
“Tapi, kebetulan sekali aku punya beberapa video pendek yang dikirimkan Rino pengawal pribadi Emir. Dia mengirimkan video itu padaku jadi kamu bisa melihatnya sendiri.” sambil mengatakan itu, Arimbi mengulurkan ponselnya pada Zivanna. Awalnya Zivanna tak ingin melihatnya tapi karena dia mendengar bahwa video itu berasal dari pengawal Emir, dia pun menerima ponsel itu dan melihat potongan video pendek itu.
Setelah selesai menonton semuanya, ekspresi wajah Zivanna semakin merah padam. Melihat itu Arimbi pun ingin memanfaatkan untuk merusak hubungan Zivanna dan Amanda.
Lalu dia berkata, “Sebenarnya akupun terlibat dalam insiden itu. Dia ingin menjebakku awalnya tapi aku mengambil gelas yang salah sehingga aku baik-baik saja.”
“Sedangkan gelas minuman yang sudah diberi obat perangsang malah diminum oleh Reza. Aku pun tidak tahu kenapa bisa sampai salah minum. Itulah alasannya dia melakukan hal itu pada Nona Ruby. Tapi setahuku berdasarkan informasi dari Rino, sebelumnya dia menelepon Amanda dan meminta Amanda untuk datang menemuinya.” ujar Arimbi memperhatikan ekspresi wajah Zivana sebelum dia melanjutkan ucapannya.
“Tapi Amanda malah mengacuhkan dan tidak datang menemui Reza, apakah kamu tahu kalau hal ini sedikit aneh? Amanda dan Reza berhubungan sangat dekat, bahkan mereka sering bertemu diam-diam. Apakah ada kemungkinan mereka berdua sudah merencanakan ini? Bukankah Amanda adalah teman dekatmu? Kenapa dia sampai hati merusak acara pesta ulang tahunmu?”
“Ya, aku merasa kalau aku sangat beruntung malam itu. Kalau saja aku yang meminum minuman itu entah apa yang terjadi padaku.” ujar Arimbi dengan suara lirih seolah dia sangat sedih.
“Dasar Reza bajingan brengsek!” geram Zivanna mengepalkan tangannya. Zivanna tidak meragukan keaslian video itu.
Setelah itu Zivanna menghubungi kakaknya dan meminta tolong untuk memeriksa kamera pengawas dirumah mereka. Akhirnya dia mendapati kalau Arimbi memang tidak pernah keluar dari rumah selama acara kemarin. Kalau Arimbi benar-benar pelakunya, dia tidaka kan mungkin membiarkan Reza sendirian dan segera berlari kehalaman belakang untuk menemaninya.
Selain itu dia juga pasti tidak akan membiarkan Reza melecehkan Ruby.
“Kenapa Rino mengirimimu video ini?” tanyanya pada Arimbi. Dia terdengar seperti sedang cemburu.
Itu karena Rino adalah pengawal kepercayaan Emir dan dia menemani pria itu kemana saja. Arimbi pun menjawab tanpa pikir panjang.
“Aku melayani Emir sekarang. Karena dia seorang pria yang cerdas, dia tahu kalau kamu pasti akan mencurigaiku setelah insiden itu. “Itulah mengapa dia meminta Rino untuk mengumpulkan bukti dan mengirimkannya padaku untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, jadi aku tidak mencoreng reputasi dan nama baiknya.”
Meskipun Zivanna merasa kalau Arimbi berbohong, tapi dia tidak dapat menemukan apa yang salah dari perkataan wanita itu. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Zivanna pun bertanya menyelidiki.
“Apa kamu tahu apa yang dihadiahkan Tuan Emir padaku?” dia bertanya sambilterus saja memandangi Arimbi, entah apa yang ada didalam benak Zivanna saat ini.
__ADS_1
Sambil menggelengkan kepalanya, Arimbi menjawab, “Mana mungkin aku tahu apa yang dihadiahkan Emir padamu? Kamu adalah wanita paling beruntung Nona Zivanna. Diantara begitu banyak wanita-wanita di kota ini, siapa yang pernah menerima kado dari Emir?”
Didalam hatinya Arimbi pun merasa sangat penasaran hadiah berharga apa yang diberikan suaminya pada wanita didepannya itu. Ini akan memberikan Arimbi alasan untuk memberi hukuman padanya nanti dirumah. Bagaimanapun dia adalah istri sahnya, dia tidak boleh memberikan hadiah apapun pada wanita lain.
