
“Kirimkan semua bukti-bukti yang kita punya beserta rekaman pengakuan perempuan itu ke kota Metro. Pastikan pihak berwajib menerimanya, dan ungkapkan semuanya ke publik. Sudah waktunya kejatuhan keluarga Lavani! Sudah terlalu lama mereka hidup tenang tak tersentuh dan menikmati kekayaan milik orang lain yang mereka rebut dengan paksa.”
Pria itu mengepalkan tangannya dengan erat, wajahnya menegang dipenuhi dendam dan kebencian.
Sementara itu disalah satu kamar ruang bawah tanah tampak Zivanna yang mengerang kesakitan. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dan seorang pria menyuntiknya dengan sesuatu.
“Si----siapa kalian?” suara Zivanna terdengar lirih dengan matanya yang sayu.
“Bawa dia ke tempat pelelangan!” perintah seorang pria bertubuh tinggi.
“Ja—jangan sentuh aku! Aku tidak mau! Lepaskan aku!” teriak Zivanna ketakutan namun tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.
Dia menegang dan hanya terdiam saat orang-orang itu melepaskan rantai ikatannya. Mulutnya ingin memaki dan berteriak namun tidak ada suara yang keluar.
Mereka memasukkan Zivanna kedalam mobil van hitam lalu melaju menuju ke tempat pelelangan. Zivanna tak ubahnya seperti zombie yang hanya bisa melihat dan mendengar namun tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Saat dia berusaha bicara yang keluar dari bibirnya hanya hembusan napas. “Aaaaaaggggg…...”
“Diamlah! Perjalanan kita masih jauh, sepertinya mereka memberimu dosis tinggi supaya mulutmu diam! Tapi nanti kamu akan mendesah sepanjang malam….hahahaha…...malam ini kita akan menghasilkan uang banyak dari nona cantik ini!” ujar pria yang duduk dibelakang kemudi.
“Bagaimana dengan keluarganya?” tanya pria yang duduk di jok depan sebelah supir.
“Sebentar lagi polisi akan menangkap mereka, akhir dari keluarga Lavani sudah tiba. Hei nona! Tidak akan ada seorang pun dari keluargamu yang akan datang untuk menyelamatkanmu!”
“Apa kamu tahu? Kami hanya melakukan perintah agar keluargamu bisa merasakan sakitnya kehilangan anak perempuan mereka. Sama seperti apa yang dulu mereka lakukan pada keluarga Pradipa! Hahahaha…...bedanya adalah kamu akan hidup lebih lama untuk merasakan neraka dunia!”
__ADS_1
Setiap pagi dan sore hari, orang-orang itu akan menyuntik Zivanna sebelum melelangnya di pasar gelap. Videonya direkam dan disebarkan, hal itu membuat Keluarga Lavani marah karena sampai saat ini mereka tidak bisa melacak keberadaan Zivanna. Di kediaman Keluarga Lavani kehebohan terjadi saat segerombolan pihak berwajib memasuki rumah itu.
“Tuan Yuda Lavani, anda kami tangkap atas tuduhan penggelapan pajak, pembunuhan dan bisnis ilegal. Dan Tuan Johan Lavani, anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan, perampasan, perdagangan manusia dan bisnis ilegal. Tuan Gio Lavani, anda ditangkap atas tuduhan penipuan, bisnis ilegal dan pembunuhan berencana.”
Ketiga orang itu digiring polisi menuju mobil tahanan. Teriakan histeris dari Arini memenuhi rumah mewah itu. “Lepaskan suami dan anakku! Ini semua tidak benar!” Arini mencoba menghalangi petugas yang ingin membawa Yuda Lavani sehingga mereka terpaksa menahan Arini.
“Nyonya! Jangan halangi tugas kami. Atau anda juga akan kami tahan!” ujar seorang polisi menghentikan Arini.
“Bu, tolong tenang! Segera hubungi pengacara dan suruh datang! Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.” ujar Johan mencoba menenangkan ibunya.
“Tidak! Kalian tidak bersalah! Semua ini fitnah, lepaskan mereka.” Arini masih terus mencoba menghalangi petugas kembali. Hingga akhirnya dua petugas mencengkeram lengannya dan membawanya menjauh.
Arini menangis histeris saat melihat mobil polisi membawa suami dan kedua putranya.
