
Akhirnya Emir merasa lega, dia sudah tidak ingin mencari tahu lagi masa lalu Arimbi atau alasan mengapa dia menikahinya. Itu semua sudah tidak maslaah lagi selama Arimbi tidak pernah menyesal menikahinya dan bersedia tinggal bersamanya dalam suka dan duka selama sisa hidup mereka, sampai mereka berdua hidup sampai usia tua.
Setelah selesai berbincang, sepasang suami istri yang sudah polosan sejak tadi itupun melakukan ritual malam mereka seperti biasanya. Dan malam ini semuanya berbeda, mungkin karena Emir merasa lega sehingga dia lebih menikmati percintaan mereka malam ini. Entah berapa lama mereka melakukannya, hingga keduanya berpelukan.
Mereka tidur nyenyak malam itu dan bahkan ini adalah tidur terbaik mereka. Keduanya tidak mengalami mimpi buruk lagi. Rasanya enak sekali bisa tidur sampai subuh.
Ketika Emir bangun keesokan paginya, dia tidak hanya bersemangat tetapi dia juga dalam suasana hati yang lebih baik. Ketika Arimbi membuka matanya dengan enggan dan melihatnya, dia bahkan terlihat riang.
“Selamat pagi Arimbi.”
Arimbi mengerjapkan matanya dan berpikir bahwa dia masih bermimpi dalam tidurnya dan bergumam pada dirinya sendiri. “Apakah aku baru saja mendengar Emir mengucapkan ‘selamat pagi’ padaku? Aku pasti masih bermimpi atau aku pasti terbangun dengan cara yang salah.”
Emir tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, dia mengerutkan kening ketika mendengar istrinya bergumam lirih dengan mata tertutup rapat.
Dia merasa geli melihat tingkah istrinya itu, dengan lembut dia mencubit pipinya sehingga Arimbi membuka matanya tiba-tiba. Emir tidak nelepaskan cubitannya sampai Arimbi memelototinya.
Kemudian Arimbi mendengar Emir menggodanya, “Berapa banyak caramu bangun? Kamu hanya bangun dengan membuka mata bukan? Atau begitu bangun kamu langsung membuka pakaianmu dan menerkamku?”
Wajah Arimbi merona merah dalam sekejap membuat Emir tertawa terbahak-bahak.
Untuk pertama kalinya Arimbi melihat pria itu tertawa lepas. Dia merasa malu dan kesal karena diejek oleh Emir. Melihat bahwa pria itu masih tertawa, dia melemparkan kembali selimut dan melemperkan dirinya keatas tubuh Emir.
__ADS_1
Kemudian dia meraih tangannya dan menahannya dikedua sisi kepalanya dengan postur yang sangat nakal. Tanpa aba-aba dia meraup bibir pria itu dan menciumnya penuh gairah.
Tanpa memberi Emir kesempatan untuk bicara, Arimbi kembali menyegel bibirnya dengan ciuman penuh gairah seolah-olah dia menghukum pria itu. Dia menggigit bibirnya seperti anak anjing lalu membuka kancing piyama-nya dan membasahi lehernya dengan air liurnya.
Tak lupa Arimbi menambah koleksi tanda cintanya lagi, dia tersenyum melihat banyaknya tanda cinta yang dibuatnya tadi malam didada dan leher Emir.
"Ah, aku cukup berbaik hati pagi ini. Aku akan memberimu tanda cintaku." cukup lama dia mencium dan menggigit leher Emir. Meninggalkan beberapa tanda baru yang bisa jelas dilihat orang lain.
Emir terdiam dengan keganasan istrinya itu. Sungguh wanita yang kurang ajar! Dia sungguh berani melakukan sesuatu yang biadab padanya pagi-pagi sekali! Sekarang Emir merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi air liur Arimbi.
Setelah puas menciumi dan menjilati tubuh suaminya, Arimbi kembali menerkamnya seperti tadi malam.
Setelah mendapatkan pelepasan pertama bersamaan, Arimbi turun dari tubuhnya dan berkata, “Ini hukumanmu. Mari kita lihat apakah kamu akan menggodaku lagi lain kali.”
