
“Keluarga saya dan keluargamu tidak setinggi mereka. Sudahlah jangan terlalu muluk-muluk, keluarga-keluarga itu jauh dari jangkauan kita.” ujar Yessi kanchana lagi. Setelah mengucapkan kata-kata ejekan itu, dia menambahkan lagi, “Oh saya lupa. Anda mempunyai kesempatan untuk mendaki lebih tinggi. Bukankah Keluarga Serkan melamar Arimbi untuk Tuan Muda Emir? Arimbi sendirilah yang bersikeras ingin menikahi Reza sehingga dia sendiri yang membuang peluang itu dan membakar jembatan dengan Keluarga Serkan?” Yessi mendengus.
“Nyonya Rafaldi, saya benar-benar tersentuh ketika Arimbi menolak lamaran Keluarga Serkan demi Reza. Saya pikir Reza telah menemukan orang yang tepat. Bisakah anda memberitahu saya mengapa anda menolak lamaran itu tiba-tiba ketika semuanya berjalan dengan baik?”
Sebaliknya, Mosha mencemooh dan bertanya sebagai balasan,m”Saya juga penasaran ya Nyonya Kanchana, mengapa tiba-tiba anda melamar atas nama putra anda? Apakah mereka sangat tergila-gila satu sama lain atau apakah anda melakukan ini untuk balas dendam pada Arimbi?” tanya Mosha.
Yessi tidak mengatkan apa-apa lagi. Dia segera berdiri dan berkata, “Ingat apa yang saya katakan tentang memikirkan kembali tawaran saya Nyonya Rafaldi! Saya pergi dulu.”
Setelah itu Mosha menunjuk pada hadiah yang entah bagaimana caranya sudah memenuhi sebagian besar rumahnya hingga ke lorong. “Tolong bawa hadiahnya kembali! Jika tidak maka saya akan membuangnya. Lagipula bukan saya yang akan rugi.”
Ekspresi malu dan bersalah muncul diwajah Yesssi saat itu tetapi dia tetap meminta pekerjanya untuk memindahkan semua mahar yang dibawanya. Bagaimanapun dia sudah mencapai tujuannya datang kesini. Yessi mengambil langkah santai keluar dari rumah utama dan menatap langitbiru yang cerah. Betapa menyenangkannya hari ini bisa membalas dendam!
Tepat saat Yessi pergi dan pasukan kecilnya pergi, Arimbi secara kebetulan kembali. ‘Apa yang dilakukan Nyonya Kanchana disini dengan begitu banyak orang?’ Arimbi bertanya-tanya saat bergegas masuk kedalam rumahnya. Tepat saat dia masuk dia melihat ibunya memecahkan gelas karena marah, “Ibu? Ada apa?” tanyanya hati-hati setelah bergegas kesisi Mosha.
“Apa yang dilakukan Nyonya Kanchana disini? Aku kebetulan melihat mobilnya pergi saat aku baru sampai tadi.” ujar Arimbi mengkhawatirkan ibunya.
“Oh, aku sangat marah hingga rasanya bisa kena serangan jantung! Dia datang kesini untuk mengantarkan mas kawin!” Mosha berkata sambil memukul sofa dengan tangannya.
“Bukankah ibu sudah menolak lamaran Reza untukku, Bu? Si Reza sialan itu! Aku sudah mengatakan dengan cukup jelas padanya. Beraninya dia menyuruh ibunya membawa mas kawinnya?” Arimbi berpikir itu adalah ide Reza.
“Arimbi, Nyonya Kanchana datang untuk melamar Amanda untuk Reza! Dia mencoba membalas dendam padamu.” ujar Mosha. Dia sangat senang melihat Arimbi pulang terlambat dan menghindari bertemu Yessi Kanchana. Dia hanya bisa membayangkan betapa marahnya putrinya jika dia melihat eskpresi diwajah Yessi tadi.
__ADS_1
Arimbi terdiam sejenak, “Bagaimana ibu membalasnya Bu?”
“Aku menolaknya! Aku sudha mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkan Amanda dan Reza bersatu! Tidak mungkin aku akan mengijinkannya kecuali Amanda memutuskan hubungan dengan keluarga kita!” jawab Mosha penuh penekanan. Karena baginya sekarang adalah jika Amanda tidak patuh lagi padanya maka lebih baik Amanda pergi dari rumahnya. Ini adalah cara halus Mosha untuk mengusir Amanda jauh-jauh.
Arimbi memeluk ibunya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Baik Yadid maupun Mosha mulai curiga pada Amanda tetapi cara mereka menanganinya sangat berbeda. Yadid berharap Arimbi akan mencoba bergaul dengan Amanda karena dia memiliki posisi kuat di perusahaan sedangkan disisi lain Mosha mencoba semua yang dia mampu lakukan untuk menghentikan Amanda dari bergerak lebih maju.