“Hubungi pengacara dan siapkan mobil! Aku akan menyusul suamiku ke kantor polisi.” ucapnya sambil menyesap tehnya.
Setelah rentetan video Zivanna beredar di semua media ditambah lagi penangkapan Yuda Lavani, Johan Lavani dan Gio Lavani menghebohkan dunia bisnis. Setelah pihak berwajib menerima kiriman bukti-bukti kejahatan Keluarga Lavani beserta video rekaman Zivanna yang menjelaskan secara detail mengenai mayat orang-orang yang dibunuh oleh keluarganya, dengan cepat pihak berwajib bergerak.
Dan menemukan tempat yang disebutkan Zivanna, berada jauh dari kota dan berbatasan dengan hutan. Pencarian selama sehari pun membuahkan hasil dan mereka menemukan tulang belulang dari beberapa lokasi.
Lagi-lagi penemuan itu menghebohkan karena tidak ada yang menyangka kejahatan Keluarga Lavani dan semua bisnis ilegalnya. Berita penemuan itupun menjadi viral dan mendapat respon dari netizen yang mengumpat keluarga Lavani.
“Sudah ada berapa makam yang ditemukan?” tanya seorang petugas.
__ADS_1
“Ada enam! Berdasarkan daftar orang hilang yang selama ini dilaporkan, mungkin ada lebih banyak lagi puluhan bahkan ratusan orang. Apa kita harus menyisir sampai kedalam hutan?”
“Kerahkan lebih banyak orang untuk menyisir ke dalam hutan!”
“Baik!”
“Hubungi tim medis dan keluarga para korban ini jika masih ada keluarganya! Kita harus bergerak cepat mengidentifikasi jasad ini.” perintah pimpinan yang mengepalai penyelidikan.
Ramai petugas polisi yang bergabung bersama masyarakat menggali beberapa titik lokasi yang dipercaya tempat pembuangan mayat.
Dalam masa sepuluh tahun terakhir beberapa keluarga kaya yang dikabarkan hilang dan bangkrut. Tak pernah ada yang menduga jika Keluarga Lavani ada dibalik semua ini.
Selama ini tidak ada satupun bukti yang mencurigakan sehingga polisi kesulitan untuk mengungkap kasus itu. Dan selama sepuluh tahun keluarga Lavani menjalankan bisnis ilegalnya dengan aman.
Johan Lavani menjalankan bisnis ilegalnya, menjual orang tubuh manusia dan perdagangan manusia. Dengan menjalankan bisnis itu mereka mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Itulah mengapa perusahaan mereka bisa berkembang cepat, dengan modal besar mereka bisa memenangkan tender proyek-proyek bernilai milyaran hingga triliunan rupiah.
Tapi kini masa kejayaan keluarga Lavani sepertinya sudah mencapai titik akhir. Sementara itu semua bukti-bukti yang berhasil didapatkan polisi membuat polisi bergerak cepat ingin segera menuntaskan kasus ini.
Apalagi bukti-bukti itu ada yang mengunggahnya ke media membuat pihak berwajib harus bergerak cepat.
Arini menyusul ke kantor polisi untuk menemui suami dan kedua anaknya. Dia diantar supir dan asisten suaminya beserta tim kuasa hukum mereka. Saat mereka tiba disana tampak ketiganya sedang dalam proses pemeriksaan. Arini duduk menunggu bersama seorang pelayan wanita yang menemaninya. Dia menangis menatap ketiga pria kesayangannya yang kini masih tampak tenang.
Setelah pemeriksaan yang memakan waktu selama dua setengah jam itu berakhir, Arini menghampiri suaminya. “Suamiku, katakan apa yang terjadi?”
“Aku harap kamu segera mencari cara mengamankan aset yang ada. Suruh Reza Kanchana dan Ruby datang kesini menemuiku. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan mereka.” bisik Yuda Lavani.
__ADS_1
“Memangnya ada apa? Apakah semua tuduhan itu benar? Apa yang harus kita lakukan dengan perusahaan sekarang? Siapa yang akan mengurusnya sementara ini? Zivanna juga masih belum diketahui keberadaannya.” ujar Arini terisak. Dia tak percaya dalam sekejap keluarganya hancur berantakan dan harus berhadapan dengan hukum.