
“Selamat pagi Tuan.” sapa kepala pelayan keluarga Harimurti.
“Selamat pagi Tuan Harimurti!” sapa Yogi asisten pribadi Dion yang setiap pagi selalu datang ke kediaman keluarga Harimurti untuk memberikan laporan sebelum mereka berangkat ke kantor. Yogi juga kadang yang mengemudikan mobil Dion saat bos-nya itu memintanya.
“Hmmm! Mana laporannya?” tanya Dion mengingatkan kepala pelayannya yang dimintanya untuk mengambil laporan dari asistennya.
“Ini laporannya Tuan. Kemarin ada pencairan dana sebesar seratus milyar! Ehm...atas nama Nona Joana Ganesha. Apa anda ingin saya melakukan sesuatu tentang itu?” ujar asistennya.
“Seratus milyar? Fuuuhh! Berani juga wanita itu menuliskan jumlah uang sebesar itu di cek yang kuberikan pada ayahnya!” ujar Dion mencibir.
“Biarkan saja! Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku!” Dion tak berekspresi apapun tentang uang yang dicairkan oleh Arimbi itu.
“Iya. Apa itu Tuan?”
“Carikan data dan informasi tentang perusahaan Ganesha!” perintahnya, dia ingin melakukan sesuatu.
“Eh! Untuk apa Tuan? Selama ini perusahaan kita tidak ada kerjasama dengan mereka.”
Dion menatap tajam Yogi sehingga membuat pria muda itu gemetar lalu langsung berkata, “Baik. Akan saya dapatkan semua data pentingnya secepatnya, Tuan.”
“Aku mau semua sudah ada siang ini! Satu lagi, cari tahu siapa yang mencairkan dana seratus milyar itu!” ujar Dion lalu menatap salah satu pengawalnya, “Arsa! Apa pengawal itu masih mengawasi Joana?” tanya Dion.
“Masih Tuan! Menurut laporannya kemarin Nona Joana tidak tampak keluar rumah. Yang ada hanya Nyonya Arimbi yang datang berkunjung sekitar jam 6 sore.”
“Katakan pada pengawal itu agar terus mengawasi Joana!” perintah Dion.
“Baik Tuan.” lalu pengawal bernama Arsa itu mundur meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
“Kamu bisa sarapan dulu bersama yang lain!” ujar Dion pada Yogi.
“Oke. Saya permisi dulu.” Yogi pun keluar dari ruang makan meninggalkan Dion bersama kepala pelayannya saja diruangan itu.
Bukannya langsung menyantap sarapan paginya, Dion malah menopang dagunya dan tampak melamun.
‘Kenapa sejak kejadian malam itu aku tidak pernah bermimpi buruk lagi? Apakah wanita didalam mimpiku itu adalah Joana bukan Arimbi? Mimpi itu tak pernah menggangguku lagi, malam itu Joana memakai topeng wajah Arimbi!’
Dion mencoba untuk menyatukan kepingan puzzle dan menarik benang merah dari mimpi buruk yang selama ini dia alami setiap malam dengan kejadian malam itu bersama Joana. Anehnya mimpi itu sudah tidak pernah mengganggunya lagi dua hari ini. Perasaan Dion semakin berkecamuk dan kacau! Apakah dia sudah salah paham?
Apakah dia salah orang selama ini? Terkadang dia terbangun di tengah malam karena merasa aneh. Mimpi itu tidak pernah mengganggunya lagi tapi malah bayangan malam panjang yang dilaluinya bersama Joana yang terus menerus membayang dibenaknya. Dan perasaan yang berkecamuk dihatinya saat itu sama persis dengan yang dia rasakan setiap kali mimpi itu datang.
Apakah wanita didalam mimpi itu sebenarnya adalah Joana? Apakah ibu dari anaknya adalah Joana? Dia sudah salah orang selama ini? Kenapa semuanya terasa sama persis saat dia bersama Joana? Dion menggelengkan kepalanya, dia mulai menyantap sarapan paginya.
“Amanda! Kamu sudah bangun nak?” suara Pratiwi terdengar dari balik pintu sambil mengetuk.
