
Rino yang berusaha untuk membuat dirinya terpisah dengan berdiri disudut langsung muncul disamping Emir. Setelah itu dia maju dan mendorong kursi roda Emir masuk kedalam rumah.
Adapun Arimbi yang sangat bingung dengan perilaku Emir. Dia berdiri terdiam disana, tatapan yang Emir berikan padanya sepertinya memberinya kesan bahwa Arimbi-lah yang memicu kemarahannya.
Makanya dia memangkas semua bunga dan tanaman. Tapi apa kesalahan yang telah aku perbuat? Tanya Arimbi bingung.
Beni tiba-tiba muncul begitu dia menyadari bahwa Emir tidak akan keluar lagi. “Nyonya Muda Arimbi, Tuan Muda Emir sedang marah.”
Arimbi pun semakin bingung dan bertanya, “Kenapa diamarah? Siapa yang telah menyakitinya?”
Seolah-olah segala sesuatunya berhenti bergerak, Arimbi memperhatikan kalau Beni terus saja memandangnya dengan ekspresi serius.
Lalu Arimbi menunjuk dirinya sendiri, “Beni! Apakah aku yang menyinggun perasaannya? Bagaimana aku melakukannya? Apakah dia marah karena aku menyelesaikan makananku sebelum dia? Atau karena aku meminta untuk memelihara kucing atau anjing untuk peliharaanku? Jika dia tidak menyukainya aku juga tidak masalah. Sebenarnya aku yang seharusnya kesal padanya tetapi malah sebaliknya dia yang marah padaku.”
“Nyonya Muda Arimbi, anda pergi terlalu lama. Ketika anda berada di istana hewan dengan nona Elisha, anda berada disana cukup lama. Itulah yang membuat Tuan Muda Emir kesal.”
Pada titik ini Arimbi benar-benar tidak bisa lagi berkata-kata. “Dia tidak suka hewan peliharaan, jika dia mau pergi kesana aku akan membawanya kesana.”
Beni menghela napas dan berkata, “Memang benar. Tuan Muda Emir tidak suka hewan peliharaan tetapi anda menyukainya. Namun dia tidak bisa menyakinkan dirinya sendiri untuk memberikan izin pada anda untuk memiliki hewan peliharaan. Akhirnya dia melampiaskan arsa frstasinya dengan memangkas bunga-bunga disini karena semua bunga dan tanaman ini ditanam khusus untukmu.”
Arimbi mengerjapkan matanya karena terkejut. “Apa? Semuanya ditanam untukku? Aku sudah pernah menanyakan tentang ini sebelumnya tetapi dia menyangkalnya.”
Beni tidak bisa menahan tawanya, “Nyonya anda sudah cukup lama bersama dengan Tuan. Apakah anda tidak menyadari bahwa dia adalah pria yang sombong? Dia tidak selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan.”
“Benar juga, Terkadang dia memang seperti itu.” Arimbi pun merasakan hal yang sama.
__ADS_1
“Tuan Muda Emir lebih menyukai kesederhaan dan keanggunan. Sebelum nyonya pindah kesini, tidak ada bunga dan tanaman disini. Lihatlah sekeliling rumah ini sekarang, sudah jauh berbeda dari saat pertama kali nyonya pindah kesini kan?”
“Anda senang merawat bunga dan tanaman jadi dia menyuruh saya membeli semua bunga ini sementara dia juga memindahkan beberapa darikonservatori. Semua dia lakukan untuk membuat nyonya bahagia.” ucap Beni menambahkan.
“Ah….astaga! Aku meninggalkan sesuatu di mobil! Aku lupa membawanya.” Arimbi tiba-tiba teringat pakaian dan dasi yang dia belikan untuk Emir. Beni pun langsung membantunya menghubungi supir dan menyuruhnya membawakan barang-barang yang ditinggalkan Arimbi dimobil. Saat supir datang dengan membawa paperbag, Arimbi mengambil paperbag dari supir dan menyerahkan gunting pada Beni.
“Beni, aku akan masuk kedalam dulu dan membujuknya sekarang. Kebetulan aku membelikannya beberapa hadiah.” ujar Arimbi tersenyum.
Melihat itu Beni pun tersenyum, “Baiklah Nyonya. Pergilah, Tuan mungkin sedang ada diruang belajar sekarang. Setiap kali Tuan Emir merasa kesal dia biasanya pergi ke ruang belajarnya dan berdiam diri disana.”
