GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 423. MENOLAK TEBUSAN


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak menghubungi keluarga Ruby saja? Minta mereka menyediakan uang tebusannya! Ruby adalah putri mereka, sudah sepantasnya mereka memikirkan nasib putrinya, iyakan?" celoteh Yessi yang tidak rela jika kehilangan uang untuk menebus menantunya itu.


Sedangkan Reza dan ayahnya pun galau memikirkan jalan keluar. Namun Harry Kanchana sama liciknya dengan istrinya. Baginya, alasan Reza menikahi Ruby adalah untuk mendapatkan dukungan dari keluarga Lavani. Tapi kini keluarga Lavani pun terpuruk dan mereka tidak bisa menyandarkan diri pada keluarga itu lagi.


Lalu, untuk apa mengeluarkan uang seratus milyar demi menebus seorang wanita? Memikirkan ini Harry Kanchana pun melirik putranya dan berkata, "Reza, bagaimana menurutmu? Seandainya kamu memiliki uang sebanyak itu. Apakah kamu benar-benar rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menebus istrimu?"


Reza terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Jauh didalam lubuk hatinya dia menyukai Ruby karena istrinya itu mudah diatur dan tidak terlalu pintar sehingga bisa dikendalikannya. Reza memang menyukai wanita seperti itu. Namun, uang seratus milyar sangat banyak. Jika dia menyukai ataupun mencintai Ruby, dia pun berpikir untuk mengeluarkan uang sebanyak itu untuk tebusan.


Apalagi, dia memang tidak benar-benar mencintai Ruby! Dimata Reza sebenarnya wanita itu tidak begitu berharga. Tiba-tiba terbersit sebuah ide dibenaknya. Jika Ruby menghilang dan dia tidak bisa menyelamatkannya maka itu bukan kesalahannya.


Dia akan menjadi duda dan takkan ada seorangpun yang akan menuduhnya melakukan kejahatan. Bukankah masih ada Amanda yang sangat mencintainya? Dengan keadaannya sekarang, mungkin Amanda bisa membantunya mengatasi krisis di perusahaan.


Bukankah dari dulu wanita itu memang selalu membantu dan melakukan apapun demi dirinya? Lalu Reza pun mengubah posisi duduknya dan berkata pada ayahnya, "Kurasa kita biarkan saja, ayah! Jika seandainya aku mempunyai uang sebanyak itu, aku tidak akan memberikannya pada penculik itu."


"Bagus Reza! Ibu setuju denganmu! Oh iya, apa yang akan kamu katakan seandainya penculik itu menghubungimu lagi? Bagaimana jika mereka menghubungi keluarga Ruby?" tanya Yessi yang masih belum tenang sampai masalah ini selesai.


"Akan kukatakan kalau aku tidak punya uangnya! Terserah mau mereka apakan Ruby! Kalau terjadi sesuatu padanya," Reza terdiam sejenak lalu tersenyum jahat, "Aku bisa mengklaim uang asuransi Ruby! Aku mendapatkan uangnya dan bisa menggunakan uang asuransi itu untuk membuka bisnis baru!"


"Apa?" Yessi dan Harry terpekik kaget mendengar perkataan Reza. "Kamu memasukkan Ruby ke asuransi? Kenapa kamu tidak bilang-bilang?"


"Ya, aku juga baru kepikiran bu. Kalau terjadi sesuatu pada Ruby maka aku tidak akan disalahkan. Kalaupun polisi menyelidiku, tidak akan ada bukti apapun yang mengaitkanku dengan penculikannya. Karena aku memang tidak terlibat."

__ADS_1


"Selain itu, aku bisa mendapatkan uang klaim asuransi sebesar lima puluh milyar! Uang sebanyak itu bisa kupakai memulai usaha baru. Soal perusahaan Kanchana yang sedang krisis, bukankah perusahaan itu adalah milik keluarga? Berapa banyak anggota keluarga Kanchana yang menginginkan perusahaan itu."


"Biarkan saja mereka mengambil alihnya. Kita masih punya uang lima puluh milyar untuk memulai usaha baru. Dengan perusahaan baru, maka semuanya akan kembali seperti semula. Kita tidak akan perlu lagi jontok-jontokan dan rebut-rebutan kekuasaan karena kini perusahaan hanya milik kita."


Yessi langsung bertepuk tangan gembira dia memandang putra kesayangannya itu. "Reza! Kamu memang putraku yang pintar! Kamu bahkan memikirkan sampai sejauh itu! Ya....ya.....ibu setuju dengan idemu."


