GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 250. NASIHAT SANG AYAH


__ADS_3

Ditambah lagi sekarang dia sedang hamil. Mengingat tentang kehamilannya, Arimbi belum mengabari ibu dan ayahnya tentang kabar gembira ini. Ah, dia berencana akan memberi kejutan pada mereka nanti. Ayah dan ibu pasti senang sekali!


“Arimbi, Presdir Rafaldi memintamu untuk menemui beliau diruangannya.” kata Sartika tiba-tiba pada Arimbi setelah dia meletakkan ponselnya.


“Oh, baiklah. Terima kasih Nona Sartika.” dia menghentikan pekerjaannya saat ini kemudian meninggalkan ruang kerja dan menuju keruangan Presdir.


Arimbi mengetuk pintu, kemudian mendorong pintu dan masuk setelah mendapat izin dari ayahnya. “Presdir Rafaldi. Apa anda mencariku?”


“Benar. Arimbi kemarilah dan duduk disini.”


Yadid masin memeriksa dokumen-dokumen, dia tak menengadahkan kepalanya. Beberapa menit kemudian Yadid menutup pintu lalu dia menatap Arimbi dan bertanya. “Arimbi apa kamu baik-baik saja? Wajahmu agak pucat.”


“Ehm…..ayah….”


“Iya, ada apa Arimbi? Katakan saja apa yang mau kamu katakan.”


“Begini…..” Arimbi tak melanjutkan kata-katanya. Dia mengeluarkan surat dari rumah sakit lalu meletakkan diatas meja kerja ayahnya tepat didepannya.


“Apa ini? Surat dari rumah sakit? Apa kamu sakit Arimbi?”


“Ayah, bacalah dulu.” ucapnya malu.


Yadid membaca nama rumah sakit yang tercetak di amplop putih itu lalu membukanya. Dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam.


Sebelum membaca isi kertas itu, dia menatap Arimbi dengan cemas. Setelah dia melihat anggukan kepala dari Arimbi, dia segera membuka lipatan kertas itu dan membacanya. Dia memegang sebuah foto USG yang terlampir disana.


Yadid membelalakkan matanya tak percaya. Apa? Dia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membaca kembali keterangan yang tertulis di kertas itu dan menyentuh foto USG. Dengan mata berkaca-kaca dia menatap Arimbi. “Arimbi…...”

__ADS_1


“Iya ayah. Sebentar lagi ayah akan jadi kakek.” ucap Arimbi tersenyum.


“Ya Tuhan! Ini kabar gembira! Ayah senang. Ibumu pasti senang sekali saat mengetahuinya nanti.”


“Sudah pasti ayah. Tolong rahasiakan ini dari Amanda dan yang lainnya ya ayah.”


“Jangan khawatir Arimbi. Kami menutup mulut rapat.


Yadid yang sangat gembira mendapat kabar itu terus saja menatap foto ditangannya dengan tersenyum. ‘Ah, sebentar lagi aku menjadi kakek! Ternyata rumor yang beredar tentang Tuan Emir itu tidak benar! Aku tidak sabar pulang kerumah dan mengabari istriku.’ Pria paruh baya itu tak henti-hentinya tersenyum sambil menatap Arimbi.


“Arimbi, karena kamu sedang hamil. Sebaiknya kamu menjaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah.”


“Jangan khawatir ayah, aku akan baik-baik saja.”


“Bagaimana ayah tidak khawatir. Calon anakmu adalah keturunan Serkan! Pewaris keluarga Serkan. Kamu harus menjaga dan merawatnya baik-baik. Ayah akan mengurangi pekerjaanmu biar tidak lelah.”


“Terima kasih ayah. Tolong beritahukan ibu tentang ini nanti.”


“Iya ayah. Aku berencana mengunjungi ibu dirumah sakit sepulang kerja. Kemudian aku akan pergi kerumah menemui ibu. Akan lebih baik jika aku sendiri ya mengabari ibu berita bahagia ini.”


Aku harus merawat dua ibu dengan adil, kalau tidak maka ibu kandungku akan merasa bahwa aku mengabaikannya dan lebih menyayangi ibu angkatku.


“Apa Tuan Emir akan menemanimu kerumah sakit?” tanya Yadid lagi.


“Iya.”


“Kalau begitu lupakan saja.”

