
“Euuhhh…...” lenguhan terdengar dari bibir Joana yang perlahan membuka matanya. Dia merasakan tubuhnya seperti remuk. Rasa perih dari bagian bawah tubuhnya membuatnya meringis, ada ketakutan diwajahnya memikirkan kejadian semalam. Dia tak berani memalingkan wajahnya karena dia menyadari ada seseorang yang berbaring disampingnya.
Tidak hanya itu, sebuah lengan kekar berotot juga memeluknya, napas Joana tercekat. Ketakutannya semakin besar. ‘Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut sekali kalau sampai dia tahu bahwa aku bukan Arimbi. Kenapa jadi begini? Aissss…..ini kan ideku juga? Seandainya Tuan Dion tidak mau tanggung jawab juga tidak masalah. Setidaknya aku melakukannya dengan seorang pria tampan dan kaya yang aku sukai!’
Joana mencoba melirik sedikit kearah Dion, dia pikir pria itu masih tidur tetapi ternyata matanya sedang menatap Joana. Saat itu tatapan keduanya saling bertautan, detak jantung Joana semakin kencang dan dia bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir ditubuhnya. Jujur, dia memang ketakutan mengingat bagaimana pertemuannya dengan Dion terakhir kali.
“Arimbi…..kau sudah bangun?” tanya Dion yang serasa enggan melepaskan pelukannya. Sepanjang malam dia memeluk Joana yang dikiranya adalah Arimbi. Topeng wajah yang terbuat dari bahan sintetis kualitas tinggi itu memang terlihat seperti asli dan membuat orang lain tertipu.
“Kau baik-baik saja, Arimbi?” Dion kembali bertanya dengan suara lembut karena pertanyaan sebelumnya tidak mendapat tanggapan. “Kamu takut padaku?”
Alih-alih menjawab, Joana memalingkan wajahnya sehingga membuat Dion berpikir bahwa wanita itu pasti marah padanya. Dia telah diculik dan dibawa ke villanya lalu direnggut kesuciaannya oleh Dion, sudah pasti dia marah!
Tapi Dion tak peduli, baginya kini Arimbi adalah miliknya seutuhnya dan sejak tadi malam dia sudah bertekad akan bertanggung jawab saat dia mengetahui bahwa Arimbi ternyata masih perawan.
“Arimbi, jangan pernah menyalahkanku akan hal ini! Aku pernah mengatakan padamu bahwa suatu hari nanti kamu akan berada disisiku, selamanya!”
Deg!
Jantung Joana berdetak semakin kencang mendengar perkataan Dion. Dia tahu jika pria itu menyukai Arimbi tapi Joana tidak pernah menyangka, rasa cinta itu membuat Dion melakukan hal-hal yang melewati batas seperti yang dia lakukan sekarang ini.
“Aku akan bertanggung jawab! Mimpi itu nyata, Arimbi! Anak kita! Kita akan menjaganya bersama-sama, kamu hanya bisa mengandung anakku.” ucap Dion lagi yang berusaha untuk menarik perhatian Arimbi namun lagi-lagi wanita itu mengacuhkannya. Tak ada sedikitpun kecurigaan muncul karena dia sangat yakin dan mempercayai wanita yang bersamanya itu adalah Arimbi.
‘Ya ampun! Gila sekali pria ini? Bisa-bisanya dia menjadi pebinor? Sampai sejauh itu pikiran Tuan Dion tentang Arimbi? Anak? Dia beanr-benar menginginkan anak dari Arimbi? Gila….ini benar-benar gila! Aduuuhhh aku kejebak disini sekarang. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?’
Joana yang mulai galau pun menjadi panik memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat itu. Dia tidak pulang sejak semalam, orang tuanya tahu jika dia pergi bersama Arimbi! Sudah pasti mereka tidak akan mencarinya! Bagaimana sekarang? Aku tidak punya pakaian dan aku juga tidak tahu aku berada dimana sekarang?
__ADS_1
‘Kamar ini besar dan bagus sekali! Apakah ini dirumah keluarga Harimurti yang tempo hari aku disekap? Tapi…..pasti banyak penjaha diluar dan tidak mungkin aku mengalahkan mereka sendirian.’
Tok tok tok
Suara ketukan dipintu membuat Dion mengerutkan kedua alisnya, tampak dia tak senang! Siapa yang berani mengganggunya dengan mengetuk pintu kamarnya?
