
“Kondisi Emir sepertinya semakin hari semakin baik. Dia melangkah lebih jauh dibandingkan sebelumnya. Ini semua berkat Arimbi.” ujar Elisha yang selalu memuji kakak iparnya dihadapan neneknya itu.
“Selagi dia masih berguna untuk kesembuhan Emir, dia bisa tinggal disisinya! Seperti apa hubungan mereka berdua?” tanya Nenek Serkan yang masih tak menyukai Arimbi.
“Mereka berdua tampak bahagia! Emir memperlakukan Arimbi dengan baik karena Arimbi juga bersikap sangat baik dan merawat Emir dengan tulus.”
“Cih! Tidak ada yang tulus! Wanita itu berasal dari desa, memaksakan dirinya untuk menikahi Emir untuk menaikkan statusnya! Jika dia tidak menikah dengan Emir, memangnya siapa pria kaya yang akan bersedia menikahi wanita seperti itu?” ujar Nenek Serkan.
“Nenek, cobalah nenek melihat Arimbi dari sudut lain. Dia tidak seburuk yang nenek pikirkan. Dia sangat baik dan tulus. Jika tidak, dia pasti tidak mau menikahi kakakku! Dengan wajah secantik dia, dia bisa dengan cepat menarik pria-pria kaya diluar sana.”
“Fuuuh! Dia tidak akan pernah pantas untuk mendampingi Emir! Cepat atau lambat dia harus angkat kaki dari rumah itu dan menjauh dari Emir!”
“Nenek, apakah nenek akan mengusir Arimbi seandainya dia hamil?”
“Bicara apa kamu? Aku akan tetap mengusirnya! Bagaimana mungkin dia bisa hamil dengan kondisi Emir seperti itu? Apa dia berencana hamil dengan pria lain dan memaksa Emir mengakui anak itu?”
“Bukan! Bukan begitu maksudku, Nek! Aku hanya ingin tahu bagaimana sikap nenek seandainya Emir tidakseperti rumor yang beredar dan ternyata Arimbi hamil darah daging Emir. Apa yang akan nenek lakukan padany?”
Layla Serkan terdiam sejenak dan memikirkan pertanyaan cucu perempuan kesayangannya itu. “Aku akan membiarkan dia berada disini jika itu memang anak Emir! Tapi setelah melahirkan, dia harus meninggalkan Emir dan menyerahkan anaknya kepada keluarga Serkan! Itu adalah milik keluarga Serkan dan dia tidak boleh membawanya!”
__ADS_1
“Apa nenek memikirkan kemarahan Emir jika sampai hal itu terjadi? Nenek, kenapa tidak membiarkan mereka saja? Karena aku melihat kakakku memperlakukan Arimbi sangat baik dan sepertinya dia sangat menyayangi Arimbi! Ini pertama kalinya aku melihat Emir bersikap seperti itu dan punya semangat hidup.”
Saat Layla Serkan hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba Yaya datang menghampiri dan memberitahunya bahwa kedua orang tua Emir sudah pulang dari luar negeri. Elisha yang sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya pun segera bergegas membawa neneknya turun kebawah untuk menemui mereka.
Tampak pasangan suami istri, Alarik Serkan dan Rania Serkan duduk di sofa. Wajah Rania tampak tidak senang karena harus pulang tiba-tiba. Dia enggan bertemu Arimbi dan Emir tapi sebuah telepon hari ini membuat mereka terpaksa kembali.
“Kalian sudah kembali? Kupikir kalian akan masih lama lagi berlibur. Kenapa tiba-tiba sudah pulang?”
“Bu, sebenarnya aku masih belum ingin pulang. Masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi. Tapi kami terpaksa kembali hari ini.” jawab Rania.
Layla Serkan duduk di sofa bersama Elisha disebelahnya. “Ayah, apakah ada oleh-oleh untukku?”
“Tentu saja! Ibumu sudah membelikan banyak barang-barang untukmu.” ujar Alarik tersenyum.
“Emir yang meminta kami segera pulang, Bu! Ada apa sebenarnya dengan Emir? Tadi pelayan memberitahu kamu kalau Emir sudah menjalani rehabilitasinya dan kondisinya semakin membaik.” ujar Rania. “Apakah ibu mengetahui sesuatu? Mengapa dia meminta kami segera pulang?”
