
Arimbi semakin menyukai suaminya lalu wanita itu menundukkan kepalanya dan mengecup pipi Emir sambil tersenyum senang, “Aku akan berusaha keras, Emir. Terimakasih untuk semangatnya. Aku akan membuatmu bangga padaku.” ujarnya.
Dia tidak mengharapkan jika Emir tidak menunjukkan ekpresi apapun setelah menciumnya. Arimbilah yang selalu menciumnya duluan meskipun kadang Emir pun membalasnya tapi balasannya tidak pernah menggebu-gebu.
Arimbi pikir itu mungkin karena Emir tidak bisa intim secara seksual. “Balik kerumah. Aku mau istirahat.” ucap Emir. Arimbi pun mendorong kursi rodanya kearah rumah dan langsung masuk ke kamar Arimbi. Sepertinya malam ini pria itu akan tidur dikamarnya, dan ini sudah beberapa hari suaminya itu tidur disana. Setelah kembali ke kamar, Emir meminta Arimbi untuk menyiapkan air mandinya.
“Emir suamiku, apakah kamu mau aku membantu menggosok punggungmu?” tanya Arimbi berjalan keluar dari kamar mandi menatap suaminya yang menggerakkan kursi rodanya ingin masuk ke kamar mandi tapi terhalang oleh Arimbi yang berdiri di pintu kamar mandi dengan senyum manisnya.
Emir yang menatap senyum manis itupun berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Dengan senang hati Arimbi bergegas berjalan kebelakang kursi roda dan mendorong masuk kedalam kamar mandi. Dia membantu Emir melepaskan kimono yang dipakainya dan masuk kedalam bak mandi.
Arimbi yang masih terpesona oleh bayangan tubuh kekar suaminya itu hanya bisa menelan ludah dan berdiri menatap Emir yang sudah berbaring di bak mandi. Pikiran nakal Arimbi travelling kemana-mana membayangkan seandainya pria itu normal dan tidak mengalami masalah seksual sudah bisa dipastikan malam-malam yang dilalui Arimbi pasti sangat menyenangkan dan panas.
Emir yang menyadari kalau Arimbi hanya dia menatapnya memercikkan air ke arah istrinya untuk menyadarkannya. “Kamu bilang akan menggosok punggungku.”
“Oh...ah….i—iya. Aku akan menggosok punggungmu.” ujar Arimbi lalu melepaskan seluruh pakaiannya didepan Emir dan bergegas masuk ke bak mandi. Emir terbelalak melihat pemandangan tubuh montok nan mulus istrinya yang tak tahu malu melepaskan seluruh pakaian didepannya dan memperlihatkan tubuh polosnya.
__ADS_1
‘Sialan! Wanita tak tahu malu ini apa sengaja menggodaku? Apa dia benar-benar mengira kalau aku ini impoten? Hmmm….enak sekali sentuhan tangannya.’ bisik Emir didalam hatinya. Saat tangan lembut itu menyentuh punggungnya dan mulai menggosoknya. Pria itu terpaksa menelan salivanya dan menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan tubuh polos Arimbi. Tapi sekuat apapun dia mencobanya, bayangan itu terus saja muncul.
Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan meraup bibir seksi istrinya. Arimbi yang terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya itu pun terperanjat dengan mata membelalak tak percaya. Saat merasakan bibir lembut dengan aroma khas milik Emir membuat Arimbi membalas ciuman suaminya. Keduanya saling berpelukan didalam bak mandi dan saling berciuman. Arimbi dengan ganasnya melahap bibir suaminya dan memainkan lidahnya dirongga mulut Emir.
Pria itu tak mau kalah, dia pun melakukan hal yang sama. Emir merasakan letupan hasrat didalam dirinya yang mulai mengalir kebagian bawah tubuhnya. Arimbi yang tak menyadari terus saja menciumi suaminya melampiaskan semuanya pada bibir seksi yang sudah jadi candunya. '
Ah, baru kali ini Emir menciumku duluan. Hmm…..dia sangat bergairah! Ya ampun, ternyata dia pencium yang handal.’ bisiknya dalam hati. Sepasang suami istri itu berciuman cukup lama dan baru melepaskan setelah keduanya kehabisan napas.
“Wow, Emir…...kamu luar biasa, suamiku.” goda Arimbi berbisik ditelinga Emir dengan suara manja nan lembut yang dibuat-buat. Dia tidak tahu kalau bagian bawah suaminya itu sudah bereaksi sejak tadi. “Emir sayangku, bisakah kita lanjutkan nanti? Kamu membuatku kehabisan napas.”
