudah pulang dengan selamat, Arimbi menghela napasnya dengan lega. “Nyonya Ganesha tolong tegur Joana. Kali ini dia benar-benar membuat kita khawatir.” ujar Arimbi.
Tapi dia masih curiga kalau Joana berbohong. Sebenarnya dia pasti ditahan oleh Dion, alasannya karena Joana baru pulang setelah dia pergi menemui Dion.
Tapi apakah aku memiliki pengaruh sebesar itu di dunia bisnis itu? Atau apakah Joana memang berkata jujur? Tapi tidak mungkin bukan? Aku menantang Dion jika memakan cemilannya maka dia akan membebaskan Joana! Cih! Dasar pria brengsek yang licik! Lain kali kalau dia memakai cara seperti ini untuk bisa bertemu denganku, lihat saja! Aku akan membalasnya dengan sangat menyakitkan.
“Sesaat setelah dia kembali. Dia bilang dia sangat lapar dan cepat-cepat minum beberapa gelas air dan cemilan. Sekarang dia masih mandi. Aku pasti akan menegurnya setelah dia selesai mandi. Arimbi sekali lagi aku minta maaf telah menyeretmu kedalam masalah ini dan membuatmu cemas.” ucap Jayanti.
“Nyonya Ganesha, Joana adalah temanku.”
Jayanti sedikit tertawa, “Kalau begitu aku tidak akan membahas ini lagi. Aku akan bersiap-siap untuk membuatkan makanan untuk Joana sekarang. Datanglah kerumah jika sempat di akhir pekan. Aku akan membuatkan makanan lezat untukmu.”
“Baiklah. Aku juga berpikir begitu, sudah cukup lama aku tidak merasakan masakan anda.”
Di sisi lain, jauh dibelakang Arimbi mobil Zivanna berhenti didepan kantor Rafaldi Group. Karena dia dan Amanda adalah teman baik, semua orang tidak terkejut dengan kedatangannya. Akan tetapi tujuan kedatangannya kali ini bukanlah untuk Amanda.
Saat ini, dia sedang berada didalam lift menuju lantai tertinggi. Saat dia tidak melihat Arimbi ketika dia memasuki kantor Sartika, dia bertanya dengan datar, “Nona Sartika, dimana Arimbi Rafaldi?”
“Arimbi tidak ada dikantor saat ini. Apakah anda ada urusan dengannya Nona Lavani?”
__ADS_1
“Dimana dia sekarang? Bukankah sekarang ini jam kerja?”
Dengan ekspresi penuh maaf, Sartika menjawab, “Nona Lavani, saya kurang tahu kemana dia pergi. Aku hanya berasumsi bahwa dia keluar karena urusan pekerjaan. Mungkin ada pekerjaan yang diberikan wakil direktur padanya karena sekarang mereka sedang mempunyai tugas yang sama.”
Tanpa mengatakan apapun lagi, Zivanna pergi menuju ke kantor Amanda, berjalan seperti melewati halaman belakangnya saja. “Nona Lavani, saat ini wakil direktur sedang ada urusan.” ucap Sandra mencoba untuk menahan Zivanna untuk tidak memasuki kantor Amanda. Tapi dia tidak berdaya, sebab Zivanna mengabaikan Sandra dan tetap melangkah menuju kantor Amanda.
Dia membuka pintu ruangan wakil direktur dan melihat Amanda sedang menerima telepon. Meski dia tidak tahu siapa yang sedang bicara dengan Amanda, Zivanna bisa melihat bahwa itu bukanlah tentang hal yang baik.
Melihat ekspresi Amanda yang memburuk, meski begitu Amanda dengan cepat menghentikan panggilannya saat melihat Zivanna yang mendekatinya.
“Wakil direktur, Nona Lavani memaksa untuk masuk.” ucap Sandra dengan meminta maaf karena dia gagal mengemban perintah Amanda untuk tidak membiarkan siapapun masuk.
“Tidak apa-apa. Kembalilah bekerja.” ujar Amanda selagi mengisyaratkan Sandra untuk pergi. Karena dia tahu orang seperti Zivanna Lavani ini bukanlah orang yang bisa dihentikan oleh sekretaris biasa.
“Dimana Arimbi Rafaldi?” tanya Zivanna dengan sikap ketus.