“Sssshhhhh…….berisik! Aku tidak bisa tidur semalaman! Punggungku sakit, tempat tidur tidak cocok untukku! Kalau Arimbi sudah biasa hidup miskin! Cih! Aku harus segera pergi dari sini! Aku akan menghubungi ayah nanti.”
Tok tok tok
“Amanda! Apa kamu baik-baik saja? Boleh ibu masuk?” tanya Pratiwi lagi sembari mengetuk pintu.
“Euggg…..berisik! Ada apa bu? Mengganggu tidurku saja! Kalau mau masuk ya masuk saja.” teriak Amanda dengan nada tinggi dan sangat ketus!
DEG!
__ADS_1
Pratiwi menyentuh dadanya yang terkejut mendengar sahutan putrinya yang terdengar ketus dan bernada tinggi. Tak sekalipun Arimbi pernah bicara dengan suara seperti itu padanya, tapi Amanda adalah putri kandungnya. Mungkin dia belum terbiasa hidup seperti ini jadi Pratiwi pun memilih bersabar lalu dia mendorong pintu kamar hingga terbuka.
Pratiwi melihat Amanda yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur dengan kantung mata serta lingkaran hitam dibawah matanya. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang, dia bisa menebak kalau putrinya pasti tidak tidur nyenyak semalam.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apa kamu bisa tidur nyenyak?” tanya Pratiwi dengan suara lembut penuh sayang seraya tersenyum menatap Amanda yang malah menatap ibunya itu dengan tatapan mencelos, terlihat jelas ketidaksukaan diwajahnya.
“Apa ibu tidak bisa lihat? Seluruh tubuhku sakit! Aku tidak bisa tidur nyenyak! Mataku bengkak dan bawah mataku hitam karena kurang tidur. Aku tidak betah! Lama-lama tinggal disini punggungku bisa patah! Aku tidak mau tahu ya bu! Tukar tempat tidur ini dengan yang lebih bagus.” ujar Amanda dengan suara keras sehingga Adrian yang melewati kamar itu bisa mendengarnya.
“Jaga bicaramu! Tidak ada yang salah dengan kasur itu! Itu bukan kasur murahan, Amanda belajarlah mensyukuri apa yang ada! Kalau kedatanganmu kesini hanya untuk menyusahkan ibu, untuk apa kamu datang kesini? Ingat Amanda, ini adalah rumahmu! Ibu adalah orang tua kandungmu!” ujar Adrian dengan penuh penekanan karena emosi.
“Sudah….sudah Adrian! Jangan bertengkar lagi. Wajar jika adikmu bilang begitu karena dia tidak terbiasa hidup seperti ini.” ujar Pratiwi mencoba menenangkan Adrian. “Tolong kamu pergi belikan kasur baru untuk Amanda! Tidak apa-apa Adrian! Dia adalah adikmu, jangan bersikap begitu.”
“Apa ada yang salah dengan perkataanku bu? Harga tempat tidur ini bukan murah! Kita selalu membelikan yang terbaik untuk Arimbi dan ini kasur baru! Kalau mau enak menginap di hotel saja! Amanda, katakan alasan kamu datang kesini? Apa karena beritamu yang sedang viral itu makanya kamu datang bersembunyi disini?”
“Adrian!” seru Pratiwi dengan suara tinggi.
“Cukup! Pakailah uang ibu untuk membelikan tempat tidur yang baru untuk adikmu! Bisa kan kamu lakukan itu? Ini pertama kalinya Amanda pulang dan tinggal bersama kita, apa salahnya jika kita membuatnya nyaman disini?” ujar Pratiwi yang tidak mau jika Amanda pergi.
Dia ingin putrinya itu bisa tinggal lebih lama bersamanya jadi dia akan menuruti apapun yang diinginkan Amanda untuk menyenangkannya.
“Tidak usah bu! Aku yang akan pergi membeli kasur yang baru!” ujar Amanda dengan nada sinis sambil menatap Adrian tajam. “Kalau kak Adrian tidak bisa menerimaku disini, tidak masalah aku juga bisa pergi.” kata Amanda menambahkan. “Tidak perlu bicara kasar padaku!”
__ADS_1