
“Tidak usah! Terima kasih sudah menyiapkan makan siang untukku. Padahal tadi aku sudah tidak berniat makan siang. Aku benar-benar kesal.” ujar Amanda.
“Setelah makan, suasana hatimu akan bertambah baik.”
Setelah keduanya selesai makan siang, mereka duduk di sofa sambil berbincang. Tak lama setelahnya, Reza mulai mencumbui Amanda, meskipun dia berusaha menolak Reza karena tapi pria itu kembali menekankan kepada Amanda tentang sesuatu.
“Amanda, jangan pernah menolakku! Kita adalah satu tim, setiap kali aku menginginkanmu maka kamu harus segera datang. Karena aku sudah berjanji padamu tidak akan pernah menyentuh Ruby maka sebagai gantinya kamu harus memenuhi kebutuhanku.”
“Reza, tapi kita bisa ketahuan kalau sering bertemu!” protes Amanda. Dia tiba-tiba teringat ucapan tajam Arimbi padanya waktu itu yang membuatnya ingin sekali menjauhkan dirinya dari Reza. Tapi itu hal yang sulit untuk dilakukannya.
Bagaimana jika Reza membongkar semua rahasianya jika dia menolak keinginan pria itu? Bisakah dia mempercayai kekasihnya ini? Atau….seperti ucapan Arimbi bahwa dia hanya menjadi wanita simpanan? Amanda galau, benaknya dipenuhi berbagai macam pikiran.
Sedangkan Reza sibuk mencumbuinya, meskipun awalnya Amanda menolak apalagi suasana hatinya belum membaik tapi akhirnya dia pun membalas sentuhan Reza. Keduanya sudah dalam keadaan polos di atas sofa diruang tengah villa itu.
Tak peduli lagi dengan apapun juga, keduanya hanyut dalam hasrat yang ingin dipuaskan. Untuk kesekian kalinya mereka lupa memakai pengaman. Satu jam kemudian, keduanya terbaring saling berpelukan di atas ranjang setelah berpindah dari sofa.
...*******...
“Kenapa wajahmu seperti itu? Masih lapar? Kamu mau makan apa lagi?” tanya Emir saat sepasang suami istri itu berada didalam mobil setelah selesai makan siang di The Palm Bliss Hotel. Arimbi tidak menjawab, dia merapat kedalam pelukan Emir dan mengendus-endus tubuhnya. “Apa yang kamu lakukan?”
“Kamu wangi sekali! Aku suka aroma tubuhmu, sayang.” ucap Arimbi dengan cepat mencium bibir Emir dan mencecapnya. Emir yang terkejut pun hanya bisa diam dan memeluk pinggang istrinya. Setelah puas mencium suaminya, Arimbi kembali memasang wajah cemberut dengan bibir mengerucut.
“Kamu kenapa? Apa ada yang kamu inginkan?” tanya Emir yang dijawab Arimbi dengan anggukan.
“Tapi….”
__ADS_1
“Tapi apa?”
“Apa kamu mau memberikannya kalau aku memberitahumu?”
“Apapun yang kamu minta akan kuberikan selagi aku mampu. Dan permintaan itu bukan hal aneh!”
Arimbi tersenyum medengar perkataan Emir dan mengeratkan pelukannya lalu berkata, “Sayang, aku ingin mobil baru berwarna merah. Apa boleh kamu membelikannya untukku?”
“Tidak! Kamu boleh meminta barang lainnya yang mahal sekalipun akan kuberikan kecuali mobil.”
“Tapi aku tidak mau barang lain, aku cuma mau mobil!” ucap Arimbi merajuk.
“Apa kamu lupa pada janjimu? Kamu tidak boleh mengemudikan mobil lagi! Ingat Arimbi, kamu itu sedang mengandung. Kalau sampai kandunganmu kenapa-napa aku tidak akan memaafkanmu!”
Arimbi terdiam sejenak lalu kembali berkata, “Aku hanya meminta mobil mewah bukan minta mengendarai mobil.” bibirnya mengerucut dan memasang wajah sedih.
“Sayang, aku mau mobil. Meskipun mobil itu tidak kukendarai sendiri juga tidak apa-apa. Aku bisa menatap mobilnya setiap saat.” dia masih berusaha membujuk dan berusaha meluluhkan hati Emir.
“Hmm….” hanya itu kata yang keluar dari bibirnya. “Apa ada permintaan lain?”