Lancang sekali? Apa mereka lupa apa yang kuperintahkan kemarin? Ck! Menyebalkan sekali! Ekspresi wajah Dion menegang dan tampak kemarahan. Joana yang melihat itu menjadi semakin ketakutan dan beringsut memeluk dirinya sendiri. Dion memperhatikan gerak-gerik wanita itu lalu dia merapatkan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
“Jangan kemana-mana. Aku buka pintunya dulu!” ucap Dion lalu turun dari ranjang. Joana yang menyadari jika pria itu masih dalam keadaan polos pun langsung memejamkan matanya.
Dengan cepat Dion memakai pakaiannya lalu berjalan menuju pintu dan membukanya bertepatan saat ketukan kedua diiringi suara salah satu orang kepercayaannya.
“Selamat pagi Tuan Harimurti! Maaf saya mengganggu istirahat anda.” ucap pengawal itu menundukkan wajahnya tak berani menatap Dion.
“Kenapa kamu menggedor pintu kamarku?”
Dia masih syok dan terkejut karena kedatangan Emir pagi ini. Tak tahu bagaimana menjelaskan pada Dion kalau Emir tidak datang sendirian melainkan bersama Arimbi. Sedangkan mereka sudah menangkap Arimbi tadi malam dan wanita itu tidak pernah meninggalkan villa hingga pagi ini.
“Kenapa kalian tidak bisa mengusirnya? Katakan padanya aku sedang sibuk.”
“Ehmm…..i—itu Tu—Tuan….”
“Apa lagi? Kalian semua tidak ada yang becus bekerja! Aku akan memecat kalian semua kalau tidak mengikuti perintahku! Katakan padanya aku sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk menemuinya!”
“Tapi Tuan, ada sesuatu yang aneh….hem...apakah Nona Arimbi masih ada didalam Tuan?’ tanya pengawal itu memberanikan diri meskipun sebenarnya dia sangat ketakutan.
__ADS_1
“Apa urusanmu? Kamu tidak berhak menanyakan perihal urusan pribadiku! Lakukan saja perintahku dan usir mereka semua dari sini! Aku tidak mau diganggu oleh siapapun.”
“Tuan, Nona Arimbi ada diluar!” akhirnya pengawal itu pun mengatakan apa yang sejak tadi ingin dia utarakan pada bosnya itu.
“Hah? Apa kamu bilang barusan?”
“Nona Arimbi ada diluar bersama Tuan Emir! Itu sebabnya saya menanyakan jika Nona Arimbi ada didalam kamar Tuan! Karena dia benar-benar ada diluar sekarang.” kata pengawal itu menjelaskan. Hal itu membuat Dion menjadi bingung.
Dia pun menoleh kebelakang dan menatap sosok yang berbaring diatas tempat tidurnya. ‘Bukankah Arimbi ada disini sepanjang malam bersamaku? Kenapa dia bilang kalau Arimbi ada diluar bersama Emir? Apa pengawal ini sedang mabuk?’ pikir Dion.
“Kamu mabuk?”
“Tidak Tuan! Saya tidak pernah minum alkohol dalam jam kerja.”
“Katakan sekali lagi, apa yang kamu ucapkan tadi.”
Pengawal itu menatap Dion dengan penuh keyakinan mengatakan, “Tuan Emir dan Nona Arimbi ada diluar, mereka ingin menemui Tuan.”
BUGG!!!!
Dion melayangkan tinjunya pada pengawal itu membuat pria itu mundur beberapa langkah. Dengan sempoyongan akibat pukulan keras Dion, pengawal itu berusaha untuk berdiri tegak. Kepalanya terasa pusing dan berputar akibat pukulan keras dari Dion.
“Apa kamu buta? Arimbi ada didalam kamar sepanjang malam! Apa kamu tidak bisa lihat itu?”
Dion mengarahkan telunjuknya ke tempat tidur, sembulan kepala Joana yang terlihat pun membuat pengawal itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
__ADS_1
‘Hah? Trik sulap apa ini? Kenapa Nona Arimbi sudah ada didalam kamar Tuan Dion? Padahal aku berada disini beberapa menit yang lalu, bagaimana caranya wanita itu bisa berada disini secepat itu?’