Emir masih bertahan pada posisinya, dia terdiam sesaat setelah mendpaatkan kepuasan yang diberikan istrinya pagi ini. “Hukuman? Kenapa? Karena aku menggodamu? Mengapa aku tidak bisa menggodamu ketika kamu selalu mengganggu dan menggodaku?”
“Kamulah yang memberiku kesempatan dan mengajariku bagaimana caranya menggodamu. Apakah ada orang yang bangun tidak membuka matanya? Selain itu bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa kamu bangun dengan cara yang salah? Ini cara bangun yang tepat dan aku yakin kamu menyukainya, iyakan? Kalau tidak, kamu tidak mungkin bangun dan melakukan hal tadi padaku setiap pagi.”
Arimbi berbalik menatapnya dengan postur seolah dia ingin berubah menjadi serigala lalu melahap suaminya. Dia merasa malu karena Emir mengingatkannya apa yang sering dia lakukan pada pria itu setiap pagi saat dia bangun tidur. “Aku mau mandi!” lalu berbalik dengan mengerucutkan bibirnya dan masuk ke kamar mandi.
Arimbi menyalakan shower dan mrmbersihkan tubuhnya sambil bersenandung pelan. Entah mengapa beberapa hari terakhir ini dia merasakan gairahnya melonjak dari biasanya.
__ADS_1
Dengan tidak tahu malu, dia menerkam suaminya sampai puas. Bahkan pagi ini dorongan gairahnya kembali muncul sehingga dia melakukan hal itu lagi.
Emir dibuat terdiam. Apakah dia baru saja keluar dari topik? Bukan hanya itu, dia memang keluar dari topik. Saat Arimbi keluar dari kamar mandi dia tidak melihat Emir lagi didalam kamar. Tapi dia tidak mempedulikannya karena dia masih malu disindir suaminya. Seolah-olah dia adalah wanita bernafsu.
Tapi dia merasa lega karena dia memang selalu tergoda pada pria itu. Emir adalah pria yang luar biasa dan dia benar-benar dapat memikat para wanita dengan mudahnya.
Jadi kenapa dia tidak mengambil kesempatan itu sebagai istrinya? Arimbi mengakui kalau dia memang terpikat pada pria itu. Dia sadar kalau dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Setelah selesai berkemas dan merias wajahnya kemudian dia keluar dari kamar. Dia tidak melihat keberadaan Emir diruang tamu, dia pikir mungkin Emir sedang sarapan ditempat biasa.
Lalu Arimbi berjalan keluar dari ruang tamu yang mewah itu dengan hadiah yang telah dia siapkan sebelumnya. Emir berada di paviliun seperti biasa tetapi pagi ini ada seseorang yang menemaninya. Nenek Serkan!
Arimbi hendak melangkah pergi, dia tidak takut pada Layla Serkan tetapi dia tidak suka menghabiskan waktu bersama wanita tua itu. Layla selalu memperlakukannya dengan sikap merendahkan dan meremehkan. Selain perilaku ekstrim di masa lalunya, Layla tidak menyukai Arimbi karena dia hanyalah seorang gadis desa.
Kalau memang itu masalahnya, kenapa dia mengirim orang ke keluarga Rafaldi untuk melamarnya tanpa izin Emir? Arimbi berani mengatakan bahwa jika bukan karena apa yang terjadi pada Emir, Arimbi tidak akan pernah layak untuk menjadi istrinya.
Arimbi berbalik ingin kembali ke kamarnya. Tapi baru saja dia melangkah, sebuah suara yang familiar menghentikannya. Dia pun kembali membalikkan badannya.
“Nyonya Arimbi.”
Arimbi melihat bahwa itu adalah Desi. Setelah melihat Desi, dia tahu kalau Nenek Serkan ingin bertemu dengannya lagi. Itu selalu sama setiap saat. Setiap kali Desi datang padanya, itu karena Layla yang memintanya. “Nyonya Muda Arimbi, Nyonya Tua Serkan ingin kamu melayani Tuan Muda Emir saat sarapan.”
__ADS_1