“Hem….aku juga tidak tahu apa-apa. Sebaiknya kalian tanyakan saja langsung kepada Emir. Memangnya dia tidak mengatakan apapun pada kalian? Bagaimana bisa dia meminta kalian berdua segera pulang dari liburan? Apa ada hal penting?”
“Dia tidak mengatakan apapun ditelepon kepada kami Bu. Dia hanya meminta kami segera pulang dan jika kami tidak memenuhi permintaannya, dia mengancam akan menghentikan membiayai kehidupan kami. Ibu! Apa-apaan dia itu? Semenjak perempuan itu tinggal bersamanya, Emir banyak berubah. Bagaimana bisa dia memperlakukan kami orang tuanya seperti itu?”
__ADS_1
Nenek Serkan memijat keningnya, sepertinya dia harus segera bertindak dan menghentikan semua kegilaan Emir! Dia tidak akan membiarkan cucu kesayangannya itu jatuh cinta dan memanjakan wanita manapun. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya dan senyum seringai muncul disudut bibirnya yang sudah berkeriput.
Saat mereka sedang asyik berbicara dengan serius, suara langkah kaki memasuki rumah terdengar. Tampak Yaya setengah berlari berhenti didepan Nenek Serkan dan berkata, “Nyonya Serkan, Tuan Muda Emir dan Nona Arimbi ada disini.”
Sebelum mereka mengatakan apapun, suara kursi roda yang didorong memasuki ruang keluarga itu. Emir menatap kearah kedua orang tuanya dengan tajam terutama kepada ibunya. Sedangkan Arimbi mendorong kursi roda Emir tanpa bicara. ‘Bakalan ada keributan lagi pastinya! Apakah mereka berkumpul disini untuk memprotesku lagi?’ bisik hati Arimbi. Meskipun dia merasakan tatapan permusuhan dari semua orang diruangan itu kecuali Elisha, tetapi Arimbi berusaha bersikap tenang.
“Halo ayah, ibu…..apa kabar kalian?” tanya Emir setelah dia berhenti dan Arimbi segera duduk di sofa setelah dia membantu Emir untuk duduk di sofa. Mata semua orang terbelalak saat merekamelihat Emir berdiri dari kursi rodanya sambil berpegangan di sandaran tangan sofa. Lalu Emir berjalan perlahan dan duduk di sofa.
“Emir, kamu sudah bisa berjalan? Apakah kakimu baik-baik saja? Jika terasa sakit jangan terlalu dipaksakan! Ini benar-benar bagus!” ujar Alarik dengan senang hati.
Dia ingat bagaimana sikap putranya itu berubah menjadi lebih tertutup setelah kecelakaan itu. Dia tidak punya sedikitpun rasa percaya diri dan menjauhkan diri dari semua orang.
Melihat keadaan Emir yang sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan kearah sofa, ini sungguh perubahan yang bagus. Selama ini Emir selalu menolak menjalani rehabilitasi, meskipun seluruh keluarganya memohon padanya tetapi dia selalu menolak. Tapi sejak kehadiran Arimbi, tampak perubahan dalam diri Emir.
Semua anggota keluarganya maupun orang yang bekerja dirumah keluarga Serkan bisa melihat perubahan itu. Jika Emir terus menjalani rehabilitasinya maka tidak akan lama lagi, dia pasti akan mampu berjalan normal kembali.
“Iya ayah. Arimbi yang memintaku untuk menjalani rehabilitasi! Bagaimana liburan kalian? Apakah kalian bersenang-senang selama di luar negeri?” tanya Emir mengalihkan pembicaraan.
“Bagus! Itu bagus sekali.” ujar Alarik menjawab pertanyaan anaknya sedangkan Rania hanya diam saja sambil sesekali melirik kearah Arimbi yang duduk berdampingan dengan Emir.
__ADS_1
“Aku meminta ayah dan ibu segera pulang karena ada hal penting yang harus kita bicarakan bersama seluruh keluarga. Seperti kalian ketahui bahwa aku dan Arimbi sudah menikah serta sudah mendaftarkan pernikahan kami secara sah. Sebagai pria yang bertanggung jawab dan menghormati keluarga Rafaldi. Aku mengundang mereka datang untuk makan malam bersama hari ini.”