Arimbi pun langsung berlari kedalam rumah dan memang benar, dia tidak menemukan Emir dilantai satu ataupun dikamarnya. Kemudian dia menuju kelantai dua.
Saat hari pertama Arimbi pindah kerumah ini dia telah menginjakkan kaki di lantai dua. Setelah pindah, dia menjalani hari-harinya dilantai pertama. Ruang belajar adalah area terlarang dan Arimbi sangat menyadari itu.
Emir menempelkan catatan dpintu dengan bertuliskan kata, “Ruang kerja, hanya boleh masuk setelah diizinkan.”
“Pergi!” terdengar suara dingin menyahut dari dalam.
“Emir, ini aku.” jawab Arimbi.”Emir, bolehkah aku masuk sayang?”
Sementara itu Emir diam sambil duduk dikursinya sambil memegang sebuah buku ditangannya. Meskipun dia tidak konsentrasi membacanya.
“Emir, karena kamu diam jadi kuanggap kamu setuju.” ucap Arimbi. “Aku akan membuka pintu dan masuk sekarang ya sayang.”
Mendengar suara lembut dan panggilan sayang, Emir langsung menjawab dengan cepat, “Bagaimana kamu bisa masuk kalau kamu tidak membuka pintu? Apa kamu bisa berjalan menembus tembok?”
__ADS_1
Arimbi tidak tahu harus mengatakan apa saat dia berpikir ‘Apa yang harus kukatakan sekarang? Dia memutuskan untuk mengizinkanku masuk.’
Akhirnya Arimbi memutuskan masuk karena dia juga ingin mengetahui bagaimana suasana hati Emir. Lalu dia membuka pintu dan berjalan memasuki ruangan itu setelah menutup pintu dibelakangnya.
Emir pun langsung pura-pura asyik dengan bukunya begitu dia melirik Arimbi berjalan masuk. Dia menunjukkan ekspresi acuh tak acuh diwajahnya yang tampan saat bibir seksinya mengerucut.
Dia terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak dibelikan mainan. “Emir sayang.” Arimbi menyapanya dengan senyum manis diwajahnya.
Emir menatapnya dengan dingin menjawab, “Apa yang mau kamu katakan? Cepat katakan sekarang! Kalau tidak ada yang mau kamu katakan, pintunya disebelah sana.”
Arimbi menganggap kata-kata suaminya termasuk ‘baik’ setidaknya dia tidak memintanya untuk segera enyah dari hadapannya. “Emir sayang. Aku tadi membelikanmu dasi baru. Apakah kamu ingin melihatnya?”
“Aku punya banyak dasi!” jawab Emir ketus. Padahal didalam hatinya merasa sangat senang.
“Ya aku tahu itu. Dasi yang kubeli ini akan menambah koleksimu. Tapi ini adalah hadiah dariku,istrimu yang cantik dan sangat mencintaimu. Apakah kamu tidak senang kalau istrimu memberimu dasi?”
Emir hanya diam dengan mendengus dingin. Dia masih merajuk dan ingin istrinya itu merayunya.
“Aku juga membelikanmu baju baru. Kamu akan terlihat semakin tampan jika memakainya.”
“Semua pakaianku dibuat khusus dan aku tidak butuh kamu untuk membelikanku pakaian baru.”
“Tapi aku sudah membelinya. Apakah itu berarti kamu tidak menginginkannya? Karena kalau kamu menolaknya maka aku akan memberikannya pada saudara laki-lakiku. Dia memiliki tubuh yang hanpir sama denganmu. Meskipun dia tidak setampanmu tapi dengan pakaian bagus dia pasti akan berubah total jika memakai ini. Lagipula seseorang dinilai dari apa yang dipakainya. Aku yakin dia akan mampu membuat para wanita terpesona dengan ketampanannya, aku akan memiliki saudara ipar!”
Emir tak percaya dengan perkataan istrinya, dia pun tercengang setelah mendengarnya lalu diamenjawab, “Arimbi, kamu tidak hanya tak tahu malu tetapi kamu juga banyak bicara!”
__ADS_1
Saat itu Emir menjulurkan dengan nada suara sedingin es dimusim dingin dia berkata, “Berikan padaku!” tatapan matanya intens. ‘Enak saja dia mau memberikan hadiah untuknya pada orang lain.’