“Kamu mencarinya?” Amanda sedikit bingung.
“Amanda, aku perlu mengetahui dimana Arimbi berada sekarang!”
Amanda bisa merasakan kemarahan didalam nada bicara Zivanna. Dia mengingat insiden sebelumnya dan dengan cepat mengetahui alasan kedatangannya. “Zivanna, kamu tidak perlu menghiraukan omongan Arimbi. Dia itu orang yang suka bicara tanpa dipikir panjang dulu.”
__ADS_1
“Amanda, kamu tidak perlu melindungi dia. Aku tidak peduli bagaimana sifatnya. Yang pastiaku tidak senang karena dia telah membuatku marah seharian penuh. Jika kamu bilang kalau aku sebaiknya tidak melampiaskan amarahku ini, apa kamu akan menyuruhku untuk menerima penghinaannya itu?”
Setelah itu Zivanna mencibir, “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi didepanku. Amanda, aku yakin didalam hatimu kamu senang melihatku melampiaskan amarahku kepadanya, iyakan? Katakan saja, dimana Arimbi sekarang?” tanya Zivanna lagi dengan tak sabar.
Ucapan Zivanna membuat Amanda tidak bisa berkata-kata. Jika yang mengatakan semua itu tadi orang lain, Amanda sudah pasti akan melawan orang itu sekarang. “Arimbi saat ini pergi menuju ke PT. Libra Elektroindo untuk menemui Tuan Jordan. Dia mengajak kami pergi memancing bersamanya. Karena aku sibuk saat ini jadi aku menyuruh Arimbi pergi menemuinya.”
“Berikan aku alamatnya.”
Mendengar permintaan Zivanna dengan cepat Amanda memberikan alamat perusahaan itu kepadanya dan memberitahukan kemana Jordan akan membawa Arimbi memancing. Padahal Amanda bilang pada Arimbi kalau dia tidak tahu. “Zivanna apa yang akan kau lakukan pada Arimbi?”
Zivanna melirik Amanda lalu tersenyum jahat, “Kenapa? Apa kamu sangat mengkhawatirkannya?”
Amanda merasa kalau Zivanna selalu berkata dengan sedikit sarkasme setelah insiden Reza memperkosa Ruby. Walau begitu Amanda tetap tersenyum, “Diatas kertas dia tetaplah adikku. Tentu saja aku harus mengkhawatirkan dia. Zivanna tolonglah beri dia sedikit ampunan.”
“Jika tidak maka orang tuaku pasti akan menyalahkanku.” ujar Amanda lagi. Karena Zivanna telah datang langsung menuju gedung Rafaldi Group untuk mencari Arimbi, orang tuanya pasti akan mengetahui itu semua saat mereka menyelidinya dan menarik kesimpulan bahwa Amanda bersekongkol dengan Zivanna.
Saat Zivanna melihat kalung mereka The Hand’s yang dikenakan Amanda, matanya terbuka lebar dengan rasa senang. Seketika itu juga tangannya menyentuh kalung itu dan sedikit mengangkatnya, lalu berkata, “Amanda, kamu terlihat cantik dengan kalung itu. Kalung ini membuatmu terlihat anggun.”
Setelah mengatakan itu, Zivanna melepaskan kalung itu lalu berkata dengan datar, “Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhnya. Karena dia mangsamu, aku akan membiarkanmu menghabisinya. Aku hanya akan memberinya pelajaran tentang bagaimana seharusnya dia menyapaku saat kita bertemu lain waktu.” setelah itu dia pergi meninggalkan ruangan Amanda.
Dia merasa kalau teman baiknya itu memberikan dia pesan tersirat, namun dia memilih untuk tidak memikirkannya dan mengantar Zivanna. “Amanda, kamu tidak perlu mengantarkanku kalau kamu sibuk.” ujar Zivanna seketika itu juga dia berhenti lalu menoleh kearah Amanda.
__ADS_1
“Ulang tahun Gio akan datang tidak lama lagi. Pastikan kamu memberinya hadiah oke?” dia menatap Amanda dengan tatapan mata penuh ekspresi. Amanda mengetahui apa maksud Zivanna dan wajahnya pun memerah karena itu.mengesmapingkan itu, Amanda tersenyum dan menjawab, “Baiklah. Aku akan menyiapkan hadiah untuk ulang tahun Gio.”