GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 48. IZIN UNTUK BEKERJA


__ADS_3

Sedangkan Emir yang biasanya membenci sanjungan orang lain tapi dia tidak merasa jijik saat Arimbi yang melakukannya. Arimbi pun mendorong kursi roda memasuki rumah.


“Emir?”


“Ada apa?”


“Aku ingin bekerja.”


Emir diam dan menunggu Arimbi melanjutkan ucapannya.


“Kamu tahu kan tentang keluargaku. Orang tuaku mendedikasikan hidup mereka untuk Rafaldi Group, aku tidak bisa hanya duduk diam saja dan melihat Amanda mengambil alih perusahaan sebagai miliknya. Aku ingin memeprjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku yang berhak.”


“Tidak ada seorang wanita pun yang menikah dengan Keluarga Serkan diizinkan keluar untuk bekerja. Mereka memiliki banyak uang untuk dibelanjakan dan semua kemewahan didunia ini untuk dinikmati. Tugas mereka hanya satu, tinggal dirumah bersama beluarga dan anak-anaknya atau menemani suami mereka ke acara-acara dan makan malam. Mereka harus mengutamakan suami mereka.”


“Jika mereka ingin mendapatkan banyak harta, mereka harus melahirkan anak-anak untuk suami mereka. Keluarga Serkan memberi hadiah untuk setiap anak yang lahir sebesar dua ratus milliar untuk seorang putra dan satu triliun untuk seorang putri.”


Arimbi menganga mendengar penjelasan Emir, tradisi keluarga Serkan sangat menarik baginya. “Emir, bukankah itu seperti memelihara hewan peliharaan? Atau lebih tepatnya seperti mesin pencetak bayi?”


‘Dua ratus milliar untuk seorang putra? Dan apa katanya tadi? Satu triliun untuk seorang putri? Apa sebanyak itu uang yang mereka miliki ya? Sampai-sampai memberi hadiah sebesar itu.’ bisiknya.


Tanpa sadar Arimbi menghitung jumlah jari tangannya dengan mata terbelalak membayangkan berapa banyak uang yang dia dapat kalau melahirkan banyak anak. ‘Ya ampun! Sungguh mengerikan.’


Sekarang Arimbi mengerti kenapa keluarga Serkan memiliki rumah yang begitu besar. Diam-diam dia melirik kebagian bawah Emir diantara kedua pahanya.


Saat Emir menangkap basahnya, dia tertawa canggung, “Hihi….Tidak mungkin aku akan mendapat hadiah itu. Jadi lebih baik aku bekerja dan menghasilkan uang.”


Mata Emir langsung menggelap dan merenung. “Apa kamu yakin ingin melawan Amanda?”

__ADS_1


“Kenapa tidak? Kamu sendiri yang bilang jika aku memperjuangkan perusahaan atau tidak, aku ini tetap ancaman bagi Amanda. Jadi aku memilih untuk menentangnya secara terbuka. Aku tidak yakin kalau putri kandung keluarga Rafaldi akan kalah dengan putri angkat!” jawab Arimbi dengan penuh semangat dan tekad, matanya dipenuhi kebencian.


Emir dapat melihat sinar kebencian dimata istrinya tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.


“Emir! Ayahku ingin aku meminta izinmu untuk bekerja di perusahaannya. Bisakah kamu memberiku jawabannya sekarang? Aku mohon tolong izinkan aku ya? Kalau kamu setuju maka ayah juga setuju.”


Arimbi menatap lurus kearah suaminya, matanya memindai setiap detil wajah pria itu dan tak dapat disangkal betaap tampannya suaminya.


Andai dia tidak terjebak di kursi roda, Arimbi tidak akan pernah menikah dengannya. Keluarga Serkan pasti mencarikan menantu yang setara dengan mereka. Emir memperhatikan bagaimana Arimbi menatapnya. Sesekali mata wanita itu mengarah kebagian bawah Emir dan kemudian berpindah ke wajahnya. Emir pun bisa menebak apa yang sedang dipikirkan istrinya. Tiba-tiba dia memberi isyarat pada Arimbi untuk mendekat.


“Kemarilah. Aku ingin membisikkan sesuatu ditelingamu. Kamu akan berada dalam masalah jika seseorang mendengarkan kita dan memberitahu nenekku dan yang lainnya tentang ini.”


Tanpa ragu Arimbi mendekat, “Bukankah kita sudah menikah secara diam-diam? Keluargamu tidak akan tahu tentang kita.”


