
Arimbi tak memperlakukannya seperti dulu lagi, membuat Reza sedikit patah hati selama beberapa waktu. Melihat Arimbi datang atas kemauannya sendiri, Reza berpikir kalau wanita itu ingin berbaikan dengannya. Jadi dia dipenuhi rasa gembira begitupun dengan orangtuanya. Yessi mendengus tak senang.
“Jadi ia akhirnya menjadi panik sekarang? Menyesali keputusannya ya? Bukankah dia bersikap sangat angkuh, seakan putraku tak layak untuk mendapatkannya.”
“ibu!” panggil Reza. “Ibu tidak bisa menyalahkan Arimbi sepenuhnya. Arimbi marah karena aku yang bersalah, ibu aku akan masuk dulu. Bisakah ibu dan ayah diam disini saja dulu?”
Reza bermaksud ingin membujuk dan membodohi Arimbi supaya dia bisa berubah seperti dia yang dulu dan bersedia menjadi wanita simpanannya.
Sama seperti Amanda yang bersedia menjadi wanita simpanannya. Hanya dengan cara itulah dia akan bisa menikmati hidup yang sesungguhnya! Dia bisa menikmati harem!
Yessi memasang wajah cemberut, Harry Kanchana langsung menariknya. Melihat kalau itu berarti Harry menyetujui untuk tak mengganggu urusan putra mereka, dengan sarkastik Yessi berkata, “Bilang saja padanya kalau sudah terlambat untuk menyesali semuanya!”
Reza mengabaikan apa yang dikatakan ibunya, dengan langkah cepat dia masuk kedalam rumah.
Reza melihat Joana Ganesha yang sedang duduk di sofa sementara Arimbi mengambil banyak hiasan dan barang-barang lainnya yang ditempatkannya di meja ruang tamu.
Saat mendekat, Reza melihat kalau semua benda itu adalah hadiah pemberian Arimi kepadanya dulu. Dulu, Arimbi pernah berkata kalau setiap benda itu sangat bernilai mahal.
Untuk membuat wanita itu berpikir seolah Reza mencintainya juga, Reza memajang semua benda yang diberikannya. Hal itu dilakukannya supaya dia bisa memperlihatkan betapa pentingnya Arimbi baginya.
“Arimbi, kamu sudah datang?” Reza tersenyum sebelum melihat Arimbi mengambil sebuah vas bunga antik. “Arimbi, ini adalah barang antik yang kamu berikan padaku. Aku sangat menyukainya.”
Reza tersenyum seolah-olah dia sangat senang dan menyukai semua barang-barang antik berharga mahal itu. Lalu dia berkata lagi, “Aku sengaja memajangnya diruang tamu, setiap kali ada tamu dtaang aku selalu memuji betapa berharga dan cantiknya vas bunga yang kamu berikan padaku ini.”
Tanpa menjawab, Arimbi telah memindahkan semua barang pemberiannya ke atas meja. Sekarang yang tersisa adalah yang ada dikamar pria itu.
__ADS_1
“Reza, aku ingin pergi ke kamarmu dan memeriksa barang-barang disana.” ujar Arimbi. Arimbi tak ingin mengatakan apa tujuannya meminta hal itu tanpa basa basi. Hal itu membuat mata Reza berkilauan.
‘Memasuki kamarku katanya?’ gumamnya didalam hati dengan gembira. Pria itu menatap Joana dan dia merasa cemas kalau dia akan menghentikan Arimbi untuk memasuki kamar bersamanya.
Setelah melihat Joana yang menatapnya tanpa emosi dan tidak berkata apapun, Reza tersenyum kearah Arimbi. “Baiklah. Ayo ikuti aku saja Arimbi.” ujarnya sambil ingin memegang tangan Arimbi tapi ditolak wanita itu.
“Tunjukkan saja jalannya.” ujar Arimbi dengan tenang.
“Baiklah.” jawab Reza tersenyum. Dia pasti tak ingin aku menggenggam tangannya karena ada Joana disini, pikir Reza. Sambil tersenyum menyeringai, Reza berjalan kelantai atas diikuti Arimbi dibelakangnya. “Arimbi, ini kamarku. Kamu pernah melihatnya dulu, iyakan.”