“Dia memberiku hadiah sebuah vas bunga murahan! Apa kamu tahu apa artinya itu?”
“Nona Zivanna, aku sudah merawatnya cukup lama tapi aku belum pernah menerima satu hadiahpun dari Emir. Kalau dia menghadiahiku sepotong kaca sekalipun maka aku akan menyimpannya sebagai warisan dan menyembahnya setiap hari.” jawab Arimbi yang hampir tersedak dengan ucapannya sendiri.
Andai Emir mendengar perkataan istrinya itu, dia pasti akan menggelengkan kepalanya. Pria itu telah memberinya banyak sekali pernak pernik dari emas setiap hari. Tapi Arimbi tak pernah memperlakukannya sebagai harta dan tidak menyembahnya setiap hari.
Bahkan Emir memberinya banyak perhiasan emas dan berlian tempo hari. Belum lagi barang-barang mewah yang diletakkan Beni dikamar untuknya.
Saat Zivanna melihat bahwa Arimbi merasa iri padanya membuatnya semakin bersikap angkuh. Hal itu semakin membuatnya teringat akan watak Emir yang jarang sekali memberikan hadiah.
Walaupun dia hanya menerima vas bunga yang tidak berharga, paling tidak dia masih menerima hadiah dari Emir apapun bentuknya.
Lalu Zivanna membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam mobilnya begitu juga dengan Arimbi yang masuk kedalam mobil.
Setelah masuk kedalam mobilnya Zivanna langsung melesat pergi. Melihat mobil itu melaju kencang, Arimbi bergumam, “Kamu bahkan langsung kabur lebih cepat daripada aku. Ck!” ujarnya berdecak.
Lalu dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi suaminya. Disaat yang bersamaan Emir sedang melakukan rehabilitasi bersama dengan adiknya.
Wajahnya yang pucat dan berkeringat menggambarkan betapa kakinya terasa sangat ngilu dan lelah. Agha merasa hatinya perih melihat kondisi kakaknya seperti itu. Tiba-tiba panggilan dari Arimbi hampir membuat Emir terjatuh, untungnya Agha berhasil menangkapnya tepat waktu.
“Kamu perlu beristirahat dulu Emir.” ujar Agha.
“Baiklah.” jawabnya lalu menjawab telepon dengan suara dengusan berat,
__ADS_1
“Sayang….” panggilnya dengan suara lembut dan semanja mungkin menggoda suaminya.
Mendengar suara manis dan manja istrinya, membuat Emir seketika merasa segar kembali. Sambil menyeka keringatnya dengan tisu yang diberikan oleh Agha.
“Apa kamu masih dirumah sakit?” tanyanya.
“Tidak, sayang. Aku sudah jalan pulang sekarang. Terimakasih sudah mengirimkan buktinya Emir sayang. Nyaris saja loh. Zivanna baru saja menemuiku dan ingin balas dendam atas apa yang sudah terjadi waktu itu. Aku pasti akan kena masalah besar kalau bukan karena videonya. Jadi dia tahu kalau aku tidak ada hubungannya dengan insiden itu.”
“Jadi semua sudah beres sekarang?’ tanya Emir dengan tenang.
“Ya sudah beres. Apa yanh kamu lakukan sekarang Emir? Kamu terdengar seperti kehabisan napas.”
Meskipun pria itu sekuat tenaga untuk mengatur napasnya, Arimbi tetap saja bisa mendengarnya. “Tidak apa-apa.”
“Apakah kamu sedang berusaha mengambil sesuatu tapi tidak ada orang didekatmu?” tanya Arimbi.
“Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Apa masih ada yang ingin kamu katakan lagi?”
“Tidak.” ucap Arimbi.
“Baiklah kalau begitu.” ucap Emir.
“Baiklah kalau begitu.” balas Arimbi.
“Apa kamu sedang bermain-main denganku? Tidak perlu basa basi. Kalau tidak akau tutup teleponnya.” ucap Emir mendengus. Dia sengaja membuat suaranya rendah demi menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
“Aku ingin kamu yang duluan mematikan teleponnya, sayang.” balas Arimbi. Tapi----
__ADS_1
Klik….