GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 339. ADA YANG ANEH


__ADS_3

“Tu---” Zivanna tidak melanjutkan kata-katanya saat dia melihat wanita yang bersama Dion ternyata adalah Joana. Dia juga melihat kepala Dion masih berada dekat dengan Joana sedangkan tangannya mencengkeram pergelangan tangan Joana.


“Ada apa kamu mengganggu kami?” tanya Dion dengan dingin.


‘Apa katanya barusan? Kami? Apakah mereka?’ Pikiran Zivanna langsung menerka-nerka maksud perkataan Dion barusan. ‘Kami’ bukankah itu berarti bahwa mereka bersama? Sejak kapan? Kenapa aku tidak mengetahui apa-apa tentang itu?


 


‘Tapi bukankah tadi Dion datang sendirian? Lalu, kenapa dia bisa bersama Joana disini? Mereka terlihat sangat----sangat dekat. Apakah tadi Dion bermaksud mencium Joana?’


“Kenapa kamu masih berdiri disitu? Enyah!” suara Dion terdengar tak senang.


“Eh…...aku tadi hanya ingin menyapamu. Apa hubungan kalian berdua?” tanya Zivanna menatap Joana. ‘Cih! Sahabatnya merebut Emir dan sekarang dia bermaksud menggoda Dion Harimurti?’


 


Zivanna merasa sangat geram, tadinya dia hanya fokus saat melihat Dion. Dia tidak terlalu memperhatikan ada orang lain bersama Dion, itulah mengapa dia menghampiri tapi dia malah mendapatkan kejutan. Dion bersama dengan Joana, dia kembali teringat dengan perkataan Dion waktu itu padanya bahwa dia menyukai seseorang.


 


‘Apakah orang yang dimaksud Dion waktu itu adalah Joana?’ memikirkan itu membuat Joana menjadi geram dan mengepalkan tangannya. Lalu dia menatap Dion dan tersenyum, “Apakah dia orang yang kamu maksudkan waktu itu? Fuuuhhh! Selera anda ternyata rendah sekali.”


 


“Nona Zivanna! Silahkan pergi dari sini dan jangan ganggu kami! Siapapun orang yang saya suka tidak ada hubungannya denganmu! Aku sudah menolakmu tapi kenapa mukamu tebal sekali ya? Apakah seperti ini putri keluarga Lavani? Tidak tahu malu?”


 


Zivanna menatap nyalang pada Joana lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dengan marah.


‘Sial! Kenapa semua pria yang kusukai direbut orang lain? Memangnya apa hebatnya mereka dibandingkan aku? Pasti mereka menyerahkan tubuhnya untuk menggoda pria-pria itu.’ umpatnya dalam hati.


Zivanna berjalan menuju ke bagian samping lalu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. “Dimana Gio dan Amanda? Kenapa aku belum melihat mereka?”


 


“Halo, Zivanna?” suara Gio terdengar dari seberang telepon.


“Kalian dimana? Kenapa aku tidak melihat kalian sejak tadi? Acara sudah dimulai dan sebentar lagi puncak acaranya!” ujar Zivanna masih terdengar marah.


“Kami sudah ada disini, sedang makan di meja dekat kolam renang. Kamu kenapa? Sepertinya kamu marah? Apa yang terjadi Zivanna?”


 

__ADS_1


“Ya, aku memang marah! Cepat selesaikan makan kalian! Semuanya harus sesuai rencana, jangan sampai gagal lagi! Kesempatan seperti ini tidak akan terulang sampai tahun depan.”


“Ya, sabarlah. Sebentar lagi kami sudah selesai makan. Jangan khawatir, orang-orang itu sudah mempersiapkan semuanya. Apa kamu melihat Tuan Emir?”


 


“Sudah! Aku sangat membencinya! Kamu tahu kalau Arimbi sedang hamil? Arggggg…...aku tidak mau! Hanya aku yang boleh mengandung keturunan Serkan!” geramnya penuh amarah.


“Tadi aku melihatmu menghampiri Tuan Dion? Apa yang terjadi?”


“Gio! Wanita murahan itu merebut Dion dariku! Dia mengusirku dan lebih memilih wanita itu.”


 


“Hah? Siapa? Aku tidak melihatnya datang dengan siapapun.”


“Joana! Putri keluarga Ganesha! Dion bersamanya dan mereka terlihat dekat, mesra sekali! Dion memarahiku karena saat aku datang sepertinya dia ingin mencium Joana?”


 


“Apa? Joana? Gadis yang suka memotret pria-pria tampan itu? Bukankah waktu itu dia tersandung masalah dengan Tuan Dion?”


