
Saat mereka menyusuri jalan setapak berulang kali Arimbi memaksakan dirinya untuk mengingat karena dia tidak ingin terjebak diluar lagi. Pada saat mereka sudah menyelesaikan turnya, kaki Arimbi terasa sakit dan lelah.Untungnya dia tidak memakai sepatu hak atau dia sudah pincang sekarang.
“Aku mau duduk sebentar, Beni. Sangat melelahkan berjalan disekitar kompleks yang sangat luas ini.”
Arimbi menghirup udara mengisi rongga paru-parunya, “Bukankah lebih baik kalau memiliki skuter listrik?” tanya Arimbi sambil berjalan menuju bangku batu dan duduk. Ada beberapa bangku batu dan ayunan yang tersebar diseluruh kompleks untuk siapa saja yang perlu berhenti dan beristirahat. Beni bertanya dengan ramah pada Arimbi, “Nyonya apakah anda sudah ingat jalannya sekarang?”
“Tentang itu…..Beni, aku sangat lelah berjalan-jalan jadi aku tidak ingat apa-apa. Bahkan aku tambah kacau sekarang. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
‘Ah bagaimana ini? Kalau Emir kembali nanti dan dia tahu kalau aku belum hapal jalan-jalan disini, wah bisa marah dia! Apa dia bakal meledak ya?’ bisik hati Arimbi.
Beni semakin tidak bisa berkata-kata karena dia juga tahu ini memang agak sulit untuk mengingat semua jalan di kompleks itu. Bahkan para pekerja disana, saat pertama kali bekerja juga tersesat beberapa kali karena jalur jalan yang agak membingungkan.
“Hem….kalau begitu kita berjalan lagi Nyonya. Jika anda masih tidak ingat jalannya, kita akan menghabiskan sepanjang hari besok untuk berjalan lagi. Setelah itu pasti sudah bisa mengingat semuanya.”
“Baiklah.” ucap Arimbi dengan wajah sedih dan capek.
Dreeet dreettt dreeeetttt
Ponsel Beni berdering,dia mengeluarkan dan memeriksa nama penelepon sebelum menjawab panggilan itu. Arimbi tidak tahu siapa yang menelepon Beni tapi dia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Tolong beritahu Nyonya Serkan bahwa dia akan berada disana dalam setengah jam.”
Setelah panggilan selesai, Beni menatap arimbi dan berkata, “Nyonya Arimbi, Nyonya Serkan ingin bertemu denganmu. Ini akan membutuhkan sekitar setengah jam untuk sampai kerumah utama. Jadi kita harus pergi kesana sekarang. Kita tidak bisa membiarkan Nyonya Serkan menunggu lama.”
__ADS_1
‘Apa? Ibu mertuaku ingin bertemu denganku? Aissss apalagi ini? Pertama kali bertemu dia sangat membenciku dan tidak menyukaiku.’ bisiknya didalam hati.
“Beni, apa kamu tahu mengapa Nyonya Serkan ingin bertemu denganku?”
Rania Serkan adalah ibu Emir dan dia sangat membenci Arimbi karena memotong pergelangan tangannya saat itu untuk menolak lamaran pernikahannya yang dianggap merendahkan martabatnya.
Arimbi sangat yakin jika pertemuan itu akan menjadi pertemuan yang tidak menyenangkan. Emir sedang dikantor sekarang, jika ibu mertuanya mencoba mempersulitnya, haruskah dia melawan? Atau haruskah dia menerimanya dalam diam? Arimbi benar-benar tidak tahu harus bagaimana bereaksi nanti.
“Saya juga tidak tahu Nyonya. Kepala pelayan dirumah utama yang barusan meneleponku dan menyuruhku untuk memberitahumu.”
“Oh! Beni, apakah ada kepala pelayan disetiap rumah?”
“Iya, Nyonya.”
Ini kedua kalinya dia memasuki rumah utama dengan ruang tamu mewah itu dan seperti saat pertama kali, dia pun terpana oleh kemewahan disekelilingnya. Waktu itu ruang tamu penuh dengan orang-orang tapi kali ini hanya ada Rania yang duduk sendirian di sofa menunggunya.
Rania tampak tidak senang dan ketika dia melihat Beni membawa Arimbi masuk, dia menyapanya dengan sinis, “Apa kamu itu kura-kura? Bahkan kura-kura lebih cepat sampai disini dibandingkan kamu!”
“Jika aku adalah kura-kura, dia masih akan berada diperjalan kesini dan baru tiba besok.” jawab Arimbi tak peduli jika kata-katanya terdengar tajam.
“Kalau aku bicara sebaiknya kamu diam! Kamu tidak boleh berbicara balik padaku! Paham kamu?”
