
Hanya orang bodoh saja yang tidak mau berada disisi Emir. Tentu saja Arimbi tidak tinggal bersama Emir hanya untuk mengejar kesuksesannya tapi dia juga ingin membalas budi atas kebaikan Emir dikehidupan sebelumnya.
“Huh! Perayu ulung! Bagaimana bisa kamu mengatakan kamu itu mencintaiku dengan tulus? Akta nikah saja bisa hilang? Jika kamu benar-benar tulus padaku maka kamu akan memperlakukan akta nikah itu sebagai hartamu dan menyimpannya dengan baik.”
Berbicara tentang akta nikah Arimbi pun bergumam, “Aku benar-benar memiliki akta nikah itu. Tapi setelah kamu membuatku pingsan aku kehilangan akta nikahku setelah aku bangun. Emir, apakah kamu mengambil akta nikahku?” tanya Arimbi yang tak percaya jika akta nikah itu hilang begitu saja.
“Apa kamu melihatku mengambil akta nikahmu?” ucap Emir.
Arimbi menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Kalau begitu, diam!”
Arimbi pun mendengus mendengarnya, “Aku pergi sekarang ya. Hadiah untukmu hari ini telah kuserahkan pada Rino. Kamu dapat menerimanya ketika kamu berada didalam mobil.”
Mendengar itu Emir merasa tidak senang, “Kamu harus memberikan hadiahku langsung padaku mulai besok! Jangan pernah dititip pada orang lain.”
‘Beraninya dia memberikan hadiahku kepada pria lain? Bahkan jika pria itu adalah pengawal pribadiku dan tidak akan pernah naksir sama dia, aku tetap tidak akan mengizinkannya!’ perasaan cemburu Emir semakin tumbuh besar tanpa disadarinya.
“Aku mengerti Emir, rindukan aku hari ini ya. Jika kamu punya waktu disiang hari undang aku ke The Palm Bliss Hotel untuk makan siang. Aku akan senang sekali bisa makan siang berdua dengan suamiku yang tampan dan baik hati. Aku mencintaimu, Emir.” ucap Arimbi yang sudah berada dipintu.
__ADS_1
“Dasar tukang makan!” seru Emir mengerucutkan bibirnya. Dia merasa sedikit tersanjung dengan kata-kata manis yang terucap dari bibir istrinya itu.
Sementara itu di kediaman Rafaldi, tampak Amanda sedang makan dengan anggunnya bersama Yadid ayah angkatnya lalu berkata, “Ayah, aku akan terlambat datang ke kantor hari ini. Aku mungkin absen dari rapat manajemen internal di pagi hari.”
“Ada apa?” Yadid menoleh dan bertanya. Dia telah mencurahkan banyak upaya untuk melatih penggantinya kelak, Amanda. Jika saja dia tidak mengetahui bahwa anak kandungnya telah ditukar dia akan menyerahkan perusahaan kepada Amanda.
Kemudian dia akan membawa istrinya berkeliling dunia menebus penyesalan masa muda mereka, Sayang sekali sepertinya Tuhan tidak ingin dia pensiun dini. Meskipun Arimbi mengatakan dia ingin bekerja di Perusahaan Rafaldi, apakah dia benar-benar meminta izin pada Tuan Emir dan sudah mendapatkan persetujuannya? Yadid memikirkan banyak hal saat ini.
Misalkan jika dia mengizinkan anak perempuannya mengambil alih perusahaan maka tidak akan ada orang luar yang akan mengambil alih bisnis keluarga, Mosha yang duduk diseberang meja menatap Amanda.
‘Ayah, ibu kandungku mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit umum Metro. Dia adalah ibu kandungku lagipula aku harus membalasnya setelah tidak bertemu dengannya selama dua puluh tiga tahun. Aku akan merasa bersalah jika aku tidak mengunjugninya dan menemaninya sekarang.”
“Dia tahu!” jawab Mosha mengambil alih pembicaraan. “Arimbi bersama Pratiwi kemarin. Amanda benar, Pratiwi adalah ibu kandungmu dan kamu tidak dapat membalas budinya di masa lalu. Sekarang dia sedang sakit dan dirawat jadi kamu yang harus merawatnya. Sayang, biarkan Amanda merawat pratiwi selama beberapa hari dengan tenang. Biarkan yang lain mengambil alih pekerjaannya sementara waktu ini.”
“Bu, aku bisa menyeimbangkan pekerjaanku dengan baik.” ucap Amanda. Amanda sengaja berperilaku baik dihadapan orang tua angkatnya namun dia tidak pernah berpikir bahwa Mosha akan memaksanya untuk tinggal bersama Pratiwi dan tidak kembali ke kantor selama beberapa hari. Apakah dia ingin mengambil kesempatan untuk membiarkan Arimbi bergabung dengan perusahaan?