Emir hanya menatap istrinya itu lalu membalikkan tubuh, Arimbi tahu maksudnya lalu kembali membantu menggosok punggung suaminya. Tiba-tiba keisengannya muncul, dia menciumi bahu Emir sembari menggosok tubuhnya tanpa sadar tangannya bergerak kebagian perut depan Emir dan menyentuh roti sobeknya. Jemarinya bermain-main disana mencubit lembut perut Emir yang membuat pria itu menahan napas yang mulai menderu.
‘Ah, a—apa ini. Kenapa begini----?’ tanyanya dalam hati. Sedangkan Emir sudah menahan napas dan memejamkan mata, dia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi dia merasa kesal karena tangan istri tak tahu malunya itu bukannya melepaskan malah tetap menggenggam miliknya. Di sisi lain ingin rasanya dia menerkam Arimbi saat itu juga, setelah kedua diam beberapa saat.
Hal yang tak terduga kembali terjadi, Emir berbalik lalu mengangkat tubuh Arimbi dan mendudukkannya di pangkuannya. Belum sadar apa yang terjadi, dia merasakan ada yang menggelitik telinganya, “Kamu benar-benar tidak tahu malu! Masih belum melepaskannya, hem? Kamu harus bertanggung jawab padanya.” bisik Emir ditelinga Arimbi dengan suara baritonnya yang membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
__ADS_1
Lalu dia tersadar kalau tangannya masih memegang sesuatu tapi seolah terhipnotis dia masih belum melepaskannya. Ini pertama kalinya bagi Arimbi jadi dia masih syok dan tak tahu harus melakukan apa.
Dia merasakan hembusan napas dilehernya dan sesuatu yang basah dan kenyal menempel disana. Arimbi seperti terkena aliran listrik, matanya terpejam dan menikmati sensasi yang tak pernah dirasakannya sebelumnya.
Emir yang sudah diselimuti kabut gairah pun mulai bergerak kebagian depan istrinya, satu tangannya memeluk pinggang ramping Arimbi sedangkan tangan satunya meremas bagian dadanya. Membuat Arimbi kembali memejamkan mata sambil mendesah.
Melihat keagresifan Arimbi padanya, Emir sempat berpikir mungkin wanita itu sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu, bukankah zaman sekarang sudah menjadi hal yang wajar jika orang-orang sudah biasa melakukan itu dengan kekasihnya. Tapi saat mengingat kalau kekasih Arimbi sebelumnya adalah Reza, ada kekesalan di dalam hati Emir saat itu juga dia merasakan jijik.
Dia ingin mendorong tubuh Arimbi menjauh, tapi tiba-tiba dia berhenti dan terkejut saat mendengar ucapan Arimbi. “Em---emir….ahhh…..kamu adalah yang pertama. Bisakah kamu melakukannya pelan-pelan?” ucap Arimbi disela desahannya. Hati emir yang tadinya sudah gelap kini kembali terang dan merasa senang karena ternyata Reza belum pernah menyentuh wanita itu.
Entah bagaimana, keduanya sudah berpindah keatas ranjang saling berpelukan dan berciuman penuh gairah. “Em---emir…..aku istrimu! Aku akan melakukan kewajibanku padamu.” ucap Arimbi lirih.
“Kamu yakin?” bisik Emir ditelinga Arimbi sambil menghembuskan napasnya membuat Arimbi merinding. Tanpa sadar dia mengangguk sehingga membuat Emir tersenyum dan entah apa yang terjadi dia benar-benar tidak akan melepaskan Arimbi malam ini.
“Jangan menyesal.” ucapnya lagi langsung meraup bibir istrinya. Tiba-tiba saat dia merasakan sesuatu yang mencoba masuk kedalam dirinya. Rasanya sakit….sangat sangat sakit dan dia paham itu apa. Sementara pria tampan yang berada diatasnya sudah terbakar dan terus berusaha mendesak hingga setelah beberapa saat usahanya berhasil. Dia melihat Arimbi menetesakan airmata, dengan cepat Emir menciumi wajah cantik istrinya menghapus airmatanya.
__ADS_1
Kamar tidur dengan lampu temaram itu dipenuhi dengan suara ******* dan lenguhan sepanjang malam. Didalam hatinya Arimbi mengutuki dirinya sendiri karena menggoda Emir, dia tak menyangka jika pria itu memiliki stamina yang luar biasa.
Mengingat dia akan mulai bekerja besok meskipun dia ingin menyudahi tapi sepertinya keduanya seolah enggan mengakhiri pertarungan mereka. Malam pertama itu pun berlanjut hingga pukul dua pagi. Arimbi terbaring kelelahan sedangkan Emir tersenyum puas memeluk tubuh istrinya.