“Nyonya Serkan, aku tidak akan berbicara kembali saat ibu tidak waras tapi jika ibu dalam keadaan waras aku harus membela diriku!” balas Arimbi tak kalah sengit.
__ADS_1
“Jadi kamu tahu kalau aku ini Nyonya Serkan, Arimbi Rafaldi? Apa kamu belum sadar juga dimana kedudukanmu dalam keluarga ini? Emir tidak membawamu kembali untuk membiarkanmu hidup dengan nyaman dan mewah disini! Kamu disini untuk memperbaiki kesalahanmu dan kamu tidak lebih dari seorang pembantu rumah tangga! Pembantu yang tidak dibayar! Kamu harus bersikap lebih hormat saat bicara padaku, karena aku ini majikanmu!”
“Oh ya? Tapi Emir tidak pernah bilang kalau aku ini pembantunya?” Arimbi tak gentar sekalipun. Ini adalah pertama kalinya dia bersiteru dengan Rania. Jika dia mundur maka Rania akan memandang rendah Arimbi. Memang benar dia bersalah karena menyayat tangannya untuk menolak pernikahan dengan Emir tapi itu adalah kesalahan yang dia perbuat sebelum dia bangkit kembali.
Tapi kini Arimbi menyadari kesalahannya dan dia bahkan memperbaikinya dengan menikahi Emir. Dia berniat untuk tetap disisi sang pria selama sisa hidupnya. Namun itu bukan alasan bagi Arimbi membiarkan Rania meninjak-injak martabat dan harga dirinya.
“Kau?” Rania memelototi Arimbi sambil telunjuknya mengarah pada Arimbi.
Setelah beberapa saat Rania berusaha menahan rasa bencinya dan berkata dengan acuh, “Lupakan. Aku tidak punya waktu untuk bertengkar denganmu. Aku punya beberapa pakaian yang akan kupakai besok tetapi pakaian itu kotor dan susah dicuci. Kalau aku mengantar pakaian-pakaian itu ke binatu untuk cuci kering, pakaianku tidak akan kering tepat waktu. Pergi dan temui Lestari, beliau bertugas merawat pakaianku dan dia akan memberikan pakaian itu padamu. Cuci pakaian itu untukku dan ingat ya, berhati-hati saat mencucinya! Jangan sampai rusak dan pastikan kau berhasil mencucinya.”
Arimbi mengerucutkan bibirnya, Dia tahu kalau ibu mertuanya ini akan mempersulitnya. Tidak ada teguran, tidak ada main tangan tapi Rania Serkan justru memerintahnya layaknya seorang pembantu. Inilah cara Rania membalas Arimbi.
“Nyonya Serkan yang terhormat, rumah anda mempekerjakan banyak pembantu. Ini tugas mereka, bukan tugasku!” ujar Arimbi tegas menolak.
“Kamu akan melakukan apapun yang kuperintah! Aku beritahu ya kamu harus lebih menghormatiku! Bagaimana bisa orang udik sepertimu bicara tidak sopan padaku? Konyol sekali! Makanya kamu akan selamanya jadi orang udik! Cih! Kamu tidak layak menjadi anggota keluarga kami! Menjijikkan!”
Akhirnya Arimbi pun menyadari sesuatu setelah mendengar ucapan Rania barusan, tanpa penolakannya atas lamaran Emir sekalipun, Rania akan selalu memandang rendah Arimbi.
“Apa yang salah dengan orang desa? Lantas memangnya kenapa kalau aku dibesarkan di daerah terpencil? Memangnya aku apa ha? Apa aku orang yang memalukan? Apa aku mencuri uang atau makanan ibu? Bagaimana ibu merasa tidak nyaman hanya karena aku dibesarkan didaerah terpencil? Kalau ibu menghina orang-orang desa seperti ini, jangan memakan makanan dan segaal sesuatu yang berasal dari pedesaan! Apa ibu yakin kalau semua leluhur ibu itu dibesarkan dari keluarga kaya?”
Rania menjadi pucat, dia tidak menyangka jika Arimbi bisa bicara seperti itu padanya. Ucapan Arimbi sangat menusuk hatinya namun dia tidak mampu untuk membalasnya. Mana mungkin ada orang yang tak punya leluhur yang pernah miskin dan dari desa? Bukankah desa duluan ada, barulah kota?
“Jadi begini perilaku seorang wanita dari kelas atas? Apa itu adab yang ibu miliki? Setidaknya para wanita dari desa terpencil kami masih memiliki kesopanan dan memperlakukan orang-orang dengan sopan santun dan tidak memandang rendah orang lain!” Arimbi masih tak mau kalah. Ucapannya benar-benar penuh hinaan dan dia pun tak peduli lagi.Dia takkan membiarkan siapapun menghinanya hanya karena dia berasal dari desa.
__ADS_1