‘Dengan kemampuan Arimbi, memangnya posisi apa yang bisa dia lakukan bahkan jika dia bergabung dengan Rafaldi Group? Oh iya...dia bisa menjadi pembersih.’ bisik hati Amanda tertawa dalam hatinya.
“Aku tahu kamu mampu mengurus pekerjaanmu. Tapi kamu akan kelelahan, Pratiwi dan aku akan sangat khawatir. Antara ibu kandung dan pekerjaanmu kamu harus lebih mengutamakan ibu kandungmu! Jangan kahwatir soal pekerjaan, ayahmu akan menanganinya!” ucap Mosha.
__ADS_1
“Amanda, dia benar. Kamu harus merawat ibu kandungmu beberapa hari ini sampai dia sembuh. Kamu bisa kembali bekerja setelah dia sembuh dan keluar dari rumah sakit.” ujar Yadid yang sependapat dengan istrinya.
“Oh, terimakasih atas pengertianmu.” jawab Amanda.
Mosha tersenyum dan berkata, “Jangan berterimakasih. Meskipun aku enggan melepaskanmu tapi kamu bisa tinggal bersama ibu kandungmu. Lagipula aku bersyukur Pratiwi sudah membesarkan Arimbi dengan baik untukku. Sup hati ini juga enak, kamu bisa memasukkannya ke kotak makan siang untuk ibumu.”
“Bu, terimakasih atas perhatianmu. Aku sudah menyiapkan sup dan sarapan bergizi untuknya. Aku akan mengirimnya ke Pratiwi setelah sarapan denganmu.” Amanda melakukan aktingnya dengan sangat baik dihadapan orang tua angkatnya. Keluarga yang terdiri dari tiga orang itu tampaknya menyelesaikan sarapan mereka dengan gembira.
Kemudian Mosha meminta seorang pelayan untuk mengemas beberapa suplemen nutrisi dan memberikan sejumlah uang pada Amanda, “Amanda, ini titipanku untuk Pratiwi. Katakan padanya bahwa aku akan mengunjunginya ketika aku ada waktu luang. Minta dia supaya tidak kahwatir tentang apapun dan berharap dia cepat sembuh.”
Amanda mengambil setumpuk uang tunai itu yang diperkirakan jumlahnya satu juta rupiah. “Terimakasih Bu.” Amanda tampak bersyukur tapi tidak ada yang tahu apa yang ada didalam pikirannya. Dia emngambil kotam makan siang dan suplemen setelah itu pamit, “Bu, aku pergi ke rumah sakit sekarang.”
“Baiklah. Hati-hati dijalan.” ucap Mosha tersenyum namun kelembutan di wajah Mosha menghilang setelah Amanda pergi.
“Sayang!” Yadid memanggil Mosha. Ketika dia memandangnya dia berkata dengan hangat, “Keluarga Darmawan membesarkan Arimbi untuk kita jadi kita tidak dapat memaksanya berhenti berhubungan dengan mereka. Amanda tinggal bersama kita selama dua puluh tiga tahun jadi sulit juga baginya untuk menerima Keluarga Darmawan. Jangan terlalu banyak bertanya padanya, aku tahu kamu meragukan Amanda setelah apa yang dia katakan. Sejujurnya aku juga begitu. Tapi kita membesarkannya bersama dan dia adalah penerus yang aku lati. Sebelum Arimbi memiliki kemampuan untuk menjadi penerus, kita harus memperlakukan Amanda seperti biasa dan membiarkannya mendukung Arimbi.”
Mosha mengerutkan bibirnya, “Aku juga tidak berpikir buruk tentang Amanda, tapi aku tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak benar-benar memperlakukan Arimbi dengan baik dan hanya bersikap baik didepan kita. Meskipun ibu kandungnya mengalami kecelakaan dia bahkan tidak mengunjunginya. Dia hanya pergi kesana setelah aku menelepon. Meskipun aku memperlakukan Amanda sebagai putriku selama dua puluh tiga tahun tapi aku tidak memahaminya sekarang.”
Mosha terpaksa mendukung Arimbi bersama Reza karena dia mencintainya. Seperti yang dikatakan oleh Amanda padanya. Jadi Arimbi menyinggung Emir karena mengejar cinta sejatinya namun Emir mengatakan bahwa Arimbi yang memaksanya untuk menikahinya.
__ADS_1
Mosha bahkan tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran putri kandungnya itu. Tapi tidak peduli apapun alasannya, Mosha berpikir bahwa itu semua adalah kesalahan Amanda.