
Arimbi semakin marah dan berkata, “Kalian semua bisa melihat kalau pakaianku tidak ada saku dan aku hanya membawa tas saja. Kalian semua bisa melihatnya sendiri.” dengan mantap dan percaya diri Arimbi mengeluarkan tasnya. Pegawai toko itu lantas merebut tas itu dari tangan Arimbi dengan santainya dia mengeluarkan gelang yang telah dia masukkan sebelumnya.
Pegawai toko itu memegang gelang itu dan memandang Arimbi dengan tatapan menyelidik, “Apa lagi yang mau kamu katakan? Sudah jelas gelang ini ada didalam tasmu.”
‘Gelang itu ada didalam tasnya? Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak menyentuh gelang itu saat si pegawai toko memperlihatkan kepadanya.’ bisik hatinya.
Arimbi tertegun sejenak lalu dia bersikap tenang dan berkata, “Kamu menjebakku!”
“Ck ck ck….kamu masih punya nyali untuk menuduh orang lain menjebakmu Arimbi? Karakter mu sangat buruk! Tak kusangka kalau putri dari keluarga Rafaldi sanggup melakukan hal memalukan seperti ini!” Zivanna memprovokasi Arimbi. “Wajar juga, kamu kan dari desa, tidak pernah melihat perhiasan semahal itu!”
“Kalian semua sudah salah menilai perempuan ini!”
“Cukup Zivanna! Aku yakin kamu pasti yang merencanakan ini semua bersama pegawai itu, iyakan?” teriak Joana penuh amarah tak terima sahabatnya di fitnah mencuri.
“Wah wah…..apakah putri keluarga Ganesha membela temannya. Kalian berdua ini memang pantas berteman. Sama-sama tidak tahu malu dan tak berkelas!”
Sementara itu dirumah keluarga Serkan, Rino bergegas menemui Emir yang sedang menjalani rehabilitasi. “Tuan Muda Emir….”
“Ada apa?” Emir bertanya lalu berhenti sejenak menatap Rino. Dia sudah tahu pasti ada masalah.
“Pengawal yang mengawasi Nyonya Muda baru saja menghubungi saya.”
“Apa istriku dalam masalah? Katakan apa yang terjadi!”
__ADS_1
“Begini, Nyonya Muda dan Nona Joana pergi ke toko perhiasan lalu mereka bertemu Nona Zivanna disana. Tapi saat Nyonya Muda dan Nona Joana hendak meninggalkan toko, pegawai toko itu menuduh Nyonya mencuri gelang seharga satu milyar lebih.”
“Lalu? Apa yang terjadi?”
“Mereka menemukan gelang itu didalam tas Nyonya Muda. Apa yang harus saya lakukan Tuan?”
“Arimbi bukan pencuri. Zivanna pasti sengaja ingin mempermalukannya. Terus awasi, aku ingin tahu bagaimana Arimbi akan mengatasi masalah ini. Suruh pengawalnya bertindak jika situasinya tidak baik dan lakukan apapun untuk melindungi istriku.”
“Baik Tuan.” ucap Rino lalu segera menghubungi pengawal yang bertugas mengawasi Arimbi dan menyampaikan perintah Emir. Pria itu sengaja membiarkan karena ini hal sepele dan dia yakin Arimbi pintar dan pasti mampu menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun Arimbi akan selalu berhadapan dengan Zivanna, maka dia harus mampu menghadapinya.
Kecuali jika situasinya sudah memburuk maka pengawal boleh membantu Arimbi. Emir kembali melanjutkan rehabilitasinya setelah dia memberi perintah lagi kepada Rino.
Emir sangat mengenal karakter wanita itu, dia tidak akan pernah berhenti menggangu Arimbi. Brian yang ditugaskannya untuk mengawasi gerak gerik Zivanna pun ikut melaporkan kejadian itu pada Rino.
Sedangkan si toko perhiasan itu, Zivanna tersenyum menyeringai. Kali ini dia akan memastikan Arimbi mendapatkan balasan yang setimpal! Dia harus hancur dan dipermalukan sehingga Emir akan membuang dan mengusirnya karena telah membuat malu.
“Ah untung saja gelang ini ditemukan kembali jika tidak maka tamatlah riwayatku! Kalau aku tidak waspada, gelang ini pasti sudah lenyap. Aku harus segera menelepon polisi.” ujar pegawai toko itu lalu mencengkeram lengan Arimbi dengan erat.
“Apa-apaan kamu? Lepaskan tanganku! Atau kamu akan menyesali perbuatanmu sudah memfitnahku!” ujar Arimbi. Joana mendekati pegawai itu lalu menarik tangannya yang mencengkeram lengan Arimbi.
“Joana! Biar aku selesaikan masalah ini! Kamu menepilah, sepertinya aku sudah tidak bisa menahan kesabaranku pada orang-orang ini!”
“Cepat telepon polisi! Biar dia tahu rasa dikurung di penjara karena telah mencuri! Cih! Sangat memalukan! Apa kamu pikir Emir akan membantumu kali ini? Kamu tahu keluarga Serkan tidak akan mengijinkanmu untuk tinggal dirumah mereka jika mereka tahu kamu adalah seorang pencuri!”
__ADS_1
Arimbi yang menahan tangan Joana untuk tidak melakukan apa-apa hanya tersenyum. Dia terlihat sangat tenang dan sikap tenangnya itu sedikit mempengaruhi Zivanna. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Arimbi masih setenang itu setelah ketahuan mencuri gelang senilai lebih satu milyar? Sedangkan pegawai toko segera menghubungi polisi.
Tak butuh lama polisi pun datang dan setelah mendapatkan keterangan dari pegawai toko polisi hendak menahan Arimbi. Tapi dia segera berkata, “Apakah kalian tidak ingin mengecek CCTV dulu sebelum menahanku? Bukankah toko ini juga ada CCTV? Oh ya satu hal lagi, aku tidak pernah menyentuh gelang itu!” Arimbi berbicara sambil tersenyum sinis menatap pegawai toko itu.
“Jadi siapapun yang telah memasukkan gelang itu kedalam tas ku pasti meninggalkan sidik jari. Saya minta segera memeriksa sidik jari di gelang itu dan mengambil sidik jari semua orang di toko ini. Jadi bisa ketahuan, siapa pemilik sidik jari yang ada digelang itu.” Arimbi berkata dengan tenang.
Mendengar itu, pegawai toko mulai ketakutan karena memang hanya dia saja yang memegang gelang itu. Tapi dia berkata lagi, “Jangan memperlambat penyelidikan! Sudah jelas gelang itu berada di tasmu! Cepat tangkap dia!” ujar pegawai toko itu. Dia merasa percaya diri karena Zivanna menjamin akan melindunginya.
Pas saat polisi hendak memborgol Arimbi, seseorang memasuki toko. “Apa yang kamu bisikkan kepada pegawai toko itu tadi?” tanya pria itu menunjuk Zivanna dengan dagunya membuat polisi menoleh menatap Zivanna.
“Aku tidak mengatakan apapun! Apa yang kamu bicarakan? Memangnya kamu ini siapa, hah? Aku tidak pernah membisikkan apapun pada pegawai toko ini. Aku hanya menyuruhnya segera mengemas kalung yang mau ku beli. Itu saja!” jawab Zivanna. Dia menatap pria berpakaian rapi dan berwajah tampan itu.
Zivanna mengeryitkan dahinya, siapa lagi laki-laki ini? Berapa banyak lelaki yang sudah dirayu oleh Arimbi? Kenapa begitu banyak pria tampan yang jatuh pada pesona udik desa itu? Pikiran Zivanna bergejolak yang membuatnya semakin marah! Apa hebatnya wanita itu sehingga semua laki-laki mendekatinya?
“Kamu mau tahu siapa aku? Aku bukan siapa-siapa! Tapi aku tidak akan membiarkan Nona Zivanna membuat masalah pada Nyonya Muda Arimbi!” ujar pria itu yang adalah salah satu pengawal Emir yang ditugaskan untuk mengawasi Arimbi.
“Nyonya Muda? Hahahaha…..pria mana yang sudah menikahi perempuan itu? Paling-paling dia hanya seorang simpanan dari pria tua dan jelek!”
Pria itu tidak mengatakan apa-apa lalu berkata kepada polisi, “Tunggu sebentar! Jangan bawa mereka dulu. Sebentar lagi pemilik toko akan sampai.” ucapnya. Dan baru saja dia selesai mengucapkan itu si pemilik toko pun tiba dengan tergesa-gesa.
“Apa yang sudah terjadi?” tanyanya pada polisi. Lalu polisi menjelaskan berdasarkan laporan pegawai toko bahwa Arimbi mencuri gelang itu.
Sedangkan pegawai itu semakin gemetar ketakutan, dia tidak menyangka pemilik toko akan datang. Lalu dia melirik Zivanna ingin menagih janjinya untuk melindunginya. Bagaimanapun ini bukan idenya dan dia melakukan itu atas permintaan Zivanna.
__ADS_1
“Saya saksinya dan masih banyak saksi yang melihat bahwa gelang itu memang ada di tasnya.” ucap Zivanna dengan sinis.