
Mobil sport mewah itu melaju dengan kencang menuju kearah villa yang berada dipinggiran kota. Setibanya disana, pria tampan itu bergegas turun dan mobilnya lalu menlangkah memasuki villa.
“Dimana Arimbi?” tanya Dion yang baru saja memasuki villa miliknya.
“Sudah ada di kamar Tuan.”
“Bagaimana keadaannya? Dia tidak terluka kan?”
“Tidak Tuan! Nona Arimbi tidak sadarkan diri saat ini. Kami terpaksa membiusnya karena dia mencoba melawan kami tadi.” kata pengawal itu menjelaskan karena tidak mau mendapatkan hukuman dari Dion jika tindakan mereka dianggap berlebihan.
“Hmm...bagus! Kalian berjaga-jagalah dan jangan masuk kalau tidak ku panggil.”ucap Dion. Dia melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua. Saat dia membuka pintu kamar itu, sudut bibirnya terangkat saat melihat sosok yang terbaring diatas ranjang.
‘Arimbi! Hari ini aku mendapatkanmu! Aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya kamu milikku! Suamimu itu adalah musuh bebuyutanku dan aku menginginkan apapun yang dia inginkan.” ujar Dion didalam hatinya sambil membelai pipi wanita yang terbaring setengah sadar itu. Seolah merasakan kehadiran orang lain disana, mata itu perlahan terbuka dan mengerjap beberapa kali sebelum melotot menatap pria didepannya.
‘Dion Harimurti? Aihhhhh….aku benar-benar berada didepannya? Bisa mampus aku kalau dia sampai tahu penyamaranku! Tapi aku terpaksa melakukan ini demi Arimbi! Pria ini kejam dan tak punya hati sedikitpun! Setidaknya dengan cara ini aku bisa membalaskan dendamku atas perlakuannya tempo hari.’ geram Joana dihatinya, dia masih dalam kondisi setengah sadar.
Didalam mobil saat para pengawal Dion membawanya, dia sempat melakukan perlawanan namun manalah dia mampu mengalihkan kedua pria yang mengapitnya itu. Dia bukan Arimbi, keahlian bela dirinya tidak sebaik sahabatnya itu. Jika itu Arimbi, dengan mudah dia akan mengalahkan pria-pria itu.
Dion yang menatap nanar wanita didepannya merasa senang. Seolah kehilangan akal atas mimpi yang selalu mengganggunya selama ini, dan juga rasa kesalnya mengetahui pernikahan Arimbi dan Emir membuat pria itu menjadi gelap mata dan kalap. Dia sudah tidak peduli akan resiko yang harus dia tanggung atas perbuatannya. Di kepalanya saat ini hanyalah memiliki wanita itu seutuhnya.
Dion duduk ditepi ranjang, sentuhan tangannya membuat Joana menggeliat. Pengaruh obat bius itu mulai menguasai tubuhnya. Setiap sentuhan lembut pria itu diwajahnya membuat Joana semakin merasa panas menjalar disekujur tubuhnya.
“Dion…...” ucapnya lirih. Itu terdengar sangat lembut ditelinga Dion yang tersenyum.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Arimbi. Aku tidak akan menyakitimu justru sebaliknya aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik! Melebihi perlakuan Emir padamu, aku janji akan menjagamu selamanya. Kali ini kamu tidak akan bisa lepas lagi dariku, Arimbi.” ujar Dion membuka satu persatu pakaiannya. Entah setan apa yang sudah merasukinya sehingga dia kehilangan akal sehatnya.
Dion menunduk dan mencium bibir Joana yang dia kira adalah Arimbi. Wanita itu yang sudah dibawah pengaruh obat perangsang pun melenguh mendapat ciuman dan sentuhan dari Dion. Gelora hasrat semakin menguasainya meskipun Joana berusaha untuk tetap sadar. Tapi dia benar-benar nekat kali ini ingin berkorban demi sahabatnya.
Sebenarnya Joana memiliki ketertarikan pada Dion tapi sikap pria itu yang membuatnya ketakutan setengah mati. Meskipun masih ada rasa takut dihatinya saat ini jika penyamarannya terbongkar tapi kuasa gairah mengalahkan akal sehatnya. Keduanya hanyut dalam buaian hasrat yang membuat Dion semakin menggila, tapi----
‘Kenapa dia masih perawan?’ bisik hati Dion saat merasakan sesuatu yang baru saja dia renggut dan melihat tetes airmata mengalir dari sudut mata Joana. Pikiran Dion semakin berkecamuk antara senang dan kebingungan.