Puk! Puk!


Emir menyentil kening Arimbi dua kali saat dia bicara. Sentilannya kuat membuat Arimbi meringis kesakitan sambil memegangi dahinya. Arimbi menegakkan tubuhnya sambil melotot. Dia kesal karena masih juga jatuh dalam trik Emir setelah ditipu olehnya berkali-kali.


“Itu hukumanmu karena sudah memikirkan hal-hal kotor seperti itu!”


“Hah? Emir! Apa kamu bisa membaca pikiran orang ya? Kamu cenayang? Bisakah kamu mengajariku? Aku juga mau, wah…..hebat banget kalau aku bisa membaca pikiran Amanda. Hahaha!”


“Siapa yang mau mengajarimu? Kelak kamu yang balik mengigitku dengan ilmu yang aku ajarkan!”


“Emir! Aku bukan orang yang tidak punya hati sepertimu…...maksudku….kamu sangat tampan. Aku sangat mengagumimu. Rasa kagumku setinggi puncak Everest dan sedalam samudera Hi…..”


Arimbi terdiam tak melanjutkan kalimatnya setelah dia melihat ekspresi wajah Emir.

__ADS_1


“Kenapa berhenti? Aku sangat senang mendengar rayuanmu, ayo lanjutkan! Biarkan aku tersanjung!”


Arimbi tersenyum lebar menampakan deretan giginya yang putih. Bibir Emir melengkung membentuk senyuman saat melihat senyum bahagia Arimbi tapi dia langsung melenyapkan senyum itu.


Arimbi memang wanita yang paling tidak tahu malu yang pernah dia temui. Terkadang Arimbi takut padanya, tetapi kadang dia tidak takut sama sekali dan malah menggodanya habis-habisan dengan tak tahu malu. Hidup Emir menjadi berwarna dan penuh kejutan sejak kehadiran Arimbi.


“Emir, apa aku bisa bekerja?”


Saat itu Emir melihat Rino sedang membawa Mike masuk jadi dia langsung memberikan jawabannya.


“Jika kamu ingin memperjuangkan apapun yang menjadi hakmu, maka sebagai suamimu aku akan selalu berada disisimu. Silahkan dan lakukan apa yang harus kamu lakukan. Kamu tidak perlu khawatir tentang tradisi keluarga Serkan. Jika para tetua Keluarga Serkan mengetahui tentang pernikahan kita dan mencoba membatasimu maka aku akan melindungimu dari mereka.”


Emir menatap Arimbi dan berkata lagi dengan serius, “Bahkan jika langit runtuhpun aku ada disini untuk memegangnya untukmu. Tetapi jika kamu gagal merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu….” Emir berhenti sejenak dan memikirkan sesuatu tapi dia tidak bisa memikirkan apapun yang bisa dia katakan untuk menakut-nakuti Arimbi.


“Jika kamu kalah dan menangis karena hal itu, maka aku yang akan membalaskan dendammu.”


Emir telah menikahi wanita itu dan tidak peduli seperti apa hubungan mereka, Arimbi adalah istrinya. Sebagai suami, sudah jadi kewajibannya untuk melindungi istrinya dari apapun. Jika ada yang memperlakukan Arimbi dengan buruk maka dia akan membalasnya.


Mendengar ucapan suaminya yang menyentuh hatinya membuat Arimbi tak mampu berkata-kata. Di kehidupan masa lalunya dia pernah menolak lamaran pria itu dan menderita karena menikahi Reza. Dan saat dia terpuruk dan putus asa Emir masih melangkah maju dan membantunya.


Saat itulah dia tahu kalau Emir bukanlah pria dingin dan kejam seperti yang terlihat. Dia seorang laki-laki yang sangat baik. Hanya saja emosinya mudah berubah. Keputusannya menikahi Emir dikehidupan sekarang adalah keputusan terbaik.


“Emir! Aku yakin bisa mempertahankan semua yang seharusnya milikku!” ucapnya penuh tekad.


Saat Emir memperhatikan bagaimana tersentuhnya Arimbi dengan ucapannya, dia sempat berpikir kalau Arimbi akan menciumnya tetapi malah sebaliknya, wnaita itu hanya menjawab dengan kalimat itu. Emir melirik bibir merah milik istrinya dan membuang mukanya. Entah mengapa dia merasa sedikit kecewa.


‘Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat kecewa? Apa yang terjadi?’ Arimbi bertanya dalam hati saat melihat ekspresi wajah Emir yang berubah tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2