
Emir harus secepatnya sembuh dan bisa berjalan lagi. Sehingga jika saat itu tiba, dia bisa melindungi istrinya dari amukan para wanita yang menggilainya. Dia bertekad harus bisa berjalan kembali secepatnya.
Jika Arimbi mengandung anaknya maka posisinya di keluarga Serkan sebagai menantu tertua akan semakin kuat dan tak akan ada seorangpun yang akan berani merundungnya.
Emir membiarkan Arimbi terus menggodanya saat dia merasakan wanita itu sibuk menggesek-gesekkan tubuhnya yang halus. Emir berpikir untuk membiarkan wanita tak tahu malu itu bangga untuk saat ini menggodanya terus-terusan.
Dia akan meminta pertanggung jawabannya nanti malam. Dan saat kedua kakinya normal kelak, Emir bersumpah akan membuat istrinya terbaring di tempat tidur selama tiga hari.
“Ehm….aku lapar. Aku akan makan malam denganmu.” Melihat ekspresi Arimbi, orang pun bisa tahu bahwa bukan Emir saja yang terpengaruh oleh ciuman yang panjang dan berulang-ulang itu.
Saat ini dengan kaku keduanya menekan hasrat batinnya. Saat ini Emir hanya bisa menunggu Arimbi yang mengambil tindakan duluan. Dia masih belum bisa mengandalkan kakinya sehingga hanya bisa pasrah.
Setelah mengatur emosinya, Arimbi meninggalkan pelukan Emir seolah-olah tidak terjadi apa-apa dia mencoba berdiri namun Emir kembali menariknya jatuh kepangkuannya. “Kakimu masih sakit. Biar aku membawamu keruang makan.”
“Tapi aku mau mendorongmu.”
“Biarkan pengawal yang mendorong kursi rodaku. Duduk tenanglah disini dan jangan bergerak.”
“Emir!”
“Bukankah sudah kubilang untuk memanggilku sayang?” ujar Emir protes.
“Sudah jadi kebiasaanku untuk memanggilmu Emir.” balas Arimbi.
‘Jadi begini rasanya tidak sengaja merusak suasana hati.’ pikir Emir.
__ADS_1
“Apa saja yang tadi kamu bicarakan dengan ibuku?” tanya Arimbi yang kembali teringat soal itu.
“Ibu hanya ingin kita berkomunikasi dengan baik satu sama lain. Harus selalu menjaga perasaan masing-masing dan saling terbuka. Tidak boleh ada hal yang disembunyikan dari pasangan.”
Arimbi merasa bersyukur setelah mendengar jawabannya, “Emir, terima kasih sudah begitu perhatian dan peka padaku.”
“Kita ini suami istri. Wajar bagiku untuk melakukan ini untukmu, jadi kamu tidak perlu bersikap segan padaku kedepannya. Arimbi, kamu mau hadiah apa sebagai balasan karena kamu sudah mau memaafkanku.”
Arimbi tersenyum sebelum mencondongkan tubuhnya kedepan dan menggigit telinga Emir dengan lembut, “Terserah kamu saja Emir-ku sayang. Apapun yang kamu berikan aku pasti senang karena kamu pasti membelikanku sesuatu yang mahal. Mengingat istrimu ini sangat menikmati kekayaanmu.”
Saat Arimbi melihat bagaimana telinga suaminya perlahan memerah dia merasa senang.
Dia sangat mudah tergoda olehnya, dan itu membuat Arimbi merasa senang karena dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dari suaminya malam ini.
Dia teringat ucapan Joana padanya agar segera punya anak agar posisinya semakin kuat dan tak bisa digeser oleh siapapun kelak. ‘Sepertinya malam ini aku akan mencoba sesuatu yang baru.’ bisiknya dalam hati.
Kini Rino dan yang lainnya bisa menghela napas lega setelah melihat raut wajah Emir kembali berbinar seperti semula.
Rino memperhatikan pasangan itu bertingkah seperti biasa lagi dan bahkan kali ini Emir sangat memanjakan Arimbi karena kakinya terluka. Semua orang saling melempar pandang dan tersenyum, setelah mereka melewati semua tekanan hari ini kini mereka bisa bernapas lega dan tidur nyenyak malam nanti.
...*******...
Sementara itu dikediaman keluarga Rafaldi. Saat Yadid turun dari mobilnya dan masuk kerumah. Dia langsung duduk di sofa dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah sambil mengeryitkan keningnya. Mosha datang membawakan segelas kopi untuknya lalu duduk disamping suaminya.
