
Para pengawal segera menyeret pasangan suami istri yang menolak untuk keluar dari butik. Ruby emosi karena dirinya diusir, dia tidak bisa terima. Sedangkan Reza hanya bisa diam dan memegangi istrinya itu meninggalkan butik. Begitu mereka berada diluar pintu butik, pengawal langsung menutup pintu dan menguncinya.
Ruby berdiri disana menatap tajam sambil mendengus kesal. "Lihatlah orang-orang kaya itu! Arimbi pasti sengaja memerintahkan untuk mengusir kita. Sayang, kamu harus membalasnya!"
Reza pun sedikit kesal didalam hatinya mendapat perlakuan seperti itu. Dia mengepalkan tangannya lalu menatap Ruby dan berkata, "Kita belanja di butik lain saja."
"Tidak mau! Butik ini khusus menjual pakaian dan perlengkapan ibu hamil! Butik ini yang terbaik. Tempat lain barangnya tidak berkualitas dan harganya juga murahan! Reza sayang......aku tidak mau calon anak kita memakai barang murahan." ujar Ruby dengan suara memelas.
Reza berusaha bersabar dan bicara pada istrinya itu. "Sayang, tidak apa-apa kalau kita belanja di tempat lain yang lebih murah dari butik ini! Saat ini kondisi perusahaan sedang buruk, aku senang sekali jika kamu juga memperhatikan itu. Kalau nanti perusahaan sudah membaik dan keuangan stabil, aku akan menemanimu belanja apa saja yang kamu mau." bujuk Reza.
Ruby yang sebenarnya merasa kesal karena bawaan kehamilannya, hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Reza menariknya kedalam pelukannya dan mengelus kepalanya dengan kasih sayang. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh dendam dan kebencian.
Amanda bergumam, "Lihat saja nanti Reza! Aku pastikan kamu akan menerima balasan atas perbuatanmu padaku! Kamu akan mengemis meminta bantuanku! Tapi jangan pernah berharap aku akan membantumu!" kedua tangannya mengepal erat.
Amanda melirik kearah butik dimana tadi dia berada dan Arimbi masih ada disana. Dia masih bisa melihat melalui dinding kaca itu Arimbi sedang memilih beberapa pakaian khusus ibu hamil. Kecemburuan kembali memenuhi hati Amanda.
Sebenarnya tadi dia ingin membeli baju hamil, namun saat dia melihat harganya dia pun hanya bisa berpura-pura memilih. Keuangannya semakin memburuk, dalam keadaan hamil dan tidak memiliki pekerjaan. "Aku harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang. Sisa uang tabunganku akan habis jika ada tidak bekerja."
Amanda berbalik namun saat dia baru saja berbalik dia melihat sepasang kekasih. Dia mengenali kedua orang itu, dan Amanda memicingkan matanya menatap Joana bersama Dion Harimurti.
'Kenapa perempuan itu bisa bersama Tuan Dion? Apa hubungan mereka? Tapi sepertinya mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih? Ck! Arimbi dan sahabat bodohnya itu punya nasib baik juga ternyata! Mereka mendapatkan pria terbaik di kota ini." desisnya.
Dia pun berbalik memilih jalan lain untuk menghindari pertemuan dengan Joana. Amanda masih mengingat bagaimana dia memperlakukan sahabat Arimbi itu dulu. Meskipun Joana juga berasal dari keluarga kaya, namun Amanda selalu memandangnya sebelah mata.
Amanda tidak tahu jika Joana sudah melihatnya tadi. Didalam hati Joana merasa senang melihat kondisi Amanda sekarang.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Dion memperhatikan Joana yang tersenyum sinis.
__ADS_1
"Oh tidak ada. Aku hanya melihat seorang musuh yang baru saja melarikan diri." sahutnya.
"Musuh? Joana......ingat ya, kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu bertengkar dengan orang lain." ujar Dion mengerutkan kedua alisnya.
"Memangnya siapa yang mau bertengkar? Not worth my time lah! Lagipula orang itu bukan levelku! Tidak pantas menghabiskan waktu untuk orang seperti itu."
"Kamu sedang membicarakan siapa? Katakan padaku siapa namanya! Aku akan membereskannya untukmu."
"Sudahlah Dion! Tidak usah macam-macam! Ini urusan perempuan, jadi hanya perempuan yang bisa menyelesaikannya. Ayo kita ke butik itu!" Joana menarik tangan Dion menuju ke butik dimana Arimbi berada.
