GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 93. MENGULANG KESALAHAN


__ADS_3

Arimbi menerima telepon dari sahabatnya Joana Ganesha. “Arimbi! Aku sudah kembali. Jemputlah aku, aku membelikan banyak oelh-oleh makanan dan barang-barang bagus untukmu.”


Joana melakukan perjalanan ke luar kota dan di setiap tempat yang dia kunjungi dia membeli makanan khas dan souvenir khas lokal untuk temannya yang rakus itu.


“Akhirnya kamu memeriahkan kampung halaman dengan kepulanganmu ya?” Arimbi berteriak sinis, “Kamu wanita tak berperasaan! Kamu bahkan tidak memberitahuku sebelum pergi berlibur. Aku pasti ikut denganmu kalau kamu memberitahuku!”


“Hahaha aku yang tidak punya hati atau kamu? Kamu telah memberikan seluruh hatimu pada Reza. Satu-satunya orang yang kamu ajak jalan cuma dia! Hei bocah tengil, kamu bahkan tidak mengajakku. Si Reza itu apsti sudah melakukan sesuatu sehingga kamu tergila-gila padanya!”


Joana selalu merasa bahwa Reza tidak pernah tulus pada Arimbi dan dia sudah mengatakan pada sahabatnya itu perasaan tak sukanya pada Reza dan memperingatkannya tapi Arimbi mengabaikan peringatannya di kehidupan sebelumnya.


“Ya, ya. Aku sudah sadar! Tunggu aku di bandara menjemputmu. Aku akan sampai disana secepatnya!”


“Baiklah! Aku akan menunggumu disini. Hati-hati menyetir ya? Jangan ngebut! Aku juga tidka terburu-buru, aku bisa makan sambil menunggumu.” ujar Joana tersenyum.


“Baiklah! Percayalah padaku, aku mempunyai kemampuan mengemudi yang unik!” jawab Arimbi.


Memang benar yang dikatakan Arimbi bahwa keterampilan mengemudinya unik. Saking uniknya mengemudi mobilnya seperti pesawat sehingga suaminya menyuruh pengawal melepas ban mobilnya. Setelah menutup panggilan, Arimbi benar-benar lupa tentang peringatan Emir padanya saat dia masuk kerumah dan mengambil kunci mobil ibunya. Kemudian dia mengemudikan BMW milik ibunya dengan senang hati menuju ke bandara untuk menjemput Joana.


Saat Arimbi meninggalkan rumah dia berpapasan dengan Amanda di gerbang depan yang kebetulan juga akan keluar dan bertanya padanya, “Arimbi mau kemana kamu?”


“Urus saja urusanmu sendiri!” ketus Arimbi lalu menginjak gas. Mobil itu hilang dari pandangan dalam  hitungan detik meninggalkan Amanda sendirian. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi beresiko mengalami kecelakaan, begitu pula dengan Arimbi. Melihat bahwa tidak ada mobil lain didepannya saat dia berada dijalan besar, dia terdorong oleh sensai mengendarai mobil bagus.

__ADS_1


Bahkan saat mencapai tikungan dia hanya mengurangi sedikit kecepatannya. Dia benar-benar tidak menyangka akan berhadapan dengan iring-iringan mobil ketika dia berbelok. Dia segera menginjak rem tapi usahanya tidak menghentikan mobil karena dia mengendarainya dengan kencang. Karena panik dia dengan cepat memutar kemudi.


Meskipun berhasil menghindari mobil yang datang dari arah berlawanan, mobil ibunya malah menabrak pohon di pinggir jalan. Terdengar suara keras saat mobil menabrak pohon itu. BRAK!


‘Oh tidak! Aku merusak mobil ibu!’ pekiknya dalam hati.


Setelah tabrakan itu dia buru-buru mendorong pintu terbuka dan keluar untuk memeriksa kondisi mobil. Iring-iringan mobil juga berhenti.


Rino yang berada disalah satu mobil menoleh dan memberitahu Emir, “Orang itu adalah Nona Muda Arimbi, Tuan Muda Emir!”


Sebenarnya Emir sudah mengenalinya ketika dengan panik menghindari iringan mobilnya dan menabrak pohon. Emir sudah memberitahu istrinya tidak diizinkan mengemudi sendiri lagi dan agar memberitahu Beni jika mau pergi kemanapun agar menyuruh supir mengantarnya.