“Gio! Selesaikan makanmu! Temui aku setelah kamu selesai!” lalu Zivanna mematikan teleponnya.


 


“Lanjutkan saja makannya. Setelah itu kita temui dia, sepertinya dia sangat marah!”


“Kenapa?”


“Kamu tahukan kalau dulu dia mencintai Tuan Emir, setelah kecelakaan itu dia terpaksa melupakan cintanya. Lalu Tuan Emir menikahi Arimbi sehingga Zivanna tidak bisa mendekatinya lagi. Zivanna tidak bisa memiliki hubungan dengan pria sembarangan. Dia hanya bisa menjalin hubungan dengan pria yang berstatus lebih tinggi atau setara dengan keluarga kami.”


 


Amanda mendengarkan dengan seksama, dia memang tahu tentang itu. “Lalu dia mengalihkan targetnya pada Tuan Dion! Tapi dia ditolak mentah-mentah, Zivanna masih tidak mau menyerah dan terus mengejarnya. Tuan Dion bilang padanya kalau dia menyukai seseorang.”


 


“Apakah orang itu Arimbi?” tanya Amanda. Tapi Gio menggelengkan kepalanya.


“Bukan! Zivanna melihatnya bermesraan dengan wanita lain barusan, dia adalah sahabat Arimbi!”


“Hah? Sahabat Arimbi? Itu berarti----?” Amanda tak melanjutkan kalimatnya. Dia terdiam sejenak karena terkejut.

__ADS_1


“Ya, Nona Joana! Dan Tuan Dion mengusir Zivanna agar mengganggu mereka. Makanya dia sangat marah sekarang.”


 


‘Joana? Bersama Tuan Dion? Arimbi menikahi Tuan  Emir? Kenapa mereka seberuntung itu? Sedangkan aku? Hanya pacar gelap Reza dan bahkan sekarang aku terpaksa menjalin hubungan dengan Gio hanya untuk membalaskan dendamku.’ tiba-tiba Amanda merasa kalau dirinya sangat menyedihkan. Sedangkan dua wanita yang dikenalnya itu malah mendapatkan pria-pria kaya dan terhormat.


 


“Kamu kenapa?” tanya Gio melihat Amanda yang terdiam.


“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit merasa heran, bagaimana bisa Joana bersama dengan Tuan Dion? Joana adalah sahabat Arimbi sedangkan Tuan Emir adalah musuh bebuyutan Tuan Dion?”


“Sangat menarik! Apa persahabatan mereka sedang ada masalah? Kenapa tiba-tiba Joana mendekati pria yang jelas-jelas adalah musuh dari suami sahabatnya sendiri?”


 


“Aneh! Atau-- jangan-jangan Joana sengaja mendekati Tuan Dion atas perintah Arimbi?”


“Apa menurutmu Arimbi suka memerintah orang untuk melakukan hal seperti itu?”


“Well, kita tidak pernah tahu wajah asli dari topeng yang dikenakan seseorang, bukan?” ucap Amanda.


“Kita akan cari tahu soal itu nanti. Habiskan makananmu, lalu kita temui Zivanna. Puncak acara tidak lama lagi, jangan sampai kita melewatkannya.” ucap Gio.


 


“Mau kemana kamu?” tanya Dion saat Joana hendak bangkit berdiri.


“Sa---saya mau ke toilet, Tuan!”


“Jangan coba-coba lari dan menghindar!” ancam Dion membuat mata Joana membulat.


“Ma—maksudnya? Saya tahu kalau saya sudah salah karena duduk di meja Tuan tanpa permisi. Saya minta maaf! Sekali lagi saya minta maaf! Saya mau menemui ayahku.”


 


“Bukankah barusan kamu bilang mau ke toilet? Apakah ayahmu sedang di toilet sekarang? Cih! Anak tidak sopan!”


Joana merasa kesal karena pria itu selalu bicara dengan dingin dan kasar padanya, dia pun memberanikan diri membalas perkataan Dion lalu berkata, “Saya mau ke toilet. Setelah itu saya mau menemui ayahku! Pasti dia sudah mencariku sejak tadi! Anda tidak berhak menahanku disini!”


 


“Aku lebih dari berhak! Pergilah! Kembali kesini setelah kamu selesai dari toilet! Aku ingin menemui ayahmu!” ujar Dion dengan dingin menatap Joana. Lalu dia melepaskan cengkeramannya ditangan Joana. Dengan cepat gadis itu berjalan menjauh sambil mengomel didalam hatinya.

__ADS_1


 


__ADS_2