Saat melihat pengawal berdiri di pintu masuk, ekspresi Dion langsung berubah. Kedua pengawal itu menatapnya lalu mengangguk hormat. "Tuan Harimurti."
"Ehm.....tunanganku ingin belanja disini! Kenapa kalian menutupi pintunya?" tanya Dion.
"Nyonya Besar dan Nyonya Muda sedang berbelanja didalam. Tidak memperbolehkan pelanggan lain masuk sampai mereka selesai." jawab pengawal itu.
"Aku sudah janji dengan Arimbi bertemu disini! Tanyakan saja padanya, katakan aku sudah ada disini." ucap Joana lalu mengeluarkan ponselnya hendak menelepon Arimbi.
Kedua pengawal itu takut jika dimarahi oleh Arimbi karena tidak mengijinkan Joana dan Dion masuk, mereka pun langsung membuka pintu butik dan mempersilahkan kedua orang itu masuk.
"Silahkan masuk Nona, Tuan Harimurti!"
Dion merasa sedikit kesal, kalau bukan karena memenuhi permintaan Joana sudah pasti dia tidak akan datang kesini. Apalagi harus bertemu dengan anggota keluarga Serkan, musuh besarnya. Namun mau apalagi, Joana adalah sahabat Arimbi.
"Arimbi!" seru Joana melepaskan genggaman tangan Dion. Dia segera menghampiri Arimbi yang menoleh lalu tersenyum.
"Joana! Kupikir kamu tidak akan datang! Halo Dion." sapa Arimbi melihat Dion yang berdiri dibelakang Joana. 'Kenapa aku melihat Dion seperti protektif sekali pada Joana ya? Apakah dia memang sungguh-sungguh menyukai atau mencintai Joana? Bukan karena Joana sedang mengandung anaknya bukan?'
__ADS_1
Pikiran Arimbi yang masih belum sepenuhnya yakin jika Dion memang mempunyai rasa pada Joana. Mengingat dulu bagaimana Dion selalu mengejarnya dan selalu salah paham dengannya. "Aku sudah pilihkan beberapa baju. Ayo sini......coba kamu lihat ini." Arimbi antusias memperlihatkan baju-baju pilihannya.
"Oh.....ada Tuan Harimurti juga disini!" tiba-tiba suara Layla Serkan terdengar. Dia menghampiri mereka lalu menatap Joana dan Dion bergantian.
"Selamat siang Nyonya." sapa Joana dengan sopan.
"Selamat siang." sapa Dion sekenanya. "Maaf jika kami masuk ke butik ini!"
"Tidak masalah! Apakah kalian?"
"Nenek, Joana dan Dion sudah bertunangan." ucap Arimbi menjelaskan pada Layla Serkan yang terlihat terkejut melihat kemesraan Dion pada Joana.
"Oh begitu? Baguslah......akhirnya kalian semua menemukan pasangan masing-masing." ucap Layla Serkan terkekeh. Dia tahu tentang permusuhan cucunya dengan Dion Harimurti. "Kalian lanjutkan, aku mau duduk di sofa sebentar. Maklum aku sudah tua dan mudah lelah."
"Nenek, kalau sudah lelah bagaimana kalau kita pergi makan siang saja? Kebetulan ada Joana dan Dion disini! Aku juga sudah mulai lapar." ucap Arimbi.
"Ya....ya......sudah waktunya makan siang!" ucap Layla Serkan lalu dia memanggil manajer butik untuk mengirimkan semua belanjaan mereka kekediaman Serkan.
"Apakah tadi kamu sudah memilih baju untuk Joana?" tanya Layla Serkan pada Arimbi.
"Sudah nek!" jawab Arimbi singkat. "Oh iya, kemana Elisha dan Bryan? Kenapa aku tidak melihat mereka?"
"Bryan pergi bersama Elisha. Mungkin sebentar lagi mereka kembali! Suruh pengawal memanggil mereka." Layla Serkan pun memanggil salah seorang pengawal yang berada didalam butik bersama mereka.
"Kamu susul Elisha dan suruh segera kembali! Tadi dia mau ke toilet." ujar Layla lagi.
"Baik Nyonya Besar." namun sebelum pengawal itu melangkah, Elisha dan Bryan sudah kembali.
__ADS_1
Elisha menatap Joana dan Dion lalu melemparkan senyuman dan menyapa mereka. Sedangkan Bryan menatap tajam kearah Dion. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya pada Dion dengan nada ketus.