‘Bukankah Arimbi sedang hamil? Tapi kenapa dia masih perawan? Atau jangan-jangan aku telah dibohongi selama ini?’
Tak mau larut dalam kebingungannya, Dion menggerakkan tubuhnya. Suasana didalam kamar itupun hanya diisi dengan suara-suara aneh sepanjang malam. Dion hanya berpikir mungkin Arimbi dan Emir sengaja membohonginya untuk balas dendam. Mengingat Emir adalah musuh bebuyutannya, memikirkan itu Dion semakin bersemangat.
“Arimbi, mulai malam ini kamu adalah milikku selamanya! Aku tidak peduli kamu membohongiku dengan mengatakan bahwa kamu mengandung anak Emir! Tapi, aku pastikan bahwa kamu hanya akan mengandung anakku saja.” ucap Dion ditelinga Joana.
‘Ya Tuhan. Apa yang akan terjadi seandainya Tuan Dion tahu kalau aku Joana, bukan Arimbi?’ desis hati Joana. ‘Ini sudah keputusanku, aku tidak akan menyesalinya. Aku yakin mereka tahu Dion yang menculikku.’
...*****...
Suasana di kelab malam yang tadinya dipenuhi musik hingar bingar, kini diliputi keheningan. Penggerebekan dilakukan dan pihak berwajib menangkap beberapa pengunjung yang menggunakan obat terlarang disalah satu bilik VIP kelab itu. Setelah menyisir semua tempat di kelab malam itu, pihak berwajib pun memeriksa setiap kamar hotel yang terhubung dengan kelab mewah itu.
Disalah satu kamar di hotel itu, Amanda dan Reza yang baru saja menuntaskan hasrat kembali melakukannya. Mereka tak menyadari apa yang sedang terjadi diluar.
Tok tok tok tok
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar diketuk membuat Reza menoleh kearah pintu sambil berdecak kesal merasa terganggu dengan kegiatannya.
“Biarkan saja Reza! Hmm…...ayo lanjutkan!” pinta Amanda yang masih belum sepenuhnya hilang pengaruh obat perangsangnya. Tak mempedulikan suara ketukan yang terdengar kedua kalinya, keduanya kembali melanjutkan.
BRAAAKKK!
Pintu kamar yang ditendang dan beberapa orang langsung menerobos masuk.
“Hyiiiaaakkkk!” betapa terkejutnya Reza melihat petugas dan staff hotel yang memasuki kamar. Dengan cepat dia menutupi tubuh mereka dengan selimut dan dengan marah dia berteriak.
“Apa yang kalian lakukan? Keluar! Keluar!”
“Silahkan kenakan pakaian kalian dulu! Kami sedang melakukan pengecekan di hotel dan kelab malam.” ucap salah satu petugas yang segera melemparkan gaun Amanda yang tergeletak dilantai ke ranjang. “Cepat!”
Amanda yang masih dalam pengaruh obat memegangi selimut yang menutupi tubuhnya hingga seorang petugas wanita menghampirinya.
“Biarkan saya yang mengurusnya! Sepertinya dia dalam pengaruh obat! Kalian keluar dulu.” ucap petugas wanita itu kepada para rekannya. Setelah semuanya keluar dari kamar wanita itu mencoba membantu Amanda memakaikan pakaiannya tapi tangannya langsung ditepis oleh Amanda.
“Pergi kamu! Jangan sentuh aku!” teriak Amanda marah. “Reza! Kamu dimana?” dia masih dikuasai oleh obat perangsang dan kegiatannya terganggu gara-gara ada penggerebekan. Saat itu Reza sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaiannya lalu mendekati Amanda.
“Jangan takut. Aku ada disini!”
“Ada apa ini? Siapa mereka? Kenapa mereka menerobos masuk seenaknya?” rentetan pertanyaan diajukan Amanda yang belum sepenuhnya sadar.
“Nona, kami sedang melakukan pengecekan. Segeralah berpakaian dan ikut kami ke kantor polisi.” ucap petugas wanita itu langsung menatap Reza dan berkata. “Dia tidak mau saya bantu. Kamu pakaikan bajunya.”
Didalam hatinya, Reza sangat ketakutan dan itu terlihat dari raut wajahnya yang memerah. Ini sangat memalukan. Dia tertangkap basa sedang berduaan dengan Amanda di kamar hotel, disatu sisi dia menyalahkan dirinya yang tidak membawa Amanda ke villanya.
__ADS_1