“Ibu! Terimakasih sudah melakukan banyak hal denga ikhlas untukku.”
Arimbi tahu Mosha sangat marah karena dia menikahi Emir. Karena itu dia hanya bisa membiarkan ibunya menjewer telinganya. “Maafkan aku Ibu. Aku salah.”
“Kamu salah? Tapi sepertinya kamu tidak terlihat seperti orang yang tahu dimana letak kesalahanmu!”
Mosha merasa tidak enak hati ketika telinga Arimbi mulai memerah lalu dia melepaskannya sebelum mendorong Arimbi menjauh darinya, tidak membiarkan putrinya terlalu dekat dengannya.
“Ayo ikut ke atas denganku.” ujar Mosha.
Arimbi pun dengan patuh mengikuti langkah ibunya, ketika mereka tiba diruang belajar dilantai dua, Mosha langsung berjalan ke rak buku dan membukanya sebelum dia mengeluarkan kemoceng. Melihat itu Arimbi langsung memanggil dengan suara lembut nan manis, “Ibu….aku tahu salahku dimana tapi aku sudah dewasa. Ibu seharusnya tidak menggunakan kekerasan untuk mendidikku lagi. Menggunakan kekerasan itu mudah membuat anak-anak trauma.”
__ADS_1
Mosha tertawa kecil mendengarnya, “Oh—jadi itu membuatmu takut? Arimbi Rafaldi! Lebih baik kamu memberiku alasan yang tepat untuk menyakinkanku.”
Mosha dengan penuh tenaga memukul kemoceng itu keatas meja membuat suara keras sehingga Arimbi terkejut dan melompat saat itu juga.
“Ibu pergi menemui Tuan Emir untuk bicaranya dengannya dan dia mengatakan kalau kamu yang memaksanya untuk menikahimu. Katakan padaku Arimbi mengapakamu melakukan hal seperti itu?”
Kemoceng di tangan Mosha tidak berhenti melayang diudara dan mendarat diatas meja. Suaranya mengintimidasi juga tidak pernah berhenti. Sepertinya kali ini Mosha benar-benar sangat marah. Tapi tetap saja meskipun dia marah tapi dia tidak pernah memukul Arimbi dengan kemoceng ditangannya.
Arimbi bahkan hampir tidak percaya bahwa ibunya sendiri yang akan pergi menemui Emir langsung.
Dia bahkan tidak perlu bertanya pada ibunya untuk mengetahui mengapa seorang wanita yang lebih tua yang mendatangi Emir. Rasa syukur yang tak terucap pun mulai memenuhi hati Arimbi. Selain itu saat dia mengingat semua tragedi yang terjadi pada keluarganya dikehidupan sebelumnya membuat mata Arimbi meneteskan airmata.
“Aih….kamu menangis padahal aku tidak memukulmu.” Mosha memukul meja sekali lagi sebelum dia melemparkan kemoceng keatas meja. Kemudian dia berjalan mendekati Arimbi dan membawanya ke sofa. Dengan sedih dan berat hati dia menghapus airmata putrinya.
“Arimbi, kamu adalah putriku. Meskipun kamu tidak tumbuh bersamaku tapi darah selalu lebih kental daripada air. Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu. Bisakah kamu memberitahuku apa yang membuatmu berubah pikiran tidak mau menikahi Reza? Bukankah sebelumnya kamu sangat menyukainya?”
“Bu,” Arimbi mengucapkan satu kata dan air matanya mulai jatuh. Melihat itu Mosha dengan cepat menghapusnya.
“Sssttt….jangan menangis Arimbi. Kamu tidak perlu mengatakan apapun jika kamu tidak mau. Aku akan berhenti bertanya tapi Arimbi kamu masih muda untuk menghabiskan seumur hidup dengan pria seperti Emir yang kondisinya lumpuh. Hidupmu akan semakin sulit kedepannya.”
Mosha menghela napas lalu menghapus airmata putrinya lagi, matanya mulai memerah juag setelah itu dia kembali menghela napas panjang.
“Ibu, aku akan memberitahumu.” akhirnya Arimbi menyeka airmatanya sendiri dan mulai memberitahu Mosha tentang kehidupan dikehidupan sebelumnya tetapi dia membuatnya seolah-olah semua adalah mimpi yang sering dia alami.
__ADS_1
Setelah mendengarkan cerita Arimbi, Mosha menatap putrinya dengan ekspresi bingung. Dia tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis mendengar kisahnya. Tetapi mendengar kisah putrinya membuat hatinya penuh rasa sakit.