GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 336. CINTAKU BERBEKAS


__ADS_3

Perjamuan malam ini adalah perjamuan bisnis tahunan yang biasa diadakan oleh para pebisnis di negeri ini. Semua yang hadir adalah orang-orang penting, ini adalah perjamuan dimana semua orang akan mencari kesempatan untuk mendapatkan kerjasama dan menjalin hubungan baru. Bagi Arimbi, ini adalah perjamuan bisnis pertama yang dihadirinya.


 


Baik itu sebagai pewaris Rafaldi Group maupun sebagai Nyonya Serkan! Dia harus tampil sempurna agar tidak membuat malu Emir. Sebagai Nyonya Serkan, maka Arimbi adalah ikon yang akan menjadi panutan para wanita. Arimbi membayangkan kalau pesta perjamuan ini akan sangat membosankan. Dimana semua orang akan sibuk mencari muka dan menjalin kerjasama.


 


Persiapan yang dilakukan Arimbi cukup banyak dan menyita waktu. Memulai lebih awal memberinya waktu untuk bernapas lega untuk memilih gau sampai menata penampilannya. Arimbi memilih gaun yang terlihat berkelas dan sopan, dia puas saat memilih gaun berwarna merah pilihannya. Malam ini dia ingin kembali menjadi bintang pesta dan sorotan.


 


Arimbi menyapukan lipstik berwarna merah dibibirnya memastikan bibirnya berkilau. Lalu dia merapikan rambutnya yang disanggul kecil dibelakang kepala sementara sisanya tergerai rapi. Setelah dia melihat penampilannya yang sempurna, dia keluar kamar dan turun ke lantai satu.


 


Disana Emir sudah menunggunya. Arimbi sedikit gugup karena penampilannya ini akan dinilai oleh suaminya. Dia sekarang menyenangi warna merah sehingga dia memutuskan memakai gaun merah yang baru dipesankan Emir untukmu. Arimbi menuruni tangga tapi dia justru mendapat kejutan lain.


 


Dia hampir terjatuh saat melangkah melintasi ruang tamu. Emir ada disana berdiri tegak tidak duduk di kursi rodanya. “Apa…..bagaimana…..apa tidak masalah kalau kamu berdiri begitu?”


“Aku baik-baik saja! Aku bisa berjalan dan aku punya ini jika tiba-tiba kakiku ingin menjadi manja.”


 


Emir memperlihatkan tongkat kecil yang bisa dilipat dan dimasukkan kedalam saku.


“Tapi Emir! Apa kamu yakin berjalan? Bagaimana tanggapan orang-orang nanti saat melihatmu sudah berdiri tegak dan berjalan? Aku khawatir kalau musuhmu akan melihat ini dan merasa tidak senang.”


 


“Aku tak peduli! Yang jelas sekarang kakiku sudah membaik dan aku bisa berjalan.” Emir menyudahi pembicaraan itu. Dia bisa memahami maksud Arimbi tapi dia sudah bosan duduk dikursi roda terus menerus. Karena ini adalah perjamuan bisnis maka Emir memutuskan tidak memakai kursi rodanya.


 


“Sayang, permainan kita belum selesai. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan tetap berada dikursi roda sampai semuanya terungkap? Kamu masih mencari siapa dalang yang menyebabkan kamu kecelakaan bukan? Aku tahu kamu sudah bosan dan lelah duduk di kursi roda. Tapi hanya dengan cara ini kita bisa mendapatkan petunjuk malam ini.” ucap Arimbi mengingatkan Emir.


 


“Arimbi! Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Rencana kita akan berjalan sempurna malam ini jika aku menunjukkan pada semua orang kalau aku sudah bisa berjalan! Aku ingin berjalan menggandeng tanganmu dan melindungimu! Biarkan mereka melihat, dan jika orang-orang jahat itu ingin datang maka biarkan mereka datang pada kita malam ini.”

__ADS_1


 


Arimbi tersenyum, dia selalu merasa tenang dan nyaman dengan perkataan Emir meskipun masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya karena ini diluar rencana mereka namun Arimbi percaya bahwa Emir pasti sudah memikirkan keputusannya malam ini untuk berjalan didepan semua orang.


Melihat Emir yang berdiri dan berjalan didepannya dengan setelan jas mahalnya membuat Arimbi tersenyum. Perasaan cintanya pada Emir semakin hari semakin besar, tiba-tiba Emir berhenti berjalan lalu menoleh kebelakang karena merasa tidak ada yang mengikutinya.


 


“Kamu kenapa?” tanyanya saat melihat Arimbi yang menatapnya dengan mata berbinar.


“Kemarilah.”


