
“Arimbi, aku tidak keberatan kamu bergabung ke perusahaan, aku sangat senang bisa membawamu bersamaku dan mengajarimu secara pribadi bagaimana cara menjalankan perusahaan! Tapi, sebaiknya kamu bertanya dulu pada Tuan Emir tentang hal ini. Aku akan menyetujui jika dia setuju!” ujar Yadid memberikan saran pada Arimbi karena dia tidak mau jika Emir sampai memarahinya karena membiarkan Arimbi bekerja tanpa seizinnya sebagai suami.
Amanda yang tidak mau jika Arimbi sampai masuk ke perusahaan pun berkata, “Arimbi! Apa yang ayah katakan itu benar dan masuk akal. Karena Tuan Emir telah membawamu kembali bersamanya untuk meminta pertanggungjawabanmu, dia mungkin tidak akan mengizinkanmu pergi sesuka hatimu, jadi kamu harus meminta pendapatnya agar kamu tidak membuatnya marah lagi.”
Arimbi diam-diam menatap Amanda yang sedang bicara. Dia tahu bahwa Amanda tidak mau dia masuk kedalam perusahaan dan wanita itu pasti akan melakukan berbagai cara untuk menghalangi Arimbi. Dia hanya memperhatikan kuku tangannya dan tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Amanda. Ibarat angin lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.
Lalu Arimbi mengalihkan padangannya pada ayahnya untuk menjelaskan, “Ayah, menurutku apa yang dikatakan ibu benar. Kita tidak seharusnya menyusahkan Emir dengan masalah keluarga kita. Aku hanya memerlukan persetujuanmu untuk bekerja di perusahaan kita.”
Sebelumnya, Emir sempat mengatakan pada Arimbi bahwa Amanda akan tetap menganggapnya sebagai musuh terlepas apakah dia mau merebut warisan orang tua mereka. Selama Arimbi adalah putri kandung Yadid dan Mosha maka Arimbi adalah ancaman besar bagi Amanda.
Mengingat ucapan Emir itu, diapun berpikir bahwa Emir mendukungnya untuk masuk ke Rafaldi Group untuk bersaing dengan Amanda. Toh, suaminya itu sangat hebat dalam bisnis dan Arimbi bisa belajar banyak darinya.
Yadid memelototi Arimbi dan berusaha mengingatkannya tentang aturan di keluarga Serkan karena istrinya dan Amanda duduk disana dan dia tidak mau jika Amanda mengetahui yang sebenarnya. “Kita bicarakan soal ini nanti!” akhirnya Yadid memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan tetap ingin meminta persetujuan Emir untuk menghindari dia dan Emir berdebat nantinya.
“Yadid…..”
“Bu, kita dengarkan ayahya.” Arimbi meremas tangan ibunya dengan lembut sambil mengisyaratkan pada ibunya untuk tidak melawan ayahnya dalam hal ini.
Disisi lain, Amanda menghela napas lega karena dia harus memikirkan cara untuk menghentikan Arimbi masuk ke perusahaan. Meskipun orang tuanya mempercayai Amanda saat ini, tapi dia bukan putri kandung mereka.
Jika Amanda tidak hati-hati dan berusaha menolak Arimbi secara terang-terangan akan berakibat buruk baginya. Orang tuanya bisa saja akan mengerahkan segala upaya mereka untuk melatih Arimbi dan mengambil alih perusahaan.
__ADS_1
Jika itu sampai terjadi, tidak ada lagi yang tersisa baginya! Amanda ingin menguasai semuanya sendiri dan dia memutar otak bagaimana caranya untuk memuluskan rencananya menyingkirkan Arimbi.
Sejak lama Amanda telah memutuskan bahwa semua milik keluarga Rafaldi adalah miliknya dan dia tidak akan membiarkan Arimbi mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Kringgg…..kringg…..kringg……
Ponsel Arimbi berdering dan ketika dia melihat nomor si penelepon, ekspresi wajahnya berubah serius.
“Ada apa, sayang?” tanya Mosha.
“Bu, aku harus menerima telepon ini diluar,” Arimbi tidak memberi tahu orang tuanya bahwa panggilan telepon itu dari Emir.
“Baiklah.” jawab Yadid.
Sedangkan Arimbi tidak peduli pada apa yang dipikirkanoleh orang-orang yang berada didalam ruang direktur itu ketika dia keluar dari sana dan menuju ke ruang tunggu tamu dan menjauh dari sekretaris ayahnya sebelum menjawab telepon.
