
“Makanlah yang banyak! Lihat tubuhmu kecil dan kurus!” ucap Dion sambil menaruh makanan dipiring Joanna. Gadis itu hanya menundukkan wajahnya merasa enggan untuk makan, dia kesal karena sikap Dion yang mengekangnya tidak boleh keluar. Sekarang kondisinya lebih baik karena dia tidak dikurung dikamar lagi. Joana sudah bisa berjalan-jalan didalam rumah.
Tapi setiap kali dia membuka pintu dan hendak keluar dari rumah, maka pengawal akan menahannya dan menyuruhnya masuk kedalam rumah. Tadi malam Joana mengamuk dan dia melemparkan vas bunga pada Dion.
Untungnya pria itu dengan cekatan menangkap vas bunga hingga tidak mengenai wajahnya. Dan sebagai hukumannya, Joana pun terpaksa tidur dikamar Dion.
Meskipun Dion tidak melakukan apa-apa tapi sepanjang malam Dion memeluknya membuat Joana tidak bisa tidur. Begitu bangun tidur, Dion membawanya kekamar mandi dan meletakkannya di bathtub yang sudah diisi air hangat. Lagi-lagi, dengan terpaksa Joana mandi dalam kondisi mengantuk berat sambil mengutuk dan memaki DIon habis-habisan.
Dion berdiri dibalik pintu kamar mandi sambil tersenyum mendengar semua sumpah serapah Joana. Entah apa yang salah pada pria itu, sejak kehadiran Joana hidupnya mulai berwarna.
Setiap kali Joana marah dan mengamuk merupakan hiburan baginya. Saat ini dia memandangi Joana yang hanya diam tak menyentuh makanannya.
“Apa kamu pikir aku akan memanjakanmu dengan menyuapimu, heh? JOANA!” teriak Dion.
“Ahk!” Joana tersadar dari lamunannya. “Dion! Bisa tidak kamu berhenti teriak dan marah-marah? Apa kamu tidak takut cepat mati karena darah tinggi atau putus urat syaraf? Apa kamu pikir suaramu itu bagus? Suaramu itu jelek!”
“Lalu? Apa maumu Joana? Kamu tinggal dirumah mewahku! Makan makanan ku yang dimasak koki profesional, semua fasilitas ada disini tapi kamu masih saja mengamuk setiap hari. Dasar tidak tahu bersyukur! Kamu tahu ada banyak perempuan diluar saja yang bermimpi ingin berada di posisi mu sekarang. Ada masalah denganmu?”
“Oh, kalau begitu kenapa kamu menahanku disini? Bawa saja perempuan-perempuan manapun yang mau sama kamu kerumah ini! Kamu pikir aku peduli? Dion! Kamu itu laki-laki gila! Memangnya ada perempuan yang mau sama kamu? Eh, biar kuberi tahu ya, tidak ada satu wanitapun yang akan tahan denganmu! Kamu pikir kamu sehebat apa?” ujar Joana penuh amarah.
“Ehm….habiskan makananmu! Dan kamu adalah perempuan yang mengejarku, mencari perhatianku dengan memotretku diam-diam lalu secara diam-diam pula tidur denganku. Sekarang coba kamu katakan, siapa yang gila disini?”
Mendengar ucapan Dion membuat Joana semakin marah, perutnya yang kelaparan membuatnya melampiaskan amarahnya dengan menyantap makanan dengan kasar.
__ADS_1
“Makan pelan-pelan! Kalau kamu tersedak dan mati, aku tidak mau dituduh membunuhmu!”
“Lama-lama tinggal disini saja sudah membuatku mati perlahan-lahan.” balas Joana mendengus.
“Kupastikan kamu tidak akan mati! Sekalipun kamu memilih untuk mati, maka aku akan membawamu kembali ke kehidupan didunia ini dan membuatmu menyesal.”
Joana sudah tidak mempedulikan perkataan Dion, baginya sekarang mengisi perutnya yang kelaparan lebih penting, toh dia butuh energi banyak untuk bertengkar! Dengan cepat dia menghabiskan makanannya lalu dengan kasar dia meletakkan alat makan membuat Dion mengeryitkan dahi.
“Sepertinya kamu semakin berani ya? Aku terlalu memanjakanmu jadinya begini.”