Arimbi berjalan sambil tersenyum lalu mengaitkan tangannya dilengan Emir, “Sayang, di pesta nanti aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku! Kamu tampan sekali! Jantungku berdetak kencang, kalau bisa rasanya aku ingin kita dirumah saja.”


 


“Yakin? Kamu mau dirumah saja? Hem?”


“Tidak malam ini! Rencana kita tidak boleh gagal! Emir sayang, berjanjilah padaku! Matamu hanya menatapku, oke?”


Emir memeluk Arimbi lalu berbisik ditelinganya,


 


“Oh Emir sayang. Bukankah kamu sudah melihatnya tiap hari? Aku bisa ganti gaunnya kalau kamu tidak suka aku memakainya.” ucap Arimbi membelai dada bidang suaminya. Keduanya tampak sangat mesra saling berbisik di teras villa. Tak mereka sadari jika Layla Serkan menatap keduanya dari balkon rumah utama.


 


“Jangan diganti! Aku suka istriku menjadi wanita tercantik di setiap pesta perjamuan! Tapi, lain kali jangan memakai gaun seseksi ini! Aku tidak suka orang lain melihat kaki jenjangmu!” saat bicara Emir mencubit pinggang Arimbi dengan gemas.


“Auuu! Emir! Sakit!”


“Ayo kita berangkat sekarang!”


 


“Oke, kita guncangkan pestanya! Malam ini milik kita.”ujar Arimbi masuk kedalam mobil Emir.


“Rino! Kamu tahu tugasmu dan apa yang harus kamu lakukan bersama yang lainnya kan?”


“Siap Tuan! Sesuai dengan perintah Tuan!”

__ADS_1


“Hem….” hanya itu yang keluar dari bibir Emir.


“Kenapa panitia tidak mengizinkan para bodyguard masuk ke acara pesta?”


 


“Memang sudah seperti itu aturannya sejak dulu. Karena ini pesta perjamuan tertutup dan panitia juga sudah menjamin keamanan para tamu.” jawab Emir.


“Oh begitu.” Arimbi mengangguk.


 


Perjalanan menuju ke tempat perjamuan tidak berlangsung lama. Perjalanan itu sunyi sekitar setengah jam karena Arimbi dan Emir sama-sama larut dalam pikiran mereka. Arimbi memandang ke luar jendela selama perjalanan sedangkan Emir sibuk dengan ponselnya dan juga tablet di tangannya.


 


Setibanya di tempat perjamuan Arimbi menatap heran, “Kenapa banyak sekali orang?” dia tercengang saat melihat kerumunan orang yang berkumpul didepan resort mewah itu. Awalnya Arimbi mengira kerumunan itu adalah tamu tetapi kemudian sadar kalau mereka bukan tamu. Tamu tidak akan membawa kamera, kerumunan itu adalah wartawan.


 


“Kenapa ada banyak wartawan disini? Bukankah perjamuan bisnis ini tertutup?” Arimbi tidak menyangka skala pesta perjamuan bisnis akan sebesar ini. Ini pertama kalinya Arimbi menghadiri perjamuan bisnis seperti ini. Dikehidupan sebelumnya dia selalu menolak setiap kali ayahnya mengajaknya menghadiri perjamuan bisnis.


 


“Itu karena ada berita aku akan datang. Aku tidak pernah muncul didepan umum sejak kecelakaan dan itu membuat banyak orang penasaran. Wartawan itu ada untuk mendapatkan berita hangat tentangku, untuk melihat bagaimana keadaanku. Berita pertama yang mereka dapat adalah sewaktu aku mengumumkan status kita. Setelah itu tidak ada berita lainnya, mereka selalu merasa penasaran dengan kehidupanku.” kata Emir menjelaskan.


 


“Oh begitu? Itu karena kamu terlalu tampan, sayang!” ucap Arimbi tersenyum mengecup pipi Emir.


“Jangan meninggalkan bekas lipstikmu di pipiku.” ujar Emir melirik Arimbi dengan tersenyum.


“Oh, lipstikku tidak meninggalkan bekas, tapi cintaku akan selalu berbekas dihatimu.”


“Semakin hari kamu semakin pandai menggoda! Apa kamu baru belajar kosa kata baru lagi?”


 


“Ehm….kamu akan tahu nanti. Sekarang kita turun dan tunjukkan pada dunia!” ucap Arimbi dengan mantap dia tersenyum. ‘Malam ini semuanya harus berjalan sesuai rencana! Aku adalah Nyonya Serkan! Dan aku akan menunjukkan kekuatanku malam ini!’ bisik hatinya.


Rino turun lalu membukakan pintu untuk Emir namun yang pertama turun dari mobil adalah Arimbi.

__ADS_1


__ADS_2