__ADS_1


“Ayah, apa ada sesuatu yang bisa kulakukan? Jika itu urusan penting, aku bisa pergi kerumah sakit lain waktu untuk membesuk ibu.” kata Arimbi yang tak ingin membuat ayahnya kecewa.


Mendengar itu Yadid tersenyum dan berkata, “Bukan masalah besar. Hanya saja ayah akan menghadiri acara sosial malam ini dan ayah ingin mengajakmu agar menambah pengetahuan serta pengalaman. Tapi tidak apa-apa, masih ada banyak kesempaya. Kamu harus menemani Tuan Emir membesuk ibumu dulu. Titip salam ayah padanya, setelah dia kecelakaan ayah selalu ingin membesukna tapi tidak punya waktu luang.”


Ini adalah alasan dan juga kenyataan. Setelah Arimbi bergabung di perusahaa, dia sadar bahwa sebagai presdir perusahaan, ayahnya sangat sibuk. Setiap hari jadwalnya penuh dan setiap hari Sartika akan melaporkan jadwal pekerjaannya saat Yadid keluar dari lift.


Rafaldi Group tidak sebesar perusahaan Emir. Perusahaan mereka berada jauh dibawah perusahaan Emir. Ayah sudah sesibuk ini, Arimbi tidak bisa membayangkan betapa sibuknya Emir sekarang.


“Bagaimana kemajuan dengan PT. Libra Elektroindo? Apa yang Tuan Jordan katakan?”


“Walaupun persaingan semakin ketat, masih ada harapan untuk perusahaan kita. Harga yang kita tentukan tidak begitu tinggi dan aku telah menanyakan penentuan harga dari perusahaan lain. Beberapa diantaranya sekitar beberapa juta lebih tinggi dari harga yang kita tawarkan.” ucap Arimbi.


Yadid mendengarkan lalu bergumam, “PT. Libra Elektroindo ini dimiliki oleh Serkan Global Group. perusahaan ini memiliki kemampuan yang menjanjikan dan jumlah pemesanannya besar. Untuk penentuan harga kita harus menurunkan harganya sedikit. Kalau harganya murah dengan jumlah pesanan besar kita masih bisa mendapat keuntungan besar.”


“Kita juga tidak bisa membuat harga terlalu murah. Kalau harganya terlalu murah ini akan menghancurkan kita dan juga mempengaruhi saingan-saingan kita. Bagaimanapun juga Rafaldi Group bisa dianggap sebagai pemimpin di industri kelistrikan.”


“Jika harga yang kita tetapkan sangat murah ini akan sulit bagi pesaing kita untuk menaikkan harga dan kita akan dibenci mereka. Meskipun kedua belah pihak tak pernah bekerjasama tapi terkadang ada persaingan antara musuh. Mereka akan menurunkan harga untuk tetap menyerang. Ini akan mempersulit kita untuk menaikkan harga ketika pihak lain mundur.”


“Saat kita segera menaikkan harga, pihak pembeli akan berbalik dan mencari perusahaan lain. Yang lebih buruknya jika pihak yang bekerjasama akan memilih untuk bergabung dengan perusahaan lain selama para pesaing itu menawarkan harga lebih murah dari penawaran kita.”


“Ini akan merugikan banyak pihak tanpa memberikan keuntungan pada kita.”


“Aku sudah menghitung harga yang kita tawarkan. Harga yang kita tetapkan masih dianggap wajar. Dan masih ada kesempatan untuk kita mendapatkan kontrak ini.”


Amanda yang menetapkan harga. Dari harga yang sudah ditetapkan Amanda digabungkan dengan ajaran ayahnya akhirnya Arimbi mengerti.


“Apa niat Tuan Jordan padamu?” tanya Yadid.

__ADS_1


“Dia memintaku untuk mematuhi aturan yang tidak tertulis. Amanda selalu memintaku pergi dan berunding secara pribadi dengan Tuan Jordan sepertinya dia melakukannya dengan sengaja. Sama seperti hari ini, dia mengatakan kalau dia belum diberitahu dimana lokasi pertemuan. Tapi menurut Tuan Jordan, dia sudah memberi detail alamat padanya.”


Arimbi tidak bodoh. Dia tahu Jordan menyukainya pada pandangan pertama. Dan Amanda juga mengetahui itu. Dia terus saja mendesak Arimbi untuk menemui pria itu. Karena itulah Arimbi jadi tahu apa yang Amanda sedang rencanakan. Dia akan mencoba mengikut permainan Amanda.


__ADS_2