GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 326. TIBA DIDESA


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Amanda mulai memasuki daerah pedesaan. Hamparan sawah yang luas dan perbukitan mulai tampak di sisi jalan. Udara segar dan sejuk pun mulai terasa, Amanda menurunkan jendela mobilnya dan menghirup udara segar pengunungan. Ini pertama kalinya dia mendatangi desa tempat tinggal keluarga kandungnya.


Amanda tidak tahu jika udara disini ternyata sejuk di siang hari dan pasti dingin di malam hari. Dia hanya membawa dua buah jaket karena dia tidak tahu seperti apa desa yang ditinggali orangtuanya.


Di sisi kiri jalan tampak sungai kecil yang jernih dan anak-anak yang berenang penuh canda dan tawa. Pemandangan yang belum pernah dilihatnya sejak kecil.


 


‘Jadi ini tempat tinggal orang tuaku? Disini Arimbi dibesarkan selama ini? Udaranya sejuk dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan! Tapi tempat ini bukan untukku! Aku tidak akan betah berlama-lama tinggal ditempat seperti ini! Bagaimana orang-orang ini menjalani kehidupannya ditempat seperti ini?’


 


Benak Amanda dipenuhi keraguan sesaat, entah kehidupan dan hari-hari seperti apa yang akan dijalaninya selama tinggal di sini. Dia juga tidak tahu berapa lama dia akan menetap ditempat ini.


Dia terus mengendarai mobilnya, tak tahu pasti dimana letak rumah ibunya. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi ibunya.


“Halo bu. Aku sudah tiba! Sekarang aku ada di pertigaan. Rumah ibu disebelah mana?”


“Oh Amanda? Kamu sudah sampai nak? Ibu akan menyuruh Adrian menyusulmu kesana. Tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana.” ujar Pratiwi yang terdengar senang.


Amanda menghentikan mobilnya tepat didepan warung, dia berniat membeli air mineral.


 


Beberapa warga yang melihat mobil mewah Amanda berhenti pun langsung berkerumun. Mereka mengira mungkin ada tamu yang tersesat. “Nona, mencari siapa di desa ini?” tanya seorang warga.


“Ah, saya cuma mau mampir sebentar beli air mineral pak.” ucap Amanda.


“Oh begitu, tunggu sebentar saya ambilkan.” ujar bapak pemilik warung.


 


“Nona ini darimana?” tanya seorang wanita bertubuh tambun.


“Saya dari kota. Mau kerumah ibu Pratiwi.” jawab Amanda tanpa senyum.


“Ah, apakah nona ini putrinya bu Pratiwi yang tertukar itu ya?” sahut seorang warga lainnya.


Amanda tak merespon hanya tersenyum tipis. Dia tidak suka berinteraksi dengan orang-orang dari kalangan bawah karena selama ini lingkungan sosialnya hanya terbatas dikalangan atas saja.


 

__ADS_1


“Ini air mineralnya non.” ucap bapak pemilik warung menyodorkan sebotol air mineral pada Amanda.


“Ini uangnya pak.” Amanda memberikan uang pecahan dua puluh ribuan.


“Oh tidak usah non!”  ujar di pemilik warung lagi.


“Kenapa pak? Kurang uangnya?” tanya Amanda lagi lalu mengambil uang lima puluh ribuan lalu menyodorkan kepada bapak pemilik warung.


 


Para warga menatap Amanda dengan heran, di pedesaan hal yang lumrah jika mereka memberikan sesuatu pada seseorang dengan ikhlas tapi sepertinya Amanda tidak paham dengan etika orang-orang di desa dan merasa kalau pemilik warung menginginkan uang lebih karena dia dari kota dan pastinya banyak uang.


 


“Ambil ini pak!” Amanda meletakkan uang lima puluh ribu ke tangan bapak pemilik warung.


“Saya ikhlas non! Air mineralnya tidak usah dibayar.” ucapnya lagi hendak mengembalikan uang Amanda kembali.


“Terima saja! Saya tidak suka yang gratisan!” ujar Amanda mendengus lalu pergi dan naik ke mobilnya. Pada saat bersamaan Adrian tiba disana dan melihat sikap angkuh Amanda pada warga desa.


 


 


“Amanda!” panggil Adrian menghampiri mobil Amanda.


“Hmm! Kenapa lama sekali? Ck!” kesalnya lalu menyalakan mesin mobil. “Tunjukin jalannya! Aku ikutin dari belakang.” ujarnya mendengus menatap Adrian.


“Ya sudah! Rumahnya tidak jauh lagi dari sini. Setelah belokan disebelah kanan itu, ada rumah berhalaman luas. Itu rumah kita.” kata Adrian menjelaskan.


 


Amanda tak merespon. Dia tampak sangat kesal dan baru beberapa menit saja tiba di desa itu, dia sudah merasa tidak betah. Amanda melajukan mobilnya mengikuti dari belakang sedangkan Adrian yang mengendarai sepeda motor.


Memang rumah itu tidak jauh dari persimpangan, setelah belok kanan sekitar lima puluh meter Adrian memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.


 


Rumah itu terlihat sederhana dan cukup luas. Halaman dipenuhi dengan tumbuhan dan bunga-bunga yang tertata rapi. Di tengah-tengah tampak bangunan rumah yang terbuat dari setengah beton dan setengah kayu yang untuk ukuran pedesaan sudah lumayan bagus. Amanda memarkirkan mobil mewahnya di pekarangan.


 

__ADS_1


“Amanda!” tampak Pratiwi berlari kecil dari dalam rumah sambil memanggil nama wanita itu. Kebahagiaan tampak di wajah Pratiwi dan Mardin. Kedua orang tua kandung Amanda menyambutnya dengan antusias.


Setelah sekian lama sejak mereka mengetahui Amanda adalah putri kandungnya yang tertukar dengan Arimbi, tak sekalipun Amanda kembali pada orang tua kandungnya.


 


Pratiwi memeluk Amanda dengan penuh kasih sayang. Dia begitu merindukan putrinya itu, sedangkan Mardin Darmawan hanya tersenyum menatap istri dan anaknya saling berpelukan.


Adrian mendengus melihat pemandangan didepan matanya, dia bisa melihat betapa kakunya sikap Amanda yang tampak terpaksa membalas pelukan ibu kandungnya.


 


“Ibu senang sekali akhirnya kamu pulang. Ayo sapa ayahmu! Ayahmu langsung pulang dari kebun setelah ibu memberitahunya kalau kamu mau datang.” Pratiwi menggandeng tangan Amanda menghampiri suaminya.


“Amanda!” ujar Mardin menatap putrinya yang cantik. Dengan enggan Amanda menghampiri ayah kandungnya lalu memeluknya. Senyum diwajahnya sangat dipaksakan, dia melirik penampilan kedua orangtuanya yang sangat sederhana. Berbeda jauh dengan penampilan Yadid dan Mosha yang mengenakan pakaian mahal.


 


“Ayo masuk. Ibu sudah memasak makanan enak untukmu! Kamu pasti suka, semuanya dari hasil kebun kita sendiri, Amanda!” ujar Pratiwi dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


“Kamu akan menempati kamar yang dulu milik Arimbi. Ibu sudah membersihkannya meskipun sejak Arimbi tidak tinggal disini lagi kami selalu membersihkan kamar itu!”


 


Pratiwi membawa Amanda ke kamar yang dimaksudnya. Adrian dan Panca membawa koper serta barang-barang lainnya dan memasukkan kedalam kamar.


“Amanda, ini Panca. Dia kakak keduamu!” ucap Mardin memperkenalkan Amanda pada kakaknya yang lain. Selama ini dia hanya mengenal Adrian saja dan belum pernah bertemu dengan yang lainnya.


 


Kamar bekas Arimbi itu lumayan luas dan tertata rapi. Tempat tidur single bed dan lemari kayu sederhana serta meja rias ada di kamar itu, meskipun semuanya bukan perabotan mewah seperti di rumah keluarga Rafaldi, tapi perabotan dirumah ini juga bukan murahan. Keluarga Darmawan selalu memberikan yang terbaik pada Arimbi.


 


Dulu Arimbi adalah putri satu-satunya di keluarga Darmawan, jadi kedua orang tua itu selalu menyediakan kebutuhan Arimbi yang terbaik sesuai kemampuan keuangan mereka.


‘Ck! Jadi begini kamar yang ditempati Arimbi selama ini? Aisss…...sepertinya aku tidak akan bisa tidur nyenyak di kasur ini! Besok aku akan meminta Adrian untuk membelikan kasur yang baru.’


 


Belum sampai sepuluh menit berada disana, Amanda sudah banyak protes. Kamar itu tidak memiliki kamar mandi. Hanya ada satu kamar mandi dirumah itu yang letaknya di bagian belakang rumah. Tidak ada pemanas air, Amanda mendengus saat dia melihat kamar mandi sederhana tanpa pemanas air itu.

__ADS_1


__ADS_2