
“Siapa itu Joana?” tanya Emir kesal karena istri nakalnya itu masih juga bersikeras untuk menjemput seseorang bahkan setelah dia mengalami kecelakaan. Jika Joana bisa mendengar nada suara Emir sekarang dia mungkin akan berpikir, ‘Syukurlah aku perempuan, aku pasti akan mati dengan kematian yang mengerikan jika menjadi saingan cinta Tuan Emir.’
“Dia itu putri keluarga Ganesha dan dia adalah sahabatku. Kamu tahu kan aku dibesarkan didesa? Ibu akan selalu bersemangat membawaku ke perjamuan dan pesta setelah aku kembali ke keluarga kandungku tapi para istri dan putri orang kaya akan selalu memandangku rendah karena mengira aku gadis desa. Hanya Joana satu-satunya yang memperlakukanku baik, Emir. Aku seorang wanita yang memegang kata-kataku dan menepati janji. Aku harus menjemput Joana karena aku sudah janji padanya akan menjemputnya dia bandara.”
“Wanita yang menepati janji? Kamu mengira kamu bisa memegang kata-katamu itu?”
Pipi Arimbi menjadi memerah setelah mendengar ucapan suaminya itu. “Um...maksudku….aku akan menepati janjiku mulai sekarang.”
Emir sudah mempunyai gambaran tentang masa lalu Arimbi setelah dia melihat latar belakangnya. Tapi dia tidak terlalu memperhatikannya saat itu. Satu-satunya niat Emir menikahinya adalah membuatnya menjadi pengasuh tak dibayar dan menyusahkannya dengan cara apapun yang dia bisa.
Namun, pendapatnya tentang Arimbi secara bertahap berubah setelah mereka menghabiskan waktu bersama. Emir mulai memperlakukannya seperti istrinya. Karena seluruh orang-orang kaya dan berkuasa telah memandang rendah istrinya dan menganggapnya sebagai gadis desa, dia hanya perlu menjadikannya wanita yang membuat iri setiap wanita di kota itu.
“Rino, antar dia ke bandara. Kembalilah segera setelah menjemput tamunya.”
Akhirnya dia menyetujui permintaan istrinya dan memerintahkan Rino yang mengantar Arimbi ke bandara untuk menjemput Joana.
“Emir, aku dan Joana sudah lama tidak bertemu. Kami memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Sekarang setelah dia kembali dari liburannya bisakah kamu membiarkanku mengantarkan Joana kerumahnyanya dan tinggal disana selama dua jam?”
“Boleh. Tulis refleksi diri sepuluh ribu kata.” jawab Emir sebelum menutup pintu mobil, dia tidak mau repot-repot lagi toh dia sudah cukup berbaik hati pada istri nakalnya itu kali ini. Arimbi langsung kehilangan kata-kata ketika mendengar ucapan Emir. Sepuluh ribu kata refleksi diri? Kenapa tidak sekalian saja memberinya pisau dan menyelesaikan semuanya?
Emir meminta salah satu pengawalnya menunggu truk derek sebelum dia pergi bersama yang lainnya. Arimbi diantar oleh Rino ke bandara untuk menjemput Joana. Merek sedang berjalan ketika Arimbi bertanya pada Rino, “Kemana Tuan Mudamu pergi?”
“Tuan Muda Emir bilang kalau dia mau mengunjungi rumah ibu mertuanya.”
__ADS_1
“Oh, Emir bahkan…..tunggu….Apa? Ibu mertua? Bukankah rumah ibu mertuanya adalah rumahku?”
Rino tertawa terbahak-bahak, karena Nyonya Mudanya itu tidak menyadarinya tepat waktu.
“Saya terkejut, anda ternyata masih ingat kalau anda adalah istri Tuan Muda Emir, Nyonya Muda Arimbi.” ujar Rino masih terkekeh. Dia merasa Nyonya Mudanya itu sangat lucu apalagi kalau melihatnya merayu Tuan Emir.
Pipi Arimbi langsung merona merah saat mendengar ucapan Rino lalu berkata, “Jangan mengejekku Rino. Aku pasti akan bertahan sampai akhir karena aku yang bersikeras akan bertanggung jawab atas Emir. Tentu saja aku sadar bahwa aku adalah nyonya muda. Berhentilah mengolok-olokku dan katakan padaku untuk apa dia pergi kerumahku?”
Jika Emir pergi mencarinya, dia seharusnya dalam perjalanan pulang sekarang karena Emir tahu dia menuju ke bandara. Itu membuatnya berpikir kalau Emir tidak mungkin mengunjungi ibu mertuanya untuk Arimbi. Dia mungkin pergi kesana hanya untuk bertemu ibu, pikir Arimbi.
“Nyonya, apakah menantu butuh alasan untuk mengunjungi rumah ibu mertuanya?” tanya Rino lagi.
Pengawal suaminya semuanya sama menyebalkan seperti Emir.
Tanpa sepengetahuan Arimbi, awalnya Emir berencana mampir untuk menjemputnya tapi dia berubah pikiran setelah kecelakaan yang menimpa istrinya itu dan dia akan mengadu pada Mosha sekarang. Ya mengadukan istri nakalnya itu pada ibu mertuanya! Aduh Emir!
“Nona Amanda.”
Kaki Amanda tiba-tiba terasa seperti berat ketika dia mendengar suara bariton Emir memanggilnya. Karena dia tidak dapat melangkah maju lagi, Amanda berbalik dan mencuri pandang pada pria itu. Dia harus mengakui bahwa Emir adalah pria yang tampan nan gagah tetapi dia memiliki hati yang terlalu kejam. Contoh kekejamannya adalah bagaimana dia menjadikan PT. Kanchana Semesta tiba-tiba menjadi musuhnya meskipun sebelumnya mempunya hubungan bisnis yang damai.
Keluarga Kanchana seharusnya menjadi paham sepenuhnya dengan situasi sebelum mereka jatuh kedalam buah simalakama mereka hari ini.
“Tuan Emir.” Amanda dengan hormat menyapa tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut yang dia rasakan didalam hatinya seperti biasanya.
__ADS_1
“Saya ingin membicarakan masalah serius dengan Nyonya Rafaldi. Tidak baik kalau ada sepasang telinga lain yang mendengarkan percakapan kami. Saya harap kamu bisa memberi saya ruang, Nona Amanda.”
Mata Amanda langsung mengarah pada ibunya lalu menjawab, “Baiklah.” Kemudian dia berkata pada ibunya, “Bu, aku akan pergi kerumah sakit untuk merawatnya.”
“Pergilah. Hati-hati dijalan.” ucap Mosha mengingatkan.
Saat Amanda keluar dari rumah, pengawal yang dibawa Emir juga mengikutinya. Mosha mau tak mau berpikir bahwa mereka pergi keluar bukan untuk memberinya privasi tetapi untuk berjaga di pintu masuk rumah untuk mencegah siapapun masuk.
Apa yang ingin dibicarakan oleh seseorang yang bermartabat seperti Emir padanya? Mosha bertanya-tanya didalam hatinya.
“Ibu,” Emir menyapanya dengan suara rendah hampir saja membuat Mosha ketakutan. Dia tidak terbiasa dengan cara Emir menyapanya yang terdengar begitu akrab. Tapi dia berusaha tetap tenang dan tersenyum ketika dia bertanya pada Emir.
“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya Tuan Emir?”
“Nyonya Rafaldi, Arimbi mengalami kecelakaan.”
“Apa?” senyum diwajah Mosha langsung hilang digantikan dengan ekspresi ketakutan. Tiba-tiba dia melompat dari tempat duduknya, “Dimana kecelakaannya? Berapa parah lukanya?”
“Tenang Ibu. Arimbi baik-baik saja hanya mobilnya yang sedikit rusak. Dia masih bersikeras pergi ke bandara untuk menjemput temannya setelah kecelakaan itu jadi saya harus mengatur supir untuk mengantarnya kesana.” jawab Emir.
Setelah mendengar bahwa hanya mobil yang rusak dan putrinya selamat, Mosha kembali duduk di sofa sambil menepuk-nepuk dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdebar lalu dia menghela napas. “Kamu hampir saja membuatku takut setengah mati. Syukurlah tida ada yang terjadi padanya.”
Mereka selalu mengganti mobil yang rusak dengan yang baru karena mereka mempunyai banyak mobil mewah yang berada di garasi. “Bagaimana dengan orang lain yang terlibat kecelakaan? Apakah mereka terluka? Apakah lukanya parah?”
__ADS_1
“Cukup serius karena ada batang pohon yang hampir patah menjadi dua. Daun-daunnya juga berjatuhan.” ucap Emir tanpa sadar dia menggunakan kata-kata yang biasanya dia pakai untuk menggoda istri nakalnya.