
“Joana, kenapa kamu tidak menjenguk ayahmu? Mereka pasti sangat mencemaskanmu saat ini.” kata Arimbi yang saat ini sedang bersama Joana disalah satu restoran yang berlokasi di mall milik Arimbi. Untungnya restoran itu memiliki ruang VIP sehingga mereka tidak perlu mengkhawatirkan jika seseorang mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Aku mau! Tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang. Aku yakin kalau anak buah Dion pasti mengawasi ruang perawatan ayahku! Mereka tahu kalau aku pasti akan datang. Aku masih ingin menikmati kebebasanku, Arimbi.”
“Ya, paling tidak kamu menghubungi keluargamu supaya mereka tidak cemas. Entah kabar apa yang mereka sudah dengar diluaran sana.” ujar Arimbi seraya memperhatikan ekspresi itu
“Aku paham. Tapi mau sampai kapan kamu begini? Ingat Joana, kondisimu sekarang. Kamu baru tahu kalau kamu sedang hamil sekarang? Pikirkan baik-baik tindakanmu!” ucap Arimbi yang terdengar mengkhawatirkan sahabatnya itu. “Apa kamu mau aku menyampaikan pesan pada orang tuamu?”
“Tidak usah! Aku akan menghubungi mereka nanti. Aku harus mencari alasan yang tepat.”
Arimbi kehilangan kata-kata dan tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk membantu Joana.
“Setidaknya pikirkan langkahmu selanjutnya! Joana, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri oke? Mungkin saja keluargamu dan orang-orang yang mengenalmu diluar sana, sekarang sedang sibuk mencarimu. Apa kamu tidak merasa kasihan pada orang-orang itu?”
“Aku tahu Arimbi! Jangan khawatir! Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, aku lapar.” Joana tidak mau lagi membicarakan masalahnya jadi dia sengaja mengalihkan dengan alasan lapar. Arimbi sangat mengenal karakter Joana, dia tahu kalau sahabatnya itu tidak mau membahas masalahnya. Dan Arimbi pun menghargai itu. Dia pun mulai menyantap makanannya sembari sesekali melirik Joana.
Setelah keduanya selesai menghabiskan hidangan didepannya. Arimbi kembali ingin mengajak Joana pergi kerumah sakit untuk menjeguk ayahnya. Namun lagi-lagi Joana menolak dengan alasan yang sama.
“Arimbi! Apa menurutmu Dion tidak mengirimkan orang untuk mengawasi ayahku dirumah sakit? Sepertinya ini juga bukan sesuatu yang baru terjadi.”
“Sudah pasti dia akan mengawasi semua tempat untuk mencarimu! Oh iya Joana, kenapa tiba-tiba perusahaan ayahmu bermasalah begini?” tanya Arimbi yang tiba-tiba mengingat ingin menanyakan hal itu pada Joana.
“Aku juga tidak tahu! Tapi dari apa yang kudengar, hampir semua klien ayahmu membatalkan pemesanan barang mereka dan meminta ayah mengembalikan uang yang mereka berikan diawal.”
__ADS_1
“Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba melakukan itu! Padahal ayah sudah menginvestasikan semua uangnya untuk memenuhi permintaan klien! Lihatlah betapa kejamnya orang-orang bertindak arogan seperti itu! Ayah merasa tertekan karena sekarang dia kesulitan untuk menjual produknya sementara sudah mengeluarkan uang sangat banyak.” ucap Joana menjelaskan.
“Baiklah……baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan menjenguk ayahmu setelah ini.”
Joana tidak mengatakan apa-apa menanggapi perkataan Arimbi. Dia menundukkan wajahnya seolah-olah sedang berpikir.
“Arimbi! Maukah kamu melakukan sesuatu untukku sebagai seorang sahabat?”
“Ya, katakan saja apa yang kamu mau!” jawab Arimbi tersenyum.
“Bisakah kamu meminta agar Tuan Emir membantu keluargaku?” ekspresi wajah Joana tiba-tiba berubah menjadi muram. “Aku janji padamu sebagai sahabatmu, aku akan berubah dan akan bekerja keras dimasa depan.”
Arimbi pun tersenyum mendengar ucapan Joana, “Aku tidak yakin kamu bisa berubah Joana! Aku mengenalmu cukup baik.”