Sayangnya, kata-katanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Arimbi tampaknya tidak hanya menyetir setiap kali dia kembali kerumah orang tuanya tapi dia juga menyetir dengan sangat laju!”


 Rino bahkan berdoa dalam hati untuk Arimbi karena dia tahu betul bagaimana sifat Emir. Dia ingat Emir melihat saat terakhir kali Arimbi mengendarai mobil dengan laju dan sudah memperingatkannya.


Saat itu sebagai hukuman, Emir memerintahkan pengawal untuk melepas ban mobil Arimbi dan sekarang wanita itu kembali mengulangi perbuatannya dengan mengendarai mobil dengan cepat dan hampir menabrak salah satu mobil Emir. ‘Nona Muda Arimbi pasti tidak akan bisa lagi menyetir setelah ini!’ bisik hati Rino menghela napas.


Bumper mobil BMW Mosha rusak parah, melihat kekacauan yang dia buat Arimbi tidak bisa menahan perasaan malu. Siapa yang mengira mobil-mobil itu tiba-tiba muncul dari arah berlawanan! Dia terus menatap bumper dengan linglung selama beberapa menit penuh sebelum akhirnya dia menoleh kearah deretan mobil.


‘Sial! Itu Emir!’ umpatnya dalam hati. Wajah Arimbi langsung berubah pucat ketika dia mengenali siapa yang tadi hampir ditabraknya. Dia tidak menyangka jika keberuntungannya bisa begitu buruk sehingga suaminya menangkapnya sedang mengebut.

__ADS_1


Emir telah menyingkirkan mobilnya terakhir kali dia mengemudi meskipun tidak ada hal buruk yang terjadi. Tapi sekarang dia mengalami kecelakaan….akankah Emir akan membongkar seluruh mobilnya?


Saat dia melihat Emir dikawal menuju kearahnya, Arimbi mulai berpikir tentang cara bisa keluar dari krisis ini. “Hahahaha, kebetulan sekali Emir!” dia tertawa terbahak-bahak dan bahkan melambaikan tangannya seperti menyapa dengan santai.


Emir dan pengawalnya semua terdiam melihat sikap Arimbi saat itu.


“Emir! Kenapa kamu ada disini? Apakah kamu datang untukku? Lihat! Bukankah aku sangat lembut dan perhatian padamu? Aku dalam perjalanan untuk menyambutmu setelah mengetahui bahwa kamu akan datang untukku.” ucap Arimbi tersenyum. Arimbi berada sekitar dua meter dari Emir ketika dia mengangkat tangannya memberi isyarat pada Rino untuk berhenti.


Kemudian Emir menatap istrinya ingin melihat istrinya melakukan tindakan, dia duduk tenang di kursi roda dengan tatapannya yang dingin.


 “Uhm...emir! Aku tidak sempat memberitahu beni untuk menyiapkan supir untukku karena situasi darurat. Dan karena aku berada di rumah ibuku dan Beni berada dirumah kita, aku pikir akan terlambat saat supir tiba disini. Itulah makanya aku meminjam mobil ibuku….” semakin dia bicara menjelaskan, semakin pelan suaranya.


Pipinya yang semula pucat sudah kembali memerah. Tiba-tiba Emir bicara, “Apakah kamu sudah selesai bicara? Atau masih ada lagi yang mau kamu katakan?”


“Aku….” Arimbi menelan ludah sambil mengangguk.


“Kenapa pipimu memerah?” tanya Emir.


Arimbi pun langsung mengangkat tangannya dan menggosok pipinya dan dengan berpura malu-malu dia berkata, “Um….ini karena cuaca panas. Benar, hari ini cuacanya panas sekali. Saking panasnya membuat wajahku memerah.”


Wajah Emir pun langsung kelam. Bakat Arimbi untuk bicara omong kosong benar-benar membuatnya terkesima! Luar biasa bakat yang dimiliki istrinya itu. “Kemari!” dengan dingin Emir menuntut istrinya mendekat yang langsung membuat wanita itu merinding membayangkan kalau jidatnya akan disentil lagi oleh suaminya.

__ADS_1


Menyadari bahwa mengaku adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan sekarang, dengan cepat Arimbi menundukkan kepalanya dan memohon, “Aku tahu aku berbuat salah Emir! Aku berjanji untuktidak pernah mengemudi dengan cepat. Bisakah kamu jangan marah padaku lagi? Aku sangat mencintaimu! Hatiku hancur kalau kamu marah, Emir.”


__ADS_2