“Ada apa? Aku dengar kalau Arimbi mengambil cuti sore ini. Apa terjadi sesuatu?” tanyanya.
__ADS_1
“Dan mengapa semua barang-barang ini kembali lagi kesini? Apakah Arimbi mendapatkan semua ini kembali dari Reza? Atau Reza yang mengirimnya kembali kesini?”
“Ini adalah perbuatan Arimbi. Karena masalah dengan Reza, Arimbi bertengkar dengan Tuan Emir. Itu sebabnya dia pergi ke keluarga Kanchana dan mengambil kembali semua barang-barang yang pernah diberikannya.” Mosha menghela napas sebelum melanjutkan.
“Suamiku, aku khawatir keluarga Serkan mungkin bukan keluarga yang tepat untuk menjadi besan kita. Karena perbedaan status, aku memikirkan tentang Tuan Emir. Meskipun dia memperlakukan Arimbi dengan baik tapi bagaimana dengan keluarganya? Tadi Arimbi mengatakan kalau Emir ingin mengadakan pernikahan mewah untuknya.”
Mosha diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “Begitu banyak aturan kaku yang harus dipatuhi di keluarga Serkan. Harus bisa mengendalikan diri sendiri seperti melewati labirin dan Arimbi harus selalu memperhatikan bagaimana dia bersikap pada orang lain dalam keluarga itu. Aku tahu bagaimana dia dan itu yang membuatku khawatir jika dia tidak mampu bertahan dikeluarga itu.”
Dengan mengerucutkan mulutnya Yadid menjawab, “Karena segala sesuatunya telah berkembang menjadi seperti ini, tidak akan ada gunanya kita khawatir. Saat itu Arimbi sendiri yang pergi untuk menyelesaikan pernikahan dengan Tuan Emir tanpa memberitahu kita. Belum lagi bahkan setelah dia memiliki akta nikah, dia terus saja merahasiakannya dari kita.”
"Karena dia memilih jalan ini maka tidak peduli seberapa sulitnya jalan yang dipilihnya, itu adalah miliknya dan pilihannya untuk dilalui. Sebagai orang tua, kita tidak berdaya untuk membantunya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sebagai keluarganya adalah menunjukkan padanya bahwa pintu rumah kita selalu terbuka untuknya."
" Jika dia tidak tahan tinggal bersama keluarga Serkan, maka dia bisa pindah kembali kesini setelah perceraian dan kita akan membiayai hidupnya selama kita hidup.
Bagi Yadid, ini adalah kenyataan bagi seseorang yang menikah dengan keluarga yang lebih tinggi kedudukannya. Ketika yang statusnya lebih rendah merasa dirugikan, keluarga mereka yang tidak punya latar belakang sekaya keluarga Serkan tidak akan bisa mencari keadilan untuk keturunan mereka. Yadid berpikir bahwa agar putrinya bisa hidup dengan baik di keluarga Serkan, itu akan tergantung pada seberapa besar kepedulian Emir pada Arimbi.
“Apakah mereka sudah berbaikan kembali?” tanya Yadid.
“Ya sudah. Barusan kepala pelayan rumah Tuan Emir menghubungiku untuk memberitahuku tentang itu. Kepala pelayan itu juga bilang kalau Tuan Emir sangat memanjakan Arimbi selama ini jadi kadang anak itu bersikap sesukanya. Aku tidak bisa menyalahkannya juga karena bagaimanapun Tuan Emir adalah suaminya dan wajar jika seorang suami memanjakan istrinya. Emir juga memberinya hadiah mahal sebagai permintaan maaf. Tapi aku belum sempat bertanya hadiah apa itu.”
“Lalu, mengenai pernikahan? Apa lagi yang dikatakan Tuan Emir pada Arimbi?” tanya Yadid.
“Itu saja. Arimbi bilang kalau saat ini Tuan Emir sedang menyiapkan hadiah pertunangan dan pernikahan. Setelah hadiahnya selesai maka dia akan mengumumkan kapan acara pernikahannya akan digelar. Tapi dia berjanji pada Arimbi akan memberinya pernikahan paling mewah.”
Yadid tampak tersenyum puas. Jika pernikahan putrinya diketahui publik maka reputasinya sebagai mertua Emir akan menaikkan popularitasnya dikalangan atas. Dan hal itu akan berpengaruh baik pada perusahaannya. Siapa yang tidak senang mendapat kabar itu? Saat ini Yadid bahkan berharap jika putrinya bisa memberikan penerus bagi keluarga Serkan.
__ADS_1