
Emir membalikkan keadaan dengan menarik wajah Arimbi mendekat lalu menahannya untuk mencium bibir lembutnya sambil memeluknya erat. Tepat ketika dia hampir kehabisan napas, akhirnya Emir melepaskan diri dari bibirnya.
Dengan lembut dia membelai wajah cantik didepannya dengan jari-jarinya yang panjang. Dengan tatapan matanya yang lembut, Emir menyadari kalau dia telah jatuh cinta pada Arimbi.
“Emir!” panggil Arimbi dengan suara lembut. Mereka baru saja menikmati momen panas satu sama lain, jadi dia terdengar seperti masih terengah-engah. Nada suaranya yang lembut dan tak tertahankan bagi Emir saat dia menundukkan kepalanya dan menciumnya lagi.
“Karena kamu sangat menyukai hewan peliharaan, aku akan meminta seseorang untuk membelikan beberapa kucing dan anjing untukmu. Apakah kamu mau kelinci juga? Kamu dapat memiliki beberapa hewan peliharaan dari masing-masing jenis tetapi mereka akan tetap berada di istana hewan. Kamu bisa pergi kesana setiap hari untuk mengunjungi mereka dan akan ada orang-orang yang merawat hewan-hewan peliharaanmu.”
Ini adalah yang paling bisa Emir berikan untuk istri tercintanya. Dan itu adalah solusi terbaik untuk kedua belah pihak. Saat kata-kata murah hati dan baik dari suaminya meresap kedalam hatinya, mata Arimbi berbinar bahagia, “Benarkah? Ah, Emir! Apakah kamu benar-benar akan memberiku hewan peliharaan? Aku senang sekali!”
Itu adalah hal yang sangat langka bagi Emir untuk tersenyum saat dia terus membiarkan istrinya meringkuk dalam pelukannya. Dan sekarang mereka pun masih sama-sama polos, seolah enggan untuk merubah posisi mereka. Dengan kedua tangan Emir memeluk pinggang Arimbi dan kedua tangan Arimbi melingkar dileher Emir.
“Jika kamu tidak suka hewan peliharaan yang kuberikan, kamu bisa cari sendiri dan aku akan membayar tagihannya.” ucap Emir lagi. Dia bertekad untuk selalu memenuhi keinginan istrinya dan membuatnya bahagia. Tanpa sadar dia memang sudah memanjakan istri cantiknya itu.
“Tidak! Aku akan menyukai apapun yang kamu belikan untukku.” jawab Arimbi.
“Aku punya dua kucing ragdoll dirumah ibu. Aku akan membawa mereka kembali denganku saat aku berkunjung nanti. Aku akan menempatkan mereka di istana hewan bersama hewan lainnya. Sehingga mereka bisa saling menemani.”
“Apakah kamu membeli kucing itu sendiri?” tanya Emir.
“Tidak. Ibuku yang membelinya untukku.”
Begitu dia mendengar bahwa itu adalah hadiah dari ibu mertuanya, Emir tidak mengatakan apa-apa lagi. Awalnya dia mengira itu adalah hadiah dari Reza.
“Mereka kucingmu jadi terserah padamu mau melakukan apa.” Meskipun biasanya Emir lebih mendominasi, tapi dia masih bisa menerima jika hewan-hewan itu berasal dari ibu mertuanya.
“Terimakasih Emir, sayangku! Kamu begitu baik padaku.” Arimbi mengucapkan terimakasihnya dengan tulus, tak lupa dia mencium bibir suaminya lagi. Sepertinya sepasang suami istri itu sangat menyukai aktivitas berciuman mereka. Setelah Arimbi melepaskan ciumannya, keduanya saling bertatapan dan tersenyum.
__ADS_1
“Kamulah yang mendekat dan menggigitku sambil berteriak akan bertanggung jawab atas dirimu. Jika aku tidak memperlakukanmu dengan baik, aku khawatir kamu akan mengambil beberapa gigitan lagi dari tubuhku.”
Arimbi langsung tersipu malu dan membenamkan wajahnya kedalam pelukannya dan melingkarkan kedua tangannya disekitar pinggangnya.
Arimbi mengetahui meskipun Emir tidak bisa berjalan tetapi otot-otot disekitar pinggangnya tetap kuat. Dia dengan nakalnya mencubit pinggang suaminya lalu cepat-cepat melepaskan tangannya dari sana.
“Emir, apa yang ada didalam pikiranmu saat ini? Tidakkah kamu merasa aneh bahwa aku melakukan hal yang begitu drastis?”
Ekspresi Emir cukup bijaksana ketika dia tetap diam selama beberapa waktu sebelum menjawab, “Aku pikir akan menikahimu dan kemudian menyiksa dirimu sampai mati. Sehingga kamu akan menyesali tindakanmu selama sisa hidupmu.”
