GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 225. DAFTAR HADIAH PERNIKAHAN


__ADS_3

“Iya, aku tahu. Memang itu juga yang aku katakan kepada Arimbi waktu itu. Tuan Emir, aku merasa lega sekali Arimbi ada ditanganmu. Tolong jaga putriku dengan baik dan bimbinglah dia menjadi wanita dan istri yang kuat.” Ujar Mosha.


Semakin dia melihat menantunya, semakin Mosha merasa puas dan bangga. Mosha semakin merasa puas dan senang dengan Emir. Ditambah lagi, pernikahan ini adalah pernikahan yang dipaksakan oleh anaknya sendiri. Entah apakah pernikahan ini adalah hal yang baik ataupun tidak, tetapi dia harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.


“Ibu aku juga akan mendaftarkan Arimbi kursus etiket. Dia mungkin akan semakin sibuk dikemudian hari. Tapi akhir pekan aku pasti akan memberinya waktu untuk mengunjungi ibu. Jika ibu sendiri juga merindukan Arimbi, ibu bisa menemuinya kapan saja. Datanglah berkunjung kerumah kami kapan saja ibu bisa. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk ibu dan ayah.”


Mosha bergumam menjawabnya. Ketika dia berpikir bahwa anaknya itu baru datang satu tahun yang lalu, dia tidak memenuhi standar orang-orang kelas atas sama sekali. Jadi dia berkata, “Arimbi pasti sibuk dengan kursus etiketnya. Saat akhir pekan jika kamu berniat untuk datang, kabari aku dulu sebelumnya agar aku bisa menyiapkan makanan mewah untukmu.”


Bagi Mosha walaupun Villa Serkan itu besar, rasanya disana itu sangat menekan karena ada begitu banyak aturan yang harus dipatuhi dan itu membuatnya sedikit takut untuk pergi kesana. Tentu saja dia tetap harus pergi.


Dia juga mendengar bahwa besannya dari pihak Emir masih liburan di luar negeri dan belum kembali. Saat mereka kembali, dia berencana untuk menemui mereka dengan Yadid dan membawa bingkisan yang cukup banyak.


“Oh iya ibu. Ini adalah daftar hadiah pernikahan yang kusiapkan untuk keluarga Rafaldi. Coba ibu periksa jika ada yang masih kurang agar ibu tambahkan. Lalu beritahukan kepadaku agar aku bisa segera mempersiapkannya. Aku sudah memesan gaun pengantin untuk Arimbi dari desainer terkenal di luar negeri. Aku tidak ingin masalah pada Arimbi sampai hari pernikahan kami nanti.”


Emir lalu menyerahkan berkas berisi daftar hadiah pertunangan dan pernikahannya dengan Arimbi. Mosha mengambil berkas itu lalu membukanya, matanya melotot melihat daftar hadiah yang panjang. “Ehm, Tuan Emir! Kenapa daftar hadiahnya panjang sekali? Bukankah ini terlalu banyak?”


“Ibu, aku sudah berjanji akan memberikan pernikahan paling megah dan mewah untuk Arimbi. Dia istriku dan dia layak mendapatkan yang terbaik. Sampai saat ini, baru itu saja yang sedang kupersiapkan. Coba ibu cek lagi, ibu boleh tambahkan yang lainnya jika ada yang ibu inginkan maka aku akan memenuhinya.”


Mosha semakin canggung, melihat daftar hadiah pernikahan yang begitu banyak saja dia sudah merasa pusing. Itu sudah terlalu banyak menurutnya, mana mungkin dia akan menambahkan lagi meskipun Keluarga Serkan sangat kaya tapi dia rasa ini sudah cukup. Dia tidak mau putrinya akan dicap materialistis oleh anggota keluarga Serkan.

__ADS_1


“Tuan Emir, setelah melihat daftar hadiah ini aku rasa semuanya sudah cukup dan tidak ada lagi yang perlu kutambahkan. Terima kasih sudah memikirkan putriku dan memberinya pernikahan mewah.”


“Jangan sungkan Bu. Ini bukan hadiah untuk Arimbi saja tetapi untuk ayah dan ibu juga. Kalian sudah memberiku Arimbi untuk jadi istriku, jadi hadiah-hadiah ini sebagai pemberian untuk mertuaku.”


“Tidak perlu terburu-buru, ibu bisa mengambil beberapa hari untuk memikirkan jika ada sesuatu yang ibu dan ayah inginkan atau mungkin Arimbi inginkan yang aku tidak tahu. Segera beritahu padaku agar bisa anak buahku mempersiapkan semuanya.”


