
Meskipun dia tahu Agha tidak akan punya maksud lain, tetapi dia tetap tidak suka. Afiknya itu juga adalah seorang pria, bukan tidak mungkin kelsk dia menaruh hati apa Arimbi, pikir Emir.
“Sekarang waktunya makan siang, Emir. Mau sesibuk apapun aku tetap harus makan kan?” jawab Agha mendengus kesal.
Sebenarnya dia takut Emir akan menyuruhnya ke Afrika untuk urusan bisnis. Jika kulitnya yang lembut menjadi rusak karena sinar matahari yang terik, maka dia tidak akan bisa memikat wanita lagi begitu kembali kesini.
Emir hanya menanggapi dengan mendengus dua kali tanpa mengatakan apa pun.
“Arimbi, kamu terlihat agak aneh.” Agha sadar kalau Arimbi senyum diam-diam dan bibirnya sedikit bengkak jadi dia bertanya dengan khawatir. “Apakah kamu baik-baik saja Arimbi?”
Emir menoleh pada istrinya yang cantik lalu melihat dia sedang menatap Agha dengan senyum lembut. Emir marah lalu berkata dengan singkat. “Apa yang aneh dari Arimbi? Apa pakaiannya terbalik atau semacamnya? Dia hamil! Wajar kalau aneh.”
“Emir, kamu sangat sensitif hari ini. Kelihatannya kamu kesal padaku.” memangnya aku salah apa pikirnya. Tiba-tiba dia membelalakkan matanya, apa katanya tadi? Arimbi hamil? Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kakakku itu impoten?
Setelah tersadar, Arimbi buru-buru berkata, “Aku tidak apa-apa Tuan Muda Agha, aku hanya sedang memikirkan masa depanku dengan kakakmu dan calon anak kami hingga tidak bisa menahan senyum bahagia,”
“Sial! Tak kusangka kalian akan pamer kemesraaan. Eh, tunggu! Calon anak?” tanya Agha terkejut. Kenapa aku baru tahu sekarang? Apa Emir selama ini pura-pura saja? Nyatanya dia bisa membuat Arimbi hamil? Oh….ini sungguh berita besar! Syukurlah….itu artinya aku tidak akan didesak untuk cepat menikah dan punya anak.
“Ya, apa kamu itu tuli? Tidak paham juga, aku sudah bilang berulang kali. Arimbi hamil. Ingat ya, jangan sampai ada yang tahu tentang itu.” ujar Emir lagi. Agha langsung mengangguk cepat, tidak mau ada masalah. Pasti mereka sengaja menyembunyikan ini demi keamanan mereka, pikirnya.
Sementara itu semua kecemburuan Emir menguap entah kemana. Ternyata Agha bukanlah alasan kenapa Arimbi tersenyum. Dia tersenyum karena membayangkan masa depan mereka bersama anak-anak mereka yang penuh kebahagiaan. Wanitanya Emir pasti akan menjadi wanita paling bahagia di kota ini!
Mereka berada ditempat yang biasa dengan makanan yang biasa. Tidak, bukan makanan biasa yang sama lagi karena sekarang banyak makanan yang disukai Arimbi. Saat makan bersama pasangan itu, Agha mengamati makanan yang tidak dia sukai.
__ADS_1
Dia tidak tahan lalu bertanya pada kakaknya, “Emir, seingatku kamu tidak suka masakan asam manis, tapi kenapa kamu memesan makanan seperti ini belakangan ini?”
“Kamu tidak suka?”
“Seleraku hampir sama denganmu. Kita berdua tidak suka masakan asam manis.” jawab Agha.
“Aku memesan ini untuk kakak iparmu. Terus kenapa? Masalah buatmu? Kalau iya, jangan duduk disini. Ada makanan dan minuman untukmu tapi kamu masih saja mengeluh dan pilih-pilih makanan. Pindah meja dan pesan saja semua makanan kesuakaanmu kalau kamu mau.”
Agha langsung menunduk untuk melahap kentang rebus dan berpikir bahwa mengajukan begitu banyak pertanyaan itu tidak baik! Tiba-tiba piringnya dipenuhi dengan makanan beraroma asam manis.