“Apa kamu itu kura-kura ya? Kenapa lama sekali menjawab teleponku? Aku orang yang sibuk dan kamu malah membuang-buang waktuku! Kamu perlu memberiku kompensasi atas waktuku yang terbuang percuma!” Emir membombardir Arimbi dengan rentetan kalimat tanpa jeda.
Arimbi tersenyum sinis dan sabar menunggu sampai Emir selesai menceramahinya.
“Emir! Kamu galak sekali sih bikin jantungku hampir copot! Jadi kamu juga harus memberiku kompensasi atas tekanan emosionalku!” kata Arimbi dengan suara yang lembut selembut sutra.
__ADS_1
Emir menggenggam ponselnya erat-erat, wajahnya tanpa ekspresi dan ternganga tak percaya mendengar ucapan Arimbi yang lembut dan terdengar sabar.
Istrinya itu malah sepertinya tidak peduli dan masih bisa bercanda dengannya. Emir tak habis pikir apakah Arimbi memang bersungguh-sungguh saat mengatakan padanya kalau dia tidak akan pernah menyesal menikahinya.
“Emir, apakah kamu merindukanku? Kamu meneleponku dua kali dalam satu jam. Kamu pasti sangat merindukanku, iyakan sayang? Aku masih di perusahaan ayah. Bagaimana kalau aku mengunjungimu di kantor saat aku pulang nanti?” ucap Arimbi dengan suara lembut dan agak manja.
Saat itu juga Emir ingin sekali menjawab bahwa dia tidak merindukan wnaita tak tahu malu itu, tapi dia mengurungkan niatnya.
Mendengar suara Arimbi yang lembut dan manja, Emir tertarik dan suasana hatinya lebih baik. “Kamu harus pulang secepatnya, aku sudah menyewa penata rambut untukmu. Michael Hara yang akan menata rambutmu. Jangan membuatnya menunggumu.”
‘Hah? Apa aku tidak salah dengar? Emir memanggil Michael Hara yang terkenal itu untuk menata rambutku?’ bisik hatinya dengan perasaan bahagia.
Arimbi tahu siapa Michael Hara, dia adalah penata rambut terkenal di negeri ini dan biasanya harus melakukan reservasi terlebih dahulu untuk mendapat kesempatan bertemu dengan Michael Hara. Dan biasanya para asistennya yang menangani pelanggan, sangat sulit untuk bisa mendapatkan pelayanan langsung dari pria itu.
Di kehidupan sebelumnya, Arimbi juga ingin Michael menata rambutnya tetapi dia tidak punya kesempatan itu karena beberapa orang terkemuka dengan status sosial yang tinggi sudah berbaris didepannya menunggu giliran. Apalagi dikehidupan itu dia adalah Nyonya Kanchana yang tidak disukai, mana mungkin orang seperti Michael Hara mau menerima klien sepertinya?
Tapi sekarang berbeda, dikehidupan kedua ini dia tidak perlu membuat janji karena Emir telah mengatur agar Michael datang kerumah dan menata rambutnya. ‘Ah, ternyata banyak untungnya juga aku menikahi Emir ya! Aku bisa menjadi prioritas dimanapun dan kemanapun aku pergi. Aha, aku harus memanfaatkan semua peluang yang aku punya!’ pekiknya didalam hati dengan rasa senang.
Karena hanyut dalam hayalannya, Arimbi tanpa sadar tertawa renyah dan terdengar oleh Emir. Suara tawa itu mengingatkan Emir pada senyuman nakal istrinya saat mereka menerima surat nikah mereka. Saat itulah dia menyadari kalau istrinya itu suka tersenyum.
“Kapan dia akan tiba dirumah?” tanya Arimbi.
__ADS_1
“Jam 1 siang. Kamu harus sudah berada dirumah sebelum jam 1.”
Arimbi melirik jam tangannya, “Apa tidak bisa ya kalau aku sampai dirumah jam 1? Ayah ingin mengajakku makan siang di The Palm Bliss Hotel. Katanya itu adalah hotel bintang tujuh paling terkenal di negeri ini.” ujarnya lagi masih dengan suara manja mencoba merayu Emir. Arimbi berada dikehidupan keduanya sekarang tetapi tidak ada yang pernah membawanya makan kehotel itu.