Mosha merasa sangat segan tapi dia segera mengangguk karena Emir memaksa jadi dia hanya bisa menyetujuinya. Didalam hatinya, dia merasa sangat bahagia untuk putrinya.


“Ibu, aku setelah ini ada rapat jam setengah sembilan. Jadi aku pamit undur diri dulu.” ujar Emir dengan meminta maaf sembari melihat jam. Setelahnya Mosha mengantar Emir pergi.


Dia meminta Rino untuk mengambil alih kursi roda dan mendorong Emir ke mobil. Mosha mengantarnya ke gerbang dan baru kembali saat mobilnya sudah jauh dan tak terlihat lagi. Melihat mobil baru yang diparkir dilahan parkir utama, Mosha menyentuh bodi mobil barunya. Dia memang tidak kekurangan mobil.


Tapi mobil baru ini adalah mobil yang diberikan oleh menantunya atas nama Arimbi, jadi sudah pasti mobil ini memiliki arti yang lebih dalam dari mobil biasa. Setelah puas menyentuh dan memandangi mobil barunya, Mosha kembali kedalam rumah dan duduk di sofa. Dia belum sempat membaca isi daftar hadiah pernikahan yang diberikan oleh Emir tadi.


Saking terkejutnya, tangannya gemetar memegang kertas ditangannya. Villa D’Azure adalah villa termahal dan menurut berita yang dibacanya baru-baru ini villa itu adalah milik Emir yang baru dibangunnya sekitar satu setengah bulan lalu.


‘Hah? Emir benar-benar memberikan villa itu sebagai hadiah untuk Arimbi?’ bisiknya dalam hati. Satu tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang. Villa D’Azure dibangun dilokasi strategis dengan nilai sebesar 1 triliun rupiah.


Semakin dia membaca daftar hadiah itu, semakin pusing kepala Mosha dengan begitu banyak dan mahalnya hadiah yang dipersiapkan Emir untuk Arimbi. ‘Apakah dia benar-benar menyukai putriku? Ah, itu akan sangat bagus!’

__ADS_1


‘Tapi bagaimana dengan anggota keluarga Serkan? Aku harus membicarakan ini dengan suamiku nanti. Aku tidak mau anggota keluarga Serkan lainnya akan membuat masalah pada Arimbi karena hadiah pernikahan ini.’ bisik hatinya.


...*****...


Di dalam kantor Rafaldi Group.


“Arimbi! Tuan Jordan meminta kita untuk pergi memancing bersamanya. Aku tidak tertarik dengan memancing, apalagi kesabaran untuk menunggu ikan jadi kamu bisa pergi tanpaku.”


Amanda mengeluarkan alat pancing yang baru dibelikan oleh asistennya Sandra dan memberikannya pada Arimbi lalu menjelaskan lebih lanjut.


“Perusahaan yang ingin mendapatkan kontrak dengan PT. Libra Elektronindo tidak hanya kita saja. Semua orang bekerja dengan keras untuk itu. Jadi kita tidak boleh ketinggalan juga. Jika kita bisa mendapatkan persetujuan Tuan Jordan, ditambah dengan kemampuan perusahaan kita, operasional perusahaan akan menjadi semakin mudah.”


Arimbi mengambil alat pancing darinya. Saat dia hendak mencari alasan untuk pergi keluar kantor, Amanda malah memberikannya alasan tepat. Meskipun Arimbi bukan orang dari bagian penjualan, karena dia dan Amanda bersaing untuk mendapatkan kesempatan kontrak dengan PT. Libra Elektroindo maka kedua saudari itu secara tidak langsung menjadi bagian penjualan.


“Dimana dan jam berapa Tuan Jordan ingin bertemu?” tanya Arimbi.


“Jam sepuluh pagi. Dia tidak mengatakan padaku dimana lokasinya tapi kamu bisa pergi bersamanya.”


Arimbi melihat jam dan waktu masih menunjukkan jam sembilan pagi. Itu artinya dia masih bisa menyempatkan diri untuk mampir ke Harimurti Group dalam perjalanan ke PT. Libra Elektroindo.

__ADS_1


“Baiklah. Kalau begitu aku berangkat dulu, takutnya nanti jalanan macet.”


“Oke. Selamat jalan. Aku akan menunggu kabar baik darimu.” setelah mengucapkan kata-kata penyemangat itu, Amanda kembali fokus pada pekerjaannya.


__ADS_2