
Layla pun mengomel sambil mendengus kesal, “Itu karena kakakmu cacat! Wanita-wnaita yang dulu menggilai kakakmu dan ingin menikahinya kini sudah tidak ada lagi. Makanya aku berniat menjodohkan mereka meskipun Keluarga Rafaldi tidak setara dengan kita tapi mereka masih bisa dibilang keluarga kaya. Karena Arimbi adalah putri kandung dari Keluarga Rafaldi, tidak ada yang salah dengan status sosialnya. Masalahnya hanyalah dia tumbuh di pedesaan. Itu membuatku kecewa padanya,”
“Nenek! Apa salahnya tumbuh dipedesaan? Apa dia berdosa karena dia tumbuh disana? Sekalipun sekarang kita kaya, kalau kita tarik lebih jauh ke belakang, apakah semua leluhur kita sekaya sekarang? Aku yakin beberapa dari mereka juga miskin, bukan? Beberapa mungkin pernah tinggal di pedesaan karena dulunya belum ada kota seperti sekarang!” Elisha berhenti sejenak.
“Jadi kenapa nenek meremehkan orang yang berasal dari pedesaan? Pada akhirnya kita semua berasal dari pedesaan. Lagipula Arimbi tidak bersalah sama sekali, dia tertukar saat masih bayi. Jika itu tidak pernah terjadi, mungkin dia sudah menikmati semua yang dinikmati Amanda selama bertahun-tahun. Harusnya kita berempati padanya!” ujar Elisha membalas neneknya.
Perkataan Elisha membuat ekspresi wajah Layla menggelap. Baru saja dia hendak membantah perkataan cucunya tapi Elisha membalas tatapannya dengan sangat tajam dan wanita tua itu sadar kalau cucunya itu sangat marah padanya. Sehingga Layla pun kehilangan kata-kata dan terdiam tak lagi berani mengeluarkan sepatah katapun.
“Aku merasa lelah sekarang. Aku mau masuk dulu dan beristirahat.” ujarnya mengalihkan. Lalu wanita tua itu berdiri dan melangkah menjauh meninggalkan kedua cucunya. Baru saja Layla pergi, Agha dengan berani mengangkat kedua jempolnya untuk adik perempuannya. Dia memuji keberanian Elisha membalas perkataan neneknya yang tidak masuk diakal.
Agha tidak menyangka jika Elisha bisa mengatakan kalimat seperti itu. Dia pun memuji saudarinya sambil berkata, “Kamu memang punya prinsip di hal-hal yang tepat! Kalau Arimbi tahu kamu membelanya, dia pasti akan benar-benar berterima kasih padamu!”
“Nenek benar-benar meremehkan Arimbi! Arimbi tidak bersalah karena hidupnya berubah dalam semalam. Neneh bahkan membencinya hanya karena dia datang dari pedesaan dan bilang kalau dia akan mengusirnya saat Emir sembuh nanti. Aku yakin tidak akan ada yang berani mengusir Arimbi dari sini selama Emir melindunginya!”
“Dia bahkan tidak berhenti memikirkan bagaimana Arimbi menyinggung Emir saat itu.Kalau pun Emir menikah dengannya, sepertinya nenek tidak akan setuju. Tapi apa Emir benar-benar akan peduli pada pendapat nenek? Dia selalu melakukan apapun tanpa mempedulikan pendapat orang lain. Emir tidak membutuhkan persetujuan dari orang lain jika dia ingin menikahi Arimbi.” ucap Agha. Sebenarnya yang ingin dia katakan adalah bahwa Emir telah menikahi Arimbi.
Namun melihat kedua pasangan itu sedang sarapan dengan bahagia, Agha menutup mulutnya erat-erat. Kita tidak seharusnya menggali kehidupan pribadi Emir sampai sebegitu dalam. Itu adalah hidupnya dan dia paling tidak suka jika orang lain mencampuri urusannya, walaupun itu adalah keluarganya sendiri. Karena Emir melakukan apapun yang dia mau lakukan.
Kalau membuatnya kesal, dia pasti tidak akan berhenti mencarikan jodoh bagi mereka berdua. Menurut Agha sendiri itu lebih bebas, jadi Agha tak ingin kakaknya menjadi mak comblang untuknya. Demi kebebasannya, Agha memutuskan untuk merahasiakan pernikahan mereka sekuat tenaga.
“Eli, haruskah kita kesana dan menemani Emir?” tanya Agha pada adiknya.
