
Saat Emir mendengar suara langkah kaki, dia tahu itu pasti istri nakalnya yang datang, dia pun mulai merasa rileks dan makan dengan lahap.
“Oh Emir suamiku, makanan tidak akan enak lagi kalau kamu makan sendirian. Aku akan menemanimu makan oke?” Arimbi bersikap sangat manis dan satu-satunya alasan dia bersikap semanis itu karena dia menyukai makanan enak dan dia ingin makan gratis bersama Emir. Dia terlalu malas untuk masak untuk dirinya sendiri.
Di awal, Emir ingin agar Arimbi menjadi mandiri tapi Tuhan berkata lain justru semakin hari Arimbi semakin bergantung padanya dalam segala hal termasuk makan semenjak dia pindah bersama Emir. Para koki selalu bekerja keras untuk menghidangkan masakan terbaik mereka tiga kali sehari. Makanan kesukaan Emir selalu tersedia di meja makan.
Makanan buatan koki selalu enak dan lezat membuat Arimbi merasa sedang makan bersama raja. Arimbi mengambil sendok dan meletakkan beberapa lauk dipiring Emir. Lalu dia mengambil untuk dirinya sendiri dan mulai makan. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu untuk ditanyakan pada Emir.
“Kenapa kamu meminta Beni menanam begitu banyak bunga dan tanaman dihalaman villa kita?”
“Maknan ini sangat enak tapi kamu malah terus saja mengoceh bukannya menikmati makanannya.”
Bagi emir bicara sambil makan itu sangat tidak sopan. “Hehehe, jangan marah begitu Emir, ketampananmu berkurang sedikit kalau marah. Aku bertanya karena penasaran saja.”
Seisi villa milik Emir selalu bersih dan sederhana tanpa banyak perabotan maupun tanaman tapi hari ini tampak berbeda. Bunga-bunga dan tanaman baru merubah suasana villa itu menjadi lebih segar dan hidup. Arimbi benar-benar menyukai perubahan itu, tiba-tiba dia punya ide bagus untuk membuat suasana didalam rumah juga semakin hangat.
Selama ini Emir tidak pernah mengubah apapun dan tidak pernah melakukan hal mendadak seperti mengubah halaman menjadi kebun bunga. Arimbi melahap makanannya hingga habis lalu melirik suaminya masih fokus pada makanannya. “Emir, apakah kamu melakukan semua ini untukku?”
“Jangan ge-er. Kamu itu seorang yang tak tahu malu dan merasa kalau kamu orang kaya hanya karena halaman dihiasi bunga dan tanaman mahal serta dihiasi potongan hiasan emas.”
“Oh….aku mau dihiasi emas. Apa kamu punya? Bisakah aku dihiasi emas?” Arimbi terkekeh konyol menggoda suaminya itu.
“Rino!” seru Emir tiba-tiba.
Rino bergegas datang dan memberi hormat lalu bertanya, “Apa yang bisa saya bantu Tuan?”
“Pergi temui Dimas dan minta dia membawakan beberapa perhiasan emas. Nyonya Muda mau emas katanya. Dan aku harus menuruti permintaannya.” ucap Emir datar.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Saya mengerti, akan segera saya bawakan.”
Arimbi yang sedang minum hampir tersedak karena terkejut, mulutnya menganga lalu berpikir apakah Emir menganggap candaannya itu serius? Apakah dia akan memberikannya emas? Tapi Arimbi merasa penasaran apakah pengawal itu akan kembali membawakan emas untuknya. Tak berapa lama, Rino dan Dimas datang dengan membawa beberapa kotak berisakan perhiasan emas.
Keduanya meletakkan kotak-kotak emas itu diatas meja lalu membukanya satu persatu didepan Arimbi. Semua kotak-kotak itu berisikan berbagai macam perhiasan emas seperti kalung, cincin, gelang, anting, bando, tas emas yang semuanya terbuat dari emas asli yang berkilauan dan cantik sekali.
“Ini semua emasnya Nyonya Muda.” ujar Rino dengan sopan.
Arimbi masih terkejut dan menatap semua perhiasan didepannya, pikirannya menjadi kacau dalam sekejap. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dia masih tak percaya jika Emir akan menghadiahinya dengan begitu banyak perhiasan emas. Apa mungkin pria seperti Emir akan menghadiahinya perhiasan sebanyak itu? Ini benar-benar tidak masuk akal baginya.