“Tidak! Itu saja! Hiks….ini kan maunya anakku juga. Dia ingin mobil mewah.”
“Arimbi! Jangan aneh-aneh! Anak itu masih berumur dua minggu, belum tahu apa itu mobil!”
Setelah dia menyelesaikan kalimatnya, Arimbi melepaskan pelukannya dan bergesar menjauhi Emir.
__ADS_1
Dia merapatkan tubuhnya ke pintu mobil dan melemparkan pandangan keluar jendela. Emir yang ingin menyentuh tangannya langsung ditepiskan oleh Arimbi. “Tidak usah pegang-pegang!” ucapnya.
“Arimbi, kemarilah….” Emir yang tak tahan dicuekin pun akhirnya bicara. Tapi Arimbi mengacuhkannya dan bahkan menutup matanya berpura-pura tidur.
Yang tadinya pura-pura tidur, malah akhirnya ketiduran membuat Emir berdecak dan menarik tubuh Arimbi kedalam pelukannya kembali. Dia menatap wajah cantik istrinya yang tertidur pulas hanya dalam hitungan detik saja. Emir sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah istri nakalnya itu.
“Rino! Telepon dealer mobil dan belikan mobil keluaran terbaru!” ucap Emir tiba-tiba yang membuat Rio terkejut. Keluarga Serkan memiliki banyak mobil tapi kenapa membeli mobil lagi, pikirnya.
“Tuan, mobil jenis apa yang harus saya beli. Kalau boleh tahu untuk siapa mobil itu?”
“Untuk istriku! Dia mau mobil mewah, harus berwarna merah!” ucap Emir lagi membuat Rino dan supir yang duduk didepan tersenyum penuh arti. Tuan Muda mereka benar-benar memanjakan Arimbi, dia selalu menuruti semua keinginan Arimbi.
“Tuan, bukankah Tuan melarang Nyonya mengemudi? Bagaimana dengan…...”
Belum sempat Rino menyelesaikan kalimatnya, Emir sudah memotongnya dan berkata, “Beli mobil bukan berarti mengemudikan mobil itu kan? Cepat pesankan mobil keluaran terbaru untuknya. Ingat! Warna merah, kalau kamu sampai salah, kamu hadapi sendiri kemarahan istriku.”
Mendengar itu membuat Rino bergidik ngeri. Meskipun Arimbi selalu bersikap lembut dan baik pada semua orang, tapi Rino tahu jika Arimbi sudah marah maka kekacauan besar akan terjadi. Dia tidak menginginkan itu, karena setelah sekian lama dia melihat bahwa sang nyonya muda itu sangat kejam dan bahkan lebih kejam dari Emir jika sudah marah.
“Baik Tuan. Akan saya hubungi dealer.” ucap Rino akhirnya. Karena mobil itu nantinya untuk Arimbi maka dia harus menyenangkan hati wanita itu. Dengan cara itu maka semua orang akan tenang dan bahagia. Selama Arimbi tidak berbuat aneh-aneh sehingga membuat Emir marah maka semua orang juga akan aman.
Sang Nyonya Muda adalah pawang Tuan Muda Emir. Jadi mereka harus menyenangkannya dan membuat suasana hati Emir baik. Rino pun segera menghubungi dealer untuk meminta mengirimkan brosur mobil keluaran terbaru. Setelah pihak dealer mengirimkan katalog melalui email, Rino segera mengirimkan katalog ke email Emir.
Rino tak berani sembarangan memilihkan model mobil yang diinginkan Arimbi. Jadi dia memutuskan mengirimkan katalog yang dia terima dari dealer kepada Emir. “Tuan, saya sudah menerima katalog dari dealer mobil dan sudah mengirimkan ke email anda. Mungkin Tuan bisa memilihkan model mobil yang disukai Nyonya.” ucap Rino.
Rino mengantarkan Arimbi kembali ke Rafaldi Group. Sebelum itu Emir mengingatkan Arimbi bahwa dia akan mulai kelas etiketnya hari ini sehabis kerja. Saat Arimbi memasuki lift dan pintu lift baru saja tertutup dia sempat melihat ada Dion beserta pengawalnya baru saja memasuki lobi gedung itu.
__ADS_1
Sambil mengeryitkan keningnya Arimbi bertanya-tanya tujuan pria itu datang kembali. Untung saja pintu lift cepat tertutup sebelum Dion melihat Arimbi.