__ADS_1
Elisha tersenyum lebar dan menjawab, “Kakakku sayang, kalau kamu mau pergi kesana silahkan saja. Jangan menyeretku denganmu ya. Aku ingin kembali tidur sekarag.” dia pun pergi dengan berlari terbiri-birit, karena dia tahu apa yang ingin dilakukan Agha dan dia sedang malas ikut campur dengannya. Lebih baik kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang terganggu pagi ini.
Semua kakak-kakaknya menghormati Emir, tapi mereka juga takut padanya. Jadi tiap kali terjadi sesuatu, mereka akan selalu menjadikan Elisha tameng karena Emir sangat menyayangi adik perempuannya itu, jarang sekali dia memarahinya.
“Hei, Eli! Eli!”
Setelah memanggilnya dua kali. Agha tetap tak berhasil membuat Elsiha untuk tinggal. Lari gadis itu cukup kencang sehingga dalam sekejap sudah hilang dari pandangan. Akhirnya Agha melangkah kearah gazebo sendirian. Melihat kedatangan Agha, Arimbi tersenyum padanya dengan hangat.
“Kamu datang tepat waktu, Agha! Bawa kakakmu jalan-jalan ya. Aku akan pergi sekarang, ada urusan penting yang harus kukerjakan. Kamu tidak keberatan kan menemani kakakmu sebentar?”
Agha langsung terdiam mendengar perkatan Arimbi. Awalnya dia ingin bergabung dan bersenang-senang dengan mereka, ternyata malah disuruh-suruh oleh Arimbi.
Baru setelah wanita itu pergi, Emir mengangkat tangannya dan menyeka bagian wajahnya yang tadi dicium oleh Arimbi lalu menggerutu, “Menciumku tepat seetlah selesai makan. Wajahku jadi penuh minyak sekarang.”
Tanpa menahan diri lagi Agha menyahuti, “Tapi sepertinya kamu menikmatinya tadi dan tersenyum.”
Kalimat itu membuat Emir memelototinya. Sambil menyentuh ujung hidungnya, Agha tersenyum lebar. “Emir, tentang Arimbi oh...tunggu, haruskah aku memanggilnya kakak ipar sekarang? Dia itu benar-benar….tidak malu bermesraan denganmu padahal ada aku sebagai orang ketiga disini.”
“Jadi kamu sadar kan kamu itu adalah orang ketiga?” ucap Emir mencibir. Tapi Agha tetap tersenyum karena dia mengenal kakaknya yang kadang bercanda juga dengannya. Jadi dia tidak merasa sakit hati pada perkataan kakaknya barusan.
“Ini akhir pekan, apakah kamu tidak keluar bersama teman-temanmu?” tanya Emir.
__ADS_1
“Tidak! Aku ingin tetap dirumah dan menemanimu, kakak kesayanganku. Aku merasa sedikit bersalah padamu ketika melihatmu selalu berada dirumah sendirian seperti ini.”
“Hmmm! Kukir hati nuranimu sudah menghilang kamu buang.” ucap emir.
Agha menganga mendengar perkataan kakaknya lalu berkata, “Emir, tidak bisakah kamu berhenti berkata kasar seperti itu? Kita inikan lahir dari kandungan yang sama?”
Emir mendengus mendengar hal tersebut.
“Emir, sampai kapan kamu akan menyembunyikan pernikahan ini?” tanya Agha penasaran. Bagaimanapun dia harus memberitahu keluarganya dan juga mengumumkan pernikan ke publik kan?
Emir tidak menjawab pertanyaan adiknya, dia sendiri memang tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahannya lebih lama lagi. Saat hadiah pernikahannya siap, dia akan segera mengumumkan pada orang tuanya bahwa Arimbi adalah istrinya. Setelah itulah dia baru akan mengumumkan status pernikahan mereka ke publik.
Itulah alasan lain mengapa Emir ingin segera sembuh dan bisa berjalan lagi. Dia ingin menunjukkan pada semua orang, kesabaran dan ketulusan istrinyalah yang membuatnya bisa sembuh dan kembali normal. Dia sangat ingin memberitahu seluruh negeri ini tentang kabar gembiranya itu dan menjadikan Arimbi wanita paling bahagia.
Dia ingin melihat siapa yang berani memperlakukan istrinya dengan buruk, menjelek-jelekkannya dan merusak nama baiknya ataupun mempermalukannya didepan publik setelah itu.
Selain itu apakah setelah semua orang mengetahui status Arimbi sebagai istrinya, akankah musuhnya akan berhenti merundung Arimbi atau akan berhenti?
Agha hendak mengatakan sesuatu sesuatu tapi segera menghentikan dirinya ketika dia melihat Arimbi kembali dengan dua buah kotak misterius ditangannya. Wanita itu berjalan kearah mereka dengan wajah ceria dan senyum sumringah.
__ADS_1