“Apakah kamu mau menempelkannya ditubuhmu sekarang atau kamu mau aku membantumu setelah makan?” tanya Emir sarkas. Dia terus menatap Arimbi dengan tatapan yang sulit diartikan sehingga membuat wanita itu sedikit gugup lalu mengalihkan pandangannya menatap emas-emas yang berkilauan didepannya.
“Menempelkan? Emir, katakan padaku bagaimana caranya menempelkan? Apa pakai lem nasi atau lem setan?” tanya Arimbi dengan wajah polos dan serius.
Emir pun tertawa lepas setelah mendengar ucapan istrinya, tapi dia segera mengatupkan bibirnya agar terlihat tetap cool dan berwibawa. Dia berdehem sedikit agar terlihat keren, “Silahkan saja tempel kalau begitu. Terserah kamu mau pake lem apa.”
Emir berusaha menyembunyikan rasa bahagianya dengan melanjutkan makan sambil menundukkan kepala menutupi senyum yang muncul di wajahnya. “Boleh….boleh….kamu boleh memakai semua.”
Arimbi pun segera mengambil perhiasan-perhiasan itu dan mulai mengamati serta memakainya. Setelah semua perhiasan menutupi tubuhnya, dia bercermin dengan kamera ponselnya. Setelah melihat penampilannya, dia mulai kumat lagi lalu merengek pada Emir, “Emir suamiku, coba lihatlah betapa cantiknya istrimu ini! Apa aku sekarang terlihat seperti orang kaya baru?”
Emir hanya meliriknya sekilas lalu kembali menyantap makanannya. “Memang! Kamu itu sebenarnya elegan tapi kamu harus lebih banyak belajar tentang etika. Kelakuanmu sangat tidak pantas dengan memakai emas mahal seperti itu. Kamu harus tampil seperti wanita kaya yang berkelas dan elegan.”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi ke kelas etika saja.” ujar Arimbi.
Arimbi adalah seorang wanita yang berkelas karena didikan keras ayah dan ibunya. Tapi kebiasaannya selama dua puluh tiga tahun itu sangat tidak pantas dimata orang-orang kaya kelas atas dengan derajat yang tinggi.
Arimbi harus banyak belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya kelak. Emir bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar kata-kata istrinya.
__ADS_1
Bagaimanapun Arimbi harus belajar etika karena dia bukan saja putri Keluarga Rafaldi tapi dia juga Nyonya Muda di keluarga Serkan. Dia harus bisa membawakan dirinya mewakili kedua keluarga itu kemanapun dia pergi.
“Kamu tidak usah bersikap seperti itu didepanku. Aku sudah melihat semua kelakuan burukmu. Tidak ada gunanya bertingkah seperti seorang wanita kaya kelas atas.” ucap Emir lagi.
Emir tidak akan pernah mau mengakui kalau dia menyukai Arimbi karena sikapnya. Sebenarnya Emir menyukai istrinya itu karena tingkah konyol dan tak tahu malu serta keras kepalanya itu.
“Baiklah. Aku tidak akan pernah bersikap seperti ini lagi didepanmu, Emir.” ujar Arimbi.
Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang sudah menghabiskan waktu bersama. Daripada pura-pura terlihat elegan dan berkelas selama hidupnya, Arimbi lebih menyukai dirinya seperti ini dimana dia bisa berbicara dan melakukan apa saja sesukanya.
Emir tidak memaksanya dan Arimbi pun memang tidak suka dipaksa. Setelah keduanya selesai makan, Arimbi mendorong kursi roda Emir menuju keluar untuk berjalan-jalan. “Emir, aku akan mulai bekerja besok.” ujarnya tiba-tiba.
“Mmmm...”
“Aku akan bekerja keras.” ucap Arimbi lagi.
“Mmmm.”
“Mmmm...mmmm….itu saja yang bisa kamu katakan padaku?”
Arimbi tidak mengenal siapapun yang lebih berpengetahuan selain Emir yang mengerti tentang dunia bisnis dan dia sangat mengharapkan suaminya itu bisa memberianya beberapa saran padanya. Setelah mendengar perkataan Arimbi dan mendengar suara helaan napas istrinya itu, Emir mengetuk pegangan kursi roda mengisyaratkan untuk berhenti.
Lalu Emir memiringkan kepalanya menatap Arimbi, dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu lalu dia mengangkat tangannya dan berkata, “Semangat!”
Arimbi yang mengerti setiap ekspresi di wajah Emir hanya bisa tertawa karena Emir hanya mengucapkan satu kata itu saja untuknya. Awalnya Arimbi mengira kalau dia akan memberinya arahan atau sejenisnya. ‘Dia cukup asyik juga,’ pikir Arimbi.
__ADS_1