Reza yang membukakan pintu kamarnya kemudian berdiri didekat pintu masuk setelah menyambut Arimbi untuk masuk kedalam. Setelah Arimbi masuk, pria itu mengikutinya lalu menutup pintu .
Reza mendekat untuk memeluk Arimbi dari belakang tetapi refleks Arimbi yang cepat dengan sigap emnangkap tangan pria itu yang menyentuh pinggangnya.
“Reza Kanchana! Aku datang hari ini untuk mengambil semua barang yang pernah kuberikan padamu. Jadi akan lebih baik kalau kamu diam saja. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika terpaksa berbuat kasar. Aku yakin kamu belum pernah melihat apa yang bisa kulakukan dengan tangan dan kakiku, kan? Percayalah, aku bisa membuatmu lumpuh seumur hidupmu!”
Kalimatnya itu langsung membuat Reza teringat pengalamannya yang menyedihkan dimana dia dibaning oleh Arimbi. “Arimbi, to—long kita bisa bicarakan semua baik-baik. Aku janji tidak akan menyentuhmu lagi.”
Arimbi hanya menjawab dengan dingin, “Aku masih tidak percaya padamu!”
Kemudian dia menarik paksa dasi yang dipakai Reza lalu mengikat kedua tangan pria itu. Sudah sewajarnya Reza tak akan membiarkan dirinya diikat seperti itu, jadi dia pun membalas dengan menerkam Arimbi. Tapi……
Brak!
Brak!
__ADS_1
Brak!
Reza yang dibanting oleh Arimbi beberapa kali, kemudian dihantam ke dinding begitu kerasnya hingga dia perlahan merosot dari dinding seperti daun yang jatuh dari pohon.
Arimbi mengabaikan tatapan terkejut pria itu lalu mendekat dan menggunakan lututnya untuk menindih tubuh bagian atas pria itu supaya bisa mengikat kedua tangan Reza kebelakang.
Setelahnya, Arimbi berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya. Dia meregangkan kakinya, “Sudah lama aku tak menunjukkan kemampuanku. Terima kasih atas kesempatannya. Setidaknya aku bisa meregangkan otot-otoku.”
Reza masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja menimpanya. Apakah orang ini sunguh-sungguh Arimbi yang dia kenal selama ini? Kenapa kekuatan tangannya sangat besar?
Arimbi yang dulunya lemah lembut, hati-hati dalam bersikap, sangat patuh dan tak pernah melawannya tapi kali ini malah menghajarnya dan melemparnya seolah dia adalah sekarung beras.
Yang membuat Reza tak terima adalah pria bertubuh tinggi itu sepertinya bahkan tak bisa melawan wanita itu. Dia tak tahu kalau Arimbi sangat mahir dalam ilmu bela diri!
Setelah Arimbi mengikat pria itu, dia mulai mengelilingi kamar dan perlahan mengemas setiap barang yang pernah ia berikan pada Reza kedalam kopernya. Termasuk benda seperti baju. “Hei, jam tangan yang kamu pakai itu juga hadiah dariku. Kembalikan padaku!” ujarnya lalu melepaskan jam tangan mahal yang dia beli itu dari pergelangan tangan Reza dengan paksa.
“Aku juga memberimu ponsel.” Dia mengeluarkan ponsel dari saku pria itu lalu melepaskan kartu sim dan melemparnya pada Reza sebelum melempar ponsel itu kedalam koper. “Sepatu dan kaus kakimu juga aku yang membeli semuanya. Akan ku ambil juga. Celana dalammu itu boleh kamu pakai, aku tidak butuh!”
Arimbi pun mulai melepaskan sepatu, kemeja bahkan setelannya setelah dia mengecek label dan menemukan kalau dia yang menghadiahkan benda itu juga. Saat ini Reza yang tangannya diikat dan dihajar habis-habisan oleh Arimbi sama sekali tak berniat melawan.
Dia hanya bisa melihat Arimbi yang mengambil semua hadiahnya bahkan barang terekcil seperti gantungan kuncipun diambil.
Menyadari kalau dia sudah tidak bisa memasukkan semua barang kedalam koper, arimbi menemukan sebuah koper besar kemudian mengisinya juga.
Setelah memastikan kalau dia telah memasukkan semua benda yang ia berikan pada Reza kedalam dua koper, arimbi membawanya turun.
__ADS_1