“Huh! Aku mau tidur. Jangan ganggu aku!”
“Joana! Kamu ikut denganku ke kantor mulai hari ini kamu akan mengikutiku kemanapun aku pergi.”
“Dion! Ada yang namanya batasan untuk semua hal! Kamu tidak bisa mengekangku terus-terusan.”
Joana yang semakin kesal melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya membuat sudut bibir Dion terangkat. Sedangkan pelayan dan pengawalnya saling melempar pandang merasa bingung melihat keanehan dari majikan mereka. Untuk pertama kalinya mereka melihat seorang Dion Harimurti tersenyum dan ekspresi wajahnya terlihat ceria.
Didalam pikiran mereka muncul berbagai macam pemikiran. “Siapkan mobil.” perintah Dion.
“Baik Tuan.” ucap pengawal yang berdiri di sudut dekat pintu. Lalu pengawal itu pergi dari sana.
Sepuluh menit berlalu tapi Joana masih belum turun, Dion yang memang tipe pria yang tidak sabaran bergegas naik kelantai atas dan masuk kekamar Joana yang kebetulan tidak dikunci.
__ADS_1
Dia melihat Joana duduk didepan meja rias dengan gerakan lamban memoles bedak. “Kamu itu kalau bersaing dengan siput pun akan tetap kalah.”
Tanpa membuang waktu, Dion mengambil bedak dari tangan Joana lalu membalikkan tubuh Joana hingga menghadapnya. Dengan menundukkan setengah badan, Dion dan Joana saling menatap. Joana tak menduga saat Dion memoleskan bedak diwajahnya, dia masih terkejut dan belum sadar apa yang sedang terjadi.
Setelah itu, Dion memilih lipstik dan memoles bibir Joana. Dia baru sadar dari lamunan saat Dion mengendongnya dan membawanya keluar dari kamar.
“Dion! Turunkan aku! Apa-apaan kamu?”
“Kamu membuang banyak waktuku! Aku ada meeting penting pagi ini dan kamu dengan sengaja memperlambat semuanya. Apa kamu mau menerima hukuman lagi hem? Tapi kali ini aku akan menghukummu lebih berat.”
“Hukuman! Hukuman…..dasar iblis pencabut nyawa! Tahunya cuma mengancam saja! Dion, aku sangat membencimu! Aku sangat membencimu!” ujar Joana dengan wajah memerah dan napas terengah-engah.
“Apa kamu tahu, kalau jarak benci dan cinta itu tipis seperti kulit ari.” jawab Dion tepat ditelinga Joana. Hembusan napas hangat Dion sontak membuat Joana merinding.
‘Sialan! Pria ini benar-benar menyebalkan! Apa sih maunya dia? Sebentar sebentar marah….terus bersikap manis…..bicara cinta. Apa yang dia tahu tentang cinta? Dasar gila!’ gerutunya didalam hati. Joana tak sadar jika mereka sudah berada didalam mobil dengan posisi dia berada diatas pangkuan Dion. “Apa aku terlalu memikat makanya kamu menempel terus seperti lintah?”
“Hah?” Joana mengerjapkan matanya lalu menunduk dan tersadar saat dia merasakan sesuatu yang mengeras tepat ditempat yang dia duduki. Saat itu juga ingin rasanya dia mencari lubang dan bersembunyi disana. Malu? Sangat malu! Kenapa dia bisa sebodoh itu? Dia tidak tahu harus mengatakan apa atau melakukan apa.
‘Oh Tuhan! Ambil saja orang ini ya. Didunia juga bikin susah saja!’ omelnya didalam hati.
Saat dia ingin bergerak dia merasakan sesuatu itu semakin mengeras dan Joana tak bergeming.
“Ada apa denganmu? Masih betah lama-lama dipangkuanku? Bukankah tadi sudah kubilang, jarak antara benci dan cinta setipis kulit ari.” ujar Dion menyeringai.
__ADS_1
Joana berpikir, jalan satu-satunya untuk menghindari situasi yang absurd ini adalah melompat dari pangkuan Dion. Sebelum dia sempat melompat Dion sudah memegang pinggangnya lalu menaikkan pembatas kursi belakang dan kursi depan. “Mau kemana kamu, hem?”
“Dion! Apa-apaan sih? Aku semakin yakin kalau kamu itu memang gila!”