Namun hubungan mereka semakin hari justru semakin dalam setelah mereka mendapatkan surat nikah. Lambat laun semuanya berubah dan jauh dari yang pernah dibayangkan oleh Emir maupun Arimbi.
Arimbi mengangkat kepalanya dan tersenyum, “Terimakasih karena tidak menyiksaku Emir.”
Emir balas mencubit pipinya, “Seharusnya kamu tidak perlu berterima kasih. Kamu masih harus menyelesaikan surat refleksi diri sepuluh ribu kata yang masih kamu hutang padaku. Kapan kamu berencana untuk melakukannya?”
Keduanya saling menggoda sebelumnya saat mereka berperilaku mesra dan romantis. Tetapi perubahan topik pembicaraan yang tiba-tiba jadi merusak suasana manis yang sulit didapat.
“Bukankah kamu masih berhutang padaku? Sekarang kamu malah protes dan mempertanyakan bagaimana kita berinteraksi? Lalu apa ini? Tanpa banyak bicarapun kita sudah berinteraksi kan? Bahkan kamu masih enggan untuk melepaskanku setelah kamu puas. Dan sampai sekarang masih betah membiarkannya didalam sana.” sindir Emir yang sontak membuat Arimbi malu setengah mati.
Bagaimana tidak? Dia masih duduk diatas pangkuan Emir dan masih belum melepaskan miliknya yang masih terbenam didasar jurang. Arimbi pun tidak tahu bahwa kaki Emir mulai merasa kebas dan perih karena diduduki Arimbi tapi pria itu tetap diam karena tak ingin membuat istrinya khawatir dan merasa bersalah.
“Eehh…..” Arimbi tak bisa berkata-kata. Dia mengangkat tubuhnya perlahan dan berdiri saat mengingat perkataan suaminya dan dia juga khawatir Emir akan terus mengejarnya tentang surat refleksi diri sepuluh ribu kata.
Jadi dia pun melepaskan diri dari pelukannya dan turun dari pangkuan Emir perlahan. Dia menguap dan menatapnya sambil bicara.
“Emir, aku mengantuk dan mau tidur siang. Ayo kita pergi memancing setelah aku tidur siang. Kamu yang akan memancing dan aku yang memanggang ikannya. Aku sangat pandai membakar ikan.”
__ADS_1
Dulu waktu dia masih tinggal dikampung halamannya, kadang-kadang dia pergi memancing dengan beberapa temannya saat waktu luang.
Dan Arimbi yang bertugas memanggang ikan hasil tangkapan mereka. Arimbi tidak pernah berhasil menangkap ikan, seolah semua ikan menghilang tanpa jejak setiap kali dia mencoba menangkapnya.
“Dasar tukang makan!” cemooh Emir.
“Ya, kita semua dilahirkan dengan mulut untuk menikmati makanan. Emir, kamu juga harus tidur siang. Tidakkah kamu juga lelah tadi? Ayo kita pergi ke kamar.”
“Apa kamu bisa menahan diri untuk tidak menerkamku saat kita dikamar nanti?” tanya Emir.
“Ehm...tergantung! Kalau kamu menggodaku dan menginginkannya, aku tidak bisa tidak menerkamu. Mungkin kali ini aku akan melahapmu sampai habis1” godanya tersenyum. Lalu dia hendak pergi saat Emir meneriakinya.
“Arimbi! Apa kamu mau pergi keluar tanpa pakaian begitu?”
Sontak Arimbi tersadar lalu menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun. Dia lalu berbalik dan terkekeh malu. Dia berjalan kembali menghampiri Emir dan memungut pakaian mereka yang berserakan diatas karpet.
“Biar aku bantu memakaikan pakaianmu.” ujar Arimbi.
“Dasar ceroboh! Tidak bertanggung jawab!” keluh Emir.
“Sayang, aku ini adalah istri yang sangat bertanggung jawab. Lihatlah bagaimana aku melakukan kewajibanku sebagai istrimu. Apakah pelayananku masih kurang cukup memuaskanmu?”
“Arimbi hati-hati dengan ucapanmu! Saat kakiku sembuh nanti, aku akan menghukummu!”
“Hah? Menghukumku lagi? Emir sayangku, tidak bisakah kamu berhenti menghukum istrimu ini?”
“Tidak! Aku akan menghukummu hingga kamu tidak bisa bangun selama tiga hari.” ujar Emir.
__ADS_1
Arimbi menghitung jarinya sampai tiga lalu menatap Emir dengan mata bulatnya, “Tiga hari? Hahahaha…...lalu selama tiga hari kamu tidak akan bisa kemana-mana karena harus merawatku. Emir katakan padaku, gaya apa yang akan kamu gunakan sehingga membuatku tidak bisa bangun selama tiga hari?”