“Emir!” teriaknya kaget.
“Kakak iparmu sedang ngidam! Dia ingin melihatmu memakan itu semua!” ucap Emir memelototinya.
Agha akhirnya memakan semua makanan yang diberikan langsung ke piringnya oleh kakaknya. Sekalipun makanan itu adalah peria, dia harus membayangkan bahwa peria itu manis lalu menghabiskannya.
Emir terus menerus mengingatkannya bahwa tidak boleh menolak keinginan wanita hamil karena itu tidak baik untuk bayinya.
Adapun makanan yang Emir berikan adalah udang saus nanas, ikan asam manis dan acar. Semuanya jauh lebih enak daripada peria.
“Kamu tidak suka masakan asam manis Emir?” tanya Arimbi. Sejak dia suka makan bersama Emir, mereka selalu menyantap banyak masakan asam manis. Arimbi berpikir bahwa selera mereka sama.
“Aku tidak pilih-pilih makanan. Aku bisa makan apa saja.” jawab Emir seraya menatap tajam kearah adiknya yang dengan susah payah melahap makanannya.
__ADS_1
Kepala Agha semakin menunduk lebih rendah. Lalu dia bergumam pelan, “Arimbi, aku suka pilih-pilih makanan dan aku tidak suka masakan asam manis. Aku tidak seperti Emir si pemakan segalanya.”
Nada suaranya dipenuhi dengan keinginan untuk bertahan hidup!
“Agha adalah koki yang hebat, jadi wajar saja jika dia pilih-pilih makanan,” kata Arimbi. “Kapan kamu akan mentraktirku makan, Agha? Kamu harus menyiapkannya sendiri, oke? Pasti bayiku akan senang sekali memakan masakanmu.”
Makanan yang disiapkan secara langsung oleh manajer umum The Palm Bliss hotel pasti enak, pikirnya. Emir pernah berkata bahwa adiknya adalah seorang koki jempolan. Itu sebabnya dia merupakan penanggung jawab bisnis makanan dan minuman.
Agha mendongak. Awalnya dia ingin menolak tetapi ketika sudut matanya melihat bahwa Emir sedang menatapnya, dia cepat-cepat berubah pikiran.
“Baiklah. Aku sendiri akan menyiapkan meja yang penuh dengan makanan lezat saat aku libur di akhir pekan ini. Kita bahkan dapat mengundang saudara-saudara kita dan mengadakan perjamuan.”
“Aku akan pergi bersenang-senang bersama Emir akhir pekan ini.” kata Arimbi.
“Kalian mau kemana?” tanya Agha. Dia sangat senang saat mendengar Emir bersedia jalan-jalan dan bersenang-senang. Dia semakin menyukai Arimbi karena telah mengubah Emir perlahan-lahan. Setelah kecelakaan yang dialami Emir, sang nenek bahkan gagal mengajaknya pergi bersenang-senang.
Sehari-harinya, dia paling diam dirumah, kantor atau hotel. Dia hanya bepergian ke antara tiga tempat itu sehingga para tetua dirumah sangat khawatir.
“Kami akan pergi ke istal. Apa kamu mau ikut?” tanya Emir kepada adiknya dengan tenang. Dia pikir semakin banyak orang maka akan semakin seru.
Apalagi sudah lama dia tidak bersenang-senang dengan saudaa-saudaranya. Karena Agha adalah adiknya, dia berani menemui Emir sekali-kali. Berbeda dengan sepupunya yang lain.
Selain untuk urusan pekerjaan, mereka tidak berani menemuinya karena takut akan membuatnya kesal. Mereka sangat menghormati bahkan memuja Emir baik dirumah maupun di perusahaan.
__ADS_1
“Tentu saja aku ikut. Kalau kamu tidak keberatan aku jadi obat nyamuk. Aku pasti akan datang. Aku juga sudah lama tidak berkuda. Haruskah aku mengajak Andrew dan yang lainnya Emir?” tanya Agha. Sudah lama mereka tidak berkumpul bersama saudara-saudaranya yang lain.