
Kini Arimbi memiliki Emir disisinya dan dia tidak akan takut lagi pada siapapun apalagi Zivanna Lavani! Bagaimanapun Zivanna Lavani hanyalah gadis manja yang tidak punya kemampuan apa-apa hanya mengandalkan kekayaan keluarganya saja.
Juru masak keluarga Serkan memiliki kemampuan memasak yang sangat luar biasa membuat Arimbi menikmati makanannya dengan senang hati.
“Nona Arimbi!” Beni memanggilnya saat Arimbi sedang menikmati makanannya lalu meletakkan sebuah amplop disampingnya.
“Suratku?” tanya Arimbi mengambil surat itu. Jarang sekali orang sekarang mengirim surat karena sudah ponsel yang lebih sering digunakan untuk berkomunikasi.
“Sebelum Tuan Emir pergi, dia memberi intruksi untuk memberikan surat ini pada Nona,” jawab Beni.
Arimbi sangat gembira melihat Emir akhirnya sadar juga bahkan menulis surat cinta untuk Arimbi. Apalagi dia tahu kalau Emir tidur bersama Arimbi sepanjang malam. Meski tidak ada hubungan apapun diantara mereka tapi itu sudah sebuah tanda baik melihat mereka tidur seranjang.
“Dari Emir?” Arimbi dengan cepat meletakkan alat makannya setelah mengetahui surat itu dari Emir.
Rasa penasarannya mengalahkan setiap makanan lezat diatas meja. ‘Wah! Emir! Aku tak menyangka kalau dia tipe pria yang suka menulis surat cinta! Apakah isinya sentimental ya? Atau tidak romantis sama sekali seperti Emir yang dingin?’ bisiknya didalam hati.
Dengan rasa penasaran dia membuka amplop itu lalu mengeluarkan kertas berlipat didalamnya dan meletakkan amplopnya. Dengan hati-hati dia membuka surat itu. Sedangkan Beni masih berdiri disamping Arimbi saat dia membuka surat itu.
‘Rencana hidup bersama’ adalah tiga kata yang Arimbi dan Beni lihat ditulis disurat itu. Arimbi pun tersenyum selama membaca tapi seiring dia membaca lebih jauh, senyumnya memudar tergantikan oleh ekspresi penuh pertimbangan. Disisi lain Beni menyadari setelah mengintip kalau semuanya hanya ilusinya belaka. Surat itu bukan surat cinta!
Setelah mengetahui kalau surat itu bukan surat cinta, Beni pun kehilangan minat untuk terus mengintip. Dia bahkan tak lagi melihat surat itu meskipun masih berdiri disamping Arimbi. Setelah membacar ‘Rencana Balas Dendam’ yang disusun oleh Emir, Arimbi merasa pikirannya terasa lebih jernih. Pria itu ingin agar Arimbi belajar segala hal tentang menjalankan bisnis sebelum mengambil kendari dari tangan Amanda.
__ADS_1
Karena Arimbi adalah putri kandung dari Keluarga Rafaldi, orang tuanya pasti akan memihaknya dan membantunya. Jadi selama dia bisa belajar cara mengelola sebuah perusahaan dan menunjukkan pada mereka kalau dia mampu mengambil alih Rafaldi Group maka Arimbi bisa mendapatkan kendali sepenuhnya. Saat itulah tidak akan ada lagi tempat bagi Amanda.
Semua usaha wanita itu selama bertahun-tahun hanya akan menjadi mahar bagi Arimbi. Dia memasukkan kembali surat itu kedalam amplop dan melanjutkan makannya setelah membaca surat Rencana Balas Dendam karya Emir Rayyanka Serkan. Arimbi tersenyum puas, meskipun suaminya itu dingin tapi dia ternyata peduli pada Arimbi.
‘Ah, sepertinya aku sudah berhasil mengambil simpati Emir! Hahahaha…..dia bahkan menyusun Rencana Balas Dendam yang luar biasa hebat! Seharusnya dia itu jadi sutradara film!’ Arimbi tersenyum sambil bergumam didalam hatinya.
Ketika dia sudah merasa kenyang lalu menyudahi makannya. Arimbi yang ingat kalau Zivanna masih menunggu pun langsung berjalan keluar rumah. Saat dia menatap Zivanna dia bisa melihat kemarahan dimata wanita itu seolah ingin mencincangnya.
“Arimbi Rafaldi!” teriak Zivanna marah.
Zivanna benar-benar ingin menendang Arimbi saat ini tapi latar belakang keluarganya mencegahnya untuk berbuat itu karena pasti akan berdampak buruk pada nama baik keluarganya. Zivanna berusaha menahan amaranya dengan sarkas dia berkata, “Sulit sekali menemuimu! Kamu adalah orang pertama yang membuatku menunggu sangat lama dibawah panas matahari! Beraninya kamu!”
“Aku tidak menyuruhmu untuk menungguku dibawah sinar matahari! Kamu kan sudah tahu kalau cuaca hari ini sangat panas, kenapa malah berdiri disini? Ada banyak sekali pepohonan dihalaman yang teduh kamu bisa duduk atau berdiri dibawahnya tapi kamu malah memilih berdiri disini. Jangan salahkan aku atas keputusanmu sendiri!” balas Arimbi.
“Beni!” Zivanna menatap beni yang berdiri dibelakang Arimbi, dengan sopan dia menyapa pria itu dengan nada lembut. “Lihatlah sikapnya, Beni! Kebiasaannya yang suka mengoceh itu akan membawa masalah pada Emir! Sebagai kepala pelayannya Emir, kamu harus emngajarinya sopan santun!”
Zivanna telah menganggap kalau Arimbi adalah pelayan keluarga Serkan, bagaimanapun Amanda yang telah memberitahunya tentang cara Arimbi menyinggung Emir.
Amanda juga mengatakan pada Zivanna bagaimana Emir membawa Arimbi pergi setelah itu untuk dijadikan pelayannya. Amanda bahkan melebih-lebihkan cerita untuk mempermalukan Arimbi dan dipandang rendah orang-orang.
Zivanna merasa kesal melihat Arimbi saat dia mengingat semua cerita Amanda yang mengatakan betapa beraninya Arimbi menolak lamaran pernikahan Emir dan mengancam bunuh diri didepan Emir. Kalau bukan karena Emir cacat…..bagaimana mungkin Arimbi bisa mendapatkan Emir? Emir hanya akan menjadi milikku! Tapi…..
__ADS_1
Hati Zivanna sangat sakit setiap kali memikirkan situasi Emir saat ini. Sungguh disayangkan!
“Terimakasih sudah mengingatkan, Nona Lavani tapi Arimbi tidak ada dibawah perintah saya. Tuan Emir yang akan mengajarkannya secara pribadi! Apapun yang perlu dia ketahui hanya Tuan Emir yang berhak untuk mengajarkannya!” jawab Beni dengan sopan.
Beni bahkan tidak memanggil Arimbi dengan sebutan Nona didepan Zivanna. Dia mengikuti permainan yang disusun oleh Arimbi dan Emir. Selama Emir tidak membuka identitas Arimbi maka Beni akan memastikan tidak ada seorangpun yang membocorkan status pernikahan Emir.
Zivanna melirik Arimbi lalu tersenyum, “Sungguh anugerah besar bagimu bisa diajarkan Emir secara pribadi ya Arimbi!” ucapnya sinis. ‘Pasti Emir menyiksa Arimbi dengan kejam.’ bisik hatinya.
“Itu benar sekali! Bahkan nenek moyangku merasa bangga dan mungkin bisa bangkit dari kubur mereka untuk memberkatiku karena aku bisa belajar dari Emir!” balas Arimbi sarkas.
Tak ada seorangpun yang bisa menandingi Arimbi dalam berkata-kata dan kalimatnya membuat Zivanna tak bisa lagi berkata-kata.
“Oh iya Nona Lavani! Kalau kamu tidak ada urusan lain, aku mau oergi dulu mengenal lingkungan sekitar sini! Aku harus banyak belajar karena nanti saat Emir pulang dari kantor aku harus menemaninya berkeliling!” ucap Arimbi lagi sambil tersenyum.
Emir telah memberinya waktu seminggu untuk membiasakan diri dengan rumah mewah Keluarga Serkan. Kalau dia gagal maka dia bisa mati tersesat. Dia tidak bisa membayangkan cara pria itu menghukumnya kalau masih tidak hapal juga setiap jalan di kompleks itu. “Ayo pergi Beni!”
“Baik,” Beni mengangguk dan mengikuti Arimbi dari belakang sebelum melewati Zivanna.
Sebelum Zivanna sempat bereaksi keduanya sudah melangkah pergi. ‘Tunggu! Aduh kenapa aku bisa lupa ya aku kan datang kesini mencari wanita udik itu!’
Sebenarnya niat Zivanna datang kesana untuk memberi pelajaran pada Arimbi agar dia jera dengan menggunakan posisinya sebagai tamu keluarga Serkan. Tapi Arimbi malah pergi tepat didepannya.
__ADS_1
Zivanna pun tersadar kalau dia telah dipermainkan oleh Arimbi. ‘Kurang ajar! Dasar udik desa! Dia malah kabur begitu saja? Aku belum sempat mengatakan apa-apa padanya?’ geram Zivanna didalam hatinya mengutuki Arimbi yang mempermainkannya. Dia pun memelototi sosok Arimbi yang sudah jauh berjalan meninggalkan villa Emir menuju kerumah utama. Agak lama Zivanna berdiri disana sampai sosok Arimbi dan Beni sudah tidak tampak lagi.
Dengan geram Zivanna pergi meninggalkan kediaman keluarga Serkan. Dia berulang kali mengumpati Arimbi sambil mengendarai mobilnya. Dia benar-benar marah dan ingin membalaskan dendamnya.