"Baiklah kalau begitu. Tapi kalian jangan terlihat senang! Jangan sampai orang-orang mencurigai kita nanti. Segeralah hubungi keluarga Ruby! Setidaknya kita mengabari mereka tentang kejadian ini." ujar Harry Kanchana.


Reza pun menganggukkan kepalanya dan meraih ponsel didalam sakunya lalu menghubungi keluarga Ruby. Tak berapa lama panggilan tersambung pada ayah Ruby.


******


Kondisi Ruby yang sedang hamil muda pun nampak menyedihkan. Dia menyesali karena membiarkan kedua pria itu masuk kerumahnya. Seandainya dia menghubungi Reza dan menanyakan padanya mungkin dia tidak akan diculik.


Sudah beberapa jam berlalu namun masih belum ada kabar apapun dari Reza. Dia melihat kedua pria itu nampak sudah tidak sabar lagi. Mereka menatap Ruby dengan nyalang dan memindai tubuhnya membuat wanita itu semakin ketakutan.


'Reza! Dimana kamu? Aku mohon datanglah, selamatkan aku!' gumamnya dalam hati dengan lirih dan air matanya mulai menetes. 'Apakah dia akan datang dan menyelamatkanku? Apakah Reza akan mendapatkan uang untuk menebusku?'


'Siapa sebenarnya yang melakukan ini padaku? Aku tidak punya musuh!' bisik hatinya lagi. Matanya melotot saat teringat sesuatu, 'Arimbi! Pasti dia dalangnya! Terakhir kali aku dan Reza bersiteru dengannya di butik waktu itu! Dia pasti yang menyuruh orang menculikku.'


Pikiran Ruby dipenuhi prasangka buruk dan emosinya memuncak. Dia mengira kalau Arimbi yang mendalangi penculikannya akibat tidak senang melihatnya bersama Reza. Dia tahu jika dulu Arimbi sangat mencintai Reza dan bagi Ruby tidak ada alasan lain selain dendam dan kecemburuan Arimbi padanya yang membuat Arimbi mengirim orang untuk menculiknya.

__ADS_1


"Hei kalian!" teriaknya mencoba memberanikan diri bicara pada kedua pria itu.


"Ada apa kamu teriak-teriak hah? Apakah suamimu akan segera datang membawa uangnya?" tanya salah satu penculik yang berjalan menghampiri Ruby.


"Kenapa kalian menculikku? Katakan, siapa yang menyuruh kalian?"


"Ha ha ha ha......untuk apa kamu tahu siapa yang menyuruh kami? Lagipula kami tidak peduli apa alasan bos menyuruh kami menculikmu! Yang kami tahu hanyalah, mendapat bayaran besar setelah melakukan perintah bos!"


"Aku tahu siapa orang yang kamu panggil bos itu! Dasar wanita murahan! Wanita kampung." umpat Ruby.


Sedangkan kedua pria itu saling melemparkan pandangan. Mereka tidak menyangka jika Ruby sudah bisa menebak siapa dalang penculikannya. 'Bagaimana dia bisa tahu tentang bos? Wah ini bahaya kalau sampai dia bebas dan buka mulut.' bisik hati pria itu.


Dia menghampiri temannya dan berbisik, "Jangan sampai wanita ini lolos! Setelah kita mendapatkan uangnya, kita lenyapkan saja dia. Dia sudah tahu identitas bos! Ini bahaya! Dia bisa membocorkan pada keluarganya atau bahkan polisi! Aku tidak mau ditangkap."


"Laporkan saja pada bos! Biar bos tahu apa yang harus dilakukan pada wanita ini. Kita tidak boleh seenaknya membunuhnya! Lagipula aku ingin sedikit bersenang-senang dengan wanita kaya ini! AKu belum pernah merasakan bersenang-senang dengan wanita kaya sebelumnya." ujar pria bertato sambil menelan liurnya  menatap Ruby.


"Dasar gila! Otakmu mesum saja! Fokus saja mendapatkan uangnya! Kita bisa bersenang-senang dengan banyak wanita setelah kita punya banyak uang! Lagipula apa menariknya wanita itu, hah?"


"Eh, dia memang tidak secantik bos! Tapi lihatlah tubuhnya dan kulit mulusnya. Dia bukan wanita bayaran, pastilah berbeda rasanya ha ha ha ha.....Ahhhh kamu ini jangan sok menolak! Aku tahu kamu juga menatapnya sejak tadi."


"Aku masih normal! Melihat tubuh mulus pastilah aku kepikiran! Tapi sekarang aku lebih memikirkan uangnya. Bayangkan berapa banyak yang kita terima dari si bos! Uang seratus milyar! Wah......kalau si bos memberi kita masing-masing satu milyar saja pun sudah cukup untuk hidup senang."

__ADS_1


__ADS_2