“Mengenail bantuan itu, aku yang akan membantumu. Tidak perlu mengganggu kesibukan suamiku. Apa kamu pikir aku tidak sekaya suamiku?” Arimbi tersenyum menggoda Joana. Keduanya pun tertawa dan awan hitam yang tadi menyelimuti mereka, lenyap sudah digantikan suara canda dan tawa.
“Hahaha…..aku wanita paling kaya. Dan mungkin lebih kaya dari suamiku beberapa tahun lagi. Oh tidak, setelah anakku lahir!” ujar Arimbi tertawa.
“Kamu tahu? Sekarang aku yang mengelola keuangan di kediaman keluarga Serkan! Ah Joana, kamu akan terkejut sama sepertiku saat pertama kali aku melihat besarnya pengeluaran keluarga itu! Dan suamiku sebagai kepala keluarga Serkan, dia bekerja keras mengembangkan perusahaan dan menghasilkan uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup semua orang dikeluarga itu.”
Memang benar apa yang dikatakan Arimbi, saat dia mulai belajar mengenai keuangan dan pengeluaran keluarga Serkan, dia sangat terkejut. Bukan saja gaji semua pekerja disana lebih tinggi dibandingkan ditempat lain. Belum lagi pengeluaran harian dan bahkan jatah bulanan setiap orang di keluarga itu. Dan saat itu Arimbi tidak menyangka seberapa kaya keluarga Serkan.
“Apakah semua keluarga kaya dan bangsawan akan bersikap seperti keluarga Serkan? Maksudku, mereka sangat baik hati pada para pekerja yang bekerja di rumah itu! Ternyata apa yang kudengar dari gosip diluaran sana adalah benar!” ucap Joana menatap Arimbi yang hanya diam sambil tersenyum hingga Joana mengakhiri perbincangannya.
__ADS_1
********
Dirumah mewah yang berada dibelakang kediaman keluarga Lavani tampak beberapa pria berpakaian rapi dan tampak berwibawa duduk berhadapan. Disana ada Dilon Pradipa, Jack Kaldela dan Emir Serkan serta beberapa orang lainnya yang saat ini sedang terlibat pembicaraan serius.
“Aku sudah mendapatkan barang yang kamu inginkan Emir. Selamat menikmati!”
Jack Kaldela tersenyum menggolok-olok Emir seraya meletakkan sebuah kotak besok diatas meja. Emir tidak langsung mengambilnya, dia hanya menatapnya saja. Melihat Emir tidak merespon membuat Jack mengeryitkan dahinya lalu berkata, “Ada apa Emir? Bukankah barang ini yang kamu cari selama ini? Kenapa kamu tampak seperti tidak bersemangat saat kamu sudah mendapatkannya?”
“Ehm….bagaimana kamu bisa mengambilnya dengan begitu mudah? Aku jadi sedikit ragu jika ini adalah kotak yang asli dan bukan perangkap.” jawab Emir yang masih menatap kotak itu.
“Maksudmu? Kotak ini bukan yang asli? Bagaimana kalau dibuka dulu, setelah itu kita akan tahu jika isi didalamnya memang sesuai dengan yang kamu inginkan?” kata Dilon lagi memberi saran.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku Jack? Bagaimana kamu bisa mendapatkan kotak ini?” Emir kembali mengulang pertanyaannya. Kini dia menatap kearah Jack meminta penjelasan.
“Aku sendiri yang mengambilnya dari ruang bawah tanah itu! Aku mengikuti petunjuk yang kamu berikan padaku dulu! Ada apa Emir? Apa ada yang salah dengan kotaknya?”
Emir terdiam sejenak sambil berpikir, “Mengingat betapa licik dan serakahnya seorang Yuda Lavani, apakah menurutmu orang seperti dia akan menyimpan barang sangat berharga dan mudah dilacak?”
Semua orang diruangan itu saling melemparkan pandangan, mereka baru menyadari sesuatu.
“Ya apa yang dikatakan Emir itu benar! Katakan Jack, dari mana kamu mendapatkan kotak ini?” tanya Emir lagi dengan tatapan tajam tak berkedip melihat.
“Aku mengikuti petunjuk yang diberikan Emir waktu itu! Aku hanya meminta password dari Zivanna. Lalu apa masalahnya sekarang?”
__ADS_1
"Kalau mengikuti perkataan Emir barusan, ada kemungkinan kotak ini bukanlah kotak yang asli.”
“Aku jadi bingung dengan kalian! Kalian sendiri yang menunjukkan jalan kesana dan kalian juga yang memberiku denah rumah